Chapter 8
(Deon house)
●●●
(Arey)
Aku memutar bola mataku untuk menatap uluran tangan yang melayang di depan wajahku. Aku menatapnya binggung.
"Kenapa?"
Deon juga menatapku dengan binggung. "Bukankah kau ingin pulang?"
Aku terdiam. Sesungguhnya, aku tidak ingin pulang ke rumah. Terlalu takut jika aku membawa musibah bagi keluargaku, aku menyayangi mereka. Tidak. Aku tidak bisa pulang ke rumah.
"Aku tidak bisa pulang." aku menggelengkan kepalaku.
Tak sadar tubuhku reflek berteriak saat tangan Deon bergerak merangkulku untuk berdiri. "Kau harus pulang."
Aku menggelengkan kepalaku lagi. "Tidak mau. Aku tidak mau pulang ke rumah. Lebih baik aku tetap di sini saja."
Lebih baik begitu bukan? Walaupun berada di rumah ini juga cukup mengerikan, tetapi aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa membawa malapetaka ke dalam keluargaku.
Kemudian belum sempat aku mengelak lagi, jemari besar Deon menarik tanganku, bergerak menggenggamnya sampai kemudian berhasil keluar dari dalam ruangan.
Saat aku melihat ke sekelilingku, mataku memidai. Rupanya ruangan serba putih itu merupakan ruangan di lorong ujung, sedangkan setelah ruangan putih tadi, terdapat 2 atau 3 ruangan lagi yang entah berisi apa.
Aku curiga, apakah Albert menyembunyikam banyak tawanannya di sini? Menyiksanya seperti dia menyiksaku? Ugh, jika itu sungguh terjadi, dia rupanya benar-benar monster yang tidak bisa diampuni.
"Kau ingin membawanya ke mana?" ucapan dingin khas lelaki itu terdengar di belakangku, membuat aku kembali gemetar dan berkeringat.
"Jangan menggangguku." balas Deon dengan tidak kalah dingin. Pandangan dari mata hijau tajamnya menembus Albert. Mungkin jika aku ditatap seperti itu oleh Deon, aku akan kehilangan kesadaranku? Haha, lebay sekali.
Tak lama suara Albert tidak lagi terdengar, membuat Deon kembali melangkah untuk membawaku.
Tetapi baru saja berjalan beberapa langkah, tanganku yang bebas tercengkram kuat membuatku hampir berteriak karena sakit. Mataku sedikit berkaca-kaca.
Deon menggeram. Dia berbalik kemudian menatap Albert dengan tajam kembali. Entah apa yang dilakukannya tiba-tiba cengkraman di lengannya melepas, membuat Albert sedikit meringis dan terlihat sedang mengipaskan tangannya.
Wow, selain dapat meramal orang, menyembuhkan, dan melesat, rupanya Deon juga bisa mengutuk. Sungguh hebat.
Terkadang aku berpikir, kira-kira apa ya kelemahan lelaki yang masih menggenggamnya ini? Aku penasaran akan hal itu.
Setelah Albert melepaskan tangannya dari lenganku, Deon mendorongku untuk berdiri di belakang punggungnya yang lebar. Seolah memberikan perlindungan kepadaku.
"Mengapa kau membawanya? Kau siapa Deon? Dengan sesuka hatimu kau pergi membawa tawananku?!" Albert terlihat emosi, tetapi juga terlihat seperti menahan amarahnya.
Deon maju selangkah. Menghadap Albert.
Jika aku lihat-lihat, Deon memang memiliki postur yang lebih tinggi dari Albert, tetapi Albert memiliki postur yang bagus karena mungkin dia rajin merawatnya, begitupun juga dengan Deon. Jujur, postur Deon itu bagus sekali. Dengan tubuhnya yang tinggi, punggung lebar dan d**a bidangnya, Deon juga terlihat rajin merawat tubuhnya.
Sebenarnya, kenapa ya nasibku ini mengharuskanku bertemu dengan mereka, yang bahkan secara tiba-tiba masuk ke dalam hidupku. Tidak pernah terpikirkan sekalipun olehku akan bertemu dengan lelaki berparas pangeran ini. Bahkan aura yang dikeluarkan terlihat sangat mewah. Tidak tau kenapa.
Apa ini yang namanya karma? Tetapi karena apa? Aku termasuk ke dalam tipe orang yang tidak terlalu suka bergaul, memiliki teman jika hanya dibutuhkan untuk membuat tugas, selebihnya tidak. Itupun aku sangat selektif.
Aku memiliki prinsip untuk menjauhi anak-anak 'bebas' kalian paham maksudku bukan?
Mungkin alasannya cukup sederhana, aku terlalu takut jika harus mengecewakan keluargaku jika aku berbuat hal demikian, mungkin bisa juga akan merusak masa depan dan hidupku nantinya.
Mengenai lekaki, aku juga tidak pernah bermain lelaki. Bahkan terakhir kali aku dekat dengan lelaki saat masa SMA, itupun bukan yang benar-benar dekat layaknya sepasang kekasih, hanya saja, ah, tidak perlu diingat bukan? Masa itu sungguh rasanya aku ingin menghilang saja.
"Tentu saja bisa. Dia milikku."
Ucapan yang terucap dari Deon membuat lamunanku buyar dan detak jantungku sepertinya berhenti satu detik. Bahkan belum sempat aku bergerak, lekaki itu sudah kembali menggenggam tanganku, membawaku keluar dari dalam sana.
Sebelum aku benar-benar keluar, aku melihat Albert tersenyum penuh arti kepadaku. Tentu saja aku tidak bisa mengartikan senyuman itu. Otakku terlalu kaku.
Saat aku sudah menginjakkan kaki di teras depan rumah, Deon berdiri menghadapku lalu kedua tangannya bergerak mengelus kepalaku, memang tidak lama, tetapi mengantarkan efek yang sangat luar biasa di dalam tubuhku, terutama jantungku.
"Maaf, aku tidak membawa kendaraanku." ucapnya. Tangannya yang nakal turun menuju pipiku dan merangkumnya.
Aku menggeleng. "Tidak apa. Kita bisa berjalan dengan santai sampai keluar dari daerah ini."
Deon tersenyum, begitu tulus. "Untuk apa aku hadir di hidupmu jika kita harus berjalan kaki?"
Setelah lekaki itu mengatakan hal tersebut, langkahnya maju dan lengannya membawaku masuk ke dalam pelukan hangatnya.
Pipiku merona, hangat pelukannya menyebar ke seluruh tubuhku, mengantarkan gelenyar aneh yang aku rasakan. Sepertinya kupu-kupu terbang di dalam perutku kembali.
Kemudian, Deon membawaku berlari, bukan ini bukan berlari. Tetapi melesat! Seperti yang Albert pernah lakukan kepadaku, bedanya, kali ini ditemani pelukan hangat khas Deon.
Aku memutuskan untuk memejamkan mataku ketika laju semakin cepat, bahkan aku sudah tidak lagi merasakan pijakan tanah di bawahku. Aku menelusupkan kepalaku ke dalam pelukan Deon, mencari kenyamanan dan keamanan. Sungguh benar-benar nyaman. Sensasi yang menyenangkan.
•••
"Ayo, aku antar ke kamarmu."
Deon berucap sambil berjalan menaiki tangga megah yang melingkar di tengah ruangan.
Aku tidak berhenti berdecak di dalam hati, sungguh, rumah ini sungguh mewah dan megah. Dengan perpaduan warna emas dan putih gading membuat ornamen di dalam rumah ini terlihat begitu menawan.
Awalnya aku tidak yakin saat Deon berhenti di tempat yang menurutku tidak terlalu berbeda dengan rumah Albert. Terletak di tengah hutan yang misterius, dengan kondisi depan rumah yang terlihat tidak terlalu terawat.
Tetaoi begitu aku menginjakkan kaki ke dalam, sungguh, aku terus berdecak kagum. Rumah ini mungkin lebih cocok dipanggil istana daripada rumah.
Kemudian langkahku terhenti ketika langkah panjang Deon juga berhenti. Tepat di depan pintu kayu berwarna krem. Deon membuka pintu kamar itu, dan ya, seperti yang sudah kita duga bersama. Terlihat mewah seperti konsep rumah ini. Perpaduan warna abu-abu dan emas membuatku berdecak kagum kembali.
Oh iya, aku sebenarnya juga cukup terkejut begitu tau Deon akan membawaku ke rumahnya ini, aku tidak berpikir seperti itu. Aku pikir Deon akan benar-benar memulangkanku ke rumah.
"Ini kamarmu untuk sementara. Bilaslah tubuhmu kemudian beristirahatlah." ucap Deon.
Aku mengangguk patuh. Tetapi kembali teringat akan sesuatu. Aku kan tidak mempunyai baju ganti, lagipula, kaos yang kupakai ini, em, tidak terlihat pantas lagi, dengan bekas noda darah dimana-mana serta robekan di bawahnya.
Apa aku harus meminjam ke Deon ya?
"Apakah aku boleh meminjam pakaianmu?" tanyaku sambil menunduk malu.
Ternyata Deon meresponnya dengan baik. "Baiklah, kau masuk dahulu, aku akan membawakannya untukmu."
Setelah Deon pergi dari hadapanku aku bergerak untuk melangkah masuk lebih dalam.
Ruangan kamar seperti ini lebih cocok ditempati oleh puteri-puteri kerajaan. Sangat klasik dan menawan.
Baiklah, aku akan mendeskripsikan kemewahan kamar ini. Pertama, ada kasur dengan ukuran besar beraksen mewah di tengah ruangan, ada juga sofa dan meja yang ada di pojok ruangan dan tepat menghadap ke jendela balkon. Mungkin akan sangat seru untuk melihat bintang di malam hari di sana.
Setelah jendela, ada juga toilet yang terletak persis di sebrang kasur yang sepertinya tidak kalah megah dan indah. Di sebelah toilet juga terdapat ruangan untuk berganti pakaian.
Akhirnya, setelah selesai dengan kekagumanku, aku beranjak menuju kasur yang terlihat begitu menggoda. Aku bergerak tertidur di atasnya.
OW, empuk sekali! Bahkan sepertinya 10 kali lipat dari kasur yang ada di kamarku.
Tak sadar karena sambil melamun, mataku sudah menutup rapat, bahkan sepertinya aku sudah terbang di awan.
Dan tentunya tidak sadar saat ketukan pintu berbunyi, menampilkan Deon yang datang dengan tampilan freshnya. Tangannya membawa pakaian ganti yang tadi sempat diminta oleh Arey.
•
Omong-omong, tadi Deon sengaja memilihkan pakaian yang benar-benar cocok dipakai, walaupun pasti akan tetap kebesaran di tubuh kecil milik perempuan itu.
Tak sadar langkah kakinya membawa dia menuju samping kasur Arey. Memperhatikan bagaimana cantiknya perempuan itu bahkan ketika dia tertidur.
Tangannya menyingkirkan helaian rambut nakal yang menganggu pemandangannya. Dengan hidung yang tidak begitu lancip, bibir tipis merah merona, pipinya yang agak tembam, alisnya yang tebal dan rapih, serta bulumata lentiknya. Semua terlihat begitu cantik dan pas dipandangannya.
Bahkan Deon akui, kecantikan paras perempuan ini membuat dia sedikit terpana. Pada saat pertemuan pertama mereka. Sampai akhirnya Deon nekat melawan peraturan dari kelompoknya.
Peraturannya seperti ini. Bahwa pemimpin tidak boleh mendekati target jika tidak bersama dengan pasukannya. Aturan yang ia buat sendiri, tetapi ia juga yang melanggarnya.
Tetapi bagaimanapun juga, perempuan ini begitu cantik, membuat hasrat dalam dirinya tidak bisa ditahan lagi.
Bahkan ketika dia melihat perempuan ini disiksa oleh adiknya sendiri, hatinya gelisah dan sedih. Terlebih ketika Deon melihat raut wajah Arey yang sepertinya habis menangis. Deon tidak bisa lagi menahan emosinya, menarik perempuan itu masuk ke dalam pelukannya sekaligus menyembuhkannya.
Arey terus membuat Deon seolah ingin melindunginya. Dengan segala sifatnya yang begitu keras kepala, tetapi terlihat begitu lembut di matanya.
Apakah Deon menjatuhkan hatinya?
Apakah ini maksud ayahnya?
Ayahnya pernah berkata bahwa sebentar lagi takdir pasangan sejatinya akan datang, sebentar lagi. Tetapi sudah 50 tahun Deon menunggu kedatangannya.
Lalu, apakah sekarang ini waktunya? Apakah benar perempuan di depannya inilah takdir sejatinya?
Ah, terlalu membinggungkan dan rumit.
Deon tau kalau dia pasti akan menanggung konsekuensinya. Yaitu hukuman. Tidak tau hukuman apa yang akan datang kepadanya karena melanggar hukum di kelompoknya.
Tangan nakal Deon bergerak mengelus pelan pipi halus itu, sambil tersenyum.
"Apakah kau benar takdirku? Atau hanya datang sesaat ke hidupku, Arey?" ucap Deon bermonolog sendiri. Jemarinya yang tadi mengelus pipi Arey berganti mengelus rambutnya halus. Tanpa mengganggu.
Dia tau bahwa perempuan di hadapannya ini butuh beristirahat lama, sungguh. Dia berjanji akan membalas perbuatan Albert kepada Arey nanti. Dia hanya tidak menyangka kalau ternyata adiknya rela setega ini dengan perempuan.
Mau tau kenapa Albert begitu ambisius melawannya?
Karena Albert tidak mau kalau sampai Deon bisa kembali menguasainya kembali. Albert terlalu dalam tersesat. Dia hanya tersesat.
Deon juga tidak begitu paham dengan perubahan adiknya ini. Albert terlalu misterius untuk dibaca. Sulit.
Deon juga tidak tau sejauh mana adiknya itu menutup diri dan membentenginya, seolah sepertinya dia benar-benar menjauhkan diri dari Deon.
Kecewa memang, padahal sejak kecil, Deon begitu akrab dengan adiknya itu, walau dia sangat nakal. Tetapi Deon sangat menyayanginya.
"Eungh..." Arey bergerak menggeliat, kemudian membalikkan tubuhnya menjadi memunggungi Deon.
Tadinya Deon pikir, Arey hendak bangun, tetapi Deon terkekeh melihat Arey hanya menggeliat untuk mengubah posisi tidurnya.
Kemudian Deon bergerak bangkit, dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh Arey, menahannya dari dingin yang menusuk.
"Sleep well, baby."
•••