Ginggi Frustrasi

1727 Kata
Silvi sudah dua hari ini tidak menemukan Ginggi di terminal, bahkan ketika ia mendatangi kontrakannya ditemani si Rontek dan si Bram, Ginggi pun tidak ada di sana. Mereka bertanya kepada para tetangga sekitarnya tapi mereka pun tidak mengetahui kemana Ginggi pergi. “Kemana Ginggi ya?” guman Silvi sambil menghela nafasnya. “Apa mungkin si Bos kembali ke kampung halamannya? Mudik lagi seperti waktu itu?” tanya si Rontek berusaha membuat asumsi. Silvi menggeleng “Aku sudah menghubungi Sastro tadi, ia tidak ada di sana, kalaupun Ginggi memang pulang ke kampung halamannya ia pasti selalu menyempatkan diri mengunjungi Sastro. Hanya dia yang tersisa dari semua masa lalu Ginggi.” Jelas Silvi. “Aneh, benar-benar aneh. Apa ada hubungannya antara kejadian kemarin itu ya?” si Bram menatap Silvi dan si Rontek bergantian. “Apa maksudmu?” si Rontek mengerutkan dahi sambil menatap rekannya, tak paham yang dimaksud oleh si Bram. “Aku merasa Bos Ginggi sangat terobsesi untuk membalaskan dendam kepada si Jamal. Dia tentu sangat shock mengetahui kalau si Jamal mampu mempertontonkan kekejaman saat di penginapan itu.” Si Bram menjelaskan. Silvi menatap si Bram dan mengangguk. “Benar, aku tahu Ginggi memang sangat tegas. Tapi dia sebenarnya memiliki hati yang baik dan lembut. Dia pasti sangat terpukul setelah semua rencana yang ia buat agar meminimalisir jatuhnya korban malah berbalik membuat enam orang tewas dengan sangat mengenaskan dibantai oleh si Jamal dan anak buahnya.” Silvi mengangguk-angguk, ia paham dan mengerti apa yang diujarkan oleh si Bram. “Lantas, sekarang ini kemana Bos Ginggi pergi?” tanya si Rontek lagi. Silvi mengendikkan bahunyaa “Mungkin dia sedang menenangkan dirinya terlebih dahulu.” “Iya, tapi kemana? Terminal tak boleh dibiarkan tanpa ada pemimpin terlalu lama.” Sahut si Rontek lagi. Si Bram menatap rekannya tersebut “Dasar bodoh! Kau kan ada, sudah sering kan Bos Ginggi bilang kalau dia tidak ada maka kau yang jadi bosnya untuk sementara!” Si Rontek menyeringai “Kau benar, Bram. Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu ya?” “Sudahlah, ayo kita kembali ke markas di terminal. Kita harap semoga saja Ginggi akan segera kembali dan menjalankan aktivitas seperti biasanya lagi.” Sahut Silvi. Si Bram dan si Rontek kompak mengangguk. Mereka bertiga kemudian melangkah kembali menuju ke markas preman di dalam terminal. Si Mikimos yang sedang berada di dalam markas terminal bersama dengan Ali tampak sangat gembira menyambut kedatangan ketiga rekannya. Silvi menatap si Mikimos penasaran. “Kau tampak ceria, apa kau tak peduli dengan Bos Ginggi yang hilang dan entah dimana sekarang berada?” tanya si Rontek. Si Mikimos mengibaskan tangan dan tak ambil pusing dengan tuduhan miring dari si Rontek barusan. “Justru aku sudah tahu dimana si Bos Ginggi sekarang berada.” Sahut si Mikimos, tersenyum tipis. “Benarkah? Cepat katakan dimana Ginggi sekarang?” tanya Silvi bersemangat. Si Bram dan si Rontek saling berpandangan. “Bagaimana kau bisa tahu dimana Bos Ginggi berada?” tanya si Bram. “Saat kalian malah sibuk berputar-putar tidak jelas. Aku dari kemarin telah menyuruh anak buahku agar mencari dimana Bos Ginggi berada. Dan tadi saat kalian sedang pergi ke kontrakan Bos Ginggi salah seorang anak buahku datang dan melaporkan kalau semalam mereka melihat seseorang yang sama seperti Bos Ginggi.” Jelas si Mikimos. “Orang yang sama seperti Bos Ginggi? Berarti ada kemungkinan bukan Bos Ginggi, dong?” tanya si Bram. “Bisa jadi, soalnya yang melaporkan itu anak buahku yang berada di dermaga. Mereka belum pernah ketemu dengan Bos Ginggi dan hanya melihat fotonya yang kukirimkan kepada mereka.” Sahut si Mikimos. “Kemungkinan itu jelas lebih baik daripada kita yang pusing sendiri. Katakan dimana anak buahmu itu bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Ginggi tersebut?” tanya Sivi menatap tajam si Mikimos, dari tadi dia hanya berputar-putar saja menjelaskan tanpa menyebutkan secara jelas dimana lokasi anak buahnya itu bertemu dengan Ginggi. Si Mikimos menatap Silvi, benar-benar mirip dengan si Loreng sikapnya ini, paling sebal dengan basa-basi dan terutama jika pertanyaannya belum dijawab oleh lawan bicaranya. “Dia ada di pantai. Bos Ginggi sore kemarin ada di pantai dan tadi saat datang kemari, sebelumnya anak buahku telah memastikan kalau orang tersebut masih ada di pantai.” Jelas si Mikimos. “Bagus, kalau begitu aku akan menyusulnya ke sana. Dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang berat.” Sahut Silvi. “Ide bagus. Jangan lupa sekalian kalian makan malam di sana. Menghabiskan waktu di pantai itu bagus dan sangat romantis loh.” Si Mikimos kembali menggoda Silvi. Pipi Silvi bersemu merah, si Mikimos dan yang lain sepertinyaa sudah tahu kalau dia memang memiliki hati kepada Ginggi taapi Ginggi malah bersikap seperti biasanya, dingin sedingin es batu yang dibekukan di antartika.  Silvi segera meraih tas kecilnya, ia harus mampir ke apartemennya terlebih dahulu. Berganti baju dengan pakaian yang jauh lebih pantas untuk berada di pantai dan juga mengganti alas kakinya. Ia lalu berpamitan kepada semua orang yang berada di markas preman terminal tersebut. Silvi tiba di pantai menjelang tengah hari, suasana pantai agak lengang karena ini merupakan hari kerja. Orang-orang dengan rutinitas dan aktualisasi diri sedang sibuk berada di kantor mereka untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah agar tetap bisa menjalankan roda kehidupan dengan baik. Tak ada yang tertarik untuk berwisata di hari sesibuk ini, berbeda dengan hari libur atau akhir pekan dimana semua berlomba untuk menyegarkan diri. Rehat sejenak dari kepenatan kerja. Setelah berjalan menyusuri garis pantai selama hampir satu jam penuh sambil terus mengawasi setiap orang yang kebetulan berada di pantai tersebut dengan mata elangnya, Silvi akhirnya menemukan Ginggi sedang terduduk di sebuah batu karang besar sambil melamun. Perlahan Silvi mendekati Ginggi, ia sengaja menyamarkan langkahnya. Tapi meskipun Silvi tidak melakukan hal tersebut, Ginggi pasti tidak akan menyadari kehadirannya. Ginggi saat itu sedang berpikir secara keras dan juga membiarkan pikiran autistiknya berkelana. Ombak yang datang dan pergi membelah batu karang, kadang memercik ke tubuhnya. Tapi ia tidak peduli dengan itu semua, dia hanya sedang ingin sendirian dan memikirkan bagaimana lagi cara yang harus ia tempuh agar bisa balas dendam dengan minim korban. “Kau sedang apa di sini?” tanya Silvi begitu dia sudah berada di sebelah Ginggi. Ginggi menatap Silvi yang sedang berdiri di sampingnya, tersenyum tipis sambil menghela nafasnya. Entah bagaimana gadis ini bisa menemukannya disini. “Tidak ada, aku hanya sedang melamun saja.” Sahut Ginggi. “Kau keberatan jika aku temani?” tanya Silvi lagi. Ginggi menggeleng “Tidak, malah aku bersyukur kau datang ke sini. Aku butuh ketenangan tapi juga butuh teman bicara sekarang ini.” Sahut Ginggi. “Kenapa kau tidak mengajakku kemarin?” tanya Silvi menyelidik. Ginggi mengendikkan bahunya “Aku juga tidak bermaksud datang ke tempat ini.” “Apa maksudmu?” Silvi tak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Ginggi tersebut. Mereka berdua berbicara sambil agak berteriak satu sama lain sebab ombak yang menghantam karang terdengar jauh lebih menggelegar. “Aku hanya berjalan tak tentu arah, dan saat sadar aku tiba-tiba sudah berada di pantai ini. Tapi kebetulan karena aku memang sedang membutuhkan kesendirian terlebih dahulu.” Sahut Ginggi. “Lalu apa yang kau dapatkan di tempat ini?” tanya Silvi. “Tidak ada. Aku juga tidak tahu tapi aku merasa jauh lebih damai sekarang ini.” Ginggi menggeleng. “Baguslah, kau sudah makan siang?” tanya Silvi, ia merasa saat ini tentu sudah tengah hari dan sudah waktunya untuk makan siang. Lagi-lagi Ginggi menggeleng “Belum.” “Ikutlah denganku. Kita makan siang terlebih dahulu. Ayo!” ajak Silvi. Ginggi mengangguk dan kemudian dia berdiri melangkah mengikuti Silvi menuju ke sebuah resort di tepi pantai dengan sebuah restoran untuk umum. Setelah memesan makanan dan minuman, Silvi kembali menatap wajah Ginggi yang kali ini jelas terlihat sangat kuyu dan lemas. “Kau tidak tidur semalaman?” tanya Silvi. “Aku tidak bisa tidur. Banyak hal yang sedang kupikirkan dan mengganggu saat aku hendak memejamkan mata.” Jawab Ginggi. “Kau tahu, apa yang menimpa keenam orang itu. Itu bukan tanggung jawabmu, bukan kau yang harus menerima beban itu. Itu semua adalah kesalahan si Jamal, mereka menerima nasib nahas itu karena sebelumnya pun mereka berbisnis dengan si Jamal. Lambat laun mereka memang bakal mengalami kenahasan seperti itu.” Silvi mencoba menghibur Ginggi. Ginggi mengangguk “Kau benar, terima kasih atas perhatian yang kau berikan kepadaku. Tapi aku sedang memikirkan hal lain sekarang ini.” Sahut Ginggi. “Apa itu?” Silvi menatap Ginggi. “Aku sedang berpikir bagaimana cara menghadapi si Jamal. Untuk menemukannya sekarang aku telah punya cara sendiri, tapi untuk menghadapi kelicikannya aku masih sedikit ragu.” Jelas Ginggi. “Jangan khawatir, kita akan memikirkan hal itu nanti. Sekarang kau lebih baik menjaga kesehatanmu sendiri, makan teratur dan tidur serta istirahat dengan baik. Kau tidak boleh membiarkan dirimu jatuh sakit kau tahu, ada banyak orang yang kini tergantung kepada dirimu. Kau ini kan seorang Bos di terminal, seharusnya kau bisa lebih kuat dari pada anak buahmu.” Nasihat Silvi. “Baiklah.” Ucap Ginggi. “Oh iya, tadi di sekitar tempatmu sedang melamun, aku banyak menemukan pohon-pohon kelapa yang tumbang dan berserakan. Apa semalam ada badai di tempat ini?” tanya Silvi penasaran. Ginggi menggeleng “Cuaca sangat cerah semalam.” “Lalu apa yang terjadi dengan pohon-pohon kelap itu ya?” Silvi memegang dagunya. “Aku yang telah melakukannya.” Sahut Ginggi. “Bagaimana?” Silvi menatap penasaran. Ginggi mengangguk “Aku yang telah melakukannya. Semalam entah kenapa aku merasa sangat emosional dan ingin marah tanpa sebab. Aku membiarkan kemarahan menguasai diriku malam tadi. Dan tato bromocorah di tanganku ini pun sepertinya sangat bernafsu. Jadi semalam aku memukul hancur beberapa pohon kelapa itu.” Sahut Ginggi. “Astaga!” Silvi tercekat, betapa mengerikan kekuatan yang dihasilkan oleh tato bromocorah yang tercetak di lengan kiri Ginggi tersebut. Silvi mengamati kedua lengan Ginggi, aneh tidak ada bekas memar sedikit pun di lengan Ginggi tersebut. Bila benar apa yang ia katakan maka tato bromocorah itu adalah sebuah misteri yang harus ia kuak. Sebelumnnya ia memang pernah melihat kekuatan aneh yang dimiliki oleh si Loreng ayahnya. Dan kini juga Ginggi. Silvi penasaran apa ada hubungannya antara tato tersebut dengan amarah dan rasa frustrasi Ginggi ya? Apa tato itu akan memperkuat pemiliknya kalau sang pemilik dalam keadaan sangat marah? Silvi akan mencari tahu dan menguak rahasia dari tato bromocorah tersebut. Ia harus tahu apa bisa digunakan dengaan baik atau malah bisa mencelakakan sang pemiliknya. Ia tidak boleh membiarkan Ginggi termakan kekuatan tato bromocorah itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN