Karina kembali berwajah ceria setelah mereka meninggalkan area kandang harimau. Silvi yang menggandeng tangannya pun tersenyum menatap wajah Karina, memang anak kecil mudah sekali berubah-ubah mood-nya. Sebentar menangis dan sebentar kemudian sudah bisa tersenyum bahkan tertawa dengan bahagia. Perasaan seorang bocah tampaknya sangat sederhana, tidak seperti orang dewasa yang kadang merumitkan sesuatu dan terus teringat dengan satu masalah selama bertahun-tahun. Egoisme orang dewasa yang angkuh hingga terus saja enggan melangkah ke depan meninggalkan semua masalah hari yang telah berlalu.
“Hewan apa itu, Om? Lucu sekali.” Karina menunjuk ke arah kawanan kancil yang sedang bergerombol di dalam kandang mereka yang luas.
Kancil-kancil itu sedang diberi makan oleh keeper mereka. Saling berloncatan dan berebut mendapatkan perhatian sang keeper agar didahulukan diberi makanan.
“Itu namanya kancil, Karina. Kalau dalam dongeng-dongeng kancil itu dikenal sebagai hewan yang sangat cerdik dan lincah.” Silvi yang menjelaskan.
“Sama dengan Karina dong Tante. Kata Bunda Sri Karina itu anak yang lincah dan cerdik.” Sahut Karina dengan polos sambil terus menatap kawanan kancil tersebut.
Silvi mencubit pipi Karina dengan gemas. Karina sedikit mengaduh sambil mengusap pipinya.
Ginggi menghela nafasnya, melihat tingkah Silvi dan Karina yang seolah seperti seorang ibu dengan anaknya saja. Ginggi tidak menyadari bahwa mereka bertiga memang terlihat seperti sepasang orang tua muda yang sedang mengajak piknik anak mereka. Pikiran Ginggi lebih fokus kepada cara untuk membalas dendam, mencari siapa pengkhianat di terminal yang telah mengkhianatinya. Mencari cara untuk menghabisi si Jamal dan bagaimana ia harus bertindak bila telah menjadi penguasa dunia gelap, bila ia telah menjadi Bos Besar para preman nantinya.
“Tante memang tahu cerita soal kancil itu?” Karina menunjuk sambil matanya menoleh ke arah Silvi.
“Tahu dong. Ada kisah kancil dengan buaya, nah kancil yang cerdik itu menyuruh buaya berbaris di sungai agar ia sendiri bisa menyeberang dengan aman dan akhirnya bisa makan buah kesukaannya yang tumbuh di seberang sungai itu. Lalu ada juga kisah soal kancil yang selalu lolos dari kejaran harimau yang hendak memangsanya. Pokoknya ada banyak dech kisah soal kancil yang cerdik itu.” Jelas Silvi bersemangat.
“Tante kok tahu banyak sich?” Karina menunjukkan wajah penasarannya yang semakin menggemaskan.
“Iya soalnya Tante itu banyak baca. Kisah-kisah binatang itu disebut fabel dan Tante Silvi suka membacanya saat kecil dulu.” Silvi menjelaskan.
“Memangnya Tante baca di mana sich? Karina juga jadi ingin membacanya.” Sahut Karina antusias.
“Tante baca di buku dan juga komik-komik. Memangnya Karina sudah bisa membaca?” Selidik Silvi.
“Belum. Karina baru belajar sama Bunda Sri soal huruf aja, kata Bunda Sri kalau Karina rajin katanya bakal bisa membaca dengan baik.” Jawab Karina dengan polos.
“Benar apa yang dikatakan oleh Bunda Sri itu, Karina. Awalnya untuk membaca memang kita harus belajar mengenal huruf lalu kata dan kemudian kalimat demi kalimat. Setelah itu pasti Karina bisa lancar membaca apa saja. Oh iya, bagaimana kalau pulang dari kebun binatang ini kita mampir ke toko buku? Kita beli buku bacaan dan juga komik buat Karina dan teman-teman di panti asuhan?” Silvi menyarankan sambil melirik ke arah Ginggi.
Ginggi mengangguk, itu ide yang bagus. Ia pun kini memang memiliki hobi membaca setelah ‘dipaksa’ oleh si Loreng melahap banyak sekali buku yang bermanfaat untuk melatih ketajaman daya pikirnya sewaktu di lapas pulau terpencil itu. Ginggi menyadari bahwa ketidaktahuan, kepolosan tepatnya kebodohan bisa dimanfaatkan orang jahat untuk menjebak seseorang. Ia sadar bahwa banyak membaca akan membuat pikiran selalu waspada dari setiap niat jahat orang lain. Ilmu memang menjaga pemiliknya.
“Jangan lupa beli buku yang ada kisah kancilnya ya Tante.” Karina meminta.
Silvi mengangguk “Pasti itu, Karina. Khusus untuk Karina nanti Tante belikan semua buku yang ada kisah kancilnya.”
‘Asyiik. Tante Silvi memang baik!” pekik Karina kegirangan dan spontan memeluk kaki Silvi.
Silvi tertawa senang, Karina memang anak yang sangat menggemaskan. Tingkahnya selalu bisa bikin Silvi senang.
“Kalian seperti ibu dan anak saja.” Komentar Ginggi.
“Iya dan kamu ayahnya!” sahut Silvi setengah menyindir.
Ginggi tidak berkomentar dan bahkan ia pura-pura tidak mendengar sindiran Silvi barusan.
Silvi tersenyum kecil mengetahui reaksi Ginggi yang seperti itu, meski mengacuhkan tapi setidaknya ia tidak menolak ide tersebut bukan?
“Sudah hampir tengah siang ini. Bagaimana kalau kita makan dulu?” Tanya Ginggi.
“Aku setuju. Karina mau makan apa?” Silvi bertanya kepada Karina, sudah persis seperti seorang ibu yang bertanya kepada anaknya sendiri dengan penuh perhatian.
“Apa aja Tante asal ada es krim nya.” Sahut Karina.
“Baiklah, kita pilih di food court saja apa yang mau dimakannya.” Ujar Ginggi sambil melangkah menuju ke sebuah food court yang terletak tak jauh dari tempat mereka berada.
Food court itu terletak di bawah pohon-pohon besar dengan daun yang sangat rimbun sehingga membuatnya teduh dan nyaman untuk makan bersama. Beberapa penjual makanan disana dengan memakai payung tenda yang terkembang berwarna-warni seakan berusaha memikat pengunjung yang membawa anak-anak kecil. Semua menawarkan variasi makanan dan jajanan juga minuman yang beragam dengan harga yang kompetitif.
Ginggi duduk di salah satu bangku dengan meja yang disediakan di sana. Tempat yang nyaman untuk makan dan minum. Sedikit terisolasi dari kandang-kandang hewan yang berada di kebun binatang ini sehingga tidak tercium aroma hewan yang bau dan bisa mengganggu kenikmatan ketika sedang makan dan minum. Setelah direnovasi memang kebun binatang ini sekarang jadi jauh lebih baik dari segi penempatan ruangan untuk berbagai macam keperluan pengunjungnya. Akses menuju ke toilet pun sekarang lebih banyak tersebar. Penampilan kebun binatang yang kumuh dan kotor sama sekali tidak ada lagi sekarang.
Karina dan Silvi mengikuti dan duduk di sebelah Ginggi. Seorang pelayan food court dengan sigap segera menghampiri mereka. Gadis muda yang dari segi usia hampir sebaya dengan Silvi.
“Selamat siang Bapak, Ibu dan Adek. Selamat datang di food court kami, ada yang bisa saya bantu untuk memesan?” tanya gadis itu sambil tersenyum dengan sangat ramah.
“Lihat menunya, Mbak.” Pinta Silvi.
Si Mbak pelayan mengulurkan daftar menu yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja di hadapan Silvi. Sesuai kebiasaan, biasanya kalau rombongan suami istri dengan anak maka ibu mereka yang akan memilih terlebih dahulu.
Silvi menerima daftar menu tersebut dan kemudian mengamati berbagai macam hidangan yang ada di dalamnya. Sudah disusun sedemikian rupa agar menarik minat pembeli, lengkap dengan beberapa foto makanan tersebut yang sengaja dihadirkan untuk menggugah selera.
“Satu mie goreng ekstra pedas dan minumnya es teh manis untuk saya. Kau mau makan apa?” tanya Silvi sambil menyerahkan daftar menu kepada Ginggi.
Si Mbak pelayan food court mencatat pesanan Silvi tersebut dan kemudian menatap Ginggi, menunggu pesanannya.
“Karina, kamu yang pilih duluan!” Ginggi menyerahkan daftar menu ke tangan Karina.
Gadis cilik itu membuka-buka daftar menu sambil mengamati gambar makanan yang terdapat di sana.
“Karina mau makan ini, Tante!” Karina menunjuk sebuah foto.
Silvi menatap foto yang ditunjukkan oleh Karina.
“Owh itu martabak telur, bisa ditambah sama nasi kan, Mbak?” tanya Silvi menatap wajah si Mbak pelayang food court.
“Bisa, Bu. Martabak telur dan nasi putih satu. Minumnya apa?” tanya si Mbak pelayan food court menambahkan catatan pesanan.
Silvi menatap Karina yang langsung menjawab “Es Krim!”
“Es Krim rasa apa yang Adek mau?” tanya si Mbak pelayan food court ramah seperti sudah menduga jawaban dari Karina. Anak kecil memang suka memesan es krim biasanya, itu adalah pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi pelayan di food court ini.
“Strawberry.” Sahut Karina singkat.
Si Mbak pelayan mengangguk dan mencatat satu es krim rasa strawberry dalam notes kecilnya. Ia kembali berpaling menatap Ginggi, satu lagi pesanannya.
“Nasi goreng dan es jeruk satu.” Sahut Ginggi tanpa melihat lagi daftar menu yang sedang dipegang oleh Karina.
Si Mbak pelayan food court dengan sigap segera mencatat pesanan dari Ginggi tersebut.
“Baik, tolong ditunggu sebentar.” Ucapnya, segera kembali ke warung tempat koki akan segera membuatkan pesanan para customer tersebut.
Selain Ginggi, Silvi dan Karina, beberapa rombongan kecil lainnya pun nampak berada di bangku-bangku food court. Sebagian dari mereka sedang menunggu pesanan dibuatkan sementara sebagian lainnya sedang menikmati makanan yang telah jadi.
Tak berapa lama makanan pesanan Ginggi, Silvi dan Karina selesai dibuat dan diantarkan ke meja tempat mereka sedang duduk menunggu. Mereka makan dengan laha, Ginggi bahkan menghabiskan makannanya tak lebih dari sepuluh menit. Nasi goreng yang ia santap jauh lebih enak daripada buatan si Sri istrinya Sastro.
Silvi pun demikian, ia menyantap mie gorengnya yang meski pedas tapi justru membuatnya sangat berselera untuk makan. Ia pun menghabiskan makanannya beberapa menit setelah Ginggi selesai makan dan minum.
Hanya Karina yang sedikit lambat, ia tak begitu selera dengan makanan yang ia pesan. Karina lebih suka mencuri pandang ke arah es krim strawberry-nya yang berada di atas meja.
“Om, Tante. Karina kenyang, boleh ya Karina gak menghabiskan makanannya.” Ujar Karina, ia sudah tak tahan ingin segera menikmati es krimnya.
“Karina, gak baik menyisakan makanan. Karina habiskan ya?” bujuk Silvi.
Karina menggeleng “Karina sudah kenyang Tante.”
“Satu suap lagi, habis itu Karina boleh deh minum es krim-nya.” Bujuk Silvi lagi.
“Janji ya Tante? Cuma sesuap lagi aja tapinya?” Karina menatap wajah Silvi.
Silvi mengangguk, iya sudah tahu kalau bocah ini modus belaka, tapi setidaknya perutnya sudah terisi dengan nasi dan beberapa potong martabak telur.
Ginggi menghela nafasnya, ia menatap martabak telur yang masih tersisa lumayan banyak di piring Karina. Dulu, ia adalah penjual martabak manis dan istrinya memiliki harapan agar mereka juga menjual martabak telur setelah Rizky cukup besar. Tapi itu sekarang hanyalah mimpi semu saja. Ginggi segera mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah para pengunjung lain yang sedang menikmati santapan masing-masing.
Karina memakan sesuap lagi martabak telurnya dan kemudian dengan cepat ia meraih gelas es krim strawberry-nya. Ia menikmati es krim itu dengan lebih baik ketimbang saat makan nasi barusan.
Silvi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Karina tersebut, lalu tanpa ragu mulai meraih potongan martabak telur yang tak dihabiskan oleh Karina.
“Kau mau?” Silvi menawarkan martabak telur tersebut kepada Ginggi.
Ginggi menggeleng, ia tak ingin Silvi tahu ada nilai sentimentil yang sedang ia rasakan ketika melihat martabak tersebut.
Setelah mereka beres makan dan minum juga membayar semua makanan dan minuman tersebut, mereka meneruskan acara jalan-jalan di kebun binatangnya.
“Wah Om,serem banget itu! Hewan apa itu?” tanya Karina menunjuk ke arah kandang yang cukup besar dengan kubah besi jarang-jarang yang menutupinya.
“Itu Gorila namanya Karina.” Lagi-lagi Silvi menjelaskan dengan telaten.
“Apa dia kuat?” tanya Karina lagi.
“Iya, dia sangat kuat. Om saja butuh waktu lebih dari setahun untuk mengalahkannya.” Ucap Ginggi yang tiba-tiba teringat kepada si Gorila ketika bertarung bebas dengan orang besar tersebut.
“Om pernah berkelahi dengan gorila?’ tanya Karina terpukau.
Silvi menatap Ginggi dengan wajah keheranan.
Ginggi menggeleng “Bukan dengan hewan tapi dengan orang yang besar dan kuat seperti hewan itu. Dia bahkan dijuluki si Gorila karena kuat dan besar tubuhnya.” Jelas Ginggi.
Silvi bisa menduga tentu yang dijuluki si Grila itu adalah salah seorang tahanan yang sama-sama mendekam di lapas pulau terpencil itu bersama dengan Ginggi dan si Loreng ayahnya.
“Serem ya Om.” Timpal Karina lagi.
Ginggi mengangguk, ia juga jadi teringat dengan janjinya kepada si Gorila untuk menemui dan mengirimkan foto terbaru anak gadisnya yang bernama Lydia di salah satu sudut ibu kota sana. Ia akan menepati janjinya sebentar lagi.
Seorang laki-laki dengan kamera polaroid datang menghampiri mereka bertiga.
“Apa mau difoto sebagai kenang-kenangan Bunda, Ayah? Ini kamera sekali jadi, hanya menunggu beberapa menit maka hasil fotonya akan langsung bisa dilihat.” Tawar laki-laki tersebut.
“Ide bagus, kami mau!” sahut Silvi dengan cepat.
Ginggi tidak ada pilihan, ia pun mengangguk mengiyakan. Karina tentu saja antusias.
Sang fotografer menyarankan agar Ginggi dan Silvi berdiri bersisian dan Karina berada di depan mereka. Latar belakangnya adalah kandang gorila tersebut.
“Baik, siap…? Satu… dua dan tiiigaaa..!” ucap sang fotografer memberikan aba-aba sebelum memencet tombol shutter kameranya.
Kertas foto polaroid itu keluar dari dalam kamera dan benar apa yang ia katakan, setelah mengibas-ngibaskannya foto itu telah jadi. Hasilnya bagus.
“Sekali lagi, Mas!” pinta Silvi.
Si Mas Fotografer mengangguk dan memberikan aba-aba lagi seperti tadi.
Silvi menggenggam tangan Ginggi dengan erat.
Ginggi menoleh ke arah Silvi yang pura-pura berkonsentrasi menatap ke arah kamera. Ia membiarkan gadis itu menggenggam tangannya demikian erat, ada sebuah rasa aneh yang berdesir di d**a Ginggi karena genggaman tangan Silvi tersebut.
Untuk foto yang kedua ini, si Mas fotografer seolah paham dan membidikkan kameranya dua kali. Jadi ia menghasilkan tiga buah foto polaroid.
Setelah Silvi membayarnya, si Mas Fotografer melangkah menjauh dan mencari pengunjung lain yang hendak difoto olehnya.
“Hasilnya bagus kan? Ini untuk kenang-kenangan kita nanti.” Ujar Silvi sambil mengamati fotonya sedang menggenggam tangan Ginggi dan Karina yang tertawa lucu di depannya. Persis sebuah foto keluarga kecil yang sempurna.
Silvi berharap Ginggi akan menyadari arti dari genggaman tangannya tadi. Tapi melihat betapa dinginnya mata Ginggi saat ini, ia hanya tersenyum saja. Setidaknya Ginggi tidak menolak dan melepaskan genggaman tangannya tadi kan. Itu saja sudah membuat Silvi merasa sangat bahagia.
***