Solusi Dari Si Bram

1398 Kata
Siang itu Ginggi sedang rapat dengan si Rontek, si Mikimos, si Bram, Ali dan juga Silvi di markas preman terminal utara. Mereka membahas pembagian keuntungan dari penghasilan aktivitas preman yang mereka lakukan. Ali yang lebih banyak melaporkan soal penyaluran yang telah mereka lakukan, terutama kepada anak yatim dan janda-janda yang ditinggal mati oleh preman anak buah Ginggi. “Baiklah, aku rasa semuanya sudah sesuai dengan apa yang aku harapkan dan rencanakan. Semua anak yatim itu tetap bersekolah dan para janda tetap mendapatkan sokongan terutama bahan kebutuhan rumah tangga mereka bukan?” tanya Ginggi menegaskan. “Benar, Bos!” kompak semuanya mengiyakan. “Bagus. Sekarang aku ingin minta pendapat dari kalian semua.” Ginggi mengedarkan pandangannya ke semua orang yang sedang berada di ruangan tersebut. Semuanya mengangguk, tentu saja mereka akan mengeluarkan pendapatnya bila diminta oleh Bos Ginggi. “Soal apa, Bos?” tanya si Rontek. “Apa kalian memiliki kenalan wanita bule? Dari luar negeri?” tanya Ginggi. “Bos sedang mencari wanita bule?” si Rontek memastikan ia tidak salah dengar barusan. Ginggi mengangguk “Iya.” “Buat apa Bos? Kan sudah ada Silvi, dia jauh lebih cantik dari pada para wanita bule itu kan? Lagi pula saya rasa Bos Ginggi dan Silvi itu cocok satu sama lain, betul tidak?” Si Mikimos menyahut dan meminta yang lain mendukung ucapannya. Ali, si Rontek dan si Bram kompak mengangguk. Silvi tersipu malu mendengar perkataan dari si Mikimos tersebut. “Bukan begitu maksudku. Aku butuh dua atau gadis bule untuk memasang jebakan kepada dua orang politisi. Mereka tahu bagaimana cara untuk menemukan si Jamal. Jadi aku bermaksud membuat mereka melakukan apa yang aku inginkan. Yaitu membuat si Jamal menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Dengan begitu aku bisa membalaskan dendam si Loreng kepadanya.” Ginggi menjelaskan. “Ooo…” kompak mereka bertiga bergumam. “Jadi, apa kalian memiliki kenalan gadis bule?” sekali laagi Ginggi bertanya kepada para anak buahnya. Dan sekali lagi mereka kompak menggeleng, tidak ada yang memiliki kenalan gadis bule. Mereka ini kan preman yang terkenal dengan garang dan berada di strata kelas ekonomi menengah ke bawah, tidak ada yang memiliki cukup uang dan waktu untuk nongkrong dan bergaul dengan para bule tersebut. Harga yang harus dikeluarkan untuk nongkrong di kafe, hotel dan restoran tempat para bule biasa menghabiskan waktu mereka di Indonesia kan termasuk mahal. “Seperti itu, kalian tidak punya ya teman wanita yang bule.” Ginggi menghela nafasnya. “Silvi bagaimana Bos. Dia kan pernah tinggal di luar negeri, mungkin dia punya teman wanita yang bule tersebut?” si Mikimos kembali menatap Silvi. Silvi menggeleng “Aku memang pernah tinggal di luar negeri tapi itu kan di Jepang bukan di Amerika atau Eropa yang terkenal dengan bule-nya.” Sahut Silvi. “Owh, beda ya. Kirain sama.” Si Mikimos menggaruk kepalanya yang tak gatal, tadinya ia mengira mereka semua yang tinggal di luar negeri itu ya pasti bule. “Susah juga kalau begitu, mana selera kedua orang itu adalah gadi bule. Tapi aku sendiri tidak mengenal satu pun gadis bule itu.” Ginggi mendesah. Mereka terdiam cukup lama, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mungkin ada sekitar sepuluh menit sampai akhirnya si Bram unjuk suara. “Bos, yang dibutuhkan itu kan seorang gadis bule ya? Bagaimana kalau kita membuat gadis bule itu saja?” si Bram menatap Ginggi. “Apa maksudmu? Membuat wanita bule? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu.” Ginggi meminta si Bram menjelaskan dengan bahasa yang ia mengerti. “Iya Bos, kita buat saja dua tau tiga orang wanita yang berkulit putih dan berwajah agak kebule-bulean. Anak buah kita saja yang sedikit bisa bahasa Inggris gitu, kita dandani mereka agar mirip dengan gadis bule. Rambut mereka di-cat agar berwarna pirang atau sebagainya. Pokoknya diusahakan agar jadi terlihat seperti gadis bule. Bagaimana?” si Bram menjelaskan yang ia maksud dengan idenya untuk membuat gadis bule tersebut. Ginggi melirik ke arah Silvi yang juga kebetulan sedang melihat dirinya dan mengangguk. “Kau punya ide yang cemerlang, bisa dicoba. Kita akan memilih dua atau tiga anak buah kita yang perempuan. Kita dandani dan make over mereka agar bisa tampil sperti gadis-gadis bule. Pakai cas cis cus bahasa Inggris sedikit, dicampur dengan bahasa Indonesia pun boleh. Alasan aja kita bilang kalau mereka sudah tinggal di Indonesia cukup lama. Kau jenius Bram!” Ginggi mengacungkan jempolnya ke arah si Bram. “Terima kasih, Bos!” si Bram senang karena dipuji jenius oleh Bos Ginggi. Si Rontek dan si Mikimos mengacak-acak rambut si Bram “Kau pintar!” Maka Ginggi kemudian menyurh anak buahnya tersebut untuk mencari tiga orang gadis yang berwajah dan berkulit hampir menyerupai dengan gadis-gadis bule. Ia akan membuat penampilan mereka berubah persis dengan wanita bule dariluar negeri, melatih mereka beberapa saat agar siap untuk digunakan menjebak kedua orang politisi dan akhirnya ia akan bisa menjebak di Jamal agar datang dan menghadapi dirinya. Ginggi yakin bahwa rencananya untuk mengeluarkan si Jamal dari lubang persembunyiannya kali ini akan berhasil. Tidak akan ada lagi kegagalan yang memalukan seperti waktu itu ketika ia dengan gegabah menghampiri kasino mewah milik si Jamal bersama dengan si Bram. Dua hari kemudian, si Mikimos, si Rontek dan si Bram kembali datang bersama dengan delapan orag wanita yang menjadi anak buah mereka. Mereka memang terlihat seperti wanita-wanita bule hanya saja mata mereka berwarna cokelat. Ginggi menyuruh agar ke delapan wanita tersebut didandani terlebih dahulu ke salon, rambut mereka di cat warna pirang dan bahkan meminta mereka memakai lensa mata berwarna biru atau hijau agar semakin mirip dengan penampilan gadis bule. Bersama dengan Silvi, Ginggi kemudia menyeleksi ke delapan wanita tersebut. Mereka memilih hanya tiga orang saja yang memiliki kemampuan bahasa Inggris agak lumayan dibandingkan dengan kelima wanita lainnya. Ketiga gadis yang telah diubah agar menyerupai bule tersebut kemudian diberi nama baru oleh Silvi. Mereka adalah Jane, Maria dan Paula. “Baiklah, mulai hari ini nama kalian adalah Jane, Maria dan Paula. Tolong diingat baik-baik nama baru kalian ini. Kalian nanti akan melakukan tugas yang diberikan oleh Bos Ginggi. Kalian harus menjalankan tugas tersebut dengan baik dan jangan sampai alian gagal dalam bertugas. Kalian mengerti?” tanya Silvi. “Mengerti!” sahut mereka bertiga kompak. “Dan satu lagi, kalian pun harus membiasakan diri untuk berbicara dengan bahasa Inggris, sesekali dicampur dengan bahasa Indonesia tidak mengapa. Yang jelas kalian harus seperti seorang wanita asing, bule yang sudah lama tinggal di Indonesia. Kalian mengerti?” sekali lagi Silvi memberikan instruksi. “Yes, Miss kami understand!” Ucap Paula. “Bagus kalian sudah paham apa yang kumaksud.” Silvi mengangguk senang. Jane mengacungkan tangannya. “Iya, apa Jane?” tanya Silvi. “What we should do?” tanyanya mengerutkan dahi. “Kalian harus menemani dua orang lelaki separuh baya, dua orang politisi yang sedang naik daun. Kalian harus merayu mereka sedemikian rupa, tapi jangan khawatir karena saat mereka hendak melakukan sesuatu yang kurang ajar atau berlebihan. Bos Ginggi, aku dan yang lainnya akan segera muncul dan merekam semuanya. Kita akan menggunakan rekaman itu untuk menekan mereka agar melakukan yang kita inginkan.” Silvi menjelaskan dengan detail apa yang harus dilakukan oleh ketiga wanita tersebut. Ketiga wanita itu mengangguk-angguk mereka kini sudah sangat paham dengan apa yang harus mereka lakukan dengan tugasnya dan kenapa mereka didandani sedemikian rupa agar mirip dengan wanita bule ini. “Kapan kami harus melakukan tugas kami?” tanya Maria. “Dalam dua atau tiga malam dari sekarang. Jangan khawatir juga soal upah kalian. Kalian bertiga masing-masing akan kami beri imbalan yang sangat besar.” Sahut Silvi. “Berapa besar? Kalau kurang dari sepuluh juta rupiah kami tidak mau melakukannya, benar tidak teman-teman?” tanya Paula sambil meminta persetujuan kedua temannya yang lain. Mereka berdua mengangguk. “Benar, kalau hanya sedikit kami tidak akan melakukannya, resikonya terlalu tinggi.” Timpal Maria. Silvi tersenyum “Kami berencana memberikan kalian upah sebanyak tiga puluh juta rupiah, untuk masing-masing dari kalian. Dan sebagai uang muka kami akan memberikan kalian masing-masing lima juta rupiah. Bagaimana setuju?” Ketiga gadis itu saling bertatapan satu sama lain lalu kompak melihat Silvi dan mengangguk. “Setuju! Kami menerima tugas ini. Kau bisa mengandalkan kami. Kami tidak akan gagal dan mengecewakan dirimu!” Jane yang berbicara mewakili mereka bertiga. “Bagus. Sekarang kalian boleh istirahat dan mempersiapkan diri. Uang muka kalian akan diberikan oleh si Bram sebentar lagi!” ujar Silvi. Ketiga gadis itu mengangguk, tersenyum senang. Gembira dengan uang yang akan mereka dapatkan dengan melakukan sebuah tugas sederhana saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN