Menginap Di Apartemen Silvi

1815 Kata
Ginggi dan Silvi kembali ke ibu kota dengan memakai kereta api seperti biasanya. Mereka mengambil kelas eksekutif yang nyaman. Perjalanan kembali ke ibu kota berlangsung dengan aman dan nyaman. Tidak ada lagi kejadian yang mendebarkan dan bahkan nyaris merenggut nyawa mereka berdua. Para pembunuh yang disuruh oleh Si Jamal sepertinya memang telah kehilangan jejak mereka sepenuhnya. Karena Karina merengek sesaat ketika mereka hendak berangkat tadi pagi, maka Ginggi akhirnya mengalah dan Ia bersama dengan Silvi terpaksa menunda keberangkatan menjadi lebih siang. Sebab itulah kini mereka sampai di stasiun pusat ibu kota menjelang tengah malah. Suasana stasiun masih tampak seperti ketika Ginggi pertama kali menjejakkan kaki ke tempat ini kala itu. Orang-orang ramai berjalan hilir mudik dan bergegas keluar dari stasiun untuk melanjutkan tujuan mereka menuju ke rumah atau penginapan yang telah mereka pesan sebelumnya. Ginggi dan Silvi berdiri di pintu keluar stasiun, orang-orang masih banyak di pelataran dengan aktivitas dan tujuan mereka masing-masing. “Dari sini kau hendak kemana?” tanya Silvi menatap Ginggi, sesaat ia menguap. “Ke kontrakan.” Sahut Ginggi. “Kontrakanmu itu dekat dengan terminal bukan?” Silvi memastikan, ia sebenarnya telah tahu dari si Mikimos dan para preman terminal anak buah Ginggi tentang lokasi kontrakan Bos mereka tersebut. Ginggi mengangguk “Iya.” “Lumayan cukup jauh dari sini. Eh bagaimana kalau kau menginap saja di tempatku? Tidak jauh dari sini hanya sekitar satu blok. Lihat dari sini kita bahkan bisa melihat menara apartemenku!” Silvi menunjuk ke sebuah gedung tinggi yang tampak kelap-kelip dari tempat mereka berdiri sekarang ini. “Tidak usah. Nanti akan merepotkanmu. Aku hendak langsung ke kontrakanku saja.” Ginggi menggeleng, ia menolak tawaran baik dari Silvi tersebut. Silvi merentangkan tangan dan sedikit menguap lagi, sepertinya ia benar-benar mulai merasa mengantuk. “Baiklah, tapi kau tidak keberatan bukan mengantarku pulang ke apartemenku terlebih dahulu? Apa kau tega menyuruh seorang gadis berjalan sendirian menjelang tengah malam ini?” Silvi memasang wajah memelas dan sedikit manja. Ginggi menghela nafas, tingkah Silvi kadang tak jauh beda dengan Karina kalau sedang merajuk menginginkan sesuatu. “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang ke apartemenmu.” Ujar Ginggi mengalah, ia juga memang sebenarnya sedikit cemas dengan keselamatan Silvi. Ia khawatir jika sewaktu-waktu para pembunuh atau anak buah suruhan si Jamal akan datang dan mencelakakan Silvi. Terlebih di ibu kota ini, jumlah mereka sangat banyak dan tak bisa diduga siapa yang masih setia kepada si Jamal itu. “Nah begitu dong, itu baru namanya Ginggi!” Silvi tersenyum senang sambil mengacungkan jempol kanannya. Ia tahu lelaki seperti Ginggi tak mungkin tega membiarkan seorang gadis berjalan sendiri di malam hari. Ginggi tak menjawab, ia melangkah menuju ke arah apartemen yang gedungnya tadi telah Silvi tunjukkan. Silvi bergegas melangkah dan mensejajarkan dirinya dengan Ginggi, ia senang karena Ginggi bersedia menemaninya pulang ke apartemen meski dengan berjalan kaki seperti ini. Tadinya kalau Ginggi tidak bersedia mengantar, Silvi sudah berpikir untuk memakai taksi meski jaraknya tanggung. Kurang dari seperempat jam kemudian mereka telah sampai di pelataran apartemen tersebut. Ginggi berdiri dan memandang gedung yang tinggi menjulang di hadapannya, dengan kelamnya malam gedung ini masih tampak indah karena semua lampu yang menyala. “Ayo, kita masuk! Kamarku di lantai 17.” Ajak Silvi. “Aku pulang saja. Kau sudah sampai sini jadi aku rasa sudah aman.” Ujar Ginggi. “Masuk dulu sebentar, aku akan menyeduhkan kopi dan sedikit makanan untuk kamu makan. Terakhir kita makan tadi sore kan? Aku yakin kamu juga pasti lapar saat ini.” Bujuk Silvi. Ginggi tadinya hendak menolak kembali tawaran tersebut tapi perutnya berbunyi cukup keras, ia memang sangat lapar. “Tuh kan, sudah kuduga kalau perutmu kosong. Ayo kita makan dulu!” Ajak Silvi sekali lagi sambil meraih lengan Ginggi. Entah kenapa kali ini Ginggi membiarkan dirinya melangkah mengikuti Silvi masuk ke dalam apartemennya, ia menurut begitu saja. Seorang satpam mengangguk hormat ketika mereka melewati lobi, ia mengenali Silvi sebagai salah seorang penghuni apartemen yang ia jaga ini. Silvi balas mengangguk dan tersenyum, terus melangkah bersama dengan Ginggi ke arah sebuah lift. Mereka tiba di depan pintu masuk kamar apartemen Silvi. Ginggi menatap ke luar dari jendela sementara Silvi sedang membuka kunci pintu kamarnya. Pemandangan luar biasa terlihat dari jendela di atas sini. Ibu kota terlihat bagaikan sebuah lautan cahaya, lampu-lampu warna-warni dari perumahan dan gedung-gedung nampak begitu damai dan menenangkan. Ginggi tersenyum segaris menyaksikan pemandangan tersebut. “Kau sedang melihat apa? Ayo masuk!” tegur Silvi ketika Ginggi masih asyik menatap pemandangan kota di bawah mereka. Ginggi menunjuk “Lihat, ternyata ibu kota menyimpan keindahan kalau di malam hari seperti ini. Tidak terlalu bising dan hingar seperti siang dan juga kelap-kelip lampu itu, semuanya indah.”  Silvi mengangguk, ia sedang tidak mood untuk bersikap sentimentil terhadap pemandangan kota malam hari. Ia sudah sangat sering melihatnya dan semuanya biasa saja tidak ada yang istimewa. Ginggi berbalik dan kemudian masuk ke dalam apartemen Silvi. Semuanya terang benderang dan didominasi warna putih bersih. Apartemen milik Silvi sangat mewah, luasnya mungkin sepuluh atau dua puluh kali lipat dari kontrakan sempit milik Ginggi. “Home sweet Home!” Silvi menghela nafasnya lega, ia akhirnya bisa pulang ke apartemen yang sudah ia anggap rumahnya ini. Ginggi mengamati setiap jengkal apartemen milik Silvi, ternyata anak gadis si Loreng ini memiliki selera yang mewah. Tapi ia bisa menempatkan diri dalam berbagai strata dengan sangat baik. Kemarin ia bisa bergaul dengan sangat santai dan bebas mengobrol dengan Sastro, Sri, Karina dan anak-anak panti seolah dia bagian dari mereka semua. “Tunggu sebentar! Aku akan menyeduhkan kopi untukmu.” Silvi menunjuk ke arah sebuah meja makan yang dikelilingi dua buah kursi. Ginggi mengangguk dan kemudian duduk di salah satu kursinya. Ia menghela nafas bersamaan dengan tubuhnya yang ia hempaskan di sandaran kursi. Punggungnya terasa enak sekarang, letih seharian ini. Silvi meraih wadah kopi yang ada di atas lemari yang tergantung di dinding dapurnya. Kopi yang digiling langsung oleh dirinya beberapa hari lalu, ia mendapatkan biji kopi itu dari sebuah kios kopi yang melegenda di pasar tradisional di ibu kota ini. Silvi pun sengaja mendidihkan air di kompor dan bukannya menuangkan air panas yang tersedia di dispenser air. Ia paham bahwa untuk menghasilkan minuman kopi yang enak dan terbaik, selain biji kopi pilihan yang digiling sendiri juga air yang digunakan haruslah memiliki panas sekitar 100 derajat celcius. Barulah kita akan menghasilkan kopi yang berkualitas dan memiliki rasa paling nikmat. Selain mendidihkan air, Silvi juga mengambil dua buah sandwich beku di dalam lemari es dan kemudian menghangatkannya dengan microwave. Sekitar sepuluh menit kemudian Silvi sudah selesai dan kemudian ia menghampiri Ginggi yang tampak sedang melamun karena memikirkan sesuatu. “Ini, kopi dan sedikit untuk mengganjal perut. Maaf aku lupa belum belanja stok makanan lain.” Ujar Silvi. “Terima kasih, ini juga sudah cukup.” Sahut Ginggi, ia menyesap sedikit kopi buatan Silvi. Enak sekali, berbeda dengan kopi yang biasa ia minum selama ini. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Silvi duduk di depan Ginggi, ia menggigit sepotong sandwich-nya. “Kopi ini enak sekali. Kau pandai menyeduh kopi ternyata.” Jawab Ginggi. “Itu karena biji kopinya yang segar dan langsug digiling. Aku membeli biji kopi itu di salah satu kios kopi tertua di ibu kota ini.” Jelas Silvi. Ginggi mengangguk “Pantas saja, aku kira hanya kopi instan seperti biasanya.” “Jadi apa yang kau pikirkan tadi?” Silvi mengingatkan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Ginggi. “Aku sedang memikirkan bagaimana cara untuk menghabisi si Jamal. Si Loreng maksudku ayahmu benar, manusia yang satu itu sangat licik dan licin bagaikan belut. Aku tidak tahu bagaimana bisa membuatnya agar mau menghadapiku satu lawan satu.” Lirih Ginggi menjelaskan apa yang membuatnya resah hingga berpikir sampai dikira melamun tadi. “Soal itu. Sebenarnya aku sudah punya rencana.” Sahut Silvi dengan enteng dan kembali menggigit sandwich-nya. Ginggi menatap Silvi dengan antusias “Benarkah? Bagaimana caranya?” “Akan kuberi tahu esok pagi. Sekarang makan dan minum kopimu dulu lalu istirahatlah. Kita sudah lelah bukan seharian berada di kereta api.” Silvi belum mau memberitahu rencana yang ia miliki kepada Ginggi. Ginggi menghela nafas, Silvi dan Si Loreng benar-benar serupa ‘Like Father Like Daughter’. Ginggi yakin Silvi pun tak bisa didesak untuk membeberkan rencananya, seperti halnya Si Loreng waktu itu. Mereka pasti akan mengutarakan apa yang menjadi rencananya sesuai dengan waktu yang mereka tetapkan semaunya sendiri. Akhirnya Ginggi memilih diam dan menyesap kopinya, ia meraih sandwich buatan Silvi dan menggigitnya, mengunyah dengan perlahan. “Roti isi ini enak sekali. Kau membuatnya sendiri?” Ginggi mengganti topik pembicaraan mereka. “Tentu saja.” Silvi ketawa kecil. “Apa kau pernah berpikir menjadi seorang koki?” Ginggi menatap antusias ke arah Silvi. “Hahaha, aku bercanda Ginggi. Sandwich itu hanya aku hangatkan saja tadi di microwave, aku membelinya di supermarket dan kemudian menyimpannya di kulkas beberapa hari lalu.” Jelas Silvi sambil tertawa renyah. “Seperti itu rupanya. Ternyata aku yang kurang ahli mengamati.” Ujar Ginggi. “Di Jepang sana aku juga memang diajari masak oleh Sensei-ku tapi ketika kembali ke Indonesia aku hampir tak punya waktu untuk memasak. Aku jadi terbiasa untuk membeli makanan, tapi di Indonesia ini semuanya memang enak-enak makanannya.” Silvi memaparkan. Ginggi mengangguk, ia kemudian menghabiskan sandwichnya dengan sangat lahap. Meminum sampai habis kopi dalam cangkirnya yang sudah hangat. “Baiklah, aku pulang dulu. Terima kasih untuk kopi dan roti isinya.” Ujar Ginggi sambil bangkit dari kursi. “Tunggu, aku pikir kamu lebih baik menginap saja di sini. Hanya tinggal beberapa jam lagi pagi, aku akan memberitahu rencanaku esok pagi. Setelah itu kita bersama menuju ke terminal, bagaimana?” Silvi memberikan saran lagi. Ginggi menatap jam yang tergantung di dinding, Silvi benar ini sudah lewat dari tengah malam. Ginggi pun merasa sangat lelah, ia mungkin tak mendapatkan kendaraan untuk menuju ke terminal jam segini dan terpaksa jalan kaki. Akan sangat merepotkan. Ginggi akhirnya perlahan mengangguk “Baiklah aku akan menginap di sini.” “Bagus!” sahut Silvi senang. “Aku akan tidur di sofa ruang tamu.” Ujar Ginggi lagi sambil melangkah kembali ke ruang tamu apartemen.  Silvi tersenyum dan ia juga melangkah menuju ke kamarnya, mengambil dua buah bantal dan selimut. Ia lalu mendekati Ginggi yang sedang mengatur posisi sofa agar nyaman untuk rebahan. “Ini, bantal dan selimut untukmu.” Silvi menyerahkan bantal dan selimut kepada Ginggi. Ginggi menerima bantal dan selimut itu “Terima kasih.” Ucapnya. “Kau tahu, kalau kau mau kau bisa tidur di kamar bersamaku?” Silvi menggoda Ginggi. “Terima kasih, aku tidur di sini saja. Selamat malam.” Usir Ginggi. “Aku hanya bercanda kau tahu. Baiklah tidur yang nyenyak, selamat malam.” Sahut Silvi sambil tersenyum. Silvi semakin yakin bahwa penilaiannya tentang Ginggi tidak keliru. Ia adalah lelaki sejati yang baik, jujur dan karena sebuah intrik masuk ke dalam dunia yang berbeda seperti sekarang ini. Dan tentu saja ada alasan kenapa ayahnya memilih Ginggi sebagai penerusnya. Ia harus mengetahui alasan itu suatu saat nanti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN