Sementara itu Ginggi yang sejak semalam tak bisa tidur karena gelisah dan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kini sudah berada di dekat pasar tempat ia dahulu biasa belanja. Ia sendiri tidak menyadari kenapa bisa sampai melangkah ke tempat ini.
Perutnya keroncongan, Ginggi mendekati seorang penjual mendoan yang berada di salah satu pojok pasar dan memesan beberapa buah mendoan serta segelas kopi panas. Sang penjual mendoan segera meraih bungkus kopi dan kemudian dengan sigap menyeduhnya dengan air panas dalam termos.
Pasar masih seperti biasanya, ramai, malah semakin ramai dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota ini. Baunya pun masih sama seperti saat ia sering belanja ke tempat ini dulu.
Dari tempatnya duduk, Ginggi bisa melihat tepat ke arah grosir milik mendiang Koh Chen. Sepertinya grosir tersebut kini dikelola oleh anaknya si Koh Chen itu. Sebuah rasa penyesalan dan kehampaan mengembang di dadanya. Ginggi menghela nafas beberapa kali berusaha meredakan emosi aneh yang menguasai dirinya. Ia tidak boleh sentimentil dan terpengaruh oleh perasaan yang bisa melemahkan tekadnya.
“Ini kopinya, Mas!” suara pedagang mendoan membuyarkan lamunan dalam diri Ginggi.
Ginggi mengambil gelas kopi yang disodorkan oleh sang pedagang mendoan “Terima kasih.” Menyeruputnya sedikit kemudian meletakkannya di meja, ia mencomot sebuah mendoan yang sudah diletakkan dalam piring di dekatnya.
“Masnya baru ya kesini?” tanya sang pedagang mendoan mencoba berbasa-basi, sebuah rutinitas yang ia lakukan agar customer warungnya betah dan kembali lagi menjadi pembeli setia
“Iya, kebetulan lewat saja.” Sahut Ginggi sambil mengunyah mendoan.
Sang pedagang mengangguk, tampaknya pelanggan ini kurang suka mengobrol.
Setelah basa-basi sedikit itu Ginggi kemudian dengan lahap memakan mendoan dan diselingi dengan meneguk kopi dalam gelasnya, rasanya enak sekali pikir Ginggi.
Seorang perempuan tua berjalan mendekati warung mendoan tersebut dengan langkah yang terbungkuk-bungkuk. Sang pedagang mendoan dengan sigap membungkuskan beberapa mendoan. Ginggi mengamati perempuan tua dengan baju yang kotor dan hampir compang-camping tersebut.
“Ini untukmu, besok datang lagi kesini. Nenek gak boleh mengais tong sampah seperti kemarin, kalau lapar atau butuh sesuatu, bilang saja sama saya.” Ucap Sang pedagang mendoan.
“Terima kasih, nak!” ucap perempuan tua itu menerima bungkusan mendoan, matanya berlinang karena terharu.
Ginggi menatap wajah sang perempuan tua itu dan terkejut “Astaga! Cici?!”
Perempuan tua itu berpaling menatap wajah Ginggi dan mundur sedikit takut “Tidak, jangan bilang pada anak saya! Saya janji tidak akan pulang dan mendekati grosir lagi!” ujarnya sambil berlari kabur karena mengira Ginggi adalah tukang pukul anaknya.
Ginggi segera berdiri, memberikan uang untuk membayar mendoan dan kopi.
“Mas, kenal sama nenek itu?” tanya si pedagang mendoan.
“Kurang lebih.” Ujar Ginggi, ia lalu berlari mengejar perempuan tua bernama Cici tersebut.
Hanya beberapa puluh meter, di sudut lain pasar, Ginggi berhasil menyusul Cici. Kaki kerempeng perempuan itu bukan tandingan bagi langkah Ginggi yang tegap bertenaga.
“Jangan! Jangan pukul saya lagi!” jerit Cici mengetahui Ginggi sudah ada di sampingnya.
“Ada apa ini?” Beberapa orang yang berada disana mulai berdatangan dan mengerumuni Ginggi serta si Cici.
“Tidak ada apa-apa. Saya hanya menyapa teman lama saya. Cici ini istrinya Koh Chen bukan?” tanya Ginggi menatap Cici.
Mendengar nama mendiang suaminya disebut, Cici mengerutkan dahi dan menatap Ginggi. Ia sama sekali tidak mengenali siapa Ginggi kini.
“Siapa kamu? Kenapa bisa tahu suami saya?” tanyanya kebingungan, seumur hidup ia merasa tidak mengenal lelaki muda kekar yang berada di depannya ini.
“Saya dulu customer yang suka beli terigu dan gula pasir di grosir milik Koh Chen.” Jelas Ginggi.
Orang-orang yang berkerumun mulai memahami kesalah paahaman yang sempat terjadi, mereka satu persatu mundur dan membubarkan diri kembali.
“Apa yang kau inginkan dariku?” Cici masih waspada. Apa suaminya pernah bermasalah dengan orang ini tanpa sepengetahuannya ya?
Ginggi menghela nafas “Saya hanya penasaran, apa yang terjadi dengan Cici? Kenapa Cici bisa menjadi seperti ini?”
Perempuan tua itu menangis tersedu-sedu, Ginggi tidak mengerti kenapa tapi ia membiarkan Cici untuk menumpahkan semua kesesakan dalam d**a menjadi linangan air mata.
Setelah beberapa lama, Cici mulai berhenti terisak, ia mengelap sisa air mata dengan punggung tangannya.
“Sebaiknya Cici ceritakan apa yang sudah terjadi, mungkin saya bisa membantu sedikit.” Ujar Ginggi, dengan isyaratnya ia menyuruh Cici untuk duduk di sebuah bangku yang berada di dekat mereka, di depan sebuah warung kelontong.
Cici menurut, ia duduk dan masih sambil terisak akhirnya mulai bercerita tentang kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Ginggi duduk di sebelahnya, mendengarkan Cici bercerita dengan antusias dan penuh rasa penasaran.
“Si Nando anak satu-satunya yang Cici dan Koko punyai, tega mengusir Cici setelah Koko meninggal. Dia dan istrinya tidak sudi buat mengurus Cici yang sudah tua ini setelah berhasil mengambil alih grosir dan rumah kami. Dia membalikkan nama sertipikat rumah dan kepemilikan ruko atas nama dirinya. Kalau saja Koko masih hidup, semua ini tidak akan terjadi.” Cici mulai bercerita masih dengan isak yang tersedu-sedu.
Ginggi kembali merasakan kehampaan itu, ini adalah kesalahannya. Ia yang telah menghabisi Koh Chen, tapi suara lain terdengar dalam hatinya, bahwa yang ia lakukan hanya semata menagih hutang nyawa yang diambil sebab Koh Chen telah tega menjual dirinya. Membuat anak dan istrinya mati dihantam timah panas petugas.
“Padahal Koko sudah janji, kami bakal menghabiskan masa tua di sebuah rumah di desa. Tapi sekarang tanpa Koko, Cici tidak muluk-muluk. Cici hanya ingin ada yang merawat dan bersama dengan teman-teman yang sebaya Cici.” Lanjut Cici sambil mendesah meratapi nasib dirinya yang menjadi susah di penghujung umur.
“Maksud Cici bagaimana?” Ginggi berusaha menatap dengan lembut perempuan tua yang kini telah jadi janda dan kehidupannya berubah menyedihkan gara-gara dirinya tersebut.
Cici menarik nafasnya dan memandang Ginggi “Cici sudah lelah dan ingin istirahat. Cici ingin menghabiskan sisa hidup ini dengan tenang di sebuah Graha lansia di tepi kota, tapi Cici sudah tak punya lagi uang untuk biaya masuk dan biaya bulanan hidup disana.” Keluhnya menjelaskan impian sederhana yang mungkin tak lagi bisa ia wujudkan.
Ginggi manggut-manggut, ia menarik nafasnya. Keinginan Cici bisa ia penuhi, mungkin ini bisa sedikit menebus sedikit dosa yang telah ia perbuat karena telah menghabisi Koh Chen.
“Cici jangan khawatir, keinginan Cici akan saya penuhi. Cici juga tidak usah memikirkan soal biaya hidup bulanannya, saya yang akan menanggungnya.” Ucap Ginggi.
Cici menatap Ginggi sedikit tak percaya “Benarkah? Tapi kenapa kamu mau melakukannya? Anak Cici saja tak peduli dengan Cici?”
“Ini buat membayar hutang budi dan kesalahan saya kepada Koh Chen dulu. Cici tidak usah cemas, mulai saat ini saya berjanji keinginan Cici untuk masuk Graha lansia dan biaya hidup Cici selanjutnya itu saya yang akan bertanggung jawabnya.” Ujar Ginggi menjelaskan alasannya meski tidak secara gamblang.
Cici kembali menatap Ginggi dengan mata yang membeling lagi “Terima kasih, kamu pemuda yang baik.” Ucapnya sambil memeluk Ginggi erat.
“Saya gak sebaik itu, Cici.” Gumam Ginggi, andai saja Cici mengetahui kalau Ginggi yang telah membunuh suaminya, ia pasti tidak mau menerima kebaikannya bahkan ia pasti tidak akan memaafkan kesalahannya tersebut.
Maka setelah sarapan dan Cici ikut menumpang mandi di toilet umum pasar sekalian ia mengganti bajunya dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Ginggi, mereka kemudian menuju ke Graha lansia yang dimaksud oleh Cici dengan menumpang sebuah taksi.
Sepanjang perjalanan, Cici tak henti berterima kasih atas kebaikan Ginggi. Impian sederhananya sepeninggal sang suami tercinta kini dikabulkan oleh pemuda yang mengaku berhutang budi pada suaminya tersebut. Cici tidak mengenali Ginggi adalah Sanin yang kerap membeli terigu dan gula pasir di grosirnya dulu. Wajar saja sebab selain perubahan tubuh Ginggi yang drastis juga karena mata Cici mulai rabun karena mengalami katarak disebabkan oleh usianya yang semakin sepuh.
Seorang resepsionis menerima kedatangan mereka, wanita sebaya Ginggi yang sangat ramah dan simpatik. Dengan telaten ia menerangkan kondisi dan fasilitas apa saja yang dimiliki oleh graha lansia yang akan menjadi rumah baru Cici tersebut.
Wanita itu pun kemudian menunjukkan semua fasilitas yang dimiliki oleh graha lansia yang sebelumnya telah ia sebutkan tersebut. Sebuah halaman belakang yang cukup luas dengan berbagai macam sudut untuk melakukan kegiatan ala penduduk senior. Kamar yang selalu rapi dan bersih higienis, ruangan makan dan ruang rekreasi agar para penghuninya tidak merasa bosan.
“Setiap perawat disini adalah profesional terlatih yang sudah tersertifikasi. Kesabaran dan kecakapan mereka dijamin memuaskan bagi para penghuni graha.” Pungkas wanita itu sambil menunjuk para perawat yang sedang melayani para lansia penghuni graha.
Ginggi mengangguk “Saya akan menjadi penanggung jawab untuk semua biaya yang dibutuhkan oleh Cici ini.”
“Baik, anda bisa mengisi beberapa data dulu dalam formulir pendaftaran dan kemudian kita akan mulai menempatkan ibu Cici sesuai dengan daftar yang telah diisi tersebut.” Ujarnya sambil kembali melangkah menuju meja resepsionis diikuti oleh Ginggi dan Cici.
Wanita itu kemudian mengambil formulir pendaftaran dari laci yang terdapat di meja resepsionis dan menyuruh Ginggi untuk mengisinya. Ginggi kemudian mengisi semua data yang diperlukan, ia memilih fasilitas yang paling mewah dan terbaik yang berada di graha lansia itu untuk Cici.
“Maaf kalau boleh tahu, anda ada hubungan apa dengan Cici?” Tanya sang resepsionis, wanita itu sejak tadi menyimpan rasa penasarannya karena melihat kekontrasan wajah dan warna kulit antara Ginggi dengan Cici.
“Dia sudah saya anggap sebagai anak saya.” Cici yang menimpali.
Ginggi mengangguk tidak membantah pernyataan tersebut.
Sang resepsionis mengangguk mengerti dan menampilkan ekspresi ‘Oh’
Setelah selesai mengisi formulir pendaftaran tersebut Ginggi kemudian menyerahkan lembarannya kembali kepada sang resepsionis.
“Saya rasa pendaftarannya sudah komplit, sekarang kami minta biaya pendaftaran dan uang muka untuk biaya perawatan bulan ini terlebih dahulu.” Sang resepsionis itu tersenyum dan tanpa basa-basi lagi meminta biaya untuk perawatan Cici.
Ginggi melepaskan ransel besar yang sejak tadi terus ia gendong di punggungnya.
“Saya akan membayar uang pendaftaran dan biaya perawatan Cici sampai satu tahun kedepan, apa itu bisa?” Tanya Ginggi.
Meski sedikit terkejut karena mengetahui jumlah uang yang sangat besar tapi si Mbak resepsionis bisa menguasai dirinya “Tentu saja bisa, apa anda hendak memakai cek atau transfer bank?” tanyanya.
“Uang cash, untuk selanjutnya mungkin akan saya transfer.” Sahut Ginggi.
Ginggi kemudian mengeluarkan uang dari dalam ransel sesuai jumlah yang disepakati dan menyerahkannya kepada sang resepsionis. Meliputi uang pendaftaran dan biaya perawatan Cici sampai satu tahun kedepan. Jumlah yang sangat besar terutama karena ia memilih agar Cici mendapatkan fasilitas termewah dan terbaik yang terdapat di graha lansia ini.
“Saya hitung dulu sebentar, ya Mas.” Si Mbak resepsionis menerima segepok uang dari tangan Ginggi. Sedikit gemetar tangannya, ia mulai menghitung uang tersebut. Merapikannya dan kemudian memasukkannya kedalam brangkas kecil yang terdapat di laci mejanya dan memastikan sudah kembali terkunci dengan baik.
“Jumlahnya pas, sebentar saya buatkan bukti pembayarannya.” Lanjut ssang resepsionis. Ia dengan cekatan mengisi kuitansi sebagai bukti pembayaran, ditandatangani dan dicap.
Ginggi pun memberikan sejumah uang ke tangan Cici sebagai pegangannya dan jika menginginkan sesuatu yang tidak ada di dalam graha lansia tersebut. Cici berterima kasih dengan sungguh-sungguh. Lelaki kekar ini ternyata seorang jutawan yang murah hatinya. Cici pun bersyukur kepada sang suami yang telah membuat kebaikan di masa lalu dan membuat Anak muda ini membalas hutang budi kepadanya dengan sangat baik.
“Sekarang mari saya tunjukkan kamar Cici dan nanti akan ada seorang perawat khusus yang akan menemani Cici untuk berkeliling dan berkenalan dengan para penghuni lainnya. Saya yakin Cici bakalan betah dan merasa seperti di rumah sendiri.” Ucap sang resepsionis mempersilahkan Cici dan Ginggi untuk mengikuti dirinya menuju kamar yang ada di lantai dua.
“Baiklah, saya rasa mulai dari sini Cici sudah bisa melakukannya sendiri bukan? Setelah ada waktu saya akan mengunjungi Cici kembali di sini.” Ujar Ginggi, ia merasa tugasnya untuk mewujudkan keinginan Cici sudah tuntas.
“Terima kasih, sekali lagi terima kasih. Kamu memang baik, lebih baik dari anak Cici sendiri.” Cici berterima kasih dan ia pun memeluk Ginggi sesaat sambil menitikkan air matanya terharu.
Ginggi membiarkan Cici memeluknya erat dan agak lama, baru kemudian setelah Cici melepaskan pelukannya, Ginggi berpamitan dan pulang.
***