Memperpanjang Masa Mudik

1902 Kata
Ginggi datang kembali ke panti asuhan yang diurus oleh Sastro ketika hari menjelang sore. Hatinya menjadi lebih tenang, ternyata alasan semua kegelisahan yang belakangan ini kerap menghantui tidurnya adalah tentang Cici. Ia merasa sangat bersalah karena akibat dirinyalah maka kehidupan Cici berubah dari orang kaya berkecukupan menjadi susah dan menderita seperti sekarang ini. Andai saja ia tidak menghabisi Koh Chen mungkin Cici tidak akan mengalami nasib buruk seperti itu. Tapi, semuanya sudah terjadi. Ia berharap Cici akan memaafkannya suatu hari nanti. “Om Ginggi!” Pekik Karina gembira menyambut kedatangan Ginggi begitu melihatnya masuk ke halaman panti asuhan. Gadis kecil itu berlari kemudian menubruk Ginggi sambil memeluknya. Anak-anak yang lain yang sedang bermain di halaman panti menatap penasaran pada lelaki kekar yang baru datang tersebut. Mereka memang tidak tahu siapa lelaki yang disambut oleh Karina dengan begitu gembiranya. Ada yang menduga mungkin paman atau kerabat Karina, ada juga yang mengira dia adalah seorang donatur panti yang baik. Silvi tersenyum menatap adegan yang menurutnya langka tersebut, lihatlah Bos preman terminal ibukota yang kekar dan sangar ternyata bisa bersikap seperti seorang ayah. Ginggi menggendong Karina dan membawanya ke dekat Silvi yang sedang mengobrol dengan Sri dan Sastro di sofa yang terletak dekat pintu masuk panti. Gadis kecil itu tertawa-tawa senang. “Dari mana saja kau?” Tanya Silvi menatap Ginggi, ia berdiri dan menurunkan Karina dari gendongan Ginggi. Ginggi duduk di kursi sebelah Sastro, Karina ikut duduk di sebelahnya. “Mengunjungi seorang kawan lama.” Jawab Ginggi. Sastro menatap Ginggi, setahunya di kota ini Ginggi tidak memiliki seorang kawan pun kecuali dirinya. Ginggi pun menatap ke arah Sastro, ia yakin Sastro pasti penasaran dengan jawaban anehnya barusan. Ia kemudian pura-pura tidak tahu dan mengacuhkan pandangan penasaran Sastro. “Kau sudah makan?” Sri yang bertanya. Ginggi menggeleng, ia memang belum sempat makan siang. “Bagus, sebentar aku akan menyiapkan makanan untukmu. Kebetulan hari ini ada masakan spesial. Silvi membantuku memasaknya, katanya khusus untukmu!” Sahut Sri, ia beranjak masuk ke dalam untuk menyiapkan meja makan. Ginggi menatap ke arah Silvi “Kau bisa memasak?” Silvi mengangguk “Waktu tinggal di Jepang, aku juga diajari memasak sama guruku.” “Masakannya enak loh. Anak-anak juga sangat menyukainya.” Timpal Sastro. “Benar Om, Karina juga nambah makannya tadi, Tante Silvi tadi masak udang kura-kura.” Karina mengangguk. “Bukan udang kura-kura tapi tempura udang, Karina.” Silvi membenarkan. “Iya itu, pokoknya makanan buatan Tante Silvi enak sekali!” celoteh Karina sambil mengacungkan kedua jempolnya. Ginggi mengangguk-angguk, ia menatap anak-anak panti yang lain yang sudah kembali sibuk dengan aktvitas mereka. Di sore hari seperti ini mereka memang memiliki waktu bebas untuk bermain dan bercanda. Terkadang anak-anak yang sudah remaja suka mencuri kesempatan untuk berbicara dengan lawan jenis yang berada di panti sebelahnya. Ginggi mengulum senyum, ia terkenang saat remaja bersama dengan Dewi di tempat ini. Mereka kerap berbincang dan saling bertukar surat hanya sekedar menanyakan kabar masing-masing. Dulu rasanya sudah sangat bahagia dengan membaca surat sederhana tersebut. “Berapa lama rencananya kau berada di kota ini?” Pertanyaan Sastro membuyarkan kenangan dalam benak Ginggi. “Sampai besok siang, esok sore aku akan kembali ke ibukota.” Jawab Ginggi. “Kok cuma sebentar di sininya, Om? Karina masih kangen loh.” Ucap Karina. Ginggi mengusap rambut bocah perempuan tersebut dan menatap mata hitam bulatnya yang tampak polos menyejukkan. “Om Ginggi masih ada pekerjaan yang harus dilakukan di ibukota.” Jelas Ginggi. “Yah, gak bisa ditunda dulu gitu kerjaannya, Om?” Karina bertanya lagi. “Karina benar, aku juga masih merasa betah di sini. Gimana kalau kita tinggal lebih lama, anggap aja sedang liburan.” Sahut Silvi menatap Ginggi yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu beberapa saat. Ginggi menghela nafasnya “Baiklah, dua atau tiga hari lagi kita akan menginap di sini.” “Asyiiik! Om Ginggi nginep lagi disini!” Pekik Karina kegirangan. Sastro tersenyum, sepertinya Silvi bisa sedikit meluluhkan kekeraskepalaan Ginggi. Sebuah perkembangan yang baik, semoga saja Ginggi pun bisa melangkah maju bersama Silvi dan melupakan masa lalunya, pikir Sastro. “Makanan sudah siap!” Sri muncul dari balik pintu dan memanggil semuanya untuk makan. “Kita makan dulu.” Ajak Sastro sambil bangkit dari tempat duduknya. Ginggi pun berdiri diikuti oleh Karina dan juga Silvi yang kini sedang asyik bercanda, saling menjahili dengan mencubiti pipinya sambil berjalan menuju ke meja makan. Silvi cukup terhibur dengan polah Karina yang menggemaskan tersebut. “Anak-anak yang lain, apa mereka tidak ikut makan bersama kita?” tanya Ginggi. “Kau jangan khawatir, mereka sudah makan tadi. Kau juga tahu kan jadwal makan di panti ini. Selepas Maghrib mereka akan makan malam bersama lagi seperti biasanya, tentu dengan menu yang sama dengan yang akan kita makan. Resep istimewa buatan Silvi.” Jelas Sastro sambil mengedipkan mata ke arah Ginggi. Ginggi diam dan terus melangkah, ia bersikap dingin dan sengaja tidak menyahut penjelasan dari Sastro tersebut. Senyum Sastro terhenti melihat betapa dinginnya sikap yang diperlihatkan oleh Ginggi tersebut. Ia menghela nafasnya, sepertinya Ginggi masih belum bisa melupakan kesetiaannya kepada Dewi. Wajar karena mereka sebetulnya adalah pasangan yang sangat serasi, tapi nasib tragis malah terjadi menimpa sahabatnya ini. Meski berubah tapi Sastro yakin kalau dalam jiwa dan bathin Ginggi dia tetaplah Sanin yang ia kenal dahulu. Sanin yang masih memiliki kepedulian sosial sangat tinggi, Sanin yang kental rasa persaudaraan dan persahabatannya. Sanin yang tak bisa melihat kesusahan orang lain tanpa berbuat sesuatu. Ginggi duduk di meja makan, diikuti oleh yang lainnya. Silvi duduk di sebelahnya, sebenarnya Sastro dan Sri sengaja mengatur agar mereka duduk bersisian. Karina duduk dipangku oleh Sri meski awalnya ia ingin duduk bersama dengan Ginggi. Silvi mengalaskan nasi untuk Ginggi dan menaruh tempura udang agak banyak, lengkap dengan sayuran dan mayonnaisenya. “Terima kasih.” Ucap Ginggi. Silvi tersenyum ke arahnya, Sastro dan Sri saling berpandangan penuh makna. “Tante Silvi, Karina juga mau lagi udangnya.” Pinta Karina. “Bentar Karina.” Sahut Silvi sambil mengambilkan tempura udang dalam nampan di dekatnya, ia juga mengalaskan nasi untuk Karina. “Nasinya dikit aja, Tante.” Ucap karina. “Iya, tapi kamu harus makan sayurannya ya?” Silvi mengingatkan. “Iya Tante.” Sahut Karina. Ginggi mencomot tempura udang dan mulai memakannya, benar, rasanya memang sangat enak. Silvi ternyata benaran bisa memasak, ia tidak menyangka sama sekali kalau gadis ini bisa melakukan banyak hal, terutama pekerjaan domestik rumah tangga. “Masakanmu enak.” Komentar Ginggi sambil menatap Silvi. “Terima kasih.” Ucap Silvi agak tersipu karena dipuji oleh Ginggi, semburat merah kentara di pipinya yang putih bersih. “Benar kan, Karina juga suka sama masakan Tante Silvi.” Karina kembali menimpali sambil mengunyah tempura udang yang ada di piringnya. Ginggi hanya mengangguk, ia meneruskan makannya tanpa berkata apa-apa lagi. Sastro dan Sri mulai mengambil alas nasi mereka, Sri yang mengalaskan untuk suaminya. Pasangan yang mesra itu kemudian makan sambil sesekali berbincang ringan. “Besok apa rencanamu?” tanya Silvi menatap Ginggi. Ginggi mengendikkan bahu “Entahlah, aku tidak tahu.” “Bagaimana kalau kita pergi piknik?” Silvi menyarankan rencana mereka untuk esok hari. “Wah bagus itu. Kau juga harus sesekali bersantai, bukan?” Sastro menimpali, itu adalah ide yang sangat bagus dikemukakan oleh Silvi. “Karina juga boleh ikut piknik kan?” tanya Karina antusias. “Ide bagus, kalian bertiga bisa piknik bersama. Aku akan membuatkan bekal untuk kalian.” Sahut Sri merasa senang dengan pemikiran tersebut. “Kita kemana ya?” Silvi memegang dagunya, berpikir tempat yang kira-kira nyaman untuk piknik. Ginggi mengendikkan bahunya “Aku tidak pernah piknik, jadi aku tidak tahu harus pergi kemana.” Silvi menatap Ginggi tak percaya “Benarkah?” tanyanya. Ginggi mengangguk, ia dan Dewi pernah berencana untuk pergi piknik tapi menunggu Rizky sudah agak besar waktu itu. Tapi semua rencana itu sepertinya hanya tinggal rencana belaka, semua sudah tidak mungkin untuk diwujudkan kembali. “Bagaimana kalau kalian ke kebun binatang?” Sastro menyarankan. “Nah, iya. Sepertinya bakal menyenangkan itu, Karina juga pasti menyukainya.” Silvi setuju dengan usul yang diberikan oleh Sastro. “Iya, Om. Karina belum pernah ke kebun binatang. Itu binatangnya di tanam di pot atau bagaimana ya?” tanya Karina polos sambil menatap wajah Ginggi. Kontan semua yang ada di meja makan termasuk Ginggi tertawa mendengar celoteh Karina yang lugu tersebut. “Bukan begitu Karina sayang. Meski namanya kebun tapi bukan seperti kebun buah atau sayuran. Kebun binatang itu, binatangnya ditempatkan di kandang khusus dan dirawat serta diberikan makan secara teratur oleh para petugasnya.” Sri dengan sabar menjelaskan. “Oh, Karina kira sama dengan kebun yang di belakang itu.” Sahut Karina kembali menimpali. “Kalian memiliki kebun?” tanya Ginggi. Sastro mengangguk “Iya, kebetulan di halaman belakang panti kita punya tanah lebih. Kita mulai memanfaatkannya untuk dijadikan kebun sayuran dan buah dalam pot. Selain untuk dikonsumsi nantinya, kita juga berharap anak-anak lebih terbuka wawasannya dan memiliki banyak pilihan ketika dewasa nanti dengan memiliki cukup keahlian.” Jelas Sastro. “Itu benar-benar ide yang bagus Sastro. Kau memang pantas menjadi pimpinan panti ini, kau selalu memikirkan masa depan anak-anak ini.” Ginggi memuji. “Dia malah bermimpi punya tanah yang luas buat membangun panti yang lainnya dan juga memiliki ladang, kebun serta peternakan untuk dikonsumsi oleh anak-anak sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan sumbangan dari donatur yangtak menentu kadang naik dan kadang turun.” Jelas Sri. “Benarkah itu?” Ginggi kembali menatap wajah Sastro sahabatnya. “Iya, tapi hanya sebatas mimpi saja aku rasa.” Sahut Sastro agak malu karena mimpinya dibeberkan oleh sang istri, seharusnya itu adalah rahasia mereka berdua. “Tidak Sastro, itu bukan sesuatu yang muluk. Aku yakin dalam waktu beberapa tahun ke depan impianmu itu bisa diwujudkan. Kau benar-benar visioner, itu adalah sebuah langkah berkelanjutan. Memberikan solusi jangka panjang dan juga harapan kepada anak-anak ini. Aku akan membantumu mewujudkan impianmu itu.” Sahut Ginggi. “Aku juga akan membantu.” Silvi ikut menimpali. “Terima kasih kalian.” Sastro jadi terharu. “Karina juga mau membantu ah.” Sahut Karina. “Iya sayang. Karina sudah sangat membantu, apalagi kalau Karina mau makan dan tidur tepat waktu. Bangun subuh buat shalat berjamaah sama teman-teman yang lain.” Ujar Sri. “Iya, Bunda. Karina pasti melakukan itu kok.” Karina mengangguk. “Besok Karina juga harus bangun pagi, ya. Jangan lupa kan besok kita mau piknik bersama ke kebun binatang.” Silvi mengingatkan. “Iya Tante. Karina selalu bangun pagi kok, kalau enggak kan bisa dimarahin sama Bunda.” Jawab Karina. “Karina, kalau Bunda marah itu bukan berarti tidak sayang, justru sebaliknya. Bunda memarahi semuanya karena sayang dan ingin yang terbaik. Bunda ingin semuanya bisa disiplin dan belajar dengan baik.” Jelas Sri. “Iya, Bunda. Karina tahu itu kok.” Sahut Karina sambil mencomot sebuah tempura udang lagi. “Karina tenang saja. Bunda Sri ini memang sudah cerewet kok sejak kecil dulu.” Ginggi menimpali. Sri mendelik ke arahnya, Ginggi ketawa melihat ekspresi dari Sri tersebut. “Benarkah? Om kok bisa tahu?” Karina menatap Ginggi penasaran. “Iya karena baik Om dan Bunda Sri ini dulu pun tinggal di panti ini, sama seperti Karina dan teman-teman yang lain.” Sahut Ginggi. “Oh pantesan.” Karina mengangguk-angguk. Silvi menatap Ginggi, pantas saja dia begitu akrab dengan Sastro dan Sri. Rupanya Ginggi sudah bersahabat dengan mereka berdua sejak lama. Silvi perlahan dan pasti mulai bisa menerka kehidupan lama Ginggi seperti apa. Silvi merasa sedikit kasihan dengan kisah hidup Ginggi yang terbilang tragis tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN