BAB 12 Ku ingin Bahagia

1088 Kata
POV Dana Mencoba memahami kata-kata yang diucapkan walau hubungan tak bisa dijalin dan inilah nyatanya. “Baiklah, aku paham” “Dea maafkan aku” Aku langsung refleks memeluk Dea, menginginkan Dea mengerti bahwa aku juga ada dipihak yang sangat sulit dan hanya butuh pengertian dari dirinya. Dea membalas pelukanku dengan lembut dan dadaku bergemuruh, sesak itu sangat terasa. “Jangan menangis lagi, jangan sedih. Kau hanya perlu tau, hatiku untukmu dan tidak akan berubah” Berusaha ku tenangkan dia dari isakan yang masih lolos dari bibir mungilnya itu. Dea tidak lagi menjawab kata-kataku, dia hanya terlena dalam pandangan nanarnya. Kami saat ini memang sudah terlihat tenang-tenang saja. Dea mengatakan bahwa dia ingin segera pulang dan beristirahat. Setelah menikmati breakfast bersama-sama dan menjelaskan yang telah terjadi kamipun bersiap-siap untuk mengantarkan Dea pulang. "Ayo kita pulang De, aku ikut ngantar kamu" Aku memulainya dengan memperlihatkan wajah ceria agar Dea bisa tersenyum. Tak mudah bagiku untuk mendapatkan senyum Dea lagi, kemudian setelah mencoba dengan cara-cara yang lucu Dea tersenyum namun tipis dan itu sangat menyakitkan bagiku, dia sedih dan aku tidak mampu membuatnya tersenyum. "Nggak usah Dan, kak Putra akan menjemputku disini, aku sudah mengirim pesan pada kak Putra" Dea memandang kedua wajah sahabat-sahabatnya itu kemudian beralih ke arahku. "Terimakasih Dan bantuannya, terimakasih menjagaku dari kak Alex. Terimakasih......hiks hiks" dan kembali Dea menitikkan air matanya, walau kali ini susah lebih tenang dan pelan. "Kau spesial di hati aku De, tidak akan terjadi apapun padamu. Belajarlah dengan baik dan menjadilah apa yang ingin kau cita-citakan. Kau gadis yang baik" sambungku lagi. Ku tepuk pundaknya dan ku acak-acak rambut lurusnya untuk memberikannya semangat. "Pasti Dan" lirihnya ‘Mungkin ada kepedihan akan pesanku padamu Dea. Sesakit ini cinta. Tapi yakinlah Dea kau harus yakin bahwa ada alasan dibalik semua kata-kata ini dan sekarang dia hanya akan fokus untuk menyelesaikan semua masalah yang sudah terjadi’ pikiran-pikiran ini berkecambuk pada Dea dan Dana. Tiba-tiba HP Dea berbunyi dan sesegera mungkin Dea mengangkatkan tanpa melihat siapa yang menelfon "Kak Putra sudah sampai dimana?" "Dea, maafkan kakak…" Dea kaget dan segera melihat layar ponsel nya. "Kak Alex....." lirihnya, matanya kembali memejam, ku lihat dia menarik nafasnya untuk mencoba tenang. “Tenanglah” Kataku padanya. Dana, Moning dan Suci segera meraih ponsel Dea, Moning menggenggamnya erat dan mulai melekatkan ditelinganya. "Cukup Kak Alex, jangan sakiti Dea lagi dan cukup dia hampir kehilangan percaya dirinya lagi. Apa yang hampir kak Alex lakukan padanya sangatlah tidak baik dan aku sangat membenci semua itu" Moning dengan nada yang tersengal sengal, mata merah dan emosi meluap-luap berbicara pada Alex. "Dengarkan aku dulu Mon" suara itu terdengar jelas, karena Moning memilih meloudspeaker percakapannya di ponsel itu. "Cukup kak Alex" potong Moning. "Jangan mengganggu Dea lagi" Moning langsung memutuskan panggilan itu kemudian memberikan ponsel nya pada Dea. Dea tersenyum dan mencoba tertawa lagi. "Bahagialah De" bisik Dana "Itu pasti" Mereka sudah bisa  tertawa dan melirik satu sama lain hingga akhirnya panggilan telfon kembali berbunyi. "Kakak sudah di depan rumahnya Suci Dea"  "Oh iya kak, aku segera keluar ya" jawabnya ceria karena tak ingin ada kesedihan yang dilihat oleh kakaknya itu. "Aku duluan ya, sekali lagi terimakasih buat kalian semua" Mereka kompak mengangguk dan Dana melanjutkannya dengan memberikan dua jempolnya dan tersenyum. Dea berlari menemui kakaknya dan langsung masuk ke dalam mobil. Dana memandanginya sampai bayangan mobil itupun telah menghilang. POV Dea Kak Putra memang driver yang handal, dia sangat ahli menghindari kemacetan, hingga akhirnya kami segera akan tiba di rumah hanya dalam beberapa menit perjalanan. “Tadi Alex nelpon kakak” kak Putra mengawali percakapan kami yang akan sampai dirumah. “Oh “ jawabku singkat. Kiiiiit Mobil kami berhenti dan kak Putra mengarahkan pandangannya padaku. “Dengarkan kakak baik-baik, semalam kakak ada di tempat yang sama dengan Dea. Kamu tau si Galang kan?” Aku mengangguk dan memperhatikan kakakku itu dengan baik. “Emang kenapa dengan dia?” “Kakak kalah taruhan main jenderal” Kakakku menarik nafas. Aku merasakan ada ketegangan pada wajah kakakku. “Kakak mabuk waktu itu, tanpa sengaja kakak mempertaruhkan kamu untuk jadi pacarnya lagi. Kakak yakin menang, tapi ternyata kalah” “Trus” aku mendesak kakakku itu untuk melanjutkan ceritanya. “Ternyata kakak kalah dan kakak harus menepati janji itu dengan syarat dia harus mendapatkanmu sendiri di tempat yang kami tentukan dan dengan bantuan Alex kamu bisa ada di tempat itu. Alex harus meninggalkanmu di sana untuk Galang” “Apa? kakak setega itu sama aku? Trus Alex? apa dia sengaja ingin menghancurkan aku?” Aku tidak menangis lagi, karena semua ini terlalu mengejutkan aku. Kekasihku dan kakakku bekerja sama untuk menghancurkan aku. “Alex tidak punya pilihan dan kakak juga. Tapi ternyata Dana lebih cepat menyelamatkan kamu sehingga kakak dan Alex bisa keluar dari masalah itu juga” “Tapi tetap aja, kakak dan kak Alex salah” “Cuma kakak yang salah De” kakakku tetap berusaha membela Alex tapi tidak bagiku, aku terlalu sakit dan membenci semua yang terlibat dalam apa yang terjadi malam itu. “Sudah kak, aku mau pulang, besok aku punya tugas matematika” jawabku kasar pada kakakku itu. Kakakku merupakan laki-laki tampan juga di sekolah, tinggi 174 cm dengan badan kekar dan sixpack membuat gadis-gadis sekelas denganku juga banyak yang mengaguminya. Aku mengingat bagaimana teman-temanku termasuk Suci pernah menitipkan salam untuk kakakku. Kak Putra memilih melanjutkan perjalanan kami untuk pulang, sesekali ia melirik ke arahku dan aku masih diam. Dia terus mengingatkan aku bahwa kakakku lah yang salah dan bukan Alex.  Ayah dan Ibu menyambutku dengan baik, tidak banyak bertanya dan memilih memberikan aku ruang untuk melakukan aktivitasku dengan tenang. Malam yang indah dan setelah kuselesaikan semua tugas-tugas yang akan diperiksa oleh guruku besok, aku memilih mengambil gadgetku dan berselancar di media sosial untuk sedikit menghilangkan kesalku pada apa yang telah terjadi sebelum tidur.  Aku memutuskan untuk membuat postingan baru di akkun f*******: ku  ‘Ku ingin bahagia dengan cintaku’ Kata-kata itu muncul begitu dalam benakku, setelah ku ketik dengan perlahan, ku klik tombol posting. Kuputuskan untuk segera tidur namun aku terkejut karena ponselku berbunyi, kuraih dan ku dapati sebuah pesan dari Alex. Aku memutuskan untuk tidak membukanya. Tak lama kemudian ponselku kembali berbunyi dan kali ini panggilan telfon. ‘Dana???’ gumamku. “Hmmm, aku mau tidur” jawabku kasar. “Baiklah, tidurlah dan berbagialah. Have a nice dream De”  “Dan ka..” panggilan itu sudah terputus dan aku kali ini tersenyum. Dana benar-benar memberikanku kenyamanan dan inilah yang membuatkan tidak bisa jauh darinya.  Kuputuskan untuk segera menutup mataku untuk ke alam tidur agar besok bisa kembali segar. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN