Lima belas menit kemudian si Mbak Resepsionis telah datang kembali sambil memapah Cici keluar dari lift yang khusus disediakan untuk para penghuni graha lansia mewah tersebut. Cici sudah terlihat jauh lebih sepuh dibandingkan dengan saat terakhir Ginggi menemuinya. Ia bahkan sudah memakai sebuah tongkat sebagai tumpuan jalannya. Ginggi segera berdiri dari kursinya begitu mengetahui kedatangan Cici. Ia menghampiri Cici yang sedang dipapah oleh si Mbak Resepsionis. “Cici apa kabar?” sapa Ginggi dengan intonasi yang sopan dan ramah. Cici sedikit menengadah, badan Cici memang mulai sedikit membungkuk dan ia juga jauh lebih pendek dari Ginggi sehingga mau tidak mau harus melihat ke atas kalau mau berhadapan wajah dengan Ginggi. Cici melepaskan tongkat bantu jalannya dan dengan tergetar kedu

