BAB 14 Benar-benar membuka hati

1180 Kata
Benar-benar membuka hati Author POV Dea menghabiskan waktunya dihari minggu dengan berolahraga dan memanjakan dirinya disalon dengan sahabat-sahabatnya. Kali ini dia tidak peduli lagi tentang hubungan, panggilan telfon berkali-lagi dari Alex diabaikannya. Diujung sana Alex hanya tersenyum, tetap memikirkan kebaikan pada Dea kekasih hatinya yang ditinggalkannya. "Semoga kau baik-baik disana ya sayang" pikirnya dalam hatinya sendiri. Alex keluar dari Bandara Sultan Hasanudin Makasar pukul 13.25. Senang bisa sampai dengan selamat ditempat ini namun hatinya gelisah karena Dea tidak membalas pesannya dan juga tidak mengangkat telfonnya. Tut... tut.. .tut.... Alex memutuskan menghubungi orang lain, karena Alex tidak akrab dengan sahabat Dea maka dia memutuskan menghubungi seseorang "Om, Dea ada dirumah?, saya menghubungi Dea dari tadi nggak diangkat Om" Alex memang pandai mencuri hati orang tua Dea, menempatkan dirinya dihati orang tua Dea memang keputusan yang sangat tepat. "Dea tadi minta ijin keluar dengan teman-temannya. Mungkin lagi me time aja Nak" jawab Ayah Dea. Terlihat wajah lega Alex karena mendengar kekasihnya baik-baik saja. "Oh iya Om, saya cuma mau mengabarkan bahwa saya sudah sampai di bandara Makasar dengan selamat. Sampaikan juga sama Dea ya Om" "Iya nak" "Terimakasih Om" Ayah Dea mengangguk saja dan segera mematikan panggilannya dan melanjutkan aktivitas siang ini membaca koran dan bersantai di halaman rumahnya sembari memandangi cucunya bermain, kakak sulung Dea yang bekerja sebagai seorang Dokter. Keluarga Dea memang berasal dari kalangan mampu dan inilah yang membuat Dana merasa tidak pantas mendapatkan cinta Dea. Berbeda dengan Alex yang langsung mencoba memantaskan dirinya dengan memberanikan diri mendatangi keluarga Dea. Dana memang tidak memiliki mental sebaik Alex. Padahal Ayah Dea adalah seorang lelaki yang sangat demokratis terhadap anaknya begitu juga dengan ibunya. "Astaga Mon, kak Alex menelfonku 25 kali, ha ha ha " Dea melihat Handphonenya dan terkejut mendapati notifikasi panggilan tak terjawab yang sangat banyak lalu tetap tenang saja. Memikirkan Alex marah padanya 'ah biarkan saja kalau dia marah padaku, setidaknya aku bisa tau sifat aslinya yang belum semua dikeluarkan padaku' kataku pelan, namun sahabatku mampu mendengarnya dan tertawa hebat disampingku, mereka entah mengejek, mengolok-olok atau merasa lucu. Entah lah. "Ayo kau telfon saja dia, takutnya dia marah" "Nggak ah, biarin aja. Pengen tau seberapa sabarnya dia, atau justru menyebalkan trus mempermudah kita putus" jawab ku enteng saja. Mereka terkekeh merasa lucu dengan jawabanku.  Mereka segera bersiap pulang setelah seharian bersenang-senang dan memanjakan diri mereka. Nggah mau mikir pacar ataupun masalah hati tentunya, ingin hanya mereka dan hanya persahabatan serta memanjakan diri mereka. Dering handphone milik Dea berbunyi ketika mereka akan segera sampai di sebuah restoran. ternyata mereka memutuskan mengisi perut mereka sebelum benar-benar pulang dan istirahat. Dea hanya melihat Handphonenya sekali ini. Desahan malasnya membuat Moning ingin mengetahui siapa yang menghubunginya lagi. "Hah, kak Alex nelfon lagi nih.. ha ha ha... " mereka pun tertawa mengejek Dea sembari memberikan nya semangat untuk mengangkat telfon nya. "Ayo lah De" "Aku pengen lihat seberapa marah nya dia kalau aku nggak angkat telponnya atau bahkan siapa tau dia mau mutusin aku" aku terkekeh, mereka justru geleng-geleng kepala.  Ujian praktek selama seminggu menjelang Ujian Nasional ini membuat mereka harus sibuk dan Dea nggak pernah balas pesan atau pun menerima panggilan dari Alex. Tak pernah sehari pun Alex lupa untuk menelfon ataupun mengirimkannya pesan. Menanyakan kabar Dea beserta keluarganya dan juga menanyakan kegiatan- kegiatannya untuk selalu memberikannya perhatian. Dea pun tetap mengabaikannya, baginya LDR memberikannya ruang untuk tenang dan tidak baper dengan segala perhatian- perhatian yang diberikan oleh Alex.  Akhirnya Alex menelfon Dea saat Dea ada dirumah dan duduk bersama diruang keluarga dengan ayah dan ibunya, terpaksa Dea mengangkatnya. "Halo sayang, lagi apa sayangnya kakak?" "Baik kak, kakak apa kabar? "Baik juga sayang, kakak kangen sama De" terdengar suaranya yang lembut ditelingaku. berusaha tetap kuat dengan perasaanku yang tak karuan.  "Kakak nda marah sama De?" "kenapa harus marah?" jawab Alex atas pertanyaan Dea yang menurut nya banyak menguji dirinya. "Aku nggak anggat telfon kakak, karena.. karena.." "karena sayangnya kakak lagi fokus ujian praktek, supaya bisa dapat juara sesuai keinginannya dan kakak nggak akan mempermasalah kan itu" "kok kakak nggak marah?" "Karena cinta itu pengertian De, karena rasa itu bahagia, bahagia atas segala senyumnya. kakak tetap memantau De dari kejauhan. Fokus de dengan pembelajaran membuat kakak cukup tersenyum" aku sangat tersentuh kali ini 'oh Tuhan semua ini pasti akan semakin mengikis keraguan ku padanya, apa kali ini aku harus mencobanya?' hampir 2 tahun hubungan ini, aku masih saja bersikap dingin padanya apalagi paska kejadian itu, sikapku saat itu kembali dingin. Namun dia berusaha membuktikan dirinya dan memberikanku kejutan - kejutan tak terduga. Mengirimkanku paket yang indah, gaun indah, ataupun hanya sekedar buket bunga dan juga cokelat.  Hari ini dia sedikit meruntuhkan tiang-tiang keegoisanku akan rasa cintaku pada Dana, cinta pertamaku. dan saat ini pula dinding yang kuciptakan antara kami seperti terkikis akan sempurnanya cinta yang dimilikinya untukku. "Maafkan aku kak, aku menjadi jahat untuk kakak" "Tidak De, kakak yang jahat sama De. De bisa menghukum kakak, kakak akan selalu meminta maaf pada Dea, sampai kapanpun" Dea tersenyum dan rasanya sangat sempurna di perlakukan seindah itu oleh Alex yang tak lain kekasihnya sendiri. "Tidurlah sayangnya kakak, have a nice dream. I love you so much and always be happy to me" "Thank you kak, I will try" "Thank you sayang" "iya kak" "bye dear" "bye" Percakapan kali ini sangat terasa dan indahnya hubungan asmara seperti menggoda jiwa. setelah selama itu menyandang status kekasih Alex baru kali ini Dea memperlihatkan senyum saat berbicara dan membicarakan Alex.  ‘Mulai malam ini aku akan berusaha membuka hatiku untuk kak Alex, aku akan mencoba membahagiakan diriku sendiri lagi pula Dana juga tampak bahagia dengan Anti lalu mengapa aku tak mau bahagia untuk diriku sendiri?’ Dea mulai perang dalam diri dan pikirannya sendiri. Meyakinkan hatinya akan Alex untuk menjadi pelabuhan hatinya adalah keputusan yang berat bagi Dea, tapi mulai hari ini dia akan mencobanya. "Pagi kak Alex, lagi apa?" Dea mencoba menepati pemikirannya bahwa dia harus memberikan kesempatan untuk hubungannya dengan Alex. Handphone langsung berdering menampilkan panggilan dari Alex "Pagi sayangnya kakak, gimana tidurnya? "Nyenyak aja kak" "Nggak mimpiin kakak kah?" Dea tersenyum "Hmmmm" "Kakak mimpiin Dea semalam, cantik banget dan senyumnya manis banget" "Ah kakak bisa aja" kekeh Dea. "Maafin kakak dengan kejadian dulu De, andai ketakutan akan kehilangan kakak saat itu bisa mengontrol diri kakak saat itu, pasti saat ini De sudah bisa menerima kakak sepenuhnya"  "Sudahlah kak, Aku maafin kakak deh tapi kakak harus janji, belajarnya serius di sana dan fokus untuk bisa sukses ya kak" "Aamiin... kakak janji, untuk selalu mencintai De" "Jangan berjanji kak, ntar kenanya alay" "Ha ha ha ha... kamu De, kok ada ya cewek nggak suka di gombal dan itu kamu Dea Amanda pacar kakak" Mereka ngakak aja tertawa lepas dalam panggilan telfon. Jarak yang berjauhan ternyata mampu membuat mereka tersenyum. Dea yang mulai menghangat dengan sikap Alex dan Alex yang memang sudah 2 tahun ini berusaha untuk menaklukkan Dea mulai tampak bahagia. Walau belum sampai dipuncak bahagia itu, tetapi setidaknya Dea sudah membuka hatinya.  Dea berjalan dengan bahagia di koridor sekolah. Sebulan lagi sekolah ini akan menjadi kenangannya dan mereka semua termasuk Dea akan menjadi alumni. melanjutkan cita-cita mereka. Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN