BAB 13 Permohonan Maaf dan Perpisahan

1703 Kata
Meminta maaf lalu mengatakan kata-kata perpisahan adalah hal yang saling menyakitkan. Pagi ini terasa lebih cerah namun ada sedikit mendung disana. Ya, didalam pandangan Alex yang dipenuhi penyesalan dan juga Dea yang dipenuhi rasa sakit hatinya pada sang pacar. Namun ada cerah karena ternyata dewa penolongnya adalah Dana, sang pujaan hati. Aku melangkahkan kakiku dengan semangat, setelah kejadian kemarin aku ingin kembali bisa berharap seperti harapan hatiku bahwa Dana memiliki rasa yang sangat besar untukku. Rasa cinta. Ungkapan cintanya semalam membuatku bingung, ‘dia dan pacarnya baik-baik saja kan’ gumamku dalam hati. Dalam kegundahan rasa ini, rasanya aku sangat ingin bertemu Dana. Sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih padanya. Bantuannya menyelamatkanku malam itu. Tapi kakiku tak mampu lagi mendekat, saat di taman itu aku menemukan mereka duduk berdua dan sangat romantis. Kudengar samar-samar percakapan mereka. "Sayang, semalam kemana? kau tidak mengangkat telponku" sambil terus memegang tangan Dana, Anti mulai merengek-rengek disamping Dana. "Ada sesuatu yang penting sayang, jangan begitu ah" "Iya deh, maaf". Percakapan itu menyayat hatiku ketika tatapanku kembali bertemu dengan Dana, aku sedih sekali melihat mereka seperti itu. Setelah semalam membisikkan kata sayangnya padaku, sekarang dia bermesraan dengan Anti. 'Oh Tuhan ini sangat sakit' lirihku, sambil memegang da-daku perlahan. Mereka menghentikan percakapannya dan berjalan berdua bergandengan tangan. Sekali ini aku terkejut, pertama kalinya Anti memandangku dengan senyum yang tidak mampu kuartikan. Apa kali ini Anti sudah tau betapa hatiku menginginkan Dana? sehingga dia menatapku seperti itu? Dana tampak terkejut melihatku ada disana, diam mematung adalah pilihanku saat ini. Memperhatikan saja pasangan itu menuju kelas. Mataku dan Dana masih bertautan seolah ingin meminta penjelasan dan juga ingin menjelaskan. Tiba-tiba Madra sepupu Alex yang ada saat kejadian malam itu di Cafe sudah ada di sampingku dan menyentuh bahuku. Dana melihatnya, namun Anti sudah menyeretnya masuk ke dalam kelas. Aku melihat Madra dengan pandangan jengkel, benci dan juga marah karena kejadian malam itu, dia ada disana. “Tolong dengarkan aku” Madra memulainya, aku menghela nafasku. Saat aku ingin pergi, aku melihat Dana keluar kelas hanya untuk memperhatikanku. Rasa cemburuku mendengar Dana mengeluarkan kata sayangnya pada Anti membuatku kehilangan akal, hingga dengan segera mengajak duduk Madra disampingku. Tentu Madra sangat bahagia karena dia ingin meminta maaf. “Katakan” kataku sarkas “Aku minta maaf, aku tidak punya niat apapun. Kak Alex tidak bermaksud menyakitimu” “Cukup” nafasku memburu, mendengar nama Alex disebutkan membuat da-daku bergemuruh. Aku berlalu pergi dan tidak aku hiraukan panggilan Madra padaku. Hatiku masih tak bisa menerima. *** Bel panjang berbunyi pertanda jam pulang telah tiba. Aku dan sahabatku pulang dengan segera dan rasanya ingin segera sampai di rumah karena hari ini sangat melelahkan. "Selamat Siang Ayah dan Ibu" teriakku saat memasuki rumah. Pandanganku terkejut melihat sosok Alex disana, didepan ibu dan ayahku. "Selamat siang sayang, sini duduk disini dulu" aku menyalami punggung tangan ayah dan ibuku, kemudian Alex. "iya ayah" aku tidak mau menatap mata Alex sedikitpun, aku marah padanya namun tetap tenang. "Dea, nak Alex mau bicara sama kamu, tadi dia cerita banyak sama kami. Katanya dia sekalian mau pamit berangkat ke Makasar untuk melanjutnya studinya" Aku tetap tak bergeming, hanya menatap jemari tanganku yang aku buat saling bertautan kanan dan kiri. Ayah berlalu meninggalkan kami berdua, memberikan kesempatan kepada kami sehingga Alex memulai pembicaraannya. "Maafkan kakak De, Kakak hanya ingin bersama De. Berikan kakak kesempatan, kakak akan menebus semuanya untuk De" Alex mengeluarkan air matanya dan itu terasa sangat nyata. Deraian itu mengingatkanku akan kejadian malam itu yang hampir menghancurkan diriku. "Maafkan aku kak, maaf. Dea takut jika ka..." "Please De, please.. berikan kakak menebus semuanya, pukullah kakak semampu De, bunuh bila itu membuat De senang" Alex mengambil tanganku untuk dipukulkan ke pipinya, aku segera menarik tanganku agar tidak menyakiti dirinya. dia terus merengek dan membuatku tidak berdaya. Dia meyakinkan aku untuk memberikannya kesempatan, aku berusaha menolaknya dengan tegas dan berjalan meninggalkannya namun sekuat itu tangannya menarik pergelangan tanganku dan berlutut padaku. "Please De, please.. untuk kali ini saja, berikan kakak sekali kesempatan. kakak janji, tidak akan melakukannya lagi" mohonnya. Aku menggelengkan kepalaku tanda tak setuju dan memilih pergi darinya menuju ke kamar. "Aku ganti baju dulu" teriakku padanya ketika tanganku kembali ditariknya, Alex mengalah dan memilih membiarkanku pergi. Aku hempaskan tasku ke ranjang dan memilih tidur saja. Aku tak peduli ada Alex disana menungguku, dia pantas mendapatkannya. Lelah yang masih kurasakan sejak kejadian malam itu membuatku selalu ingin memperbanyak tidur agar melupakan semuanya kejadian buruk itu. "De, bangun. ini sudah mau magrib" ibuku membangunkanku dengan lembut dan menyuruhku mandi. Aku diminta untuk segera turun kebawah. Aku pun mengangguk dan segera menuju ke kamar mandi. mengguyurkan air dingin diseluruh tubuhku yang mungil ini. Kupandangi cermin kamar mandi 'pipiku ini dan bibirku. ‘Oh, apa yang sudah terjadi' lirihku. ingatan akan ciuman paksa Alex kembali hadir disitu membuatku kembali bersedih. Melupakan itu tak akan mudah bila harus kembali menerimanya sebagai kekasihku. Kemudian kupandangi tubuhku dengan baik, kuingat berapa kali aku menangis dipelukan Dana. 'ah Dan, kau semakin membuatku bingung' Akhirnya aku keluar kamar dan memutuskan untuk ke ruang makan, lalu tiba terdengar sebuah petikan gitar dan lagu indah yang suaranya sangat aku kenal. Aku terpana dengan petikan gitarnya yang sangat indah dan suara merdu Alex yang membuat hatiku bergetar. Kisah bagaimana cinta seseorang yang terabaikan. "Hoo wooo aku hanya ingin kau tau besarnya cintaku tingginya khayalku bersamamu tuk lalui waktu yang tersisa kini disetiap hari ku disisa akhir nafas hidupku" Reff yang sangat memukau, Alex menyanyikannya dengan sangat indah dan kemudian sambil terus melirik ke arahku dan kemudian memandang lagi ke arah gitarnya agar petikannya sempurna. Semua itu dilakukan untuk menarik perhatianku. "Hmmm" aku menggumam. Sejenak aku ingin pergi lagi ke kamarku namun kulihat senyuman di bibir manis ibuku yang ternyata ikut menyaksikan sikap romantisnya Alex padaku. "Kak Alex?" panggilan yang lemah karena tidak menyangka akan kejadian ini. "Dea" setelah mengakhiri lagunya, Alex mendekatiku dengan sikap yang sedikit gugup. Alex berlutut padaku disaksikan oleh kedua orang tuaku, memberikan sebuket bunga yang sangat cantik, aku sempat terlena dan melupakan jahatnya dia padaku. Mengambil bunga itu dari tangannya dan menuntunnya untuk berdiri karena tak ingin ayah dan ibu memikirkan hal yang tidak baik dengan perlakuan Alex padaku. Aku bergidik merinding karena memikirkan ayah dan ibuku menyaksikan semuanya. Ini pertama kalinya ada lelaki yang memperlakukan aku seromantis ini dihadapan orang tuaku. Ayah dan ibu tersenyum, tersirat kebahagiaan di wajah mereka yang tidak mampu aku gambarkan. Aku tak bisa membayangkan akan bagaimana perasaan mereka seandainya tau apa yang Alex lakukan padaku dan hampir menghancurkan kehormatanku, mungkin moment romantis ini tak akan pernah ada. Walau begitu, aku kali ini tidak bisa berbuat banyak dan tidak ingin menghancurkan senyum bahagianya. Aku mengangkat bahuku sembari berfikir 'akan aku nikmati saja semua ini perlahan' pikirku. Alex menghadap ke orang tuaku "om, tante terima kasih diberi kesempatan untuk menyatakan semua ini pada Dea". Aku terkejut, Ayah dan ibu terlibat dengan kencan romantis ini? oh tidak. Aku terkekeh heran, bergidik lucu dan tapi menyenangkan. Aku merasa seperti putri yang dimanjakan dan ternyata ini menyenangkan. "Ya, tante dan om terserah Dea saja" ayah melirikku sambil melempar senyuman termanisnya. Aku mencoba menikmati semua perlakuan manis Alex padaku, 'mungkin ini karena ia ingin menebus kesalahannya padaku' pikirku. "Aku mencintaimu De, jadilah pacarku yang paling aku sayang, terimalah perlakuan indahku padamu" ucapnya dengan menghadapkan badannya padaku, walau dia sengaja menjauhkan tubuhnya padaku agar mampu melihat senyumku. "Ayah, ibu" Aku sengaja mengalihkan pandanganku pada mereka "Terserah kau saja nak, lagipula Alex anak yang baik sayang, dia terlihat sangat meyayangimu nak" kali ini ibuku meyakinkan ku. “Maaf kak” Aku menggeleng, aku masih belum yakin akan perasaanku, mengingat kejadian itu dan sekarang orang tuaku justru mendukung Alex. Kami makan bersama-sama dengan sangat tenang. Alex selalu melemparkan senyumnya padaku dan memperhatikan caraku makan. Aku menjadi salah tingkah dan memutuskan fokus pada makananku. "Jadi kapan nak Alex akan berangkat?" tanya ayah setelah menghabiskan makanan "Besok Om, Ayah dan Ibu yang akan mengantarkan langsung ke Makasar" "Nanti setelah sampai di Makasar, saya kan segera kabari Dea Om" Dana melanjutkannya. Ayah mengangguk dan kemudian waktu kebersamaan ini berlalu dengan baik. Alex berpamitan pada kami karena besok akan segera ke Makasar, Ia mengatakan sudah lebih lega karena akan melanjutkan studi dengan pikiran tenang. Ayah menyuruhku mengantar Alex ke depan pintu dan aku menurutinya "Terimakasih De, kali ini aku tidak akan mampu menyakitimu tapi aku akan mendapatkan rasa sakit itu dengan sendirinya" kata-katanya aku dengar dan cermati dengan baik "kenapa harus kau yang merasa sakit itu" tanyaku bingung "Karena aku akan menebusnya dengan LDRan. Akan aku jaga hatiku ini untukmu, tidak akan ada yang lain. Aku janji padamu, entah kau berubah atau tidak menganggapku kekasihmu tetapi hati ini akan selalu untukmu De" "Aku tidak mampu menjagamu dalam kebersamaan, aku hampir menghancurkan dirimu. sekali lagi maafkan aku De, maaf" sambungnya lagi, susah payah ia menyembunyikan kesedihannya namun lembab dimatanya menggambarkan sesak yang terdalam. aku menarik nafas dalam-dalam "Iya kak, semoga perjalanannya menyenangkan dan jangan lupa berdoa. Jika suatu saat hati kak Alex berubah, katakan saja padaku jangan menunggu aku lagi" lirihku Alex langsung memelukku dengan lembut, sentuhannya kini semakin hangat seolah ini adalah perpisahan yang tidak diinginkan. "Jaga selalu dirimu De, jika mampu jagalah hatimu untuk kak Alex yang bodoh ini" kata-kata ini mengoyak hatiku. Sedalam inikah cinta yang kak Alex rasakan untukku? atau hanya gombalannya saja. Tangan melambai mendandakan perpisahan ini dalam waktu yang entah kapan akan bertemu lagi. Karena jarak Luwuk - Makasar yang jauh. Ditempuh dengan perjalanan udara kurang lebih 3 jam dan atau perjalanan darat hampir sehari lebih lamanya. Luwuk merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah dan Makasar merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Masih berada dalam satu pulau yang sama namun jarak antara kedua daerah itu sangatlah jauh hingga ratusan kilometer. Tentu tidak mudah untuk menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Aku tersenyum saja dengan semuanya dan ayahku masih menungguku di ruang tamu. "Ayah tau, Alex pacarmu ya Dea. nggak boleh ada laki-laki lain lagi yang datang ngapelin kamu sebagai pacar ya. hahaaaaa" ayah menggodaku begitu juga ibu. "Kakak Dea sudah punya pacar ya ayah" Devi adikku menggodaku pula. Merahlah pipiku kali ini. Tawa memenuhi ruang keluarga ini, bahagia ini terlihat nyata. Hanya menerima adalah keputusan yang tepat mengabaikan sementara rasa cinta yang ada antara hatiku dan Dana. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN