Kekejaman Si Jamal

1807 Kata
Siang itu Ginggi dan Silvi makan di restoran mewah, tempat yang sama ketika pertama kali Silvi mengajak Ginggi untuk melihat kedua politisi yang sering berhubungan dengan si Jamal. Dan kemudian memasang jebakan dengan membuat sebuah foto rekayasa mereka berdua bersama ketiga orang gadis anak buahnya yang diserupakan dengan gadis bule. “Apa kau yakin mereka berdua akan datang kembali ke restoran ini lagi siang ini?” tanya Ginggi menyelidik ke arah pintu masuk restoran sejenak dan kemudian kembali berpaling menatap Silvi. “Tenang saja, aku yakin mereka akan datang ke restoran ini siang ini. Tunggu saja, aku yakin karena ini merupakan restoran langganan mereka berdua. Dari kantornya ini adalah restoran terbaik yang paling dekat.” Sahut Silvi, meneguk air bening. Apa yang dikatakan oleh Silvi ternyata benar adanya, setelah menunggu kurang lebih setengah jam lagi, dari arah pintu restoran kedua orang politisi dengan dikawal oleh para pengawal pribadi mereka datang sambil tertawa-tawa. Sepertinya mereka sudah tidak ingat dan peduli lagi dengan kejadian yang memalukan yang mereka alami di vila pribadinya. Mereka hanya mengira telah diperdaya oleh ketiga gadis bule itu dan dirampok, hanya sedikit uang mereka yang hilang dari dalam dompet. Tidak ada satu persennya pun dari rekening gendut yang mereka miliki di berbagai bank baik di dalam maupun di luar negeri yang tentu saja bebas pajak dan tidak diawasi oleh otoritas keuangan. Keduanya mengambil meja paling mewah yang telah dipesan sebelumnya, berada sekitar beberapa meter dari meja yang sedang ditempati oleh Ginggi dan Silvi. Keempat pengawal pribadi mereka pun berdiri menjaga jarak untuk mengamankan tuan mereka. Ginggi bangkit dari tempat duduknya, ia dengan tenang langsung melangkah ke arah meja kedua politisi tersebut. Dan tentu saja Ginggi dihadang oleh salah seorang pengawal pribadi mereka yang bertubuh sangat kekar dan garang, nyaris sama dengan si Mikimos tingkat kegarangan orang di depan Ginggi ini. “Berhenti! Ini adalah area pribadi, kau tidak boleh mendekat lebih jauh dari ini!” bentak si pengawal pribadi dengan sangat galak. Ginggi memasang tatapan yang berpengaruh miliknya. “Aku ada urusan dengan majikanmu. Sekarang sampaikan kepada tuanmu, aku ada tawaran bisnis yang memiliki keuntungan besar.” Desis Ginggi. Sang pengawal pribadi menatap kilatan aneh dari mata Ginggi, ia sedikit gemetar ketakutan. Orang di depannya ini pasti bukan orang sembarangan, ia tidak gentar dibentak olehnya dan malah dengan sangat tajam menatapnya seperti tatapan seekor harimau sedang menatap seekor tikus. “Tu-tunggu disini!” ujar si pengawal pribadi, mentalnya mulai terpengaruh dengan tatapan tajam Ginggi yang menusuk tersebut. Ia segera menghampiri kedua majikannya, dengan gestur tubuh layaknya seorang anak buah yang patuh ia membungkukkan tubuh dan berbicara dengan sopan kepada kedua majikannya. Kedua politisi itu menatap Ginggi dengan rasa curiga, tapi kemudian dengan isyarat tangannya mereka memanggilnya agar datang mendekat ke meja mereka. Ginggi mengangguk dan dengan langkah tenang sekaligus berwibawa ia mendekati meja kedua politisi tersebut. “Duduklah!” ujar salah seorang dari mereka begitu Ginggi sudah berada di depan mejanya. Ginggi menggeserkan kursi yang berada di seberang kedua politisi tersebut dan kemudian duduk di depan meja mereka. Sang pengawal pribadi serta dua orang pengawal yang lainnya kemudian mendekat dan berdiri di belakang kedua majikannya tersebut dengan sikap penuh kewaspadaan. Siaga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada majikan mereka, mereka akan bisa langsung bertindak dengan segera. “Katanya kau punya penawaran bisnis untuk kami. Bisnis seperti apa? Dan kau sepertinya terlihat bukan seperti seorang pebisnis, siapa kau sebenarnya?” salah seorang dari mereka bertanya menyelidik sambil menatap tajam ke arah Ginggi. Ginggi tersenyum “Baiklah sepertinya anda berdua tidak suka berbasa-basi. Itu bagus karena aku pun begitu. Namaku adalah Ginggi dan aku adalah seorang Bromocorah.” Jelas dalam wajah kedua orang politisi dan para pengawal pribadinya tampak sangat syok dan kaget dengan pengakuan Ginggi tersebut. Tapi kemudian salah seorang politisi itu bisa menguasai dirinya kembali dengan baik. “Hahaha… jangan bercanda kau. Saat ini posisi tersebut sudah diisi oleh orang lain dan kau malah mengaku seenaknya sebagai seorang bromocorah. Apa kau sudah bosan hidup, nak?” tanyanya sambil tertawa. “Si Jamal hanya seekor makhluk menjijikan yang menusuk si Loreng dari belakang. Aku lah yang dipilih oleh si Loreng untuk menggantikan posisinya sebagai seorang bromocorah. Aku punya penawaran untuk kalian, jika kalian mau dan bersedia membantuku maka setelah urusanku dengan si Jamal aku akan memberikan porsi dan dukungan penuh kepada kalian untuk menjadi penguasa di negeri ini. Bagaimana?” tanya Ginggi. Mereka berdua terkekeh, ucapan Ginggi tak ubahnya seperti sebuah lelucon di telinga mereka. “Kau tahu kan siapa kami berdua ini? Untuk apa kami membutuhkan bantuan dari bocah seperti dirimu ini? Kalau kami mau kami bisa menjadi penguasa negeri ini dengan mudah. Kami memiliki akses dan sumber daya yang tak terbatas, selain itu kami sudah berjanji setia kepada si Jamal untuk melakukan bisnis kami masing-masing. Sekarang enyahlah kalau kau masih sayang kepada nyawamu!” usir kedua politisi itu sambil mengibaskan tangan menyuruh Ginggi pergi dari hadapannya. Ginggi hendak meraih amplol yang ia taruh di saku dalam jaketnya. “Berhenti!” seorang pengawal pribadi kedua politisi itu mengacungkan pistolnya ke arah dahi Ginggi, ia menyangka Ginggi akan mengambil senjata dari dalam bajunya. “Tenang saja, aku hanya akan mengambil sebuah amplop dari dalam bajuku. Aku yakin isinya akan menarik buat anda berdua.” Sahut Ginggi. Salah seorang di antara politisi itu memberikan kode dengan lirikan matanya. Seorang pengawal pribadi yang lainnya berjalan menghampiri Ginggi, ia merogoh saku dalam jaket Ginggi dan menemukan sebuah amplop kecil. Ia lalu menyerahkan amplop tersebut kepada kedua orang majikannya. “Bukalah, isinya akan membuat kalian berubah pikiran.” Ujar Ginggi. Dengan penuh rasa waspada dan kehati-hatian kedua orang politisi itu perlahan membukaa amplop yang didapatkan dari saku jaket Ginggi. Mereka kaget karena mendapati beberapa lembar foto di dalam amplop tersebut. Foto mereka berdua dalam keadaan tanpa memakai selembar benang pun sambil berada dalam dekapan ketiga gadis bule. Kedua wajah mereka tampak sangat jelas terihat. Mereka berdua saling menatap, kalau foto-foto ini tersebar dan masuk ke media massa maka bisa dipastikan akan menjadi skandal dan karir politik mereka berdua akan tamat seketika. Mereka segera merobek foto-foto tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil. Lalu keduanya tertawa dengan sangat puas. Ginggi tersenyum melihat kelakuan konyol mereka. “Kalian tahu, aku masih bisa mencetak berapa pun banyaknya foto-foto tersebut kembali.” Ujar Ginggi. “Tidak kalau kami menghabisi dirimu sekarang juga!” bantah salah seorang dari mereka. “Silakan saja, kalau aku tidak kembali dalam satu jam maka anak buahku akan mengirimkan salinan foto-foto tersebut ke seluruh media massa di negeri ini. Akan menjadi sebuah berita yang menghebohkan bukan?” Ginggi tersenyum, ia tidak peduli dengan ancaman kosong dari kedua orang di hadapannya ini. Hening sejenak, kedua politisi itu sedang memperhitungkan segala sesuatunya. Ini adalah pemerasan, mereka paham karena mereka juga sering melakukannya. Tapi siapa sangka kalau ada bocah yang bakalan mengancam dan memeras mereka juga hari ini? “Baiklah, apa yang kau inginkan sebagai ganti negatif foto tersebut?” tanya salah seorang dari mereka mengalah dan siap bernegosiasi dengan Ginggi. “Anda telah membuat keputusan yang baik dan bijak.” Sahut Ginggi. “Katakan saja apa maumu, tidak usah berbasa-basi!” salah seorang di antara mereka geram karena tidak menyangka bakalan ada orang yang berani memeras dirinya. “Mudah, aku minta anda berdua untuk membuat sebuah janji temu dengan si Jamal.” Sahut Ginggi. “Katakan dimana dan kapan?” tanya salah seorang dari mereka tak sabaran. Ginggi merogoh sebuah kertas lainnya yang lebih kecil dari saku jaketnya. “Ini, di sini dan waktunya sudah tertera.” Ujar Ginggi sambil menyerahkan kertas kecil tersebut kepada kedua orang politisi tersebut. “Baik kami akan melakukan keinginanmu ini. Lalu bagaimana dengan negaif filmnya? Kapan kami akan mendapatkannya?” tanya mereka. “Segera, setelah pertemuanku dengan si Jamal terlaksana, aku akan menyerahkan negatif film itu kepada kalian.” Sahut Ginggi. “Bagaimana kami tahu kalau kau tidak akan mengingkari janji?” tanya salah seorang dari mereka masih sangsi. “Kalian boleh datang ke terminal bus di utara, aku bos preman di sana. Kalian cari saja namaku Ginggi!” ucap Ginggi. “Baiklah, kami percaya kepadamu. Setelah ini kami akan menghubungi si Jamal dan membuat janji temu dengannya untukmu.” Sahut salah seoarang dari mereka mengangguk. “Terima kasih atas kerjasama anda berdua. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Permisi!” Ginggi bangkit dar tempat duduknya dan keluar dari restoran mewah tersebut diikuti oleh Silvi. Beberapa hari kemudian, di sebuah penginapan yang terletak di pinggiran ibu kota, Ginggi, Silvi, si Bram, si Rontek, si Mikimos dan beberapa anak buahnya yang lain sedang bersiap menunggu kedatangan si Jamal. Mereka duduk di restoran yang berada di lobi penginapan tersebut. “Bos apa Bos yakin kalau si Jamal akan datang?” tanya si Mikimos, sejak tadi ia sangat meragukan kalau janji temu yang dibuat oleh para politisi itu untuk Ginggi akan berjalan dengan baik. “Kau tenang saja. Para politisi itu tidak mungkin berbuat macam-macam. Karir mereka terlalu bagus untuk dihancurkan dengan skandal itu. Mereka kemarin sudah mengabarkan kalau si Jamal bersedia menemui mereka di sini sebentar lagi.” Jelas Ginggi sambi menatap ke arah pintu masuk penginapan. Si Mikimos mengangguk “Semoga saja begitu Bos. Aku sudah tak sabar ingi =n menghajar si Jamal kurang ajar itu!” geram si Mikimos. Sampai waktu yang dijanjikan tiba tapi belum ada tanda-tanda kalau si Jamal atau anak buahnya akan datang. Ginggi dan anak buahnya berusaha untuk sabar dan menunggu. “Pak Ginggi?” salah seorang manajer penginapan yang bertugas datang menghampiri Ginggi. “Benar, ada yang bisa kubantu?” sahut Ginggi agak heran. “Maaf semalam ada titipan pesan tapi harus saya sampaikan jam sekarang ii dengan spesifik.” Sahut sang manajer. “Pesan dari siapa?” selidik Ginggi. “Dari Pak Jamal. Beliau meminta anda untuk datang ke kamarnya di lantai dua di kamar nomor 271. Silakan pak!” ujar sang manajer sambil menunjuk ke arah tangga. Ginggi mengangguk “Baik, kami akan kesana. Terima kasih!” sahut Ginggi. Ginggi dan Silvi beserta rombongannya kemudian mendatangi kamar yang dimaksud oleh manajer hotel tersebut. “Tetap waspada, si Jamal adalah orang yang sangat licik. Buktinya ia sudah memesan kamar sejak semalam, ia pasti memiliki rencana tertentu.” Silvi mengingatkan. Ginggi mengangguk, ia memang sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia tahu bahwa si Jamal adalah ular yang sangat licik. Si Mikimos membuka kamr nomor 271 tersebut dan menyalakan lampu di dalam kamar tersebut. “Astaga!” Silvi terpekik sambil membekap mulutnya sendiri. Di dalam kamar penginapan tersebut mereka menemukan kedua orang politisi dengan para pengawal pribadinya yang sudah bergeletakan tak bernyawa. Sementara itu di dindingnya ada sebuah pesan yang tertulis dengan darah mereka ‘Berikutnya adalah kalian!’ Benar-benar kejam dan tak berperikemanusiaan si Jamal itu. Ginggi benar-benar harus menghentikan apa yang dilakukan oleh si Jama itu. Ia harus secepatnya menemukan dan membalaskan dendam si Loreng dan orang-orang lainnya yang telah dengan kejam diperlakukan oleh si Jamal kurang ajar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN