Ginggi menatap Silvi yang sedang duduk di kursi di seberang meja, mereka sedang makan siang di sebuah restoran yang cukup mewah di bilangan selatan ibu kota. Silvi yang memaksa Ginggi untuk makan siang di restoran yang ia pilih tersebut.
“Sesekali kan tidak masalah. Ada kalanya perut dan lidah kita pun harus dimanjakan dengan makanan dan minuman yang enak.” Desak Silvi ketika Ginggi semapat menolak dan lebih memilih untuk makan di rumah makan sederhana yang berada di dekat dengan terminal.
Ginggi akhirnya menerima ajakan tersebut setelah Silvi menyebutkan alasan ia makan di tempat tersebut adalah sebagai bagian dari upaya untuk menjebak si Jamal. Balas dendam si Loreng ayahnya Silvi sekarang memang menjadi prioritas dari Ginggi untuk dituntaskan. Silvi malah sebaliknya ia tidak terlihat terlalu pusing dengan persoalan balas dendam tersebut. Tapi ia memang memiliki rencana yang diyakini oleh Ginggi memiliki tingkat keberhasilan sebesar 70 persen. Jauh lebih baik daripada rencananya.
“Jadi bagaimana? Apa yang sebenarnya kau rencanakan dengan makan di restoran semewah ini?” tanya Ginggi sambil menyuapkan sebuah kentang goreng ke dalam mulutnya
Silvi tersenyum “Tenang, jangan terlalu tegang begitu. Bersikap santai dan jangan kentara kalau kau dan aku sedang menyiapkan sesuatu di tempat ini.” Sahut Silvi sambil mengiris steaknya.
Ginggi menghela nafasnya, ia menatap Silvi penuh rasa penasaran.
“Baiklah akan kukatakan. Kau lihat dua orang dengan jas mewah di meja ujung sana?” tanya Silvi.
Ginggi menoleh ke arah yang dimaksud oleh Silvi. Ada dua orang bapak-bapak setengah baya berpenampilan parlente dengan jas safari lengkap dengaan dai panjangnya sedang duduk dan menikmati sajian mewah mereka. Sesekali mereka tampak mengobrol dan tertawa senang, entah apa yang mereka bicarakan Ginggi tidak bisa mengetahuinya karena mereka berada cukup jauh dari mejanya dan Silvi.
“Maksudmu kedua orang yang seperti dua orang politikus itu?” tanya Ginggi.
Silvi mengangguk “Benar mereka adalah dua orang anggota legislatif yang sedang naik daun belakangan ini. Semua kebijakan yang terjadi, mereka berdualah inisiator sekaligus yang menentukan kebijakan itu diambil dan dijalankan dengan baik.”
“Lantas apa hubungannya mereka dengan si Jamal?” tanya Ginggi mengerutkan dahinya tak mengerti.
“Tidak semua politisi itu adalah negarawan sejati. Mereka berdua adalah contoh nyatanya. Bagi mereka berdua, ini hanya sekedar bisnis. Dan sebagaimana bisnis yang baik tentunya adalah yang bisa memberikan keuntungan bukan? Lebih besar keuntungan yang diterima maka itu lebih baik.” Ujar Silvi masih berteka-teki.
“Maksudmu bagaimana?” Ginggi masih belum bisa menarik sebuah kesimpulan dari dua orang lelaki parlente tersebut dengan si Jamal.
“Selama aku bekerja dengan si Jamal. Mereka itu acapkali datang dan bertemu dengan si Jamal tentu bukan sebuah pertemuan yang tak disengaja melainkan telah direncanakan sebelumnyaa. Sebuah janji untuk membahas bisnis.” Silvi melanjutkan penuturannya.
Ginggi masih diam dan menunggu Silvi melanjutkan penjelasannya.
“Benda-benda yang terlarang, itu memiliki keuntungan yang jauh lebih besar daripada benda biasa. Dengan bisnis hitam yang dikelola oleh si Jamal. Kedua orang di sana itu telah berinvestasi jangka panjang untuk mendapatkan keuntungan besar. Mereka memberikan perlindungan kepada si Jamal dan sebagai gantinya si Jamal memberikan keuntungan kepada mereka berdua.” Lanjut Silvi.
“Aku mengerti soal itu. Tapi bagaimana bisnis kedua orang itu dengan si Jamal bisa berpengaruh kepada rencanaku untuk membalas dendam kepada si Jamal?” tanya Ginggi.
Silvi tersenyum tipis “Kau tahu kan kalau si Jamal tidak bisa ditemukan dengan mudah apalagi bertemu muka secara sembarangan dengannya?”
Ginggi mengangguk “Benar, aku juga sangat kesulitan menemukan persembunyian manusia yang satu itu. Dia bahkan tiap malam selalu berganti-ganti hotel dan tempat menginap. Dia benar-benar licin seperti belut dan susah untuk ditangkap.”
“Itu benar. Tapi mereka berdua bisa membuat janji untuk bertemu dengan si Jamal kapan saja dan dimana saja dengan sangat mudah. Kita hanya perlu memasang jebakan agar mereka berdua membuat janji temu di tempat dan waktu yang kita inginkan saja. Simpel bukan?” Silvi tersenyum lagi dan kali ini ia meminum es teh lemonnya.
“Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang, tapi bagaimana cara kita meyakinkan kedua orang itu agar mau melakukan apa yang kita mau?” tanya Ginggi lagi.
“Itulah yang sedang kupikirkan saat ini. Sekarang kau sudah tahu kedua orang itu adalah target yang harus kau lumpuhkan terlebuh dahulu sebelum akhirnya kau bisa memegang kepala si Jamal dan membalaskan dendam ayahku. Kau mengerti?” tanya Silvi.
Ginggi mengangguk-angguk, ia kini paham kenapa Silvi memaksanya untuk makan di restoran mewah ini. Semua itu semata-mata demi membuat sebuah rencana pendukung untuk menjebak si Jamal agar bisa diketahui keberadaannya.
Ginggi kembali menatap kedua orang lelaki berpenampilan parlente tersebut, delapan orang pria kekar dengan jas hitam-hitam tampak berada beberapa kaki mengelilingi mereka. Akan sangat sulit juga untuk membuat mereka bisa dikendalikan oleh dirinya agar bersedia melakukan apa yang ia inginkan yaitu membuat janjin temu dengan si Jamal.
Ginggi menggaruk belakang kepalanya dan tampak sedang berpikir dengan dalam.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau sedang mencari jalan agar kedua lelaki itu mau melakukan apa yang kau suruh bukan?” tanya Silvi sambil tersenyum, ia tampak sangat santai dan tidak ada beban pikiran sama sekali.
“Benar, aku tidak tahu bagaimana membuat mereka patuh dan mau melakukan apa yang aku suruh yaitu membuat janji temu dengan si Jamal. Selain itu kalau kulihat para pengawal pribadi mereka itu tampaknya bukan orang sembarangan. Mereka pasti adalah orang-orang yang terlatih dan mumpuni menjaga majikannya.” Ujar Ginggi mendesah.
“Itulah. Kau harus tahu dulu kelemahan mereka. Setiap orang itu memiliki kelemahan masing-masing dan kita hanya harus tahu kelemahan kedua lelaki itu lalu memanfaatkannya agar menjadi keuntungan untuk kita. Dan kebetulan aku tahu apa yang menjadi kelemahan kedua lelaki di sana itu.” Sahut Silvi.
Ginggi menatap Silvi dengan antusias “Kau tahu kelemahan mereka berdua? Cepat katakan padaku, apa yang menjadi kelemahan mereka berdua itu?” tanya Ginggi tak sabaran.
“Aku akan mengatakan kelemahan mereka berdua kalau kau berjanji untuk melakukan sesuatu untukku setelah semua masalah ini selesai. Kau bersedia?” tanya Silvi.
Ginggi menatap Silvi, dengan kondisi yang ia rasa sangat penting ini Silvi masih saja mensyaratkan sesuatu kepadanya. Tapi Ginggi pun paham kalau ia tidak menuruti keinginan Silvi, gadis ini tidak akan mengatakan apa yang menjadi kelemahan kedua lelaki parlente tersebut.
“Baiklah aku mengerti. Aku akan melakukan apa yang kau minta. Katakan padaku apa permintaanmu?” Ginggi mengangguk dan bertanya apa syarat yang diminta oleh Silvi darinya.
“Bagus, setelah semua ini selesai. Kau dan aku harus menonton bioskop bersama, berdua saja!” sahut Silvi.
Ginggi menatap Silvi setengah tak percaya, kalau hanya itu yang ia minta sebagai syarat tentu ia akan dengan mudah untuk mengaabulkannya.
“Baiklah aku sanggup memenuhi permintaanmu itu. Sekarang katakan apa yang menajdi kelemahan kedua lelaki itu?” tanya Ginggi lagi.
“Perempuan cantik.” Sahut Silvi.
“Apa?” Ginggi mengerutkan dahinya ke arah Silvi.
“Iya itu kelemahan kedua lelaki itu. Mereka itu hidung belang yang suka dengan perempuan cantik. Tapi bukan sembarangan perempuan, mereka sangat suka dengan perempuan cantik yang berasal dari luar negeri. Bule begitu, kau harus menemukan dua atau lebih gadis cantik dari luar negeri dan upayakan agar mereka bisa mendekati kedual lelaki tersebut. Lalu kau jebak keduanya. Dengan begitu kau bisa menyuruh mereka melakukan apa yang kau minta. Kau paham bukan apa yang kumaksud?’ tanya Silvi.
Ginggi mengangguk, ia paham maksud Silvi. Ia hanya harus membuat sebuah rekayasa saja dimana akhirnya kedua lelaki itu akan berada di bawah perintahnya. Setelah itu ia akan menyuruh keduanya untuk membuat janji temu dengan si Jamal. Lalu saat itulah Ginggi akan bisa membuat perhitungan dan membalaskan dendam si Loreng kepada si Jamal. Dan kemudian ia akan merebut kekuasaan Bos Besar dari tangan si Jamal. Dengan begitu maka Ginggi bisa menjemput si Loreng dengan rasa bangga dan percaya diri.
***