BAB 9 Pertolongan Tak Terduga

1625 Kata
Cinta tak akan menyakiti mereka yang dicintai.  Alex memperlakukanku dengan sangat baik walaupun aku sering menunjukkan sikap tidak baik padanya dan rasanya aku pun mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya dalam bersikap padanya. Aku lebih banyak menghindari pertemuanku dengan Dana, karena aku ingin mengubur perasaan cinta ini yang masih begitu kuat. Orang bilang cinta pertama begitu berkesan dan ini kurasakan saat ini. “Kakak lulus De” Alex menyerahkan amplop kelulusannya padaku. Akku mengangguk dan tersenyum paling manis padanya. Ada rasa Bahagia juga di hati Ketika melihat bahagianya dia merayakan kelulusannya. “Selamat ya kak.. De senang” mataku belum berani menatap pandangan cintanya yang sudah setahun ini dirajut. Alex masih tampak sangat sabar menghadapiku, aku yang dia tau masih belum keluar dari bayangan cinta pertama. Dea juga tak pernah menyadari bahwa dirinya adalah cinta pertama yang dimiliki Alex, maka tak heran jika Alex begitu menyayanginya. “Kakak sedih..” tiba-tiba Alex berkata lirih pada Dea. Kaget dengan pernyataan Alex padanya, apa mungkin karena Alex menyadari bahwa Dea belum mencintainya? Dea masih berkecambuk dalam hatinya akan apa yang harus dikatakannya. Namun lamunan itu dikejutkan dengan kelanjutan kata-kata Alex. “Sedih karena ketika lulus, kakak nggak akan melihat De lagi, nggak bisa nemani Dea ke kantin. Nggak bisa nemanin Dea menghayal di taman sekolah dan tak bisa ada saat Dea butuh” Alex tampak sangat tulus padaku, ada genangan air mata di netra matanya. Aku jadi sedih jika mengingat bahwa Alex sangat mencintaiku tapi aku belum mampu menerima hatinya. Walau hubungan ini sudah berjalan setahun lamanya. “jangan sedih kak, Dea akan berusaha memperbaiki diri lagi” jawabku dan kali ini mencoba menatapnya. Dengan senyuman terbaiknya, dia menarik tanganku dan menggenggamnya. “kakak yang harus lebih memperbaiki diri, terimakasih karena masih bertahan menjadi pacar kakak” sambungnya lagi. Ada desir bahagia di hatiku, untuk pertama kalinya ada rasa berdebar juga dalam d**a. Aku memiringkan badanku, mendekatkan kepalaku di sisi Pundak kiri badannya, dia mengalungkan tangan kirinya ke kepalaku yang sudah tertempel di sisinya. Aku meliriknya, ada senyum terpancar di sudut bibirnya. “Tumben” katanya lagi. Tampak keterkejutan Alex karena pertama kalinya aku dekat sekali dengannya. Tapi kami Bahagia, tidak ku pikirkan saat ini masalah perasaan karena yang aku tau aku cukup Bahagia dengan kebersamaan di akhir kelulusan ini. Sebulan telah berlalu Ketika kakak kelas 3 sudah selesai pengumuman. hari-hari aku lewati tanpa Alex lagi. Ada rasa yang hilang, namun keceriaan sahabat-sahabatku tetap ada dan aku  selalu memperhatikan prestasiku, hari ini adalah akhir pembelajaran disemester genap kelas 2 SMA. Hasilnya aku mendapatkan Juara umum 1 kelas 2 di SMA favoritku ini. Bangga tentu saja kurasakan, naik ke atas panggung kemenangan dalam setiap tahun kenaikan kelas. Tak ada Alex dan kakak kelas 3 yang biasanya menambah riuh perayaan kejuaraan kelas. Mereka sudah mendapatkan pengumuman kelulusan hingga tinggallah kami siswa kelas 1 dan 2 di sekolah ini. Pandanganku tetap tertuju pada satu titik nan jauh disana, Dana. Dengan ciri khasnya rambut pendek terukur seperti seorang polisi membuatnya semakin terlihat tampan. Tersenyum kearahku? sudah pasti ia lakukan dan sukses membuatku salah tingkah serta merona tapi ada pula rasa sakit dihati karena dia duduk bersama Anti sang kekasih. * "De, kakak mau kuliah ke Makasar dan akan berangkat 3 hari ini" Alex memulai pertemuan ini. Disebuah cafe milik sepupu Alex, Alex membawaku duduk ditempat yang romantis. Apakah aku bahagia? tentu saja bahagia entah itu rasa bahagia sempurna atas nama cinta atau karena bahagia disayangi oleh Alex. intinya aku Bahagia termasuk karena nggak harus membohongi Alex lagi jika tidak melihatnya sehari- hariku.   Aku menyempatkan diri mengirim pesan singkat kepada sahabatku Moning, serta meminta maaf karena tidak sempat memberitahu sebelumnya. Aku mengatakan kak Alex tiba-tiba mengajakku ke suatu tempat dan tidak memberikan kesempatan padaku untuk mengajak sahabat- sabahatku.  "iya kak" aku menggangguk dan memberanikan diri melihat wajahnya yang terlihat sendu karena akan meninggalkan aku di sini dan dia melanjutkan studinya di Makasar. "Kakak mencintai kamu De," lirihnya padaku dan menatap mataku dengan sangat lekat. aku tersenyum dan memberanikan diri memegang pipi lembutnya. "Kak Alex berangkat saja untuk kuliah atau apapun itu, Dea akan baik-baik saja disini kak. Dea akan mencoba belajar mencintai kakak" Alex mengerti dengan maksud kata-kata Dea. Setahun menjadi kekasihnya, Alex memahami betapa sulitnya hubungan mereka. Entah cinta bertepuk sebelah tangan ataukah apa namanya yang jelas mereka berstatus berpacaran.  "Sampai kapan De, sampai kapan De begini? apakah tidak bisa kakak menjadi yang terindah itu dalam hati De?" sambungnya lagi. Alex memang sudah setahun menjadi pacar Dea, namun Alex menyadari sulitnya mendapatkan hati Dea, menjadi pacar pun adalah hal sangat di dambakannya sejak masuk sekolah di SMA Negeri 1 Toili ini. Hal yang sangat disyukurinya bisa menjadi pacar Dea walaupun belum memiliki hati Dea sepenuhnya.  Meyakinkan hati Dea adalah prioritasnya sekarang. "kalau kakak yakin, Dea juga yakin kak. Tolong bantu De, kak" mohonku padanya.  "Pasti De" seiring percakapan-percakapan yang mereka lakukan, suasana Café semakin ramai dan Dea semakin merasakan ketidaknyamanan karena ini adalah hal pertama baginya ada di sebuah Café. Hanya karena permintaan Alex sebelum dia berangkat ke Makasar dengan ijin orang tua Dea, Dea diijinkan keluar bersama Alex. Alex meninggalkan aku sendirian di tempat duduknya karena seseorang memanggilnya untuk suatu keperluan. Alex meminta ijinku untuk pergi dan aku memberikan dia pergi begitu saja tanpa berfikir lagi apakah dia mempunyai rencana yang busuk di belakangku. Aku berfikir cinta yang ditunjukkan padaku tidak akan membuatnya menghianatiku atau bahkan menyakitiku. Tak terfikir ternyata cinta yang dimiliki Alex membuatnya egois akan rasa itu. Hari sudah malam dan Alex masih sibuk dengan teman- temannya, sedangkan aku hanya duduk sendiri di ujung cafe. Aku mengirim pesan pada Alex untuk segera mengantarkanku pulang, tapi dia enggan untuk membalas pesanku dan juga tidak berniat untuk mengantarkanku pulang. Aku semakin gelisah dan segera mengirimkan pesan pada Moning dan mengatakan dimana tempatku serta memohon dia untuk membantuku untuk pulang. Aku tidak ingin merepotkan Alex jika memang dia masih sibuk. kukirimkan pesan "Tolong jemput aku Mon, aku bosan ditempat ini"  'ting' "Aku sedang dengan Sila De, besok dia akan berangkat ke Palu untuk mengikuti pendidikannya. Tapi aku akan mengirimkan seseorang untuk membantumu" balasnya "Hah.., siapa lagi maksudmu?" "Yang jelas, dia akan membantumu, nikmati saja bantuannya kali ini" Seseorang memberikan minuman kepadaku dan mengatakan bahwa Alex sedang mengerjakan beberapa pekerjaan dengan sepupunya dan aku diminta menunggu. Aku mengambil minuman itu dan mengangguk. Langsung kuteguk tanpa berfikir lagi, aku sudah ingin pulang. Tiba-tiba aku lihat Galang ada ditempat itu bersalaman dengan Alex dan tersenyum lebar menunjuk ke arahku. Tapi kepalaku pusing dan mataku tak mampu melihat lebih jelas lagi. Sekarang hatiku berdebar kencang, kucoba untuk menahan kantuk yang tiba-tiba menyerang dan terus memperhatikan gerak- gerik Galang dan Alex. Pandanganku gelap dan tidak bisa melihat apapun lagi. Aku merasa tubuhku diangkat dan dibawa ke suatu tempat, namun tidak mampu melawan lagi. 'kenapa tubuhku lemas dan kenapa kepalaku pusing?' lirihku dalam hati. Dalam kesadaran yang tinggal menipis ini, aku melihat Alex mendekatiku dan mencium bibirku dengan lembut dan itu aku rasakan hingga mampu membangkitkan kesadaranku walau tidak sepenuhnya sadar. "kak Alex, tolong jangan lakukan ini" pintaku dengan pandangan memohon. "Aku mau pulang" aku menjatuhkan diriku di kakinya dan secepat itu dia menarikku dan memelukku dengan sangat kuat, kemudian mulai berani mencium leherku. sekuat tenaga yang kumiliki ini aku mendorongnya, namun gagal. Dia memiliki tenaga yang jauh lebih kuat daripada aku.  'Kali ini aku berdoa dalam hatiku pada Tuhan agar mendengarkan Doa tulusku ini' "Kau selalu menolakku dalam kesadaranmu De, maaf kalau aku harus membuatmu tidak sadar. Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau pergi dariku. Aku harus memilikimu seutuhnya sebelum aku pergi" kata-kata itu jelas kudengar di telangaku. Dan secepat kilat dia menarikku sekali lagi dan terus menciumku berusaha membuat kesadaranku menghilang dan efek obat dalam minumanku membuatku sangat berat dan akupun terjatuh masih dalam pelukan Alex. "Maafkan aku De" kata terakhir yang ku dengar sebelum akupun pingsan. * Sinar matahari pagi membuatku tersadar namun beratnya kepalaku membuatku tidak mampu langsung berdiri. Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku dan kemudian mengingat kembali semua yang terjadi semalam. Aku memegang bibirku dan mengingat bagaimana Alex menciumku semalam tanpa bertanya dalam keadaan yang mengenaskan. Mengingat kembali kata-katanya dan aku memandang keseluruh ruangan ini, sepertinya ini sebuah kamar cowok karena desainnya yang kental dengan warna dan gambar lelaki. Aku langsung tersadar bahwa ini bukan kamarku. 'oh Tuhan, what happen?' pikirku. 'apakah aku semalam?' mengingat kembali apa yang terjadi. Kulihat bajuku tetap utuh dan tidak berganti, hanya sedikit tanda ciuman di leherku yang masih bersisa karena keganasan Alex padaku.  Aku takut sekarang, tiba-tiba ketakutanku semakin menjadi dan berfikir apa yang terjadi padaku semalam. 'Huuuuuu huuuuu huuuuu' Aku menangis sejadi-jadinya dan menjatuhkan diriku di lantai. Sekarang aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku meremas remas kepalaku, melipat kakiku dan menjatuhkan kepalaku diantara kedua  lututku. Aku memeluk diriku sendiri dalam tangis yang mendalam. Hingga tiba-tiba sebuah tangan memelukku dengan lembut. "Jangan sedih De, kau tidak apa-apa dan kau aman disini" Aku masih saja menangis dan tidak peduli ucapan itu. Tidak berani melihat siapapun orang dihadapanku saat ini. "Menangislah jika itu membuatmu tenang" lanjutnya. Aku semakin keras dalam tangisku dan kemudian berteriak "Kamu jahat.......... jahat.... jahat sekali padaku" dan kemudian mengangkat kepalaku untuk melihat orang itu. "Kenapa kau lakukan ini padaku kak Al.." aku terkejut karena yang kudapati bukan Alex, tapi Dana. Dia tersenyum padaku. "Kau tidak apa-apa De, Alex sudah kuberikan pelajaran" sambungnya lagi. Air mataku terus jatuh di kedua pipiku, Dana menarikku kepelukannya dan mengulurkan ibu jarinya untuk mengusap air mataku yang mengalir tanpa henti itu. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan penuh hati-hati seolah dia menunjukkan betapa sayangnya dia padaku.  "Kenapa kau disini?" Aku menatapnya dengan sejumlah pertanyaan yang tentunya sangat membingungkan bagiku namun tidak bagi Dana. Dia justru tersenyum dan menatapku sangat dekat.  "Apa yang terjadi padaku Dan" lirihku Dia menghela nafas dan berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN