Mudik Sebentar

2816 Kata
Silvi kini setiap hari datang ke markas preman terminal timur ibukota. Ia kerap membawa sesuatu yang unik dan tampak sangat kontras dengan imej garang yang menempel di preman terminal. Seperti hari ini, ia membawa rangkaian bunga segar yang sudah ditaruh dalam vas. Silvi meletakkan vas bunga tersebut di meja tempat Ginggi biasa menikmati secangkir kopi dan cemilan. Ali nampak senang dengan perubahan suasana yang dilakukan oleh Silvi tersebut, sementara si Rontek dan si Mikimos kadang terlihat agak sebal tapi mereka tidak berani untuk mengatakannya langsung. Ginggi sebagai Bos mereka tetap bersikap dingin dan acuh tak acuh, meski kini ia lebih sering tersenyum. “Ini untukmu!” Silvi menyerahkan sebungkus cokelat yang sudah ia hias dengan pita pink kepada Ginggi. Ginggi menerima cokelat tersebut “Terima kasih.” “Cuma buat Bos Ginggi aja? Kita gak dikasih nih?” si Mikimos yang sedang duduk di pojok bersama si Rontek dan Ali menggoda Silvi. “Ada, tenang saja kalian pun dapat bagian.” Ucap Silvi sambil mengeluarkan beberapa bungkus cokelat lagi dari tas jinjingnya dan memberikannya kepada si Rontek, si Mikimos dan Ali. “Terima kasih.” Ucap Ali dan si Rontek berbarengan. “Kok punya kami tidak ada pitanya sich?” si Mikimos masih menggoda Silvi. Silvi tersipu dan pura-pura tidak mendengar pertanyaan si Mikimos barusan. “Tentu saja, punya si Bos kan cokelat istimewa!” si Rontek menimpali. “Istimewa dari hati, hehehe…” si Mikimos terkekeh. Ali tersenyum, semakin hari ia semakin mengenal karakter para preman terminal ini. Pada beberapa kali kesempatan mereka nampak sangat garang dan beringas, tapi sikap mereka sehari-hari penuh dengan canda seperti ini. Bagaimanapun, para preman ini adalah manusia biasa juga. Ali kini mulai terbuka pemikirannya, dulu ia sempat mengira para preman hanyalah sekedar sampah masyarakat yang meresahkan dengan sikap kasar mereka dan kegarangannya. Kini Ali memahami kalau mereka adalah kaum yang termarjinalkan oleh sistem sosial. Mereka yang berusaha untuk bertahan hidup dan mencari nafkah bagi anak istri dan keluarganya, karena tidak diberi kesempatan untuk bekerja di sektor formal. Sama seperti dirinya yang sempat putus asa dan bahkan menodong orang dengan pisau dapur demi pengobatan sang ayah. Ali beruntung bertemu dengan Ginggi, ya ia sangat beruntung bisa bekerja bersama dengan Ginggi yang sedang berusaha menyejahterakan para preman ini termasuk anak istri dan keluarganya. Juga mereka yang sudah meninggal, Bos Ginggi tidak melupakan janda dan anak yatim mereka. “Rontek! Siang nanti aku mau pergi ke kota asalku. Untuk beberapa hari kedepan kau kembali menjadi Bos disini. Tapi ingat, tetap waspada bila ada kemungkinan si Jamal menyerang. Kau dan anak buah yang lain lebih baik menghindar, sembunyilah sampai aku datang kembali. Kau mengerti?” suara Ginggi yang berat menjelaskan. “Siap, Bos! Saya mengerti.” Sahut si Rontek. “Kau mau mudik?” tanya Silvi. “Semacam itulah.” Sahut Ginggi. Ginggi sebenarnya tidak tahu kenapa tapi belakangan ini setiap malam ia selalu merasa resah dan gelisah. Bayangan akan kota asalnya selalu saja terlukis dalam benaknya, mungkin sebuah firasat atau apa. Ia hendak menghilangkan kegelisahan itu dengan mengunjungi kota asalnya kembali. “Boleh aku ikut?” Silvi menatap Ginggi penuh harap. Ginggi menggeleng “Perjalanannya sangat jauh dan melelahkan, kurasa akan lebih baik kalau kau tetap tinggal disini.” “Yah..” Silvi kecewa. “Ajak aja Silvi, Bos. Kalau dia lebih lama disini, markas preman kita yang garang bakalan berubah jadi taman bunga, hahaha…” si Mikimos berusaha membujuk Ginggi sekaligus menyelipkan lelucon yang garing. “Boleh ya? Aku ikut ke kota asalmu.” Sekali lagi Silvi memohon. “Betul itu Bos. Lebih baik ajak Silvi, kalau perjalanan jauh kan lumayan ada teman buat diajak ngobrol. Apalagi Silvi sangat cerewet, dijamin Bos tidak akan bosan.” Kali ini si Rontek ikut membujuk, ia melirik ke arah Silvi yang cemberut karena disebut cerewet. Ginggi menghela nafas dan kemudian dengan pelan mengangguk, ia membolehkan Silvi untuk ikut dengannya pulang ke kota asalnya. “Asyik!” pekik Silvi kegirangan melihat anggukan Ginggi tersebut. Si Mikimos dan si Rontek saling lirik dan tersenyum, rencana mereka berhasil. Bos Ginggi memang sangat tidak peka dengan perasaan seorang gadis cantik, mereka berharap dalam perjalanan nanti Silvi bisa sedikit mencairkan kebekuan hati Bos Ginggi. Ali menatap Ginggi sambil membenarkan letak kacamatanyaia berpesan  “Hati-hati di jalan, Bos!” Ginggi mengangguk. Maka, siang itu setelah pulang ke kontrakan terlebih dahulu untuk mengambil ransel besarnya. Ginggi bersama dengan Silvi menuju ke stasiun kereta api diiringi lambaian tangan si Rontek, si Mikimos, Ali dan para preman terminal anak buahnya yang lain. “Jangan lupa oleh-oleh buat kami.” Ingat si Mikimos kepada Silvi. “Tentu saja!” jawab Silvi sambil melambaikan tangan dan menarik koper besar berodanya. Mereka naik kereta kelas eksekutif, Silvi bersikeras untuk menukar tempat duduknya aga bisa duduk di dekat jendela. Ginggi mengalah dan memberikan tempat duduknya untuk Silvi. Si Rontek dan si Mikimos benar, Ginggi kali ini tidak bosan dalam perjalanan karena hampir tiap saat Silvi selalu mengajaknya berbicara. Kadang ia mengomentari pemandangan yang nampak di sepanjang bantaran rel kereta yang mereka lewati. “Lihat bocah-bocah itu! Mereka sepertinya gembira meski bermain dengan bola plastik dan bertelanjang d**a!” Silvi berseru sambil menunjuk keluar kaca kereta. Ginggi menjulurkan lehernya berusaha mengintip ke arah yang ditunjukkan oleh Silvi. Sekelompok anak memang sedang bermain bola di lapangan kecil di pinggir rel, mereka berlarian dan berteriak kegirangan sambil kaki mereka lincah mengoper dan menggocek bola. Ginggi jadi teringat masa-masa bocahnya dulu di panti asuhan. Dulu ia dan Sastro sangat senang bermain bola seperti bocah-bocah itu, kadang mereka baru pulang kembali ke panti setelah adzan maghrib berkumandang. Hasilnya mereka sering dimarahi oleh ibunya Sastro, tapi setelah mandi mereka kemudian akan dimanjakan dengan nasi goreng yang kala itu terasa sangat lezat. Meski hanya nasi goreng sederhana berupa nasi dengan bawang merah dan bawang putih serta sejumput garam belaka tanpa tambahan apa-apa lagi. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Silvi yang melihat Ginggi menyeringai ketika melihat bocah-bocah yang sedang bermain bola itu jadi penasaran. “Tidak ada, aku hanya terkenang saat aku masih bocah seusia mereka.” sahut Ginggi. “Kau beruntung karena memiliki teman sewaktu kecil. Semenjak kecil yang kutahu hanyalah belajar dan belajar, dari guru-guru khusus yang disiapkan oleh ayahku.” Silvi menghela nafasnya. “Setidaknya kau mengetahui kedua orang tuamu dan si Loreng pasti melakukan hal tersebut untuk menyiapkanmu menghadapi dunia ini.” Timpal Ginggi. “Memangnya kau tidak tahu siapa orang tuamu?” Silvi agak heran dengan ucapan Ginggi. Ginggi menggeleng “Aku tidak ingat mereka. Orang tuaku meninggalkanku dalam kardus di sebuah jalan. Aku beruntung karena ayah Sastro menemukanku, ia kemudian membawa dan mengurusku di panti asuhan miliknya. Di panti itu aku bertemu dengan banyak teman dan sahabatku.” Jelas Ginggi. Silvi mengangguk-angguk, Ginggi mulai semakin terbuka kepadanya dengan menceritakan masa lalu dirinya. “Bagaimana dengan ibumu?” Ginggi menatap Silvi. “Ibuku meninggal ketika sedang melahirkanku, jadi akupun tidak memiliki kenangan tentangnya.” ujar Silvi sambil membenahi poni rambutnya. Ginggi tak tahu lagi harus berkomentar seperti apa, ia menoleh ke arah kaca jendela kereta dan diam hening. Silvi ikut terdiam dan tak lama kemudian ia merasa mengantuk, menguap beberapa kali lalu tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ginggi. Ginggi membiarkan Silvi tertidur dengan kepala bersandar di bahunya, ia menatap wajah anak gadis si Loreng yang sedang lelap tersebut. Silvi adalah gadis yang cantik dan sepertinya mewarisi kecantikan tersebut dari sang ibu. Beruntung Silvi tidak mirip dengan sang ayah, Ginggi geli sendiri membayangkan wajah si Loreng yang keras dan serius. Si Loreng sering nampak ketus ketika memarahinya yang suka malas-malasan berlatih. Kereta api terus melaju melewati berbagai kota dan desa, terus menuju ke stasiun akhirnya di kota paling timur pulau. Kota asal Ginggi dahulu. Malam akhirnya jatuh menyelimuti bumi, lampu-lampu mulai dinyalakan dan kini menggantikan matahari sebagai penerang. Orang-orang yang penat beranjak pulang ke rumah masing-masing. Silvi menggeliat, perlahan mulai membuka matanya. Sudah lama ia tidak tidur senyenyak itu. Silvi mengangkat kepalanya dari bahu Ginggi dan tersenyum, sambil merentangkan tangan ke atas ia menoleh lagi ke arah Ginggi. “Apa kita sudah sampai?” tanya Silvi. Ginggi menggeleng “Satu kota lagi, baru kita akan sampai.” “Jauh juga ternyata kota asalmu.” Sahut Silvi. Ginggi melemaskan bahunya yang sedikit kaku karena dijadikan sandaran tidur Silvi selama beberapa jam. “Aku lapar, mau ke gerbong restorasi. Apa kau mau ikut?” Silvi beranjak dari tempat duduknya. Ginggi mengangguk ia juga sudah merasakan perutnya keroncongan “Tentu.” Mereka berdua kemudian berjalan beriringan menuju ke gerbong restorasi untuk makan. Beberapa gerbong yang mereka lewati hanya tersisa sedikit penumpang, bahkan ada sebuah gerbong yang sudah kosong sama sekali. Kota tempat asal Ginggi memang stasiun pemberhentian terakhir. Di gerbong restorasi ternyata ada empat orang yang sedang makan dan dua orang petugas yang melayani. Seorang wanita muda dan seorang lelaki berkumis tebal, keduanya memakai seragam serupa pramugari dan pramugara pesawat. Sang wanita penjaga tersenyum ke arah Ginggi dan Silvi yang berjalan menghampirinya. Ia menduga kedua orang penumpang itu pasti akan memesan makanan. “Ada makanan apa aja, Mbak?” tanya Silvi begitu berada di dekat wanita penjaga gerbong restorasi. “Ini, semua yang ada dalam daftar menu ini.” Sahutnya sambil menyerahkan daftar menu. Silvi menerima daftar menu tersebut meski dia agak heran dengan sikap si Mbak penjaga gerbong restorasi yang sedikit ketus tersebut. Mungkin dia sudah lelah, pikir Silvi. “Kamu pilih duluan, mau makan apa?” Silvi menyerahkan daftar menu yang ia terima kepada Ginggi. Ginggi membuka-buka daftar menu tersebut, sekilas ujung matanya menatap sepatu hak tinggi yang dipakai oleh si Mbak penjaga gerbong restorasi dan ketika menoleh ke arah sang penjaga pria ia melihat rambut sang pria yang panjang diikat ke belakang dan dimasukkan kedalam kerah bajunya. “O iya, ini adalah minuman gratis untuk semua penumpang. Silakan dinikmati!” si Mbak penjaga gerbong restorasi menyodorkan sebuah gelas yang telah terisi minuman bersoda dengan beberapa bongkah es batu. Silvi sumringah, ia memang sangat haus dan membutuhkan kesegaran. “Terima kasih.” Silvi menerima gelas minuman tersebut. Tato di tangan kiri Ginggi berdenyut aneh, ia menajamkan matanya dan melihat sebuah lemari yang berada di sudut gerbong sedikit terbuka, disana ia melihat siluet orang yang sedang diikat dengan mulut tersumpal. Ginggi seketika menyimpulkan. “Jangan diminum!” Ujar Ginggi sambil menepis gelas minuman yang hampir mengenai bibir Silvi. Gelas itu jatuh ke bawah dan pecah. “Apa?! Kenapa?!” Silvi terperanjat, menatap Ginggi keheranan. “Minuman itu beracun!”Ginggi menunjuk ke arah gelas yang jatuh tersebut. Silvi melihat gelas yang jatuh ditepis Ginggi tersebut, isinya mendesis ketika terkena lantai. “Kau cukup jeli juga, kurang ajar!” ujar pria yang menjaga gerbong restorasi tersebut “Tapi kau tidak mungkin mengelak dari ini!” lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah pistol yang ia sembunyikan di pinggang belakangnya. ‘Dor! Dor! Dor!’ tiga kali beruntun ia memuntahkan timah panas dari moncong pistolnya, menembak Ginggi. Ginggi yang sudah waspada dan ‘dibantu’ oleh kekuatan aneh tato di lengan kirinya, bisa melihat seolah tiga butir peluru itu melayang perlahan di udara. Ginggi segera berkelit ke samping dan memasukkan bogem mentahnya ke dagu si pria yang menyamar sebagai penjaga gerbong restorasi. “Apa?!” si pria yang menyamar sebagai petugas gerbong restorasi itu sangat terkejut karena seolah Ginggi menghilang dan tiba-tiba sudah berada di dekatnya sambil menghadiahinya kepalan tangan yang sedetik kemudian menghantam dagunya dengan telak. Ia pun tersungkur tak lagi bergerak. Perempuan yang tadi hendak meracun Silvi pun bertindak serupa, ia mencabut pistol yang disimpan di bawah baki, mengarahkan moncongnya ke kepala Silvi. Silvi pun dengan sigap segera melemparkan shuriken yang selalu setia ia bawa secara rahasia. Shuriken itu menancap lebih dulu di d**a si perempuan yang menyamar menjadi petugas gerbong restorasi. Beberapa penumpang yang tadi berpura-pura makan serempak berdiri dan mencabut senjata mereka. Hanya sepersekian detik, Ginggi dan Silvi saling berpandangan dan keduanya serempak berlari keluar dari gerbong restorasi. Kabur karena perbedaan jumlah yang bisa membuat mereka celaka. Tak tinggal diam, keempat orang yang tadi berpura-pura sedang makan tersebut segera mengejar target mereka. Ginggi sempat menyambar ransel besarnya ketika mereka berlari dan melewati gerbong tempat duduknya. Mereka terus berlari menuju ke bagian depan kereta api, para pengejar mereka sesekali melepaskan tembakan namun meleset, entah karena Ginggi dan Silvi yang terlalu cepat berlari sambil melemparkan barang-barang milik penumpang lain atau karena para pengejar itu kesulitan dengan para penumpang yang marah dan emosi sambil memungut kembali barang mereka sehingga menghalangi jalan. Mereka sampa di bagian depan tempat masinis sedang bertugas. “Bagaimana ini? Mereka pasti akan menyusul kita sebentar lagi!” ucap Silvi sambil celingukan mengintip ke belakang. “Siapa kalian? Mau apa disini? Ini tempat terlarang buat penumpang!” seru sang masinis. “Hentikan kereta ini sekarang juga!” perintah Ginggi. Sang masinis menggeleng “Tidak bisa!” “Lakukan atau kau akan kubunuh!” ancam Silvi sambil menodongkan shurikennya ke leher sang masinis. Sang masinis jadi ketakutan, ia meraih tuas rem kereta dan kemudian menariknya. Membuat kereta api perlahan melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Rangkaian ular besi tersebut berhenti tepat di rel tengah kota. Berbarengan dengan itu, keempat pengejar mereka pun sampai dan mendobrak ruang mesin tersebut. Ginggi dan Silvi segera meloncat keluar kereta api melalui pintu samping tempat sang masinis biasa naik dan turun di stasiun. Mereka segera berlari secepat mungkin dan segera berbaur dengan kelamnya kota. Para pengejar mereka mengumpat, mereka kehilangan target mereka. Ginggi dan Silvi berhenti berlari setelah yakin bahwa para pengejarnya sudah tidak nampak lagi. Mereka berdiri di sebuah lorong sambil beristirahat, nafas keduanya terengah-engah. Saling pandang kemudian tertawa-tawa. Mereka baru saja lolos dari maut dan adrenalin yang berdegup anehnya membuat mereka senang. “Ah, sial!” Maki Silvi tiba-tiba. Ginggi menatap wajah Silvi “Apa? Kenapa?” “Koperku! Aku lupa tidak membawanya, kau enak masih bisa membawa ransel besarmu itu!” “Memang apa isi dari kopermu?” selidik Ginggi. “Baju-bajuku. Juga beberapa shuriken cadangan.” Jawab Silvi “Kalau ranselmu isinya apa, kenapa kau sampai tidak luput membawanya meski nyawa kita sedang terancam tadi?” lanjut Silvi penasaran sambil mengamati tas ransel yang berada dalam gendongan Ginggi. “Uang.” Jawab Ginggi. Silvi memandang wajah Ginggi dan kemudian tertawa “Kau pasti sedang bercanda.” Ginggi menggeleng dan balik menatap mata Silvi “Aku serius.” “Boleh aku lihat?” Silvi sedikit ragu. Ginggi menurunkan ransel dari punggung dan membuka risletingnya. “Astaga! Banyak sekali.” Mata Silvi terbelalak menatap isi di dalam ransel besar Ginggi, meski isinya kini tinggal seperempatnya saja tapi jumlahnya masih sangat besar. Ginggi kembali menutup risleting ransel dan menggendongnya kembali di punggung. “Darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu? Setahuku bahkan sekelas pemimpin preman setengah ibukota pun tidak mungkin memiliki uang begitu banyaknya.” Silvi masih penasaran. “Aku merampok bank di kota asalku, dulu. Tapi aku mengembalikan uang hasil rampokanku ini buat mereka yang telah ditipu oleh bank tersebut. Mereka yang dicurangi dengan rekayasa ekonomi yang membuatnya menggadaikan sertifikat rumah kemudian tidak mampu melunasi pinjaman mereka sehingga akhirnya menjadi gelandangan, tunawisma.” Jelas Ginggi. “Apa kau mencoba menjadi Robin hood?” Silvi terkekeh. “Tidak, aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Mungkin untuk menebus dosaku, entahlah aku tidak tahu.” Ginggi menghela nafas. Silvi manggut-manggut, semua orang memiliki masa lalunya sendiri. Ia paham betul apa yang sedang dialami oleh Ginggi. “Sekarang kita kemana?” tanya Silvi menatap wajah Ginggi yang terkena sinar lampu dari sebuah rumah. “Sebaiknya kita makan dahulu, lalu kita bisa memakai taksi menuju ke kota asalku.” Jawab Ginggi sambil melangkah kembali, berjalan di trotoar. Jalanan mulai lengang, malam memang semakin larut. Silvi mengangguk, setelah hampir tewas terbunuh tadi dan berlari begitu kencang sehingga menguras tenaga. Rasa lapar mereka kembali meronta. “Aku heran, siapa sebenarnya orang-orang tadi dan kenapa mereka hendak membunuh kita?” tanya Silvi. Ginggi menatap wajah Silvi “Masih ada pengkhianat yang berkeliaran di terminal. Yang tahu kita akan pergi naik kereta api hanyalah anak buahku di terminal. Para pembunuh itu pastilah orang suruhan si Jamal.” “Apa kau tahu siapa si pengkhianat itu?” “Aku belum tahu, tapi ketika kita kembali akan kupastikan ia membayar semua pengkhianatannya.” Sahut Ginggi. “Tentu saja, kau harus menunjukkan siapa pemimpinnya!” Silvi mengangguk. “Kita makan disana saja!” Ginggi menunjuk ke arah sebuah warung makan yang berada tak jauh di depan mereka. Silvi mengacungkan jempolnya tanda setuju. Mereka kemudian masuk ke warung makan yang ditunjuk oleh Ginggi, sebuah warung makan yang sederhana tapi nampak bersih dan makanan yang dipajang di etalasenya meski tinggal sedikit tapi menggiurkan. Ginggi dan Silvi makan dengan lahap, berusaha mengganti energi yang terkuras sangat banyak saat mereka melarikan diri dari kejaran para pembunuh yang diduga merupakan suruhan si Jamal. Ginggi bertekad untuk menumpas para pengkhianat yang masih bersembunyi menjadi anak buahnya di terminal saat ia kembali nanti. Beres makan, dengan menumpang sebuah taksi mereka melanjutkan perjalanan. Ginggi kembali bingung hendak kemana ketika ditanya tujuan mereka oleh sang sopir taksi, ia kemudian mengatakan alamat panti asuhan yang diurus oleh Sastro. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN