Kesakitanku adalah ketika kau terluka.
POV Dana
Aku memang secara kebetulan berada di perkebunan milik ayahku yang berada dibelakang Cafe milik sepupu Alex yang didatangi oleh Dea semalam, yang membuatnya mengalami kejadian luar biasa itu.
Kejadian sebelumnya
Handphone Dana berbunyi
"Halo Mon, kok nelpon dah jam begini?, ada apa?" Aku terkejut karena Moning menghubungi di malam hari.
"Tolong Dea Dan" Moning menjawab
"Hah.. ada apa dengan Dea Mon?, dia dimana sekarang? apa yang bisa kubantu?" pertanyaanku bertubi-tubi kulayangkan pada Moning. Hal ini karena penekanan kata yang diberikan oleh Moning menyiratkan sesuatu yang berbahaya mungkin terjadi pada Dea.
"Dea ada di Cafe sepupunya Alex yang dekat perkebunan ayahmu itu, aku nggak tau kenapa Dea bisa sampai malam masih disana. Tadinya bilangnya sore dah balik. Dia ngirim pesan untuk minta dijemput, aku takut Alex kali ini ga selembut yang ditampilkan pada Dea" panjang lebar Moning menjelaskan dalam panggilan telfonnya padaku. Aku kemudian langsung mengingat bagaimana Aku pernah mendengarkan percakapan Alex dengan sepupunya, bahkan Alex harus bisa mendapatkan Dea dengan cara apapun termasuk cara yang kurang baik yang penting Dea bisa menjadi miliknya baik hati dan dirinya.
Aku langsung bergegas menuju cafe itu dan mencari keberadaan Dea. Lama mencari namun belum kutemukan keberadaan gadis itu. Aku mendadak menjadi sedikit frustasi.
'Dea, kamu dimana?' lirihku dalam hati. 'Aku akan menemukanmu De' kata-kataku sendiri dalam hati untuk menguatkan diriku.
Sambil berjalan menyusuri cafe yang begitu luas dengan sedikit frustasi, Aku tanpa sengaja mendengar percakapan Alex dengan orang suruhannya untuk menyiapkan kamar untuk Alex dengan seorang wanita. Pikiranju tertuju pada Dea. Aku segera menunggunya disekitar kamar yang disiapkan dan meminta orang kepercayaan yang kubayar untuk membantuku kali ini.
Alex menggandeng Dea yang sudah dalam keadaan setengah sadar untuk masuk ke dalam kamar, Aku memperhatikannya dan menyusun rencana untuk menyelamatkan Dea. Sekitar 5 menit Alex membawa Dea masuk ke kamar itu, Aku memberikan kode kepada Rendi sahabat di kelasku itu menyelesaikan misinya. Ia mengetuk pintu kamar dan menarik Alex keluar dari kamar itu. Dana segera masuk dan menggendong Dea keluar dari kamar itu dengan tergesa-gesa serta dibantu oleh beberapa sahabat kepercayaannya pula.
Aku meletakkan tubuh Dea di dalam mobil dengan sangat hati-hati. Aku memandangi wajah cantik gadis itu dan tersenyum tersendiri karena kali ini aku berhasil menyelamatkannya.
"Dea sudah aman bersamaku Mon" Aku menghubungi Moning setelah mendapatkan Dea dari tempat itu. Semua berjalan sesuai rencanaku, tidak ada yang menghalangiku membawa Dea pergi karena Risal salah satu petugas keamanan di Café itu adalah sepupu Rendi.
"Oke, aku tunggu dirumah Suci Dan" Moning memberikan instruksinya kepadaku dan aku langsung bergegas untuk membawa Dea pergi dengan segera sebelum Alex dan rekan-rekannya menyadari yang kulakukan.
"Baiklah" Aku mengangguk tanda mengerti dengan perintah yang disampaikan Moning padaku,
Aku duduk di dalam mobil yang kupesan itu dengan memeluk Dea kali ini, pelukan yang amat menyayat hati dengan bayangan ingatan tentang kejadian di cafe tadi. Dea akan kehilangan kepercayaan dirinya jika semua ini terjadi. Aku sangat tau itu, Dea gadis yang sangat lugu dan sangat menjaga sebuah kehormatan itu dan semuanya hampir hancur ditangan Alex, pacarnya sendiri.
'Betapa kejamnya lelaki itu, yang hanya menginginkan segalanya terjadi sesuai kehendaknya tanpa sedikitpun memikirkan orang yang disakitinya nanti. Jika Alex memang mencintainya kenapa harus dengan cara seperti ini?' Aku memikirkannya lagi dan sekali lagi di dalam mobil.
"Tuan, Kita bawa kemana Nona ini?" Supir taxi yang kusewa memecah kerancuan pikiranku ini. Aku tersadar dan kemudian menunjukkan arah kemana kami akan pergi.
'Tenang ya Deaku sayang, aku berjanji dalam hatiku bahwa kau selalu akan menjadi teristimewa dalam hati dan diriku. Aku mencintaimu dengan caraku ini De, walau sulit bagimu menerima caraku ini. Sakit bagimu melihatku bersama orang lain. Taukah kau? akupun sama' Aku bercerita dekat di telinga Dea dengan sangat lembut sambil memeluk erat tubuh Dea yang tak berdaya itu. Ada kecemasan dalam diriku, membiarkan Dea berjalan dan dekat dengan pria lain yang mengaku mencintainya mungkin adalah kesalahanku. Kali ini, Aku mencoba melupakan sejenak hubunganku dengan Anti.
"Ya ampun Dea" Suci menyambutku yang kali ini datang dengan mengendong Dea.
"Kenapa dia pingsan Dan" Moning kali ini terlihat sangat khawatir, aku mencoba masih tersenyum menghadapi kekhawatiran Moning.
"Alex hampir melakukan hal yang memalukan Mon, dia memang sudah tidak sadarkan diri saat aku mengambilnya. Aku tidak menyangka, Alex melakukan hal sekejam ini. Tapi aku datang tepat waktu Mon, Dea baik-baik saja" Membuat Moning lega mendengar pernyataanku, nampak ia tersenyum dan menarik nafas perlahan.
Moning menyuruhku membawa Dea ke kamar Adrian, kakak Suci. Karena kebetulan kamar Suci sedang direnovasi dan kakak Adrian sedang berkemah diluar kota untuk beberapa hari. Itulah sebabnya mengapa Dea mendapati dirinya berada dikamar laki-laki.
"Jangan biarkan dia dekat dengan laki-laki manapun yang mengatasnamakan cinta Mon, apa kau tau? inilah yang aku takutkan. Aku menjaganya dalam setiap helaan nafasku, orang lain hampir menghancurkannya". Aku terpaksa mengeluarkan kata-kata ini, yang mungkin tidak pantas. Karena akupun tidak mampu menjaganya.
"Dan, kenapa lalu kau selalu mengatakan kau tidak pantas untuk Dea hingga harus memacari orang lain dan membuat Dea ku seperti ini?" Moning menatapku dengan lirih
"Aku ingin menjadi orang berhasil untuk layak menjadi pendampingnya, Ci. Aku takut tak pantas untuknya sembari meyakinkan perasaanku sendiri padanya. Saat aku tersadar besarnya perasaanku padanya, aku justru membawa Anti dalam masalahku dan aku tidak ingin menyakiti Anti juga. Aku tidak akan menyakitinya yang tulus mencintaiku bahkan Anti tau bahwa aku mencintai Dea Mon" Panjang lebar aku menjelaskannya pada Moning dan Suci.
"Benarkah?" Suci maupun Moning tampak tidak mempercayaiku, mereka memilih diam saja dan melanjutkan aktivitasnya memberikan aroma minyak kayu putih pada Dea.
"Ya, tentu saja Mon, percayalah padaku" Aku mencoba meyakinkan sahabat-sahabat dekat Dea.
"Lalu kenapa kau bertahan dengan Anti, hahh?, bukankah itu sakit?"
"Karena perasaan wanita harus dijaga. Aku tidak mau menyakiti Anti dengan mengakhiri hubungan ini tanpa sebab namun rasa cintaku tidak akan menyakiti Dea Mon" Aku masih mencoba meyakinkan mereka dengan mimik wajah yang juga sudah sendu.
Moning mengangguk saja pasrah
HP Dea berbunyi dan tertera my daddy. Aku menyerahkannya pada Suci karena tidak mungkin aku berbicara dengan orang tua Dea, aku belum pernah mengenal ayah Dea.
"Ya om?"
"..........."
"Ada dirumah saya Om, tapi Dea sudah tidur"
"............."
"iya om, nanti saya sampaikan besok pada Dea"
".............."
"Malam om"
"Ayahnya Dea khawatir" Suci menyampaikannya pada mereka semua. Dana dan Moning mengangguk dan tidak menampik bahwa orang tua Dea sangat protective pada putrinya itu.
"Wajar saja Mon, Dea itu perempuan" Aku kali ini sepakat dengan ungkapan Suci tentang kekhawatiran ayah Dea.
Karena hari sudah malam dan keluarga suci yang sedang keluar kota, membuat mereka sepakat untuk tidur dalam satu kamar karena khawatir juga dengan keadaan Dea yang belum sadar sejak tadi.
Berulang kali Aku bangun dan memperhatikan Dea dalam tidurnya di ranjang kamar Adrian. Dari sofa kamar yang tidak terlalu jauh, Aku tetap bisa melihat betapa cantiknya wajah gadisku itu.
Setiap terjaga Aku mengecek Dea, namun Dea tetap saja terlelap. 'Semoga besok pagi kau sudah pulih Dea, aku nggak akan meninggalkanmu kali ini' gumamku dalam hati. Aku memilih memejamkan mata kembali agar besok aku tetap fit.
Suci dan Moning tidur mengapit Dea yang sudah tertidur terlebih dahulu. Mereka berdua saling pandang hanya untuk meyakinkan bahwa sahabatnya itu sudah baik-baik saja.
"Pagi Dan, Bangun" Suci membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan badanku.
"Dea belum bangun juga?" Aku membalasnya karena aku masih khawatir dengan Dea.
Suci menggeleng
"Semoga sebentar lagi"
"Aku dan Moning akan ke dapur membuatkan sarapan untuk kita. Jaga Dea dan tolong sampaikan jika Dea sudah bangun. Kami berdua di dapur" Suci dan Moning berjalan berbarengan menuju dapur dan tinggallah aku sendiri di kamar ini, memperhatikan Dea.
Suci mengarahkan telunjukkan padaku kemudia berkata dengan sarkasnya "Jangan pegang-pegang atau peluk dia"
"Jangan sampai dia trauma, lagian kamu punya pacar ya Dan, aku nggak lupa itu" Moning menegaskan lagi. Mereka sepertinya lebih protective daripada ayahnya.
“Tapi dia kekasih hatiku” Aku menatap wanita-wanita dengan sedikit candaan dan senyum menggoda kemudian mereka pun berlalu menuju dapur.
Aku memutuskan untuk ke kamar mandi, mandi agar lebih segar ketika melihat Deaku sadar.
Bersambung ...