Piknik Seperti Keluarga

2153 Kata
Keesokan paginya, selepas shalat subuh, Sastro membangunkan Ginggi yang masih asyik tertidur di kamar baru panti yang masih kosong karena baru direnovasi. Ginggi bangun dengan malas, ia masih mengantuk dan sedikit merasa lelah. Di ruangan lain, anak-anak panti sedang ramai mengaji bersama dengan Sri di sebuah mushala. Karina ikut mengaji terlebih dahulu meski ia sudah tak sabar ingin segera berangkat piknik bersama Om Ginggi dan Tante Silvi-nya. Silvi tidak ada di panti, ia sedang joging mengitari jalanan di sekitar. Ia memang selalu bangun pagi dan berolah raga agar tetap prima setiap harinya. Sebuah hal rutin yang dibiasakan oleh gurunya di Jepang untuk melatih kedisiplinan diri. Silvi baru kembali ketika Ginggi sedang menikmati segelas kopi panas buatan Sri sambil duduk termangu menatap jalanan depan panti yang masih berselimut kabut sedikit. “Kau sudah bangun ternyata, tadinya aku berpikir akan membuatkanmu secangkir kopi panas setelah beres joging.” Sapa Silvi sambil duduk di sebelah Ginggi. “Tidak usah, barusan Sri sudah membuatkannya untukku.” Sahut Ginggi memamerkan cangkir kopi yang ia pegang dan menatap Silvi lekat-lekat. “Apa?” tanya Silvi merasa agak malu karena ditatap seperti itu oleh Ginggi. “Seingatku, bukannya bajumu semua berada dalam koper yang tertinggal di kereta api?” Ginggi mentap wajah Silvi. “Oh, kemarin saat engkau menghilang entah kemana. Aku, Sri dan Karina juga sempat belanja ke pasar dan di sana aku membeli beberapa pasang baju, termasuk baju joging ini juga sepatunya. Karina juga aku belikan baju. Aku kurang begitu pas memakai baju Sri yang kebanyakan daster itu.” Jelas Silvi. Ginggi mengangguk, ia paham kini. Mungkin kemarin mereka berselisihan waktu, padahal kemarin Ginggi pun berada di pasar tersebut. Tapi begitu melihat Cici dan berbicara dengannya. Ginggi kemudian mengantarkan Cici untuk mendaftar dan tinggal di Graha Lansia di tepi kota itu. “Karina mana? Bukannya ia sudah sangat ingin pergi piknik bersama kita ke kebun binatang?” tanya Silvi sambil meraih gelas kopi milik Ginggi, tanpa sungkan ia meneguknya. “Mungkin masih mengaji bersama temang-temannya. Kegiatan di panti memang begitu, selalu ada rasa kebersamaan dan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama.” Jelas Ginggi, ia meraih kembali gelas kopinya dan menghela nafas setelah tahu isinya telah dihabiskan oleh Silvi. “Kau jangan khawatir, aku akan menyeduhkan kopi kesukaanmu lagi. Tunggu sebentar!” pamit Silvi sambil mengelap keringat dengan handuk kecil yang tersampir di pundaknya. “Gadis yang enerjik.” Komentar Sastro yang berpapasan dengan Silvi di pintu masuk panti, ia mendekati Ginggi sambil memegang cangkir kopi. “Ya, dia memang selalu bersemangat.” Sahut Ginggi. “Wah gelasmu bocor rupanya!” Sastro menunjuk gelas kopi milik Ginggi yang sudah habis isinya, padahal belum ada sepuluh menit ia datang ke depan untuk menikmati kopinya. Ginggi tersenyum mendengar candaan Sastro yang sudah ketinggalan zaman itu. “Perlu aku suruh si Sri untuk membuatkannya lagi untukmu?” Sastro menawarkan. Ginggi menggeleng “Tidak usah, Silvi bilang dia yang akan menyeduhkannya untukku.” “Begitu rupanya. Ya aku yakin kopi buatan Silvi memang jauh lebih enak daripada buatan si Sri. Setidaknya untukmu.” Sastro mengedipkan matanya penuh dengan makna. Ginggi memilih mengabaikan Sastro, ia tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi. Ia kini sedang asyik menatap kembali jalanan di depan panti. Kabut yang tadi terkembang perlahan mulai memudar terkena sinar matahari yang cukup panas pagi ini, bersama angin kabut itu semakin jauh menghilang, lenyap entah kemana. “Bagaimana rencana piknik hari ini, jadi?” Sastro mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Ginggi mengangguk “Iya, Karina sepertinya sudah tidak sabaran untuk mengetahui seperti apa kebun binatang itu. Kasihan dia sama sekali tidak pernah melihatnya.” “Iya, sama seperti kebanyakan anak-anak panti ini. Tapi aku jadi punya rencana untuk berlibur bersama anak-anak ini semuanya. Mungkin ketika libur panjang tiba, aku berencana menyewa bus dan kita semua akan mengunjungi kebun binatang bersama-sama.” Sastro manggut-manggut. “Bagaimana kalau hari ini saja? Kita semua pergi ke kebun binatang secara rombongan?” usul Ginggi sambil menatap Sastro. Sastro berpikir sejenak, ia kemudian mengibaskan tangannya ke arah Ginggi. “Tidak usah. Hari ini kalian bertiga saja yang pergi piknik. Anak-anak yang lain kan hari ini masih ada yang harus belajar di sekolah. Kalau mereka diajak juga kasihan karena akan tertinggal pelajaran di sekolah. Biar Karina saja yang mewakili mereka hari ini, dia masih kecil dan belum ada beban sekolah yang harus diikuti.” Jelas Sastro. “Baiklah kalau begitu.” Ujar Ginggi. Sastro tersenyum, semua alasan tadi adalah alibinya belaka. Ia tidak ingin Ginggi malah sibuk membantunya mengurusi anak-anak panti dan lupa bersantai bersama Silvi. Tujuan Sastro adalah agar Ginggi dan Silvi bisa meluangkan waktu bersama dan mengenal satu sama lain dengan lebih baik dan lebih akrab lagi. Ia benar-benar berharap Ginggi akan melupakan niatnya membalas dendam dan melanjutkan hidupnya. Membina kembali rumah tangga bersama Silvi, siapa tahu saja kan mereka berjodoh. “Ini kopimu. Aku pergi mandi dulu!” Silvi datang kembali ke tempat Ginggi dan Sastro yang sedang berbincang, meletakkan gelas kopi di meja dan kemudian berbalik lagi masuk ke dalam untuk mandi. “Dia adalah gadis yang langka. Jarang-jarang loh ada gadis secantik dia yang bisa masak dan membuatkan kopi dengan sangat perhatian.” Sastro kembali mempromosikan Silvi. Ginggi tidak menjawab, ia meraih gelas kopi yang dibuatkan oleh Silvi untuknya. Meneguknya, Sastro benar. Kopi buatan Silvi memang enak, jauh lebih enak daripada buatan si Sri tadi. Dan meski ia benci untuk mengakuinya bahkan jauh lebih enak dibandingkan dengan buatan istrinya Dewi dulu. “Kalian akan berangkat jam berapa?” tanya Sastro. “Mungkin sekitar jam sembilan atau lebih, terserah pada Silvi dan Karina mereka siapnya jam berapa.” Sahut Ginggi. “Apa kalian mau membawa bekal makanan? Aku bisa menyuruh si Sri untuk membuatkan nasi goreng andalannya.” Usul Sastro sedikit tertawa. “Tidak perlu!” sahut Ginggi cepat, ia sudah tahu bagaimana rasa nasi goreng buatan istri Sastro itu. Rasanya sangat buruk, bahkan lebih buruk daripada buatan koki di kantin penjara. “Hahaha, baiklah aku hanya usul saja. Kurasa memang jauh lebih praktis kalau kalian membelinya di tempat saja. Kudengar di kebun binatang saat ini pun sudah ada food court yang cukup memadai dengan rasa dan harga yang bervariasi.” Ujar Sastro, ia memang sudah bisa menduga jawaban yang akan diberikan oleh Ginggi tersebut. “Iya, aku rasa dengan beli di sana jauh lebih praktis dan tidak merepotkan.” Ujar Ginggi mengangguk-angguk. Siang itu Ginggi dan Silvi juga Karina melaksanakan rencana mereka untuk pergi piknik ke kebun binatang. Mereka memesan sebuah taksi untuk pergi ke lokasinya. Dari dalam taksi, Ginggi bisa menyaksikan betapa kota kecilnya kini telah menggeliat dan berubah semakin modern. Gedung-gedung yang tinggi menjulang berlomba-lomba hadir di setiap penjuru. Perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan bermunculan bak cendawan di musim hujan. Selain semua kemajuan dan pembangunan yang pesat itu, mata elang Ginggi pun menyaksikan semua ketimpangan yang ada. Tersembunyi atau seperti sengaja disembunyikan oleh para penguasa dibalik pagar-pagar seng. Kekumuhan kota dan kemiskinan penghuni aslinya dipagar erat agar tidak merusak pemandangan kemajuan kota. Sungguh kontras pemandangan yang disaksikan oleh Ginggi, harga sebuah kemajuan yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Ginggi menghela nafasnya, ia paling tidak bisa kalau hanya berdiam diri begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu dengan semua masalah sosial ini, tapi untuk saat ini ia merasa kalau dirinya memiliki batasan dan keterbatasan. Silvi yang sedang mendengarkan celotehan Karina menangkap helaan nafas Ginggi yang penuuh dengan kegelisahan tersebut. Ia melemparkan pandangan ke arah Ginggi menatap dan turut menyaksikan semua ketimpangan tersebut. Ia kini sedikit memahami jalan pikiran Ginggi. Meski jarang bicara, tapi Ginggi sangat memperhatikan keadaan dan orang-orang di sekitarnya. Mereka sampai di kebun binatang setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya. Ginggi membayar ongkos taksi tersebut dilebihkan sedikit untuk tips, sang sopir mengucapkan terima kasih dan berkomentar kalau mereka adalah pasangan suami istri yang serasi. Ginggi tidak menjawab dan hanya mengangguk saja. Silvi justru merasa tersipu dengan komentar sang sopir taksi tersebut, dalam hari kecilnya ia sangat berharap demikian. Dan tidak masalah jika Karina pun menjadi bagian dari keluarga kecilnya tersebut. Ia merasa suka dan cocok dengan tingkah gadis kecil yang kini menjadi yatim piatu dan dibawa oleh Ginggi untuk tinggal di panti asuhan milik Sasatro itu. Setelah membeli tiga buah tiket di loket yang tersedia, mereka bertiga masuk ke dalam kebun binatang yang lagi-lagi membuat Ginggi terkesima. Keadaan kebun binatang sekarang jauh berbeda dengan saat terakhir ia mendatanginya bersama Dewi ketika mereka sedang berpacaran dulu. Ketika itu kebun binatang terlihat kotor dan kandang-kandang binatang di dalamnya terlihat berkarat. Sekarang kondisinya jauh lebih baik, kandang-kandang tempat para binatang ditempatkan terlihat jauh lebih luas dan lebih baik, tidak ada lagi besi kandang yang berkarat. Sejauh mata memandang kini terlihat keteduhan dari pohon-pohon besar yang rimbun daunnya dan di sana-sini ada banyak tempat penuh rumput untuk tempat piknik para pengunjung. Selain itu Sasrto benar, sudah ada food court yang berada di beberapa penjurunya sehingga memudahkan pengunjung yang lapar untuk mengisi perut dan menghilangkan haus dengan menyajikan aneka makanan dan minuman. “Mau kemana dulu kita?” tanya Ginggi menatap Silvi dan Karina bergantian. “Terserah Karina saja.” Sahut Silvi yang sedang asyik menatap orang-orang yang juga sedang berpiknik di kebun binatang ini. “Ke tempat binatang yang sama dengan gambar yang ada di tangan Om Ginggi aja.” Ujar Karina dengan polos. Ginggi kaget mendengar ucapan Karina tersebut, padahal ia sudah dengan sangat rapat menutupi tato harimau berkepala dua di lengan kirinya. Ia selalu memakai kemeja lengan panjang dan selalu mengancingkan lengan bajunya agar tidak memperlihatkan tato harimau tersebut. Silvi pun sama terkejutnya, ia memandang Ginggi dengan raut muka penasaran. “Karina, dari mana Karina tahu soal gambar harimau di lengan Om?” tanya Ginggi menyelidik. “Tahu lah Om, kan waktu Om sedang menguburkan ayah Karina. Waktu itu Karina melihat lengan Om yang ada gambar hewan lorengnya. Waktu Om sedang mencangkul itu Karina melihatnya.” Jelas Karina. Ginggi manggut-manggut, waktu itu ia memang tidak sengaja menyingkapkan lengan kemejanya agar mudah mencangkul tanah merah untuk menguburkan jasad ayahnya Karina. “Karina, Om minta kamu jangan bercerita sama siapapun ya tentang gambar harimau di lengan Om ini. Kamu bisa kan?” tanya Ginggi sambil berjongkok dan menatap mata Karina, meminta bocah tersebut merahasiakan tato di lengan kirinya. “Termasuk dari Om Sastro dan Bunda Sri?” tanya Karina. “Iya, juga mereka berdua. Kamu mau kan merahasiakan gambar di lengan Om ini?” tanya Ginggi sekali lagi. “Iya Om, Karina gak akan bilang-bilang sama siapapun.” Sahut Karina mengangguk setuju. “Bagus, kamu memang anak yang pandai!” Puji Ginggi sambil mengusap rambut Karina. Silvi tersenyum menyaksikan adegan itu. Dibalik sifat kerasnya, Ginggi ternyata mampu bersikap lembut kalau menghadapi anak-anak kecil. “Baiklah, jadi tujuan kita menuju ke arah kandang harimau, kan?” ucap Silvi. Ginggi mengangguk. Silvi kemudian menggandeng tangan Karina dan bertiga mereka melangkah menuju ke arah kandang harimau yang berada tepat di tengah-tengah kebun binatang tersebut. Dalam kandang yang cukup lega itu, ada enam ekor harimau yang menjadi koleksi kebun binatang. Dua diantaranya merupakan harimau bengal yang berasal dari luar negeri. Harimau-harimau itu tampak seperti seekor kucing besar yang manja, mereka duduk dengan takjim karena sudah kenyang. Beberapa menit yang lalu keeper mereka telah memberikan mereka makanan yang cukup. “Om, lucu juga ternyata harimaunya. Mirip sama kucing oyen yang suka datang ke panti.” Komentar Karina menatap dengan antusias dan takjub. “Iya, tapi mereka ini jauh lebih ganas dan berbahaya Karina. Sekarang kita bisa lihat mereka karena kita aman dan dibatasi oleh besi-besi ini. Kalau kita bertemu mereka di alam liar, bisa-bisa kita dicabik dan dimakan oleh mereka!” Silvi menjelaskan. ‘Rrroooaarrr…!’ seekor harimau tiba-tiba mengaum dengan sangat keras. Karina menjadi ketakutan, ia segera bersembunyi dibalik kaki Ginggi. Silvi sedikit terpingkal melihat reaksi Karina tersebut, tapi sedetik kemudian ia menahan tawanya ketika melihat wajah Karina yang mulai berlinang air mata. “Kamu kenapa menangis?” tanya Silvi mendekati Karinaa. “Karina takut Tante, suara harimaunya keras dan membuat Karina jadi takut. Gimana kalau harimaunya keluar dan memakan Karina.” Ucap Karina terisak. Silvi berjongkok dan memeluk Karina “Kamu jangan khawatir, kita aman di sini. Harimaunya kan berada dibalik jeruji besi itu. Mereka tidak mungkin bisa keluar.” Silvi berusaha menenangkan Karina. “Tante Silvi benar Karina. Kita aman di sini.” Ujar Ginggi menegaskan. Karina mulai mengelap sisa air matanya, dan Silvi pun melepaskan pelukannya. Karina lebih mempercayai ucapan Ginggi sepertinya, itu membuatnya merasa aman. “Aku jadi berpikir, sepertinya kalau sudah berhasil menghabisi si Jamal, aku akan berusaha untuk membebaskan si Loreng, ayahmu.” Ujar Ginggi sambil menatap wajah Silvi. Silvi mengangguk “Iya, aku pun berharap bisa kembali bertemu dengan ayahku. Tapi kita harus memiliki rencana yang sempurna untuk mengalahkan si Jamal.” Ginggi mengangguk. “Ayo Karina, kita lanjutkan lagi melihat binatang yang lainnya!” Ajak Ginggi sambil melangkah keluar dari arena kandang harimau. “Iya, Om. Ayo Tante Silvi!” ajak Karina, ia sudah kembali ceria seperti sedia kala. Silvi mengangguk dan mengikuti langkah mereka menuju ke area kandang binatang yang lainnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN