Sore itu Ginggi sedangb duduk dan bersantai bersama dengan Silvi, si Bram, Ali dan ketiga gadis pembantai yang kini setia menjadi pengawal pribadinya. Markas Besar mereka yang berada di sebuah hotel mewah di tengah pusat ibu kota benar-benar tersembunyi dengan sangat baik. Seorang lelaki bertubuh gempal dan berusia setengah baya datang bertamu, ia dikawal oleh beberapa pria yang bertubuh kekar. Dari tatapannya yang tajam dan selalu menyungging senyum, jelas menandakan kalau ia bukanlah orang sembarangan. Manajer hotel mewah yang dipercaya sebagai pengelola yang datang menyampaikan pesan kalau pria itu hendak bertamu dan bertemu dengan Ginggi. “Apa kabar, kamu pasti Ginggi si Bromocorah bukan?” sapanya tersenyum sambil mengulurkan tangan ke arah Ginggi. “Benar, anda siapa?” tanya Ginggi

