BAB 7 Mencoba

1783 Kata
POV Dea Pernahkah kalian mencoba sesuatu yang tidak kita yakini berhasil? atau kita tidak yakin akan mampu melakukannya? 'Kak Galang atau kak Alex?' sekarang aku bingung juga memilih walaupun diantara keduanya aku belum juga terlalu mengenalnya. Tidak ada salahnya mencoba membuka hati dengan kedua senior ini, pikirku begitu. "Surat kak Alex nggak dibalas De?" Siti menanyakan perihal surat cinta itu padaku. Aku mendesah pelan "belum Ti, bingung jawab apa?" jawabku pelan, namun dapat didengar dengan baik oleh Siti. Lama kami terdiam dan entah apa yang ada dipikiran kami semua, hanya kembali pada tempat duduk masing-masing dan bersiap menerima pembelajaran dari Guru. ironis memang, saat hati terpaut pada seseorang, dia telah pergi dan yang datang kemudian belum diterima hati dengan baik. Penjelasan guru mengalir dengan sempurna tanpa ada pertanyaan dan akhirnya hari inipun berlalu begitu saja. 'nothing special' lirihku. Galang yang dengan gigih memperhatikan aku dan sering mendatangiku ke kelas membuat aku sedikit melupakan Alex yang juga mengungkapkan perasaannnya padaku. Intens nya pertemuanku dengan Galang membuatku berfikir untuk menerimanya dan mencoba melupakan Dana yang masih liar muncul dalam ingatanku. Aku memilih menerima kak Galang menjadi pacarku saat itu, tetapi hatiku tetaplah hampa apalagi saat harusnya menyaksikan Dana duduk berdua dengan Anti. Setelah berstatus pacaran, Galang justru jarang mengunjungiku membuatku semakin sakit hati karena keinginan untuk melupakan Dana semakin sulit. Dana tampak melirikku tipis di mejaku meminta ijin ke toilet dan keluar kelas, Dana langsung mendekatiku dan berkata dengan lirih "Jangan membagi hatimu pada siapapun De, jangan bohongi dirimu dan jangan menipu perasaanmu sendiri". Aku menatapnya lekat ke arah netranya yang hitam bulat. Terkejut sudah pasti namun tidak bisa dipungkiri aku harus menghindari agar perasaanku segera berubah untuknya. "Jangan menyakiti dirimu dan juga hatiku dengan berpura-pura mencintai orang lain De" imbuhnya lagi. Kata-katanya begitu menyakitkan bagiku saat ini, aku memilih menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu Dan, tolong jangan menggangguku dan apa maksud semua kata-katamu ini hah?" pertanyaanku langsung kearah matanya dan tampak enggan untuk menjawab dan dia pun memilih keluar kemudian pergi dari kelasku. Lemas dan langsung kembali menuju tempat dudukku yang indah. 'Apa maksud kata-kata kamu Dan?' lirihku dalam hati. Aku Kembali bersedih dalam kebingunganku. Suci melihatku dan segera mendekatiku. "Setidaknya mencoba dulu De" Suci sudah ada didepanku. "Apa kalian tetap mendukungku dengan Dana? Kak Galang atau dengan Kak Alex?" Kali ini aku yang menuntut mereka memberikan solusi permasalahan hati yang aku rasa. "Dana masih mencintaimu De dan dia punya alasan tersendiri hingga harus berpacaran dengan Anti De" Moning kali ini membuatku semakin bingung. 'Sebegitukah cinta?' lirihku kemudian. Karena merasa tak nyaman dengan hubungan yang tak ada cinta didalamnya, aku berfikir bagaimana caranya mengakhiri hubunganku dengan kak Galang. "Ayo pulang bareng" bisik kak Galang di telingaku. Dia tersenyum dan berjalan di sampingku dengan banyak bercerita tentang materi pelajaran dan juga cita- citanya dimasa depan. Lagi- lagi lirikan mata Dana menghampiriku. Dia lalu menarik pergelangan tangan Anti untuk berjalan bersamanya, aku merasa ini sengaja ditampilkan oleh Dana sepanjang pandangan mataku.  "Kamu kok lebih banyak diamnya?" Galang menoleh ke arahku. Aku diam saja dan terus berjalan. Enggan menjawab tetapi hatiku memikirkan betapa jahatnya cinta dalam hatiku yang masih mengharapkan cinta orang yang menyakitiku dengan segala sikap yang dihadirkan. 'Apakah bila ia masih mencintaiku, harus dengan cara seperti ini?' pikirku. "Kak Galang?" panggilku "ya, De" "kenapa kakak menjadikanku pacar kakak?" "Kamu cantik dan pintar" jawabnya singkat sambil memainkan mata nya padaku. Jawaban yang nggak terlalu asyik menurutku. "terserah kakak aja" kemudian berlalu pergi sambil melambaikan tangan karena aku harus berjalan lurus di persimpangan sedangkan dia harus berbelok ke kiri untuk mencapai rumahnya. Aku melihat kak Galang terkekeh saja mendengar jawabanku dan membalas lambaian tanganku dan langsung berjalan bersama- sama dengan teman -temannya. Sebulan pacaran dengan kak Galang, aku semakin tidak nyaman ketika Dana memandangku antara kebencian dan cinta dan tidak kaku artikan pandangannya itu. Disebuah waktu istirahat aku tumben bercerita dengan kak Galang di sebuah taman kelasku  "hai Lang.." Sapa seorang pria pada kak Galang. Galang menjawab dengan senyum dan memperkenalkan lelaki itu padaku. "Bro nih kenalin temanku kelas XD, adik kelas kita namanya Dea" Aku terkejut, karena kak Galang memperkenalkanku sebagai temannya. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkannya tetapi aku menjadi semakin bingung dengan status hubunganku dengannya saat ini.  "Hi kak, aku Dea" aku melambaikan tangan, dan kemudian dia mengulurkan tangannya padaku "hi, aku Alex" 'deg...deg' jantungku berdetak lebih cepat.  Aku mengingat bagaimana pertemuan kami sebelumnya dengan Alex. Aku mencoba bersikap biasa saja sama seperti Alex dihadapan Galang. "Apa kabar, Dea Amanda?" dia menjawab namaku dengan lengkap sambil mencondongkan kepalanya di samping telingaku. Suara notifikasi pesan dari ponsel Galang mengejutkanku, membuatku menoleh ke arahnya dengan intens. Ku lihat dia tersenyum pias dan membuat aku sedikit menatap selidik. Galang mendekatiku perlahan "Aku pergi dulu ya, ada pesan dari Anggi. Kayaknya penting urusan tugas" kak Galang pamit pada kami. Aku mengangguk dan memberikan ia kesempatan berlalu di hadapanku. Tidak ada rasa sedikitpun kecewa atau sedih dia meninggalkanku disana dengan kak Alex. "Duduk De" kak Alex memulai kebisuan kami dan aku langsung duduk lagi di tempatku semula. Kemudian terlihat kak Galang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita menuju perpustakaan. Kak Alex menyadari pandanganku pada kak Galang dan diapun menarik nafasnya perlahan. "Dia Anggi, siswa terpintar dikelas IPA 3, dan kabarnya Galang menyukainya atau mungkin berpacaran selama seminggu ini" "Ha hahhhh" aku menutup mulutku spontan. 'Pantas ia jarang menemuiku beberapa hari ini dan sekarang ia memperkenalkanku pada kak Alex sebagai temannya' pikirku. Aku berusaha tetap tenang dan memperlihatkan raut senyum dihadapan kak Alex. "Apa kabarnya De?" tanya kak Alex lebih dekat padaku. Alex terlihat selalu ceria setiap kali kita bertemu, entah memang dia saat ini Bahagia lagi atau memang dia memiliki kepribadian yang selalu ceria. "Baik kak, Maaf kak" jawabku lirih "untuk apa?" "Untuk ungkapan dalam buket itu, aku belum tau mau menjawab apa" Dea merasa bersalah karena tidak membalas surat itu dan sekarang tampil dihadapannya membuatnya semakin tidak enak. Mengabaikan surat itu dan sekarang harus bercerita berdua saja membuatnya sangat bersalah. Kak Alex tersenyum ke arahku dan menarik telapak tanganku serta memegangnya dengan lembut. Dia menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas dalam-dalam. "Kakak tidak akan membebanimu De, hanya menyampaikan perasaan kakak dengan sungguh-sungguh karena banyak hal juga yang tidak Dea tau tentang kakak, begitu juga sebaliknya" Dia memandangku, namun aku memilih memandang lapangan jauh kedepan. Takut dengan pandangan matanya, takut jikalau hatiku berubah.  "Jawablah ketika jawabannya sudah ada De. Atau ketika kau sudah siap menjawabnya" dia menarik tanganku untuk berdiri karena bel masuk sudah berbunyi. Dia memilih mengantarkan ku sampai dimuka kelas dan melambaikan tangan menuju kelasnya. Aku melihat kak Alex pergi, bayangannya mengecil dan tanpa sadar aku mengulum senyumku. “Cie yang lagi senyum sendiri” Siti menggodaku. Sahabatku itu ternyata keluar dari kelas hanya untuk menjemputku saat ini untuk masuk ke dalam kelas. Namun mereka justru menggodaku Ketika melihat bagaimana Alex memberikan senyum indahnya padaku sebelum berlalu pergi. Saat hendak berlalu pergi menuju ke kelas aku mendapati kak Galang mendekatiku, aku memilih masuk ke kelas namun secepat kilat kak Galang menarik pergelangan tanganku kembali ke luar kelas. "Lepaskan kak, kita putus" Aku menghempaskan tangannya dan berlari menuju ke kelas. kak Galang ingin masuk ke kelas namun Ibu Nurhayati guru bahasa Indonesia sudah masuk terlebih dahulu. "Selamat Siang Anak-anak" "Selamat Siang bu" ‘Syukurlah aku selamat dari buaya darat itu’ gumamku sendiri dalam hati. Dea mengucap syukurnya karena bu Nurhayati datang tepat waktu sehingga dia tidak perlu bertemu dengan Galang lagi. Pacar pertamanya yang tidak memiliki kenangan atau kesan spesial di hati dan kehidupan Dea selama sebulan menjadi pacarnya. “Apa? Kamu minta putus?” Moning berteriak di dekat telingaku saat mendengar keputusanku itu. Aku mengangguk saja dan kemudian menarik nafasku dalam-dalam. “Berikan penjelasan” tatapan penuh selidik yang di layangkan Suci padaku sangat menusuk hatiku, namun kemudian aku tertawa terbahak-bahak untuk berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka. “Nggak lucu De bercandanya, kata-kata itu Doa loh” kali ini Suci berbicara dengan nada sedikit keras dan tajam. “Benar” Siti menjawab singkat. “Kita pulang yuk, nich dan sepi loh sekolahnya. Ntar dikirain lagi disekolah” Aku berdiri untuk segera mengajak mereka pulang namun Moning menarik tanganku untuk duduk. Badannya yang subur itu tentu membuatku kalah dalam hal ini. “Duduk, jelaskan pada kami karena kami butuh penjelasan” “Ya, kalau kamu masih menganggap kami sahabatmu. Please, jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?” Moning tetap pada kecurigaannya setelah mendapati sang sahabat mengucap kata putus saat Galang mendekatinya. Dea tak bisa lagi mengelak, dia tidak punya pilihan apa-apa dan juga bagi Dea sahabatnya memang harus tau apa yang terjadi. “Aku memang minta putus” ucapku lirih, namun harus aku akui tak ada rasa sakit yang berlebihan di dalam d**a, hanya sedikit perasaan lega karena mampu melepas apa seharusnya tidak aku genggam. Yah, aku memang tidak boleh menggenggam cinta siapapun jika genggaman itu hanya mengharapkan hati yang lain. “Alasannya?” Moning masih belum mau menyerah untuk menyelidiki putusku dengan Galang. Aku lihat Suci dan Siti, merekapun menatap penuh harapan agar aku menjelaskannya. “Baiklah akan aku ceritakan semuanya dengan sedetail mungkin” Dea kemudian menceritakan semua yang terjadi, saat Galang mengucapkan kata temanku. Dea mengatakan ini menjadikan alasan bahwa dia memang tidak bisa membuka dulu hatinya untuk orang lain. Masih ada Dana disana. “Oke, kalau itu alasannya aku dukung kamu putus dengan Galang tapi kamu harus janji tidak boleh sakit hati” senyum di bibir Suci mengembang setelah menasehatiku semanis itu. “Trus buka hati untuk yang baru lagi” Siti melanjutkannya. Mataku melotot ke arah mereka bertiga mendengar pernyataan mereka yang penuh dengan penekanan. Mereka tertawa bersama di ruang kelas yang sudah sepi itu kemudian memutuskan untuk pulang sebelum diusir satpam sekolah. Kebahagiaan bersama teman-teman itu tiba-tiba terhenti sejenak saat akan keluar sekolah, kami mendapati Galang masih duduk di atas motor besarnya. “Tunggu” Galang mengejarku saat melihat ekspresi siap berlari Ketika melihat Galang. “Jangan lari dari masalah, selesaikan aja baik-baik” Moning menasehatiku. Saat Galang sudah sangat dekat dengan kami, dia langsung mendekati Moning sebagai orang yang paling berpengaruh dalam persahabatan kami itu. “Boleh aku bicara dengan Dea saja?” “Ta Tapi….” Belum sempat aku memberikan pernyataan, aku lihat Moning mengangguk dan memilih berjalan bersama Suci dan Siti untuk duduk di halte depan sekolah. Namun Galang langsung bersuara menoleh pada sahabatku itu. “Terimakasih, tapi bolehkah kalian duluan saja pulang dan biarkan Dea aku yang mengantarnya pulang?” Secepat kilat aku menjawab “tidak, jika kamu mau bicara, bicaralah dan aku nggak akan mau bicara jika mereka duluan pulang” “Tapi De, aku akan mengantarmu pulang” “Kalau begitu aku nggak mau bicara denganmu” jawab Dea secepatnya. “Baiklah, kak Galang mengalah” aku tersenyum lega dan ku lihat sahabatku juga tersenyum puas.   Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN