Ke Ibukota Kita Akan Kembali

1729 Kata
Ginggi, Silvi dan Karina kembali ke panti asuhan ketika hari menjelang maghrib, mereka keluar dari taksi sambil membawa banyak sekali bungkusan. Ginggi bahkan membawa sebuah kardus yang cukup besar dan tampak berat, meski begitu ia memanggulnya tanpa kesulitan sama sekali. Ginggi sedikit teringat betapa kesulitannya ia sewaktu masih menjadi Sanin sang tukang martabak yang kerempeng, ia tak sanggup memikul karung terigu dan gula yang ia beli di grosir kala itu. Tapi sekarang, ia rasa ia akan sangat mudah memanggul karung-karung terigu tersebut. Kekuatannya sekarang bertambah dan apalagi ketika tattoo bromocorah-nya sedang aktif maka tenaganya ia rasa menjadi berlipat-lipat kalinya. “Wah kalian seperti keluarga yang sedang pindah rumah saja.” Sambut Sastro di depan pintu masuk panti sambil tertawa kecil melihat Ginggi, Silvi dan Karina yang sedikit kerepotan membawa barang bawaan mereka. “Iya, ini Karina tadi meminta mampir ke toko buku. Kami sekalian membeli banyak buku buat anak-anak yang lain juga.” Sahut Silvi sambil melepaskan sepatunya. Silvi dan Karina meletakkan sebagian besar plastik belanjaan mereka di teras rumah. “Itu buku semua?” Sastro bertanya sambil menunjuk ke arah kardus yang sedang dipanggul oleh Ginggi. Ginggi mengangguk “Buku cerita anak-anak, novel dan juga buku pengetahuan umum lainnya.” “Wah kalian tahu saja kalau panti memang akan membuat sebuah perpustakaan untuk anak-anak.” Sastro menimpali lagi. Ginggi meletakkan kardus yang ia panggul di teras, benar-benar tanpa keringat sama sekali. “Kalian sudah datang? Bagus, tepat waktu untuk makan malam bersama sebentar lagi.” Sri yang kebetulan lewat bersama beberapa anak panti yang sudah remaja terlihat senang dengan kedatangan Ginggi, Silvi dan Karina. “Mereka juga membawa oleh-oleh Bun, buku-buku baru untuk koleksi perpustakaan kita!” Sastro menunjuk ke arah kardus yang berada di teras panti. Sri melongok ke arah kardus tersebut dan tampak sumringah “Buku-buku baru memang yang sedang dibutuhkan oleh anak-anak. Terima kasih Ginggi, Silvi.” “Terima kasih sama Karina, dia yang memaksa kami untuk ke toko buku. Benar kan Karina?” Silvi melirik Karina yang sedang mengaduk isi keresek yang ia bawa. Karina mengangguk “Iya Bunda, Karina dibelikan buku tentang kancil sama Om Ginggi dan Tante Silvi. Ini bukunya, bagus kan Bunda?” Karina bertanya sambil memamerkan buku cerita anak yang memang sudah dipisahkan untuk dirinya sendiri ketika di toko buku. “Bagus sekali Karina. Tapi kamu tidak merepotkan Om Ginggi dan Tante Silvi kan?” selidik Sri. Karina menggeleng “Tidak Bunda, Karina sudah jadi anak yang baik kok. Bunda bisa tanya sama Tante Silvi dan Om Ginggi.” Sahut Karina. “Karina tidak merepotkan kok, dia anak yang baik dan penurut.” Silvi membenarkan ucapan Karina. “Syukurlah. Kalian berdua tolong bawa kardus itu ke ruangan yang mau dijadikan perpustakaan di sebelah!” Sri memerintah kedua anak panti yang sudah remaja di dekatnya. “Baik, Bunda.” Sahut salah seorang dan kemudian mereka berdua menggotong kardus berisi buku tersebut ke ruangan yang berada di sebelahnya. “Ginggi, kamu mau aku buatkan kopi?” tanya Sri menawarkan sambil menatap ke arah Ginggi yang beranjak duduk di sofa. Ginggi mengangguk “Boleh, terima kasih.” “Ayah juga mau, Bun!” Sastro ikut menimpali dan juga duduk di sebelah Ginggi. “Biar aku bantu menyeduhkan.” Silvi tersenyum. Sri mengangguk dan kemudian mereka berdua berjalan menuju ke dapur. Karina ikut duduk di antara Ginggi dan Sastro sambil mulai membuka-buka buku cerita anak tentang si Kancil yang cerdik. “Bukunya bagus?” Tanya Sastro mengintip buku yang sedang dibaca oleh Karina. Karina menatap Sastro dan mengangguk “Iya, tapi Karina cuma ngeliatin gambarnya aja. Karina kan belum bisa baca.” Sastro tertawa kecil mendengar jawaban polos tersebut “Nanti Karina pasti bakalan bisa baca, Bunda Sri akan mengajari Karina dan teman-teman lain yang belum bisa baca agar bisa membaca dengan baik. Karina kan pintar dan cerdik seperti kancil ini!” Sastro menunjuk gambar kancil yang ada di dalam buku yang sedang ditatap oleh Karina. “Beneran ya Yah?” Mata Karina membulat, ia senang disamakan dengan kancil yang pintar dan cerdik sekaligus tak sabar ingin bisa membaca. Sastro mengangguk “Tentu saja. Om Ginggi dulu juga butuh waktu agak lama sampai bisa membaca. Tapi dia gak menyerah dan terus berusaha agar bisa membaca dengan baik.” “Benar Om yang dibilang sama Ayah itu?” tanya Karina menatap Ginggi penasaran. “Iya. Om dulu sempat lalai dan tidak begitu suka membaca. Tapi kemudian Om sadar kalau orang itu harus banyak membaca agar menjadi pintar dan pandai sehingga tidak mudah tertipu oleh orang lain.” Sahut Ginggi. Sastro menatap Ginggi yang sedang menghela nafasnya, ia memang berubah. Dulu sahabatnya ini sangat polos dan jujur, tapi kini ia bisa berpikir sangat luas dan dalam. Entah apa yang sudah terjadi tapi penjara memang bisa mengubah segala hal dala diri seseorag. Itu adalah kesimpulan yang Sastro bisa dapatkan ketika melihat perbedaan dalam diri Ginggi. “Karena itu Karina harus sekolah, harus bisa membaca banyak hal. Membaca buku, membaca alam, membaca orang dan membaca keadaa serta situasi apapun dengan baik. Dengan begitu maka Karina pasti bisa menjalani hidup ini dengan baik dan meraih masa depan yang jauh lebih baik lagi.” Ucap Ginggi menasehati Karina yang sebenarnya apa yang ia katakan terlalu berat untuk dicernaa oleh gadis kecil itu. Karina mengangguk-angguk dan kembali fokus memperhatikan gambar-gambar kancil dan harimau yang ada di dalam buku ceritanya. Silvi dan Sri kembali datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas yang masih mengepul, secangkir cokelat hangat untuk Karina dan dua cangkir teh untuk mereka berdua. Serta beberapa toples cemilan. “Ini, Yah. Kopinya.” Sri meletakkan sebuah cangkir kopi di dekat Sastro. “Terima kasih, Bunda.” Sastro tersenyum ke arah sang istri, mereka memang pasangan yang mesra dan saling melengkapi. Silvi meletakkan sebuah cangkir kopi yang ia bawa di nampan ke dekat Ginggi “Kopimu.” Ginggi hanya mengangguk. Sastro dan Sri saling berpandangan, Ginggi masih saja bersikap dingin. Mungkin memang masih butuh waktu agar ia menyadari semua perhatian itu dan semoga saja Silvi bisa menghangatkan kembali hati Ginggi yang sepertinya sudah membeku semenjak Dewi meninggal. Mereka sungguh-sungguh berharap Ginggi akan bisa melanjutkan hidupnya dan tidak usah berbuat nekat hendak membalas dendam. “Ini cokelat hangat untuk Karina.” Silvi meletakkan secangkir cokelat seduh hangat di dekat Karina yang masih asyik menatap bukunya. “Terima kasih Tante Silvi.” Sahut Karina sesaat berpaling ke arah Silvi dan kemudian ia kembali fokus pada bukunya. Silvi dan Sri kemudian ikut duduk di sofa di seberang mereka bertiga. Sastro meneguk kopinya sedikit, masih agak panas. Ia meletakkan kembali cangkir kopinya di meja. “Jadi, bagaimana acara pikniknya tadi?” tanya Sastro. “Seru Yah. Tadi kami naik gajah, wah enak sekali rasanya kayak jadi Jajan.” Sahut Karina. Ginggi, Sastro dan Sri tersenyum mendengar jawaban Karina yang kocak tersebut. “Tarzan Karina bukan Jajan.” Silvi membenarkan ucapan Karina. “Iya itu Tarzan.” Karina mengangguk. “Seru sekali kayaknya. Nanti kita akan piknik bersama semua anak panti ini juga, mungkin saat libur sekolah tiba.” Sahut Sastro. “Ya itu sepertinya ide bagus Yah.” Timpal Sri menyetujui ide yang dilontarkan oleh sang suami. “Karina boleh ikut lagi kan?” tanya Karina menatap Sri dan Sastro. Sri tersenyum “Tentu saja Karina. Semua yang ada di panti pasti diajak.” “Asyiiik! Nanti kita juga difoto bersama ya kayak tadi.” Seloroh Karina kegirangan. Sri mengangguk ke arah bocah perempuan tersebut yang kini kembali menatap buku yang sedang ia baca. “Kalian besok ada rencana jalan-jalan kemana?” tanya Sastro menatap Ginggi yang sedang meneguk kopinya. Ginggi meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja “Besok kami akan pulang ke ibu kota.” Sahutnya. “Apa tidak bisa diperpanjang saja? Karina juga tampaknya ingin main bersama kalian lagi?” Tanya Sri sambil menatap Ginggi. Ginggi menggeleng “Tidak bisa, maaf. Ada yang harus kuselesaikan di ibu kota sana.” Tegas Ginggi. “Silvi, bagaimana? Bisa diperpanjang kan?” Sri berpaling menatap Silvi. Silvi mempertimbangkan jawaban Ginggi sebelumnya, ia tahu Ginggi pasti ingin mencari siapa anak buahnya yang telah jadi pengkhianat dan telah menjual mereka berdua ke si Jamal. Kalau tidak ada pengkhianat tentu tidak akan ada kejadian di kereta api yang membuat mereka harus melompat turun dan meninggalkan barang bawaannya begitu saja. Silvi menghela nafasnya, meski ia sangat menginginkan hidup sederhana seperti yang mereka jalani beberapa hari kemarin di kota ini. Tapi sekarang adalah waktunya kembali ke ibu kota dan menuntaskaan semua masalah mereka. Silvi dengan terpaksa menggeleng “Ginggi benar, ada yang harus kami bereskan di ibu kota sana.” “Baiklah aku mengerti, kapan kalian akan berangkat?” Sastro menatap Ginggi, sepertinya tidak mungkin lagi untuk membujuk sahabatnya tersebut agar tetap tinggal bersama dengan mereka di kota ini. “Besok pagi-pagi.” Ginggi menjawab dan kembali meraih cangkir kopinya. “Ya Om, siangan dikit dong biar Karina bisa nganterin Om.” Timpal Karina. Ginggi mengusap rambut bocah perempuan itu “Karina gak usah khawatir. Om dan Tante Silvi sudah besar jadi tidak akan apa-apa. Karina harus mulai belajar membaca kan besok?” “Oh iya, Om Ginggi benar. Karina harus bisa membaca biar pintar dan pandai seperti kancil di buku ini kan?” sahut Karina menunjuk gambar kancil yang sedang ia lihat. “Iya, Karina harus lebih pintar malah dari kancil tersebut.” Ginggi mengangguk. Silvi menghela nafasnya, ia masih betah di kota ini. Di panti ini ia seperti menemukan keluarga yang tak pernah ia punyai. Dulu ketika ibunya telah meninggal dunia, sang ayah terlalu sibuk dengan semua pekerjaannya. Kemudian ketika ia diberangkatkan dengan terpaksa menuju ke Jepang untuk belajar kepada Sensei Narukami, ia juga tidak menemukan apa itu arti keluarga meski sang guru selalu menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua. Ia memang menemukan persahabatan dengan Misaki anak perempuan Sensei Narukami yang sebaya dengannya. Tapi ia tetap merasa sangat merindukan kehidupan yang lebih sederhana. Silvi merasa sedikit iri dengan kebersamaan yang ditunjukkan oleh Sastro dan Sri juga anak-anak penghuni panti ini. Keputusa Ginggi untuk berangkat esok pagi tak mungkin diubah kembali, Silvi hanya harus menerima dan menjalani saja nasibnya. Lagi pula setelah ia pikir ulang, di tempat ini pun ia hanyalah seorang tamu. Seorang asing yang dibawa oleh Ginggi ke kampung halamannya yang sederhana karena Ginggi harus membereskan sesuatu yang entah apa. Ia belum mendapatkan alasan apapun dari Ginggi, tapi sepertinya urusannya telah selesai dan ia harus kembali fokus mengurus sesuatu lagi di ibu kota sana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN