Serangan Balik Si Jamal

1741 Kata
Selepas makan siang di pinggir pantai dengan Silvi, Ginggi merasa pikirannya jauh lebih tenang sekarang. Ia bersyukur bisa ketemu dengan anak si Loreng ini, sama seperti ayahnya yang penuh dengan pengetahuan, kecerdasan Silvi sudah banyak membantunya selama ini. “Setelah ini apa yang akan kau lakukan? Apa kau masih ingin diam di sini untuk lebih menenangkan diri?” tanya Silvi. Mereka kali ini sedang berjalan di pinggir pantai tanpa alas kaki, beberapa kali ombak kecil yang datang membilas kaki mereka. “Aku akan kembali ke terminal. Kadang aku lupa kalau aku sekarang ini memiliki anak buah, mereka tanggung jawabku. Aku akan memikirkan cara lagi agar bisa membalaskan dendam kepada si Jamal sambil tetap memastikan kalau terminal akan berjalan dengan baik.” Sahut Ginggi. Silvi memungut sebuah cangkang kerang yang indah yang tak sengaja ia lihat di depannya. “Itu bagus. Kau memang sudah menjadi Bos mereka. Dan jangan kau lupakan jug kalau kau ini sekarang adalah sang Bromocorah. Kau adalah pemimpin yang sejati dari mereka itu dan kau pun harus bisa merebut apa yang telah menjadi hakmu dari si Jamal!” ujar Silvi. Ginggi mengangguk, ia lalu memperhatikan Silvi yang sedang berusaha meniup cangkang kerang tersebut. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ginggi. “Zaman dulu, orang-orang menggunakan kerang ini sebagai sebuah terompet. Aku mencoba meniupnya untuk bisa tahu bunyi seperti apa yang dihasilkannya.” Sahut Silvi yang beberapa kali menggembungkan pipi dan meniup kerang yang ia temukan. Tapi ia tidak berhasil membuat kerang itu berbunyi. “Sini aku lihat!” Ginggi mengulurkan tangan. Silvi memberikan cangkang kerang yang ia genggam ke tangan Ginggi. Ginggi mengamati cangkang kerang tersebut. “Kau tahu, meski agak mirip tapi bukan kerang jenis ini yang biasa digunakan sebagai terompet zaman dahulu itu.” Ujar Ginggi. Silvi mengangguk “Aku tahu, aku hanya penasaran saja.” Ujarnya sambil tersenyum jahil. Ginggi menggeleng-gelengkan kepalanya, sikap tak terduga Silvi semacam ini kadang membuatnya susah untuk dilupakan dan selalu terbayang ketika ia sedang sendirian. “Kerang ini malah bagus untuk didengarkan. Lihat, kalau kau mendekatkannya ke salah satu telinga dan menutup telinga yang lainnya maka kau bisa mendengar suara laut, deburan ombak dan sebagainya.” Jelas Ginggi sambil mendekatkan cangkang kerang itu ke telinga kiri dan menutup telinga kanannya. Silvi menatap Ginggi, sepertinya mengasyikkan, ia juga jadi tertarik ingin melakukannya dan membuktikan ucapan Ginggi apakah memang dalam cangkang kerang tersebut bisa benarr-benar terdengar suara laut. “Sini, aku coba!” Silvi mengulurkan tangannya meminta Ginggi mengembalikan cangkang kerang yang tadi ia pungut. Ginggi mengembalikan cangkang kerang tersebut, Silvi mendekatkannya ke telinga kiri dan menutup telinga kanannya. ia belum mendengar apapun, ia melihat ke arah Ginggi. “Tidak ada suara apa pun?” gelengnya. “Kau harus konsentrasi dan menutup matamu!” ucap Ginggi. Silvi mengangguk dan melakukan apa yang Ginggi katakan, ia berkonsentrasi dan menutup matanya perlahan. “Tetap tidak ada suara apa pun yang kudengar.” Ucap Silvi sambil perlahan membuka kembali kedua matanya. Silvi menatap ke sebelahnya ke tempat Ginggi tadi berdiri, tidak ada. Ginggi sudah tidak ada di sebelah Silvi. “Hooi…!” Ginggi berteriak jauh di depan Silvi sambil tertawa-tawa. “Dasar jahil!” Silvi melemparkan cangkang kerang yang sedang ia genggam dengan gemas ke arah Ginggi. Rupanya ia telah dijahili oleh Ginggi, Silvi berlari mengejar Ginggi dan akan membalas kejahilannya barusan. Ia akan menghadiahi Ginggi dengan beberapa cubitan mautnya. * Ginggi dan Silvi datang ke terminal ketika hari menjelang sore. Semburat oranye membuat siluet yang sedikit mistis dalam hari. Orang-orang yang penat bekerja seharian mulai meregangkan tubuh mereka, menanti waktu pulang yang tinggal beberapa saat lagi. “Aneh, kemana orang-orang?” gumam Ginggi ketika tidak melihat satu pun anak buahnya, para preman yang menjadi calo angkutan kota di area pengeteman angkutan. “Sebaiknya kita segera ke markas!” saran Silvi kepada Ginggi. “Apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?” tanya Ginggi sambil mengedarkan pandangannya. Meski terminal tampak seperti biasanya, ramai orang yang lalu lalang hendak naik dan turun dari kendaraan umum dan bis, para pedagang dan tukang parkir. Tapi tidak ada satu pun para preman dan calo terminal yang menjadi anak buahnya di tempat mereka biasa melakukan tugasnya. Ginggi dan Silvi bergegas menuju ke markas preman terminal yang terletak di dalam. Dan terkejut mendapati keadaan markas mereka yang hancur berantakan. “Astaga! Apa yang sudah terjadi di tempat ini. Dan kemana perginya orang-orang?” Ginggi celingukan mencari. “Sepertinya saat kita tidak ada, sudah terjadi sebuah penyerbuan ke tempat ini. Aku tidak tahu siapa tapi melihat rapinya kerja mereka yang membiarkan terminal beroperasi seperti biasanya. Aku menduga ini adalah kerjaan si Jamal.” Sillvi menjelaskan. “Kalau benar ini adalah sebuah serbuan dari si Jamal. Kemana perginya semua anak buahku?” tanya Ginggi. Silvi menghela nafasnya “Aku tidak tahu, mungkin, ini hanya asumsiku belaka. Mereka semua telah dihabisi oleh si Jamal.” Sahut Silvi. “Kurang ajar! Awas kau Jamal! Aku tidak akan mengampunimu!” Ginggi menggeretakkan giginya dan menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dinding markas preman terminal. “Ginggi, saat ini aku rasa kita pun harus segera pergi meninggalkan tempat ini. Jangan sampai kita terlalu mencolok.” Saran Silvi. Ginggi menatap wajah Silvi dan kemudian mengangguk, itu saran yang sangat bagus. Mereka berjalan kembali keluar dari terminal, Ginggi hendak menuju ke rumah kontrakannya, ia menyeberang dari terminal diikuti oleh Silvi yang juga berjalan aagak tergesa. Anak buah mereka ada lebih dari seratus orang, dan semuanya dihabisi oleh si Jamal? Kurang ajar dia! “Bos! Tunggu, bos!” seseorang berteriak ke arah Ginggi dari arah kumpulan pedagang kaki lima yang sedang mangkal. Ginggi dan Silvi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya tersebut. “Ali?!” hampir bersamaan Ginggi dan Silvi terpekik. Ali yang setengah berlari kini berada di hadapan Ginggi dan Silvi. “Syukurlah Bos Ginggi dan Silvi tidak kenapa-kenapa.” Ujar Ali sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. “Ali apa yang sudah terjadi? Dimana yang lainnya?” tanya Ginggi. “Tadi ada penyerbuan yang sangat besar Bos! Astaga! Saya benar-benar takut tadi.” Ujar Ali masih terlihat agak panik. “Sebaiknya kita berbicara di tempat lain yang lebih baik. Ayo!” Silvi mengajak mereka berdua untuk pergi dari depan terminal terlebih dahulu. Ginggi memegang bahu Ali “Silvi benar, ayo kita pergi!” Ali mengangguk, ia memang memaksakan diri tetap berada di sekitar terminal karena menduga Ginggi atau Silvi akan kembali datang, ia khawatir dengan keselamatan mereka berdua. Ia sedikit lega mengetahui mereka datang bersama dan dalam keadaan baik-baik saja. “Kita jangan ke rumah kontrakanmu. Kita harus cari tempat lain hari ini.” Silvi mencegah Ginggi yang hendak berbelok ke gang dimana ia mengontrak sebuah rumah kecil. Ginggi kembali menatap wajah Silvi, gadis ini benar, kenapa ia tidak bisa lebih tenang dan berpikir dengan jernih. Mereka pun tentu sudah mengetahui rumah tinggalnya. Ginggi mengangguk dan kemudian mereka mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat. Ginggi menyebutkan nama sebuah restoran sebagai tujuan mereka. Setibanya di restoran dan memesan makanan juga minuman, Ginggi kembali melihat ke arah Ali. “Ceritakan apa yang sudah terjadi tadi di terminal.” Ujar Ginggi. Ali mengangguk “Tadi selepas tengah hari, ratusan lebih orang dengan memakai beberapa bus mendatangi terminal. Mereka langsung mencari dan menyelidiki orang-orang apakah mereka preman terminal atau bukan. Mereka sangar dan garang Bos, membawa banyak senjata yang digunakan untuk menakut-nakuti.” “Lantas apa yang terjadi? Dimana anak buahku?” tanya Ginggi. “Itulah Bos. Tadi ketika Silvi sudah pergi dari terminal dan akan mencari Bos ke pantai, ada salah seorang anak buah si Bram. Penampilannya tidak mirip dengan preman biasa Bos, dia malah seperti seorang manajer begitu.” Ucap Ali menjelaskan. “Lalu bagaimana?” Ginggi masih penasaran. “Dia bilang kepada si Bram si Mikimos dan si Rontek agar segera pergi dari terminal dan membawa semua anak buah kita yang lainnya karena akan ada penyerbuan yang dilakukan oleh si Jamal hari ini.” Ujar Ali. “Lalu?” kali ini Silvi yang bertanya penuh rasa penasaran. “Awalnya si Rontek dan si Mikimos tidak percaya. Mereka berdebat habis-habisan dan bilang akan bertahan di terminal apa pun yang terjadi. Bahkan mereka bersedia mati demi mempertahankan terminal. Begitu kata si Rontek yang diamini oleh si Mikimos.” Ali menghela nafas dan meminum air dalam gelasnya. “Kemudian bagaimana?” Ginggi meminta Ali untuk melanjutkan penjelasannya. “Si Bram dan anak buahnya tersebut bilang kalau apa yang akan datang tidak mungkin bakalan bisa dihadapi oleh mereka. Bahkan jika ada ribuan anak buah kita di terminal maka semua akan mati konyol sebab mereka juga mengutus Tiga Pembantai untuk ikut menghabisi kita dalam rombongan tersebut. Baru setelah itu si Mikimos melunak dan mau menuruti apa yang dikatakan oleh si Bram. Mereka menyuruh seluruh anak buah kita untuk bersembunyi sampai beberapa hari ke depan. Sampai Bos Ginggi datang kembali.” Ali memaparkan. “Tiga Pembantai, siapa mereka itu?” tanya Ginggi. Ali mengendikkan bahunya, ia tidak tahu siapa ketiga orang yang dijuluki Tiga Pembantai itu. “Itu adalah pasukan elit, pembunuh nomor satu yang terkenal sangat kejam dan kuat. Mereka terlatih untuk membunuh tanpa suara. Bahkan menurut desas-desus mereka bisa membantai puluhan orang hanya dalam satu kedipan mata saja.” Silvi ikut menimpali. “Sehebat itukah mereka?” tanya Ginggi. “Mereka memang hebat, tapi aku rasa juga cerita tentang mereka dilebih-lebihkan. Mereka adalah pembunuh bayaran yang sudah sangat terlatih. Aku pernah bertemu dengan mereka beberapa tahun lalu, dan benar kalau mereka bisa membunuh nyaris tanpa suara.” Jelas Silvi. Ginggi mengangguk-angguk, tapi setidaknya mereka adalah manusia maka bisa ia hadapi. Ia lalu berpaling kembali ke arah Ali. “Lalu kenapa kamu masih berada di sekitar terminal?” tanya Ginggi. “Saya khawatir kalau Bos Ginggi dan Silvi datang dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Para penyerbu itu memang telah kembali tapi ada beberapa orang mata-mata mereka yang masih berkeliaran dan bersembunyi di antara orang biasa, Bos. Saya hanya ingin memperingatkan Bos Ginggi tentang hal itu.” Sahut Ali. “Terima kasih Ali, kesetiaanmu adalah hal yang sangat berharga.” Ucap Ginggi. “Sama-sama Bos, saya juga berterima kasih atas kebaikan Bos kepada ayah saya.” Sahut Ali. Ginggi mengangguk. “Setelah ini, kita harus mencari tempat untuk bersembunyi sementara sambil menyusun strategi. Kita juga harus mengumpulkan para anak buahmu dan memutuskan langkah apa yang hendak kita ambil selanjutnya.” Saran Silvi. Ginggi menatap Silvi “Kau benar, banyak hal yang harus kita persiapkan dan pertimbangkan. Terima kasih semua nasihat yang kau berikan padaku.” “Sama-sama.” Sahut Silvi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN