Mengatasi Para Cecunguk Kecil

1848 Kata

Ginggi dan rombongannya tiba di kota kecil yang berada di ujung timur pulau setelah hampir satu hari penuh menghabiskan waktu berada di dalam kereta api yang membawa mereka dari ibu kota. Seperti biasa mereka langsung menuju ke panti asuhan yang diurus oleh Sastro. Mengetuk pintu di tengah malam selalu mengundang omelan dari Sri yang sering merasa kecolongan karena ia tak bisa menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Ginggi dan rombongannya. “Kau ini memang kebiasaan ya?!” dengus si Sri ketika membukakan pintu, “Sudah sering kubilang kan kalau mau datang kasih tahu dulu biar aku bisa masak dan menyiapkan kamar khusus untuk menginap kalian!” cecar si Sri. Ginggi hanya tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya saja. “Aku sudah memberitahu Sastro kalau kami akan mampir.” Sahut Ginggi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN