BAB 11 Hatiku yang tidak berubah

1323 Kata
Bagaimana rasanya ketika perasaan hati yang tidak berubah namun sikap berubah? POV Dana Aku masih mengingat kata-kata sahabat Dea itu "Jangan pegang-pegang atau peluk dia" "Jangan sampai dia trauma, lagian kamu punya pacar ya Dan, aku nggak lupa itu" Mereka melanjutkannya lagi. Aku memang ingin melihat reaksi mereka sehingga menjawab dengan kata-kata yang meminta jawaban “Tapi dia kekasih hatiku” namun ternyata mereka berlalu saja menuju dapur dengan santainya. Setelah kepergian teman-teman mereka, Aku memang masih setia menemani Dea yang belum sadar dari tidurnya. Keterkejutan Dea dalam bangunnya membuat aku pun menjadi sedikit panik, namun mengingat aku yang harus menenangkan Dea membuatnya kembali tenang. Aku berusaha menceritakan apa yang telah terjadi pada Dea. Begitulah aku bercerita ketika Dea tersadar dari tidurnya, memang tidak mudah Dea percaya begitu saja hingga aku harus menenangkannya. "Kemudian kau baru tersadar pagi ini, kau kira sesuatu terjadi padamu De?. Tidak, kau baik-baik saja, tenanglah" Aku berusaha menenangkan Dea yang masih menangis. Dana memeluk Dea dengan penuh kelembutan, tangisnya pun pecah saat Dea meremas-remas rambutnya dengan kasar, menyalahkan selalu dirinya sendiri, merasa dirinya sudah sangat kotor. Dea melepaskan pelukannya dan kembali melipat kakinya dilantai kemudian menarik kepalanya di kedua lututnya. "Kak Alex, huuuu huuuuu, kak Alex.... " Dea menangis terus dan membuatku semakin sedih, aku tidak bisa melihat Deaku sedih seperti ini. Aku berusaha meyakinkannya. "Sabar De, kau baik-baik saja De" Laki-laki aku berusaha menenangkan Dea dengan kata-kataku ini dan berharap Dea mempercayainya.  "Apakah kak Alex?, kenapa kak Alex jahat padaku? kenapa kak Alex" Dea kemudian berteriak-teriak sambil menangis, menumpahkan semua kekesalahannya, kemudian memukul da-danya sendiri setelah itu menarik rambutnya sendiri dengan frustasi. Aku menghentikan gerakan tangannya itu, aku sangat sedih melihat semua ini, air mata kami berdua mengalir deras mengartikan kesedihan yang menyayat kedua hati kami ini, tangisannya membasahi bajunya dan Dea semakin tersedu-sedu. Aku lagi-lagi kembali menarik Dea ke dalam pelukanku dengan sangat erat seolah aku tak ingin melepaskannya lagi, Aku larut dalam tangis itu, Dea menumpahkan tangisnya dalam pelukanku yang dalam. Pelukan yang begitu menyayat hati, terlalu menyedihkan. Hingga kemudian aku merasakan Dea melepaskan pelukannya, pandangannya gelap dan tak ingat apa-apa lagi.  Dea pingsan lagi. "Moning..... Suci...." Aku berteriak sambil terus menangis karena melihat Dea yang pingsan, ini pertama kalinya aku melihat seseorang langsung pingsan. "Dea, please jangan begini... huuuu huuuuuu" Aku terus menangis sambil memeluk Dea, terlihat begitu menderita kami akan melewati semua ini. "Dea, bangun... Dea" Aku melihat Moning dan Suci mendatangi kami. "Dea Mon" sambil terus menangis dan menggoyang-goyangkan tubuh Dea.  "Dea pingsan Dan?" Moning bertanya lagi, namun dia tetap tenang tidak seperti aku yang terlihat sangat kacau. "Iya" jawabku singkat saja. "Angkat saja bawa ke ranjang Dan, Dea baik-baik saja. Dia hanya shock saja kok, kamu tenang" Moning berusaha menenangkanku. Aku Mengangguk saja. Aku menggendong tubuh kecil Dea dan kupindahkan ke atas ranjang. Wajahnya yang lemas dan sedu karena menangis dengan sangat hebat terlihat sangat jelas. Hal ini membuat kesedihan juga dimataku, sedih sekali. "Dea terpukul sekali Dan, walaupun tidak terjadi hal yang fatal tapi baginya disentuh pria adalah hal yang sangat menyedihkan. Ia bahkan menginginkan dirinya dicium hanya oleh suaminya untuk pertama kalinya, mungkin itu yang menbuatnya sedih, kita harus paham dan mencoba memberikan pengertian padanya lagi". Suci menimpalinya. Aku mengangguk saja dan sepakat dengan pernyataan Suci, mengambil alkohol yang di bawa oleh Suci, Aku menumpahkan alkohol pada kapas kemudian melekatkannya pada hidung Dea dengan terus mengalirkan air mata walau sekarang sudah lebih sedikit dari sebelumnya.  "Bangun De, bangun..." Aku terus memanggil-manggil nama Dea. "Tenang Dan" Moning menenangkan Dana "Kamu juga harus tenang" Suci akhirnya berbicara. Aku tidak mau meninggalkan Dea sedikitpun, sampai akhirnya Dea sadar dan Suci juga Moning berusaha menenangkannya. Memberikannya pengertian bahwa dirinya baik-baik saja. "Nggak ada yang perlu kau khawatirkan De" "Semuanya aman" sambung Suci Dea sudah lebih baik dari sebelumnya walaupun lebih banyak diam. Pandangannya lebih banyak menerawang dan seperti bingung. Air mata masih mewarnai mata indahnya itu juga masih tak bisa percaya, Alex yang menjadi pacarnya itu ingin menghancurkan kehormatannya. "Apa yang akan kau lakukan pada Alex De?" Suci berhadapan dengan Dea sambil menatap netra mata Dea yang masih lembab oleh air mata "Aku mau putus Ci" Dea mengeluarkan nafasnya kasar, Aku menarik nafas dalam-dalam memandang Suci dengan penuh makna. "Percaya saja pada hatimu De" Aku memberanikan diri memberikan saran padanya. "Aku berusaha membuka hati pada kak Alex, berusaha melupakan semua perasaanku padamu Dan" sambil kembali menangis perlahan, nampak begitu sedih. Aku tau ada peranku dalam keinginan Dea untuk menerima Alex. "Kak Alex nampak begitu menyayangiku, aku tersentuh dengan perlakuannya. Tapi kenapa ia menipuku?, kenapa Dan, kenapa?, tidakkah aku layak mendapatkan bahagia itu? membuang semua luka akan cinta yang menyakitkan?" penuh penekanan kata-kata itu Aku juga kali ini nampak sangat tertekan dengan kata-kata Dea, Aku tau akulah penyebab luka itu tapi akupun sadar aku tak bisa berbuat banyak. Anti membutuhkan aku juga walau hatiku sepenuhnya milik Dea dan selalu merindukan Dea tapi Aku tau prioritas mana yang harus kuutamakan saat ini. "Tidak De, jangan mengatakan itu, kau layak mendapatkan bahagia. Tapi tidak harus dengan cara seperti ini, jika Alex tidak tulus padamu jangan memaksakan hatimu De. Bersabarlah" Moning memeluk Dea dengan eratnya untuk memberikan kekuatan namun kata-kata itu semakin menyakitkanku, terlalu sakit. Mencintai tetapi tak mampu membahagiakan. Dea mencoba tenang dengan menarik nafasnya dalam-dalam dan mencari sisi ketenangan yang harus dijalaninya. Setelah sarapan pagi bersama, Dea terlihat lebih tenang dan aku merasa sangat lega melihatnya. Aku segera bersiap-siap untuk mengantarkan Dea pulang.   "Aku pengen ngantar Dea pulang, boleh ya. Barengan kalian juga" aku memulainya. "Boleh Dan, tapi jangan terlalu memberikannya harapan jika kau sendiri tak bisa lepas dari Anti. Aku kasihan sama Dea" sekali lagi Moning menekankan jarak yang seharusnya tercipta antara kami. "Aku tau Mon, tapi itulah yang kurasakan. Aku tak pernah berbohong dengan perasaanku pada Dea tapi tolong Mon, bantu aku menjaga Dea. Biarkan dia tanpa pacar, jaga dia untukku" mohonku pada mereka berdua. "Kenapa begitu Dan, jika kau benar-benar mencintainya, kau bisa mengatakan itu padanya. Dia akan segera jomblo Dan" Suci mengatakan itu karena yakin Dea akan segera mengakhiri hubungannya dengan Alex. "Tapi aku tak bisa Mon" aku kembali merusak keyakinan mereka akan cintaku sendiri pada Dea. "Kenapa" "Anti sakit, dan dia butuh aku" kali ini aku harus mengatakannya, tidak ada alasan lagi untukku diam. Duarrrr "Apa?" Mereka semua berteriak, bagaikan di hantam petir, Moning dan Suci saling menatap satu sama lain. “Apakah ini alasannya?” Aku mengangguk dan tersenyum kecut pada sahabat-sahabat Dea itu.  “Tidak adil Dan, kamu melukai semua yang terlibat dalam hubungan kalian” “Ya, aku tau Mon, tapi aku tidak punya pilihan lain. Orang tua kami juga memiliki hubungan yang baik, aku tidak ingin menyakiti orang tuaku” “Lalu bagaimana dengan hatimu, hatiku dan juga Anti?” Dea tiba-tiba muncul di hadapanku. “Hatiku tidak akan berubah De, hanya untuk kamu” aku mengambil tangan mungil gadis yang aku cintai itu, namun Dea justru menghempaskannya.  “Bohong, kamu juga penipu Dan. Kamu berbahagia dengan Anti dan dihadapanku kamu berpura-pura tersiksa dan seola..” “Cukup De, cukup… Jika kau mau seluruh dunia mengetahuinya  maka akan aku katakan bahwa aku hanya mencintaimu. Tapi kita tidak boleh egois kan, orang tuaku dan yang lainnya butuh bantuanku dan aku tidak perlu cin” “Baiklah, aku paham” Dea memilih mengakhiri pembicaraan itu mungkin karena dia tidak ingin mendengar pengakuanku lebih banyak lagi. “Dea maafkan aku” Aku langsung refleks memeluk Dea, menginginkan Dea mengerti bahwa dia juga ada dipihak yang sulit dan hanya butuh pengertian dari kekasih hatiku itu. Dea membalasnya lembut dan dadaku bergemuruh, sesaknya sangat terasa. “Jangan menangis lagi, jangan sedih. Kau hanya perlu tau, hatiku untukmu dan tidak akan berubah” Dea tidak lagi menjawab kata-kataku, dia hanya diam dan tatapan kosong dalam pandangan nanarnya. Mereka saat ini memang sudah terlihat tenang-tenang saja. Dea mengatakan bahwa dia ingin segera pulang dan beristirahat. Setelah menikmati breakfast bersama-sama dan menjelaskan yang telah terjadi mereka semua bersiap-siap untuk mengantarkan Dea pulang. Bersambung ya..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN