Silvi Dan Karina

1317 Kata
Hari menjelang tengah malam ketika mereka akhirnya tiba di depan pintu panti asuhan. Ginggi sedikit ragu tapi akhirnya ia mengetuk pintu tersebut. Agak lama dan mengulang kembali mengetuk beberapa kali sampai ia mendengar ada suara langkah yang datang mendekat. Terdengar suara anak kunci bergemerincing tuas pintu berputar dan akhirnya pintu pun terbuka. “Ginggi?! Kejutan, ayo masuk!” Sastro yang membuka pintu kaget karena tak menduga Ginggi yang datang malam-malam, ia melirik ke arah Silvi yang tersenyum kepadanya. “Sastro, maaf aku mengganggu istirahatmu.” Ucap Ginggi sedikit menyesal, ia seharusnya mendatangi sebuah penginapan atau hotel saja. “Kau tidak mengganggu sama sekali. Sudah kukatakan bukan, kau boleh datang kapan saja kesini. Dan kau juga membawa teman, itu bagus.” Sastro kembali menatap Silvi dengan mengerutkan dahi penasaran. “O iya, ini Silvi.” Ginggi memperkenalkan mereka. “Sastro.” Ucap Sastro sambil mengulurkan tangan. “Silvi.” Jawab Silvi menyambut uluran tangan Sastro. “Ayo masuk! Aku akan membangunkan si Sri dulu. Sebentar.” Sastro melangkah menuju kamarnya meninggalkan Ginggi dan Silvi yang sekarang masuk kemudian duduk di sofa ruang tamu. Tak lama Sastro dan si Sri datang sambil membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa toples camilan. Setelah meletakkan nampan, mereka duduk di sofa berhadapn dengan Ginggi dan Silvi. “Kau seharusnya memberi tahu dulu kalau akan datang jadi aku bisa menyiapkan makanan kesukaanmu.” Sri mengomel sambil menatap Ginggi. Ginggi tersenyum, kecerewatan Sri memang sudah ia ketahui dan ia pun telah menduganya. Tadinya ia berharap Sastro tidak perlu membangunkan istrinya yang cerewet itu biar mereka bisa langsung istirahat saja. “Maaf Sri, aku mendadak ingin kembali ke kota ini. Kami kemalaman dan tempat ini seperti biasa yang terlintas di benakku.” Sahut Ginggi. “Silakan diminum. Kalian pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh.” Sri melirik ke arah Silvi, gadis yang cantik. Apa dia calon istri baru Ginggi? “Ini Silvi. Dia temanku.” Ujar Ginggi seakan mengetahui apa yang ada dalam pikiran Sri. Sri dan Silvi saling berjabatan tangan, warna kulit mereka sangat kontras. Silvi yang berkulit putih bersih sementara Sri berkulit agak sawo matang. “Kamu cantik sekali.” Komentar Sri mengamati wajah Silvi yang meski terlihat lelah tapi tak mengurangi kecantikannya sedikit pun. Bahkan kalau dibandingkan dengan Dewi, istri Ginggi dulu, Sri merasa Silvi jauh lebih cantik. “Terima kasih.” Silvi agak tersipu karena dipuji oleh Sri. “Maaf kami mengganggu malam-malam, dan mungkin kami juga mau ikut menginap di sini untuk malam ini.” Jelas Ginggi. “Kau tidak pernah mengganggu, sama sekali tidak. Kami malah sangat senang engkau mengunjungi kami. Kalian bisa menginap disini, kebetulan ada beberapa kamar tidur yang baru selesai direnovasi. Sudah bisa digunakan. Berkat bantuan darimu dan beberapa donatur, panti ini kembali bisa melakukan perbaikan.” Sastro memaparkan. “Kalian tentu lapar, aku siapkan makan malam dulu ya?” Sri beranjak untuk menyiapkan makanan dan menghangatkan sebagian di dapur terlebih dahulu. “Tidak usah Sri! Kami sudah makan tadi sebelum kesini.” Timpal Ginggi mencegah Sri agar tidak perlu repot-repot. Sri menatap Silvi, ia agak ragu dengan perkataan Ginggi. Biasanya kan ia kalau tidak enak karena merepotkan orang lain jadinya suka berbohong dan bilang sudah makan padahal belum. “Benar kalian sudah makan? jangan menahan lapar, kami akan menyiapkan apa yang ada. Meski mungkin tidak seenak makanan restoran tapi lebih baik daripada nanti kalian tidur dengan perut kosong.” Sri menatap Ginggi dan Silvi menyelidik. “Iya, tadi kami sudah makan. Di sebuah warung makan.” Silvi mengangguk membenarkan apa yang telah dikatakan oleh Ginggi sebelumnya. “Baiklah kalau begitu. Apa ada yang bisa kami lakukan untuk kalian?” Sri urung beranjak dari duduknya. “Mmm, bolehkah aku memakai toilet dan mungkin meminjam baju untuk tidur? Bajuku semuanya tertinggal dalam koper di kereta api.” Pinta Silvi. “Tentu saja, tapi maaf kalau bajuku tidak bagus dan kebanyakan hanya daster saja.” Sri mengangguk. “Tidak apa-apa, itu juga lebih nyaman.” Silvi mengangguk. “Kalian sudah laporan ke petugas kereta api? Aku yakin para petugas kereta api bisa mengembalikan barang kalian yang tertinggal tersebut.” Sastro menimpali. Ginggi menggeleng “Tidak, rasanya tidak perlu.” “Kenapa?” Sastro bingung dengan jawaban Ginggi yang seperti itu. “Ada hal yang terjadi, akan kuceritakan nanti.” Sahut Ginggi. Sastro manggut-manggut, lebih baik ia tidak bertanya lebih jauh lagi. “Ayo kuantar ke kamar mandi dan berganti baju.” Sri beranjak dan tersenyum ke arah Silvi. Silvi juga berdiri dan melangkah mengikuti Sri. Ginggi menatap Silvi yang berlalu mengikuti langkah Sri. “Gadis yang cantik, kau harus mulai memikirkan masa depanmu juga, Ginggi.” Suara Sastro membuat pandangan Ginggi teralihkan lagi. “Apa maksudmu?” “Kurasa kau paham maksudku. Melihat sikapnya gadis itu jelas menyimpan perasaan khusus untukmu.” Jelas Sastro. Ginggi menghela nafas “Aku tidak memikirkan hal tersebut untuk saat ini. Sekarang aku sedang berfokus untuk membalaskan kematian Dewi dan anakku.” Sastro menatap Ginggi “Sebagai seorang sahabat, bolehkah aku memberimu sebuah nasihat?” Ginggi mengangguk “Tentu saja.” “Lepaskanlah, lanjutkan hidupmu. Masih banyak peluang dalam hidup ini, balas dendam mungkin terasa benar tapi apa itu akan mendamaikan hatimu? Lebih baik kau melanjutkan sisa hidupmu dengan mencapai kebahagian dan kedamaian. Mungkin dengan menikah kembali. Silvi sepertinya cocok sebagai seorang istri.” Jelas Sastro, bagaimana pun ia menginginkan hal yang terbaik untuk sahabatnya ini. “Aku belum bisa melakukannya, bagiku membalas dendam kepada para polisi tengik itu adalah salah satu jalan agar aku bisa tenang. Dan setelah kematian Dewi serta anakku bisa kubalaskan maka mungkin aku akan mulai memikirkan hal tersebut.” Ujar Ginggi dengan sorot mata yang masih saja berkilatan memancarkan amarah yang ia simpan dengan sangat rapat di dalam dadanya. Sastro menatap Ginggi sambil menghela nafas, sepertinya kebulatan tekad yang dimiliki oleh sahabatnya tidak akan bisa diubah lagi. “Sepertinya aku tidak punya pilihan. Kalau kau memerlukan bantuanku, apa saja. Aku akan selalu membantumu, kau bilang saja.” Ucap Sastro tulus. “Terima kasih. Kau memang sahabatku.” Sahut Ginggi. * Silvi bangun ketika sinar matahari pagi menerobos jendela dan di luar sana ia mendengar belasan bocah yang sedang bermain. Ia segera menyibak selimut dan kemudian keluar untuk mencari Ginggi. “Selamat pagi!” Sapa si Sri yang sedang menggendong seorang anak balita, sementara di belakangnya beberapa bocah yang lebih besar berjalan mengikuti. “Pagi, rame sekali.” Komentar Silvi sambil menjawil pipi balita yang digendong oleh Sri. “Beginilah keseharian di tempat ini. Kadang merepotkan tapi sekaligus juga menyenangkan.” Jelas Sri. Silvi manggut-manggut, ia melambaikan tangan pada bocah-bocah yang menatapnya penasaran. “O iya, kalau kamu mau sarapan, di meja makan ada nasi goreng dan beberapa lauknya.” Sri menunjuk ke arah meja makan. Silvi mengangguk “Ginggi kemana?” tanyanya. “Entahlah, tadi subuh sekali dia sudah keluar. Katanya mau jalan-jalan dulu.” Sahut si Sri. “Om Ginggi ada disini, Bunda?” Karina yang berada di antara bocah-bocah itu bertanya pada Sri. “Iya, semalam Om Ginggi datang sama Tante Silvi ini.” Jawab Sri menunjuk ke arah Silvi. “Kamu kenal dengan Om Ginggi?” Silvi mengerutkan dahinya, ia kini penasaran dengan bocah perempuan tersebut dan berjalan mendekatinya. “Iya Tante, Karina dibawa kesini oleh Om Ginggi, benarkan Bunda?” Karina menatap Sri. “Benar, Ginggi saat itu juga datang tiba-tiba. Entah darimana sambil menggendong Karina.” Jawab Sri. “Kamu mau cerita sama Tante soal Om Ginggi gak?” Silvi berjongkok dan menatap wajah Karina. Karina mengangguk. “Ayo cerita sambil temani Tante makan.” ucap Silvi memegang tangan Karina dan membawanya menuju ke ruang makan. Sri tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara Silvi dan Karina yang terjadi begitu saja karena nama Ginggi. Mungkin Silvi bisa menambal lubang di hati Ginggi setelah kematian Dewi dan anaknya. Sri melihat Ginggi dan Silvi cocok satu sama lain, apalagi ditambah dengan Karina. Mereka bagaikan sebuah keluarga kecil saja yang terpisah dan harus direkatkan oleh sesuatu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN