Jane, Maria dan Paula duduk di sebuah meja sambil makan malam dengan memakai gaun yang belahan pundaknya terbuka jelas. Restoran tempat mereka makan malam ini adalah sebuah restoran yang mewah dan berada di pusat kota.
Di depan meja mereka berhadapan langsung dengan meja kedua orang politisi yang sedang naik daun. Keduanya sama sedang makan malam, dan karena posisi mereka saling berhadapan maka dengan jelas kalau mereka pun sesekali mencuri pandang ke arah ketiga gadis yang persis berpenampilan mirip gadis bule tersebut.
Tentu saja kondisi tersebut telah dibuat dengan sengaja oleh Ginggi dan Silvi. Mereka telah mengeluarkan uang yang cukup banayak agar pihak restoran mewah itu mau mendekorasi ulang sedikit susunan meja mewah mereka. Malam ini pun memang telah mereka ketahui kalau kedua politisi itu memang sudah menyewa tempat di sana untuk makan malam.
Kedua politisi itu makan malam dengan sangat santai, meski begitu beberapa orang pengawal pribadi mereka tetap berjaga dan bersiaga mengawal di beberapa sudut dekat dengan meja tempat mereka sedang bersantap.
Maria mulai memasang jebakannya, ketika seorang dari politisi itu menatap ke arahnya, ia sengaja mengerling nakal sambil meminum anggur dari gelasnya. Membuat senyum lebar dari seorang politisi itu.
Ketiga gadis yang berada di seberang meja makan mereka memang tipe gadis yang mereka sukai. Kesamaan dari kedua politisi itu selain memiliki rekam jejak sebagai politisi yang satu partai mereka pun memiliki hobi dan kesukaan bermain perempuan. Dan tipe seperti Maria, Jane dan Paula adalah tipe ideal mereka.
Salah seorang dari mereka memanggil seorang pengawalnya, berbisik sebentar sambil menunjuk ke arah meja Jane, Maria dan Paula.
Sang pengawal pribadi segera menghampiri meja ketiga gadis berpenampilan seperti gadis-gadis bule pada umumnya tersebut.
“Good nighta, ladies. Sorry to interupt your dinner.” Sapa si pengawal pribadi sedikit membungkukkan tubuhnya meminta maaf.
“Its all right. But apa yang kamu mau?” tanya Jane.
“Kalian bisa berbahasa Indonesia?” si pengawal pribadi balik bertanya.
“Of course, kita sudah stay di sini cukup lama. It’s a wonderfull country.” Sahut Maria.
“Baiklah, kalau begitu kita mengobrol dengan bahasa Indonesia saja. Anda bertiga tentu sudah tahu tentang kedua tuan yang berada di meja di depan sana, bukan?” tanya sang pengawal pribadi sambil menunjuk dengan penuh hormat ke arah kedua majikannya.
Jane, Maria dan Paula saling berpandangan. Lalu kompak menggeleng.
“And seharusnya kita tahu? Siapa mereka memangnya?” tanya Paula.
Sang pengawal pribadi tersenyum, ini akan membuat semuanya jauh lebih mudah.
“Mereka adalah legislator yang cukup terkenal di negara ini. Baiklah tapi saya seharusnya bertanya terlebih dahulu, apa anda semua single?” tanya sang pengawal pribadi masuk ke dalam inti pertanyaannya.
“Ya, tapi apa hubungannya?’ tanya Maria pura-pura tidak mengerti.
Sang pengawal pribadi tersenyum semakin lebar.
“Bagini nona-nona. Mereka berdua adalah majikan saya, dan mereka tertarik untuk berkenalan, mungkin mengobrol dan melanjutkan makan malam di tempat yang lebih mewah dan lebih pribadi dari pada di tempat ini. Kalau anda tidak berkeberatan tentu saja, bagaimana?’ tanya sang pengawal pribadi mulai menawarkan sebuah undangan.
“What do you say, girls?” tanya Maria kepada kedua temannya.
“I don’t know, well it’s fine with me.” Sahut Paula.
“Yeah, this place and the food they serve it’s worse I say.” Jane menimpali.
“Jadi bagaimana? Apa anda bertiga bersedia memenuhi undangan kedua majikan saya?” tanya si pengawal pribadi.
Maria mengangguk “Tapi hanya untuk makan malam saja.”
Sang pengawal pribadi tersenyum “Tentu saja. Sebentar!”
Sang pengawal pribadi melangkah kembali menuju ke meja kedua tuannya menunggu. Para gadis bule ini memang begitu, sangat mudah untuk diajak makan atau berkencan semalam. Yang penting mereka suka sama suka dan pagi harinya mereka akan pergi begitu saja tanpa ada masalah lebih lanjut. Berbeda dengan kebanyakan gadis lokal yang terikat dan kaku, selalu meminta hubungan jangka panjang dan selalu membuat masalah.
Sang pengawal pribadi jadi berpikir, jangan-jangan itu alasan kenapa kedua majikannya lebih suka dengan para gadis bule. Mereka bisa bebas bermain api tanpa khawatir bakalan terbakar.
Setelah mendapatkan laporan dari sang pengawal pribadi dan undangan mereka diterima. Kedua politisi itu beranjak dan menghampiri meja ketiga gadis tersebut, berkenalan dan basa basi sebentar kemudian memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut. Makanan dan minuman milik ketiga gadis tersebut dibayarkan oleh keduanya.
Lalu dengan sebuah mobil mewah yang cukup besar, ketiga gadis itu diboyong oleh kedua politisi. Empat orang pengawal pribadi mereka dengan bersiaga ikut mengawal dari mobil lain yang mengekor mobil tuannya tersebut.
Ginggi, Silvi, si Rontek dan si Bram yang bertugas menjadi sopir pun dengan menjaga jarak mulai mengikuti kedua mobil yang membawa ketiga gadis yang sebenarnya anak buah mereka tersebut.
“Hati-hati jangan sampai ketahuan, kalau tidak maka rencana kita bisa berantakan!” Ingat Ginggi kepada si Bram yang sedang berkonsentrasi menyetir.
“Siap, Bos! Tenang saja. Saya tidak akan ketahuan.” Sahut si Bram.
Ginggi mengangguk, rencana mereka sedikit berubah. Tadinya mereka sudah menyiapkan sebuah kamar hotel tempat sandiwara itu akan berlangsung tapi ia dan Silvi sudah men-simulasi-kan hal ini bersama ketiga orang gadis yang sudah mereka latih tersebut. Di mana pun tempat yang akan dituju oleh kedua orang politisi itu untuk melampiaskan permainan api mereka maka Ginggi dan anak buahnya harus siap.
Menjadikan semua tempat sebagai tempat yang sempurna dan menguntungkan bagi ereka tak peduli dimana tempat tersebut berada. Selain itu, kalau terjadi sesuatu yang berbahaya, ketiga gadis itu yang meski tampak lemah gemulai tapi sesungguhnya mereka memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Itu membuat Ginggi sedikit lega.
Kedua mobil yang mereka ikuti masuk ke dalam jalan tol lingkar luar ibu kota, si Bram dengan sigap membelokkan mobil yang ia kendarai dan juga ikut masuk ke dalam jalan tol tersebut.
“Kira-kira kita sedang menuju kemana?” tanya Ginggi.
“Kalau saya gak salah, kita mungkin akan menuju keluar kota. Tebakanku adalah daerah puncak yang dingin.” Sahut si Bram.
“Aku kurang tahu dengan daerah tersebut. Apa yang mungkin ada di sana? Kemana mereka sedang menuju dan kenapa harus ke tempat yang dingin tersebut?” tanya Ginggi lagi.
“Tentu untuk melampiaskan hasrat mereka berdua.” Jawab Silvi yang duduk di depan di sebelah si Bram.
“Benar, di daerah sana kan terkenal dengan villa-villa begitu.” Timpal si Rontek dari tempat duduknya di belakang di samping Ginggi.
“Villa? Apa itu seperti hotel?” tanya Ginggi.
“Bukan Bos. Lebih tepatnya seperti sebuah rumah yang disewakan dan berada di antara perkebunan.” Jawab si Rontek lagi.
“Perkebunan. Rumah terpencil di perkebunan, bagus sekali. Itu membuat rencana kita lebih mudah dilakukan. Perkebunan apa yang ada di sana?” tanya Ginggi lagi.
“Perkebunan teh, Bos!” sahut si Bram.
Ginggi mengangguk.
“Kalian harus bersiap jika terpaksa maka kita habisi para pengawal pribadi kedua orang itu!” instruksi Ginggi.
“Siap, Bos!” kompak si Bram dan si Rontek, mereka menjawab sambil mengangguk.
Lebih dari satu jam mereka menguntit dan kemudian setelah keluar dari jalan tol, melalui jalan umum yang naik turun sampailah kedua mobil yang mereka ikuti itu berbelok ke sebuah villa mewah dan cukup terpencil dari rumah penduduk dan villa lainnya.
Si Bram mematikan lampu sorot mobilnya, ia tidak ingin mereka ketahuan oleh mobil di depan yang sedang mereka ikuti.
Beruntung jalanan yang mereka injak sudah terlapisi oleh beton sehingga meski tanpa bantuan sinar lampu sorot dari mobilnya, si Bram bisa mengendalikan laju mobil dengan baik.
“Kita berhenti di sini!” perintah Ginggi.
Si Bram segera menepikan mobil dan mereka berempat kemudian keluar.
Ada sekitar seratus meter lebih dari lokasi villa tersebut, mereka berjalan menembus perkebunan teh yang cukup rapat tersebut.
Silvi tidak merasa kesulitan berjalan di setapak sempit dan gelap seperti itu karena ia sudah terlatih sejak kecil ketika belajar kepada Sensei-nya sewaktu di Jepang.
Tinggal beberapa puluh meter lagi mereka akan sampai ke villa tersebut ketika Ginggi dengan isyarat tangannya menyuruh rombongannya untuk berhenti. Si Rontek menatap tak mengerti, Ginggi menunjuk ke depan mereka.
Di depan mereka, salah seorang pengawal pribadi kedua politisi itu muncul sambil menenteng sebuah senjata. Ia celingukan dan menghela nafasnya sambil menaruh senjatanya tersebut di pinggang, merogoh sebatang tembakau dan mencari-cari korek api.
Ginggi yang berdiri dan berjalan seperti bayangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun sudah berada di sebelah pengawal tersebut. Ia menyalakan sebatang koreng api.
“Terima kasih!” ucap sang pengawal pribadi ketika batang tembakaunya sudah menyala. Dan ia kemudian sadar “Siapa kau?!”
Tanpa membuang waktu Ginggi menghadiahi pria tersebut dengan sebuah pukulan ke tengkuknya. Sang pengawal pribadi itu pun jatuh terkulai tak sadarkan diri.
Silvi, si Bram dan si Rontek menghampiri Ginggi.
“Kalian berdua, lumpuhkan pengawal lainnya yang tersisa. Silvi ikut denganku!” perintah Ginggi sambil berbisik.
Si Bram dan si Rontek mengangguk, mengerti. Mereka segera menyelinap untuk melumpuhkan pengawal kedua politisi tersebut.
Ginggi melirik Silvi. Silvi mengangguk ia mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bersama, mereka berdua kemudian menyelinap ke dalam villa tersebut.
Mereka hendak mencongkel jendela tapi kemudian si Rontek memanggilnya.
“Bos! Semua sudah beres! Ujarnya” Si Rontek melambaikan tangan.
Cepat sekali, pikir Ginggi dan Silvi yang saling berpandangan.
Mereka menghampiri si Rontek yang menunjuk ke sampingnya. Ketiga orang pengawal yang tersisa sudah terkapar tak berdaya di samping si Bram yang berdiri dengan gagah.
“Si Bram hebat Bos. Dia menjatuhkan ketiga orang itu dengan sekali hempasan.” Si Rontek memberikan laporannya.
Ginggi mengacungkan jempolnya ke arah si Bram, dia pasti sudah mengeluarkan ilmu cakar harimaunya barusan.
Maka mereka berempat kemudian masuk melalui pintu seperti orang normal lainyya.
“Bos, ke sini!” Jane memanggil dari sebuah pintu kamar villa yang dibiarkan terbuka lebar.
Ginggi dan rombongannya menghampiri si Jane.
“Bagaimana?” tanya Ginggi.
“Beres Bos!” sahut si Jane membentuk huruf O dengan ibu jari dan telunjuk kanannya.
Di dalam kamar vila tersebut, kedua orang politisi itu sudah terkapar tak berdaya. Pingsan tanpa memakai selembar pakaian pun juga.
Ginggi mengerutkan dahinya.
“Kami sudah mencampur minuman mereka dengan obat tidur yang diberikan oleh Silvi.” Jelas Maria.
“Seperti itu rupanya.” Ginggi menganguk-angguk.
“Ya sebagai rencana cadangan kalau kita tidak berhasil menjerat mereka ke tempat yang kita inginkan.” Jelas Silvi.
“Lantas bagaimana sekarang, Bos?” tanya Paula.
“Kalian ambil pose, Bram kau ambil foto mereka. Jangan lupa posisikan agara wajah kedua kurang ajar ini tampak dengan sangat jelas. Setelah itu kita segera kembali ke markas.” Perintah Ginggi.
Si Bram segera mengeluarkan kamera yang ia bawa, menyuruh ketiga gadis itu berpose dengan mengambil sudut-sudut yang seolah menggambarkan hal yang memalukan bagi banyak orang. Yang kalau tersebar maka karir kedua politisi yang sedang naik daun ini pun akan tamat seketika.
“Bagus, sisa bayaran kalian akan diberikan oleh Silvi nanti.” Jelas Ginggi kepada ketiga orang gadis tersebut.
“Siap, terima kasih Bos!” ujar ketiga gadis itu dengan senang.
“Bram, berikan aku foto-foto itu kalau sudah siap. Sekarang mari kita tinggalkan tempat yang buruk ini!” Ginggi memerintahkan.
Maka mereka pun berlalu dari vila pribadi yang dingin tersebut kembali ke pusat ibu kota. Ke markas mereka.
***