Menangkap Ular Kecil

1712 Kata
Ginggi berjalan bersama dengan Silvi ke arah terminal, mereka sengaja turun dari angkutan umum yang mereka tumpangi agak jauh dan berjalan kaki. Suasana trotoar dan jalanan di sekitar terminal pagi ini sama seperti pagi-pagi lainnya yang penuh dengan rutinitas dan aktualisasi diri orang-orang. Silvi sudah menceritakan rencana yang ia miliki untuk membekuk si Jamal kepada Ginggi tadi pagi ketika mereka sarapan dan minum kopi bersama di apartemennya. Ginggi memahami rencana Silvi dan menyadari bahwa mereka masih membutuhkan sedikit lagi waktu agar rencana tersebut bisa dijalankan. “Selamat pagi, Bos. Sudah kembali dari mudiknya ya Bos?” sapa seorang preman terminal yang sedang menjadi calo angkutan kota saat melihat Ginggi dan Silvi berjalan masuk ke dalam terminal. “Pagi. Si Rontek sudah datang?” selidik Ginggi. “Sudah Bos. Ia ada di markas seperti biasanya.” Ucap sang preman menunjuk dengan hormat ke arah markas mereka yang berada di bagian dalam terminal. Ginggi mengangguk dan kemudian melangkah kembali bersama dengan Silvi menuju ke markas preman terminal kekuasaannya. “Kau sudah tahu siapa pengkhianat yang menjual kita ke tangan si Jamal?” bisik Silvi yang mensejajari langkah Ginggi. “Belum, aku akan berusaha mengungkapnya hari ini.” Sahut Ginggi lirih. Silvi mengangguk, ia paham dalam dunia yang kini mereka berada di dalamnya. Kehati-hatian adalah kunci utama. Mereka harus bisa menemukan pengkhianat dan barang buktinya tanpa menimbulkan keributan. Kalau tidak maka integritas Ginggi selaku Bos akan diragukan dan tak menutup kemungkinan malah akan memunculkan banyak pengkhianat lainnya. Ginggi dan Silvi masuk ke dalam markar preman terminal. “Bos. Selamat pagi!” kompak si Rontek, si Mikimos dan Ali yang sedang berada di dalam markas preman itu menyapa. “Pagi.” Sahut Ginggi pendek dan segera duduk di kursinya. “Silvi, selamat pagi. Bagaimana liburannya, menyenangkan?” tanya si Mikimos penasaran. “Pagi. Menyenangkan kalau saja tidak ada para pembunuh yang hendak menghabisi nyawa kami di kereta api.” Sahut Silvi sambil duduk di dekat Ginggi. “Apa maksudmu?” si Mikimos mengerutkan dahi kurang mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Silvi. Si Rontek yang sedang menyeduhkan kopi untuk Bos Ginggi pun sama penasarannya dengan jawaban Silvi yang sedikit ganjil tersebut. “Masih ada ular kecil berkepala dua di terminal ini.” Ginggi yang menjawab. “Astaga! Maksud Bos masih ada pengkhianat di antara kita? Katakan pada saya siapa orangnya Bos! Biar saya yang akan memberinya pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya!” Geram si Mikimos. Ginggi mengendikkan bahunya “Aku masih belum tahu siapa orangnya. Yang aku yakin adalah orang yang berada di ruangan ini tidak mungkin menjualku dan Silvi ke tangan si Jamal. Untuk apa? Dengan nilai berapa? Pengkhianatannya tidak sepadan dengan hukuman yang akan ia terima.” Ali, si Rontek dan si Mikimos mengangguk. Mereka bertiga tidak mungkin menjual Ginggi dan Silvi karena masing-masing mereka merasa memiliki hutang budi kepada Ginggi. “Lantas siapa orangnya kalau begitu, Bos?” si Mikimos kembali bertanya, ia benar-benar ingin memberikan si pengkhianat itu sebuah pelajaran yang akan ia sesali seumur hidup. “Itu tugas kalian. Nanti siang kalian kumpulkan semua anak buah kita. Aku akan menyelidiki dan memastikan siapa si pengkhianat yang telah menjual aku dan Silvi ke tangan si Jamal.” Ujar Ginggi. “Tunggu. Aku rasa kita tidak perlu menunggu selama itu, aku sarankan sekarang saja kita kumpulkan semua preman anak buahmu. Bilang juga kalau Bos Ginggi menyuruh mereka berkumpul untuk menghukum seorang pengkhianat!” Saran Silvi. Ginggi menatap Silvi sambil menyipitkan mata tak mengerti. “Saya setuju dengan ide Silvi, Bos. Ada efek mendadak dan juga gertakan yang akan mengungkap identitas si pengkhianat tersebut.” Ali menimpali. Ginggi mempertimbangkan ucapan Ali dan Silvi tersebut. Mereka berdua benar, akan ada dampak psikologis yang diperlihatkan oleh si pengkhianat tersebut kalau ia mendadak mengumpulkan para anak buahnya. “Baiklah. Rontek dan kau Mikimos, kumpulkan semua anak buah sekarang juga di lapangan sini. Bilang kalau Ginggi akan menghukum pengkhianat yang masih bersekongkol pada si Jamal!” perintah Ginggi. “Siap, Bos!” Si Rontek dan si Mikimos kompak menjawab. Si Rontek meletakkan kopi yang sudah ia seduh di meja depan Ginggi dan kemudian menyusul di Mikimos yang sudah telebih dahulu keluar untuk mengumpulkan anak buah mereka. Para preman terminal itu bergemuruh, dan mulai rusuh. Mereka saling menatap dengan curiga kepada rekan mereka masing-masing. Siapa yang telah mengkhianati Bos Ginggi dan kini akan menerima hukumannya tersebut? Hampir seluruh preman anak buah si Mikimos dan anak buah si Rontek segera berkumpul dengan patuh di lapangan terminal yang dekat dengan markas mereka. Bos Ginggi masih berada di dalam menikmati cangkir kopinya yang kedua pagi ini. Meski tak seenak kopi buatan Silvi tapi dengan membuatkannya kopi secara rutin si Rontek telah membuktikan kesetiaannya. Si Mikimos dan si Rontek memeriksa seluruh anak buahnya yang sedang berbaris dengan rapi tersebut. “Siapa yang tidak ada?” tanya Si Mikimos dan Si Rontek hampir berbarengan kepada anak buah mereka masing-masing. “Semuanya lengkap Bos!” jawab anak buah si Mikimos dengan kompak. “Si Gegep sedang ke toilet Bos. Katanya mules tak tertahankan, panggilan alam karena tadi pagi sarapan bubur yang terlalu pedas.” Sahut beberapa anak buah si Rontek. Si Mikimos dan si Rontek berpandangan. “Dimana si Gegep?” tanya si Rontek. “Di toilet dekat dengan area minibus, Bos!” sahut seorang preman anak buah si Rontek. “Tunjukkan padakku! Kalian yang lain tunggu di sini!” perintah si Rontek. Preman bertindik di hidung itu melangkah keluar dari barisannya lalu bersama dengan si Mikimos dan si Rontek ia menuju ke toilet tempat si Gegep sedang melaksanakan hajatnya. “Si Gegep ada di dalam?” tanya si Rontek kepada penjaga toilet yang sedang menguap karena masih mengantuk. “Sudah keluar tadi.” Ujar sang petugas toilet. “Kau tahu dia pergi kemana setelah dari toilet?” tanya si Mikimos. “Tadi kalau gak salah dia berjalan keluar terminal tapi gak tahu kemana. Sepertinya sedang terburu-buru karena dia melangkah dengan sangat cepat.” Ujar sang petugas toilet sambil menunjuk ke arah pintu keluar terminal. Si Mikimos, si Rontek dan seorang preman anak buahnya segera paham kalau si Gegep lah pengkhianat yang sedang mereka cari. “Baik, terima kasih informasinya.” Sahut si Mikimos menepuk bahu sang penjaga toilet. Sang penjaga toilet mengangguk, itu hanya sebuah informasi kecil saja kan. Si Mikimos, si Rontek dan dan seorang preman anak buahnya memutuskan untuk kembali dan melapor terlebih dahulu kepada Bos Ginggi. Ginggi ditemani oleh Silvi dan Adli sedang memeriksa para preman yaang berbaris dengan rapi dan diam menyimak ketika si Mikimos, si Rontek dan seorang preman bertindik hidung datang tergopoh-gopoh ke arah mereka. “Bos, pengkianat yang kita cari adalah si Gegep! Dia kaabur entah kemana setelah pura-pura berada di toilet.” lapor si Rontek setengah berbisik setelah berada di dekat Ginggi. Ginggi mengangguk paham, apa yang dikatakan oleh Silvi memang benar dan terbukti, dengan mendadak begini secara psikologis si pengkhianat akan kabur dan tidak bersedia bertemu dengan dirinya. Ginggi menatap para preman yang sudah menanti dirinya berbicara kembali. “Semuanya, pengkhianat yang kita cari adalah si Gegep. Kalian cari dan temukan dia segera! Bawa ke hadapanku hari ini juga!” Perintah Ginggi dengan suara yang menggelegar. “Siap bos!” Kompak para preman anak buahnya menjawab dan mereka segera membubarkan diri. Berhamburan ke segala arah untuk mencari dan menemukan serta membawa si Gegep ke hadapan Bos Ginggi. Ginggi kembali masuk ke dalam markas preman terminal diikuti oleh Silvi dan Ali. “Ali, laporkan apa yang sudah kau lakukan selama aku tidak ada!” perintah Ginggi begitu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ali mengangguk dan menghampiri tas kulit miliknya yang ia letakkan di sudut. Ia membuka tas tersebut dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas yang ada di dalamnya. “Ini Bos saya sudah print out. Ini adalah daftar nama anak-anak dan janda yang ditinggal mati oleh anak buah Bos selama berada di terminal. Lengkap dengan status sekolah mereka. Dan lembaran yang ini adalah kas masuk dan kas keluar untuk beberapa minggu kemarin.” Sahut Ali sambil memberikan kertas-kertas tersebut kepada Ginggi. Silvi ikut mengintip isi kertas-kertas tersebut. “Kau menyantuni anak dan istri dari anak buahmu yang telah mati?” tanya Silvi terpukau. Ginggi mengangguk “Iya, mereka harus mendapat jaminan untuk terus hidup dan terutama anak-anak itu harus bisa mengubah nasib mereka dengan sekolah dan tidak kehilangan harapannya.” “Itu bagus sekali.” Silvi mengacungkan jempolnya, ayahnya ternyata tidak keliru memilih penerusnya. Tidak lebih dari satu jam kemudian para preman anak buah Ginggi yang mencari keberadaan si Gegep telah kembali. Si Mikimos yang melapor mewakili mereka semua, ia masuk ke dalam markas preman terminal untuk menemui Ginggi. “Bos lapor. Si Gegep telah berhasil kita temukan.” Ucap si Mikimos. “Mana dia?” tanya Ginggi. “Mengenai itu, kita ada sedikit masalah. Dia tidak bisa kita bawa ke hadapan Bos sesuai yang Bos inginkan.” Sahut si Mikimos. “Apa maksudmu?” Ginggi mengernyit ia tak mengerti dengan ucapan si Mikimos. “Anak buah kita menemukan dan mengejar si Gegep yang bersembunyi di sebuah rumah milik saudaranya. Lalu ia berusaha melarikan diri kembali dan kemudian ia menghubungi beberapa preman anak buah si Jamal.” Si Mikimos mulai menjelaskan. “Lalu apa yang terjadi kemudian?” tanya Ginggi penasaran. “Si Gegep berusaha meminta pertolongan dan perlindungan kepada para preman pasaar yang masih setia menjadi anak buah si Jamal itu. Tapi mereka ketakutan karena jumlah kita yang mengejar si Gegep jauh lebih banyak dan kemudian mereka malah menghabisi si Gegep. Mereka membunuhnya dan cuci tangan, mayat si Gegep mereka letakkan di sebuah perempatan mengesankan sebagai korban tabrak lari.” Jelas si Mikimos. “Bukan kalian yang melakukannya kan?” tanya Ginggi. “Bukan Bos! Saya bersumpah! Kami tidka mungkin membunuhnya karena Bos ingin dia dibawa ke hadapan Bos.” Si Mikimos menggelengkan kepalanya. “Bagus kalau kalian bukan pelakunya. Sekarang bilang kepada seluruh anak buah kalau kita tidak akan mentoleransi pengkhianatan! Semua yang berkhianat akan dihukum dengan tegas tanpa kecuali!” Peintah Ginggi. “Siap Bos. Laksanakan!” Si Mikimos kembali keluar dari markas preman terminal dan memberi tahu para preman anak buahnya apa yang dikatakan oleh Ginggi kepadanya barusan. Para preman itu mengangguk, mereka paham harga atas sebuah pengkhianatan adalah dihukum dengan sangat keras. Mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh si Gegep. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN