BAB 8 Menerima Kembali

1978 Kata
Memutuskan untuk kembali pada sesuatu yang pernah menyakiti memang hal yang tak mudah, tapi kita bisa mencobanya. POV Dea “Kenapa tiba-tiba kamu minta putus, hah… aku minta penjelasan” Galang mendekatkan dirinya padaku. “Apa salahku?” sambung Galang lagi. Suaranya mulai meninggi, aku merasa sedikit ketakutan melihat ekspresinya. “Aku ternyata tidak mencintai kakak” jawabku jujur dan jawaban itu sukses membuat Galang membelalak kan matanya mendekatiku. Ada pandangan amarah di dalamnya namun aku berusaha tenang.   Perdebatan itu lama terjadi, Galang tetap pada keputusannya yang tidak menerima putusku tapi akupun tetap bersikukuh pada keinginanku putus. Egoku menguasai amarahku bahwa aku sangat membenci laki-laki yang meremehkanku. ‘what? Meremehkan?’ aku merasa diremehkan dengan kata-kata teman? Hatiku bergejolak. Mengapa aku ingin pengakuan, jika memang aku tidak mencintainya? “Katakan apa salahku? Hah..” Galang mendekatiku, mengikis jarak antara kami. Aku menjadi takut melihat pandangan merah dimatanya. Dia mulai mendekatkan kepalanya pada keningku, aku takut melihat perlakuannya. Aku mencoba tersenyum, namun dia tidak sedikitpun merubah sikapnya. Ketika tangannya mencengkeram keras pergelangan tanganku, aku menarik tanganku dengan kasar, namun kekuatanku tetap saja kalah dari kekuatan seorang Galang. Aku menarik nafas dalam, memberanikan diri menjelaskan semua. “Baiklah, aku akan menyampaikan alasannya, tapi tolong. Lepaskan aku. Sakit kak” Aku menjawab dengan kata-kata pelan agar dia bisa iba melihatku, namun ternyata tatapannya tetap menakutkan. “Jawab sekarang..” bentaknya padaku. Aku takut, tak terasa air mataku menggenang, aku tidak pernah menyangka Galang memiliki kepribadian yang sangat kasar dan menakutkan. “Cepat..” sambungnya lagi. Aku menjauhkan diriku dari Galang, dan memberanikan diri menatap manik hitam matanya yang sedang marah dengan nafas marah pula. “Kakak bilang kan sama kak Alex, kalau aku itu Cuma teman kakak. Jadi aku mengijinkan perkataan kakak itu” jawabku dengan nada berapi-api. Galang mengendorkan pegangan tangannya di lengan kiriku, dia memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam. “Mengenai masalah itu, kakak minta ma..” “Tidak, tidak dan tidak kak. Keputusanku bulat. Di hadapanku saja kakak berani mengatakan pada orang lain bahwa aku adalah teman kakak. Bagaimana jika diluar sana. Tentu kakak akan leluasa mengatakan kalau kakak jomblo kan? Aku langsung memotong ucapan Galang dengan nada keras dan pandangan lurus ke arah matanya. Moning dan kedua sahabatku yang lain mendengarkan teriakanku yang memekik itu, Suci melangkahkan kakinya kearah kami bersama dengan Moning dan Siti. Ketika Galang memajukan badannya untuk dekat kepadaku, aku lirik Suci berlari dengan cepat ke arahku. “Cukup kak.. cukup. Dea berhak menentukan pilihannya sendiri. Jangan paksa dia” Suci memisahkan jarak antara aku dan Galang. “Maaf kak Galang, aku tidak mengijinkan kakak menyakiti Dea lagi. Maaf kak. Kami harus pulang, sudah terlalu lama” Suci menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku mengatur Kembali nafasku dan berjalan dengan mereka pulang. Galang melajukan motor besarnya dan tanpa menoleh lagi berlaku dihadapan kami. Rasanya lega, lepas pandanganku darinya. Handphone selalu berbunyi menampilkan panggilan di layarnya, nama yang aku hindari sehari ini. ‘Galang’ Aku palingkan pandanganku ke atas langit. Malam ini terasa indah, aku menghela nafas Panjang. Sebuah notifikasi pesan singkat di layar Handphone, aku baca. 'Kak Galang' “Kakak nggak mau putus De, tolong maafkan kakak” Cuma aku baca dan ku tutup lagi Handphoneku. Berbunyi lagi “De, tolong berikan Kakak kesempatan” “De, maafkan kakak” Dan pesan-pesan lainnya yang nggak aku baca selanjutnya. Kusimpan Handphoneku di meja belajar dan bersiap tidur malam ini. Ingin terlepas dari pandangan tentang Galang. ‘malam ini, ijinkan aku memimpikan kamu Dan’ lirihku perlahan. Ingatan tentang Dana muncul dalam ingatanku malam ini bersamaan dengan tertutupnya mataku ke alam mimpi. Pagi ini aku Kembali menjelaskan kepada sahabat-sahabatku, bahwa Ternyata Galang tidak menerima begitu saja kata putusku, tapi aku akan meyakinkannya bahwa aku tidak memiliki perasaan melebihi teman padanya. Walau demikian, Galang masih mencoba mendekatiku dengan berbagai cara. Sahabatku mengusulkan padaku untuk segera memiliki pacar pengganti agar Galang tidak berani menggangguku lagi. Masuk akal juga namun terlalu berbahaya bagiku. Berbahaya bila akhirnya menambah rumit perasaanku, yang awalnya hanya ingin menghilangkan rasa cintaku pada Dana, sekarang harus dihadapkan pada Galang juga. Aku meremas rambutku yang tertata rapi sehingga menjadi acak- acakan. 'kok jadi tambah rumit' lirihku pada hatiku. "Kamu terima aja si Alex, De" kali ini Moning lagi- lagi memberikan saran padaku. Dengan berat hati aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. "Bagaimana jika akhirnya aku terluka atau bahkan aku melukainya?, dia pria baik dan aku nggak tega Mon" aku menambahkannya.  "Siapa yang bisa menjamin kalau ternyata akhirnya, kau justru akan Bahagia, siapa tau kau bisa jatuh cinta padanya” "Cobalah memperbaiki hati dan menerima perlakuan baik dari orang yang mencintaimu, De" Kali ini mereka bergantian berkata-kata, aku cukup mendengarkan sembari mencerna kata- kata mereka.  "Lalu bagaimana dengan Dana?" pelan kuucapkan tapi mampu didengar oleh mereka. Saling berpandangan dan menghela nafas panjang, Suci menarik nafasnya dan berkata  "Setidaknya kau tidak terlalu sakit hati melihat mereka berduaan, De. Siapa tau kak Alex bisa membantumu keluar dari rasa cinta yang membingungkan ini" Sambil dia melirikku dengan tatapan yang juga membingungkan. Ada keraguan pada kata-katanya, namun Sitipun bingung harus bagaimana untuk membantuku kali ini. "kali ini aku ngerasa, Dana bakalan ngerti. Lagian dia juga nggak punya hak buat kamu nerima siapapun jadi pacarmu. Dia juga sudah punya pacar". Kata-kata Moning penuh penekanan. Mungkin ada rasa marah dan kecewa dalam diri Moning atas keputusan Dana. Malam ini terasa begitu gelisah bagiku, hanya sebulan hubunganku dengan kak Galang akhirnya kandas begitu saja. Putus cinta dengan pacar pertamaku, tapi tidak dengan cinta pertamaku. Cinta pertamaku masih hidup dan membara dalam hatiku. 'Dana, kenapa, hh' Desahku dalam kamar yang sempit ini. Kuambil polpen dan kertas untuk mencoba membalas setiap kata yang kak Alex sampaikan dalam surat cintanya tempo hari. Memilih membalasnya dengan surat juga bukan melalui pesan singkat. To Kak Alex, "Terimakasih atas segalanya kak. Aku tersanjung dengan segala ungkapan kakak. Tahukah kakak, aku sangat takut sakit hati dan juga takut menyakiti siapapun termasuk kakak. Kak Alex terlalu baik dimataku. Walaupun baru beberapa hari bertemu, rasanya aku tau kakak terlalu baik untukku. Berbicara masalah perasaan, aku tidak yakin dengan semuanya kak. Karena aku takut menyakiti kakak. Bisakah kakak menjadi kakak bagiku?, yang bisa membantuku tersenyum selalu seperti senyum yang kakak hadirkan dihadapan Dea?" Terimakasih kak Alex by Dea Amanda "Apa kau menolakku Dea?" kak Alex menatapku lekat, Ketika dia memilih membaca surat itu tepat dihadapanku. Dia menahanku disana bersamanya walaupun sebenarnya aku ingin pergi dan tidak ingin menyakiti hati orang sebaik Alex. Aku menarik nafas panjang "Apa kak Alex tau perasaanku?" pintaku lirih dengan tatapan yang masih menunduk. Alex menarik daguku untuk bertatapan dengannya. Senyumnya sangat manis, namun tetap tak mampu mengalihkan pandanganku saat Dana melihatku berduaan dengan kak Alex di taman kelasku. Aku terkesiap dan menunduk. Alex menyadari itu dan melempar pandangannya kearah Dana, namun seolah tak pernah ada, Dana sudah tak ada disitu. Alex kembali menarik nafas dan membuangnya sekali lagi. "Kakak mengerti De, ada rasa yang kau sembunyikan dari kakak" sambungnya sambil mencoba memelukku, namun aku menahannya. "Tidak apa De, kakak ngerti. Menangislah jika De ingin, bahu kakak dan mungkin d**a kakak siap untuk tempat De bersandar" Seketika itu aku menangis pelan dengan air mata yang jatuh di pipi. kak Alex mengusap air mataku dengan tangan lembutnya. Lembut kurasa seperti kelembutan kakak pada adiknya, walaupun mungkin bagi kak Alex itu lebih pada rasa cintanya, tapi tidak dengan hatiku. terlanjur jatuh cinta pada orang yang katanya jatuh cinta padaku, tapi tak pernah kutau menjadikan aku cinta di dirinya. "Maaf kak" lirihku "kakak akan membantumu menyembuhkan luka, bila itu ada. Juga kakak akan menyayangi De dengan cinta yang kakak punya. Percayalah" kata-katanya sangat lembut dan menyentuh sekali sampai ke pandanganku. "Terimakasih kak Alex, maafkan kekuranganku ini" "sssst" Alex menempelkan telunjuknya di bibirku. Perlakukannya menyentuhku sampai aku terlena. Dia menarik kepalaku hingga menempel dibahunya. Sandaran pertamaku pada seorang pria, bukan oleh cinta pertamaku atau bahkan pacar pertamaku. Aku merasakan kenyamanan di hati ini, sungguh hal yang istimewa menurutku. "Bagaimana sekarang? sudah lebih baik?" lanjutnya sambil berusaha mencari jawabannya padaku. Aku mengangguk tapi tetap tidak berani menatap nanar matanya. "Terimakasih kak" imbuhku "Mencobalah menerima cintaku ini De" aku mengangguk dan Alex tersenyum bahagia. Ingin memeluk tapi aku menolak karena aku sadar ini disekolah dan ia tersenyum saja serta menunjukkan tanda setujunya pada perlakuanku. “Deal ya, kamu menerimaku. Aku akan menjadikan kau ratu dihatiku dan ingat bahwa aku tulus mencintaimu” dia menatapku tapi aku terlalu takut sehingga memilih menunduk dan tidak berani menatapnya lebih lama. Kata-kata Dana mengingatkanku untuk tidak jatuh cinta terlalu dalam pada orang lain ‘hanya pada Dana’ mungkin pada Dana ia masih memiliki rasa itu. “Iya kak, Semoga aku tidak mengecewakan kakak” Jawabku lagi. Walaupun aku belum mencintainya teapi aku juga manusia biasa yang ingin memperbaiki diri dan aku juga ingin memiliki hubungan yang normal dengan seseorang. Kewanitaanku mulai muncul saat berhadapan dengan Alex aku mulai mendamba rasa cinta yang dulu sempat aku abaikan. "Sebentar pulang bareng ya" dia mengakhiri kebersamaan kita dan berlalu pergi menuju ke kelasnya. Aku menatapnya saja dan tersenyum. 'Mencoba melepaskan yang menyakitkan dan harus memulai dengan yang baru adalah keputusan yang tepat' aku menggeleng dengan apa yang sudah kulalui hari ini. Memutuskan untuk segera menuju ruang kelas. * "Aku nggak pernah merubah perasaanku ini pada Dea, Mon. Situasiku sulit dan nggak akan mudah untuk dimengerti termasuk oleh kalian" Dana mengatakan kata-kata ini pada sahabat-sahabatku. Mereka seperti sedang menghadapi sidang di hadapan Dana. Ada apa ini? kenapa Dana marah-marah sama mereka? Aku memutuskan untuk mendengarkan dulu sebelum mendekati mereka. "Tapi pacaran dengan Anti, itu menyakiti Dea, Dan. Kami sebagai sahabatnya juga merasakan sakit itu" Moning menuntut jawaban lebih jelas kali ini "Sudah aku bilang kan, aku mencintai Dea dengan caraku Mon cuma pesanku sama kalian jangan biarkan dia memberikan hati dan cintanya pada orang lain karena akupun masih tetap menjaga ruang cinta itu di hatiku untuk Dea" terlihat sekali Dana menekankan Bahasa cintanya itu pada sahabat- sahabatku itu. 'Deg...Deg...' 'apa- apaan ini, Dana masih mencintaiku? tapi tidak mungkin, Anti bahkan sudah hampir setahun menemaninya. Mereka terlihat bahagia dan saling mencintai' aku bahkan sudah menerima kak Alex kali ini.' aku tetap diam dalam persembunyianku, tidak mengganggu percakapan mereka. "Maaf ya Dan, aku melihat kau sangat egois kali ini. Kamu boleh pacaran dengan Anti tapi kenapa Dea nggak boleh pacaran dengan orang lain? itu sangat tidak adil Dan. Cintamu Egois" Siti menjawabnya dengan lirih dan terkesan menusuk "kalian tau? ketakutanku adalah ketika aku benar- benar akan kehilangan Dea. Aku tau perasaannya juga sama denganku. Tapi aku bisa menjaga hati dan cintaku saat dengan orang lain, tapi apakah Dea bisa menjaga hatinya untukku? hahhh?" Dana terlihat frustasi kali ini.  Dia mengacak acak rambutnya. sepertinya dia benar- benar kalut dengan pemikirannya, tak terkecuali diriku. Mematung dan berusaha mencerna dengan baik kata- katanya. 'Cinta, hati dan Perasaan. Kenapa Dana melakukan semua ini?' Aku berjalan mendekati mereka dan berpura-pura tidak mendengar percakapan mereka. "Hei Dan.." sapaku. "Dea, please....jangan menyalahkan sikapku, jangan merasa aku menyakitimu" lirihnya saat melihatku. Dia berusaha meraih tanganku tapi aku langsung mengajak teman- temanku masuk ke kelas. Bingung dan sangat membingungkan. apa yang diinginkan oleh Dana? apakah dia seorang penjahat hati? Kali ini aku pergi dan nggak mau lagi mendengarkan Dana yang mencoba menjelaskan sesuatu. "Dea, dengarkan dulu Dana" mohon Siti padaku. "Aku dah jadian dengan kak Alex Ti" jawabku. Dana mendengar kata- kataku dan dengan pandangan mengecewakan dia berlalu pergi dan berbalik lagi sambil berkata "Setidaknya hatimu tidak berubah De, tetaplah seperti dulu yang aku inginkan" kemudian Dana berlalu pergi. Aku langsung terduduk dan menangis sejadinya, Sahabatku memelukku dan ikut merasakan kesedihanku. “Kapan aku akan bisa bangkit, jika tali yang sudah akan terlepas kembali ditarik dengan kuat dan tak ingin juga untuk kulepaskan? kenapa harus begini?” aku terisak. Sedih memikirkan rasa cinta ini, sakit sekali'.  Sahabatku memelukku, mereka sahabat terbaik bagiku. “Tanyakan hatimu De, karena cinta itu masalah hati” Moning masih memelukku sambil mengusapkan tangannya di punggungku. Damai rasanya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN