BAB 15 Antara Cinta dan Luka

1377 Kata
Taukah kalian dekatnya hubungan antara Cinta dan Luka? Author POV Aku semakin bahagia melewati hari-harinya karena Alex semakin memanjakannya. Namun tidak dengan Dana. Kebahagiaan Dea yang ditampilkan dalam kesehariannya justru sukses membuat Dana frustasi. Dea menghindari Dana sepenuhnya karena ingin menetapkan hatinya pada Alex dan akupun yakin jika melihat dan bertemu dengan Dana akan semakin menggoyahkan keyakinanku. Inilah yang membuatku memutuskan untuk mengakhiri perasaan ini. "Mon, aku mau bicara sebentar" Dana memanggil Moning yang saat itu menghabiskan waktunya berdua dengan Sila. Hal ini dikarenakan saat putih abu-abunya akan segera berakhir. Mereka hanya ingin punya cerita indah saat sudah menjadi Alumni. Moning melirik Sila, kekasihnya dan seolah bertanya melalui pandangan matanya. Sila mengangguk dan tersenyum. "Bicaralah Dan" Moning memulainya. "Dea kenapa Mon? dia sepertinya menghindariku" sambil menatap Moning dan menyelidik dalam pandangannya. Moning kembali menarik nafasnya dalam-dalam. "Dea baik-baik saja Dan, dia memutuskan untuk menerima Alex kembali. Karena ternyata Alex memberanikan dirinya meminta maaf langsung ke hadapan orang tua Dea" "Apa?" Terdiam sesaat dan menarik nafas kasar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, Alex datang sebelum berangkat ke Makassar dan setelah itu Alex intens menghubungi Dea. Aku senang dia sudah bisa tersenyum dan aku yakin cinta Alex akan membuatnya mencintainya dan mungkin melupakanmu" Jawab moning dengan sedikit emosi. Sila mengusap lembut punggung kekasihnya itu saat berbicara tentang sahabatnya. Sila memaklumi keadaan itu, karena Moning dan Dea adalah sahabat yang sudah saling memahami. "Jauhilah dia Dan, biarkan dia bahagia kali ini. Kau punya Anti, pergilah dari Dea. Jangan sakiti Dea dengan memberikannya harapan lalu pergi dengan meninggalkan luka" kali ini bahkan Moning berbicara dengan nafas tersengal-sengal membuat Sila semakin intens mengusap punggungnya. "Sudahlah sayang, jangan emosi" Sila meredakan amarahnya. "Dengarkan aku Mon, Anti sakit keras dan Ayahku ingin aku menjaganya karena Ibuku dan Ayahnya adalah sahabat dekat. Aku tidak tau akan seperti ini akhirnya, aku tidak mau kehilangan Dea" Moning terlihat antusias mendengarkan cerita Dana. "Saat itu semuanya diluar kendaliku" Dana mulai bercerita. "Dana, Anti adalah anak sahabat Ayah, ayah dengar dia mencintaimu. Dia sakit, Ayah dengar waktunya tak akan lama" "Tapi ayah, aku mencintai seseorang yah" "Ayah tau, ayah pernah mendengar kau memimpikannya, tapi tolong ayah. setidaknya saat dia sakit kau ada untuknya. Ayah tidak melarangmu mencintai siapapun" "Apakah harus dengan cara menjadi pacarnya ayah?. aku takut Dea tidak bisa menerima semua ini?" "Sebaiknya kau terus terang pada Dea, gadis yang kau cintai itu" "Baiklah ayah, akan aku coba" "Lalu mengapa kau tidak menceritakannya dari awal Dan? kasian Dea" Sila mencoba simpati pada Dana. "Aku tidak punya kesempatan Mon, Dea sering menghindariku sejak dulu" "Karena kau tiba -tiba menghilang tanpa penjelasan" teriak Moning "Saat aku berusaha menjelaskannya, kalian melarangku pula bertemu Dea" Dana saat ini kembali terlihat frustasi. "Mon, apakah Dea mencintai Alex juga?" "Entahlah, kau tanya saja sendiri, tuh Dea lagi di perpustakaan" tunjuk Moning pada Dana. Dana memutuskan untuk menemui Dea. Berlari di koridor sekolah dan memutuskan langsung ke ruang perpustakaan untuk menemui Dea, orang yang begitu dicintainya. Namun ketika sudah dekat dengannya, Dana terkejut, "Aku baik- baik saja di sini kak, jangan khawatir. kakak lupa? aku punya Moning, Suci dan Siti. Sahabat terbaikku. "......." "Aku akan berusaha deh kak, berusaha mencintai kakak... ha haaaa" senyumnya terlihat bahagia. 'Deg deg' kali ini Dana yang gusar mendengarkan percakapan Dea yang sangat romantis itu, ada sesak di da-danya 'Apakah kau sudah bahagia De? benarkah?' lirihnya. Dea menyadari keberadaan Dana dan memutuskan untuk menghentikan percakapannya ditelfon dengan Alex. "Kak, aku tutup dulu telfonnya" tak lama Dea segera menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku roknya. "Kamu disini?" tanya Dea. "Iya, maaf De jika aku menganggumu. Bisakah kau ikut denganku kali ini saja, please" mohonnya padaku. Kali ini seperti ada angin yang berhembus di kepalaku. Tanpa sadar aku mengangguk pasrah. Dana menarik tanganku lembut dan membawaku di taman belakang sekolah. Terdapat sebuah gudang dan tempat itu sepi, membuat Dea ketakutan. Kemudian memandang kanan dan kiri, memikirkan apa yang akan Dana lakukan padanya. "Tenang De, aku tidak akan menyakitimu. Apa kau lupa aku menyelamatkanmu malam itu?" Dea tersenyum dan merasakan ketenangan. Aku mengangguk saja dan terlihat pasrah saat Dana memegang lembut tangannya menatapnya lembut dan kemudian mencium bibirku dengan sangat lembut 'ah ini sangat lembut'. Aku membiarkan lidah itu bermain indah dibibirku, Dana menariknya dengan lebih dalam, mengisap lembut bawah bibirku sambil memelukku sehingga ciuman itu sangat terasa. Saat tubuhku bereaksi dengan membalas ciuman itu, Dana justru menghentikannya. Aku sangat kecewa, itulah Dana memberikan bahagia lalu memilih pergi sebelum aku merasakannya. Dana memilih menjauhkan pelukannya, dalam kekecewaan itu aku bersiap untuk berlari, namun Dana menarik tanganku kembali dan membawaku ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, tetaplah disini. Di pelukanku" Aku berusaha melepaskan, namun Dana menahannya. Tubuhnya yang tinggi dan postur sempurna itu membuatku tak bisa melawan dan melepaskan diri. "Dan, tolong lepaskan aku" "Kenapa?" "Kau datang dan pergi sesukamu, kenapa kau sangat jahat padaku Dan?" "Tidak De, Aku selalu mencintaimu, tak pernah pergi darimu De, tidak pernah" berusaha sadar dari mimpi pikirku, aku menepuk nepuk pipiku 'apakah aku bermimpi' "Tidak De, ini nyata dan inilah kenyataannya. Selama 3 tahun aku menutupi rasa dalam hatiku dan sekarang aku tidak sanggup lagi" dia menutupi semua kesedihannya dalam pelukannya padaku. Aku tersadar bahwa ini tidak boleh terjadi, kemudian menarik diri dan menjauhkan Dana dari ku "Kenapa" lirihnya padaku karena menyadari perubahan sikapku "Tapi Dan, Alex pacarku Dan, aku tidak boleh menghinatinya, tolong jangan seperti ini, terlalu sakit bagiku jika kau seperti ini" "Apakah kau pikir aku tidak sakit De?" tatapannya sangat menyakitkan hatiku. "Sakit De, Sakit... mengetahui kau bahagia dengan orang lain, itu semakin menyakitkanku. Bagaimana mungkin orang yang aku cintainya akan belajar mencintai orang lain padahal aku disini mencintaimu De. Di sini" Dana menunjuk pada dirinya sendiri. "Terlalu rumit bagiku Dan, kau memiliki Anti dan Aku memi.." "Alex... Kau punya Alex?, begitu maksudmu? sekarang tanyakan pada hatimu apakah Alex ada disana? atau aku? jujur De" Dana memotong kata-kataku dan menjawabku sarkas, namun kemudian melembut. “Jujur De” Dana memohon padaku, tatapannya sedih. "Kenapa baru sekarang Dan?" "Apa kau ingat kak Antara?" Dea mengangguk lemah, lalu tersadar akan pertanyaan Dana "Kenapa kak Antara?" Aku inginkan jawaban yang cepat. Aku tau bagaimana kak Antara mengancamku untuk tidak menerima Dana sebagai pacarnya atau dia akan melakukan hal-hal yang lebih menyakitkan. Kak Antara adalah pimpinan geng Liar di kompleksku.  Aku menaris nafas kasar "katakan Dan" "Anti adalah kekasihnya, tetapi sejak Anti dinyatakan mengalami gangguan pada rahim karena sebuah kecelakaan kak Antara meninggalkannya, bukan karena Antara tidak menyukainya tapi karena Anti mencintaiku dan hanya ingin aku yang menemaninya. Bahkan ayahku sendiri memintaku menjadikan dia pacarku untuk memberikan dia kebahagiaan itu" ceritanya membuatku terkejut.  "Lalu bagaimana kabar Anti sekarang?" "Anti, semenjak kecelakaan itu dia mengalami trauma. Kak Antara ingin berada disampingnya karena begitu mencintainya, tapi Anti menginginkan aku. Aku tak punya pilihan lain. Saat ini dia dirumah sakit De, menungguku. Tapi mana bisa aku membiarkanmu pergi dari hatiku. Kak Antara ingin aku membuatnya tetap hidup agar dia tetap bisa melihat senyumnya" "Kasihan kak Antara, menyakitkan" sesal Dea. "Iya, dan aku tidak punya kesempatan untuk memberikanmu cinta, hanya luka karena mengharapkan semua baik- baik saja, aku tidak menyangka jika kebersamaanku dengan Anti membuatnya bertahan hidup selama ini" sambungnya. "Karena dia mencintaimu Dan?" kali ini Dea terasa sakit di da-danya 'aku cemburu' pikirnya, wanita itu ternyata mencintai Dana begitu dalam. "Kemudian kita saling mencintai" Dana memeluk kembali tubuh mungil itu. "Aku mencoba membuat Anti mengerti, Kak Antara mencintainya tetapi setiap aku menceritakan itu Anti merasakan sakit, makanya aku memilih diam De, maaf" lirihnya Tapi sekarang Dea bingung, bagaimana dengan Alex? Tiba - tiba telfon berbunyi "Ya kak?" "..." "Aku, aku masih dibelakang sekolah kak" "...." "Iya kak, makasih kak" Dea segera berjalan untuk mencari teman-temannya, namun Dana kembali memeluknya dari samping dan berbisik. "Jagalah hatimu untukku, dengan siapapun kau menjalin hubungan jangan lupakan ada hatiku untukmu" kemudian menggandeng tangan Dea menuju kelasnya, menemui Moning dan sahabat-sahabatnya yang sedari tadi menunggunya. Teman-teman Dea memang memandang dua insan itu dengan penuh tanda tanya, tapi merekapun tidak ingin berspekulasi tentang apa yang telah terjadi. Mereka memilih diam dan kemudian tersenyum saja menyambut sahabatnya itu, kemudian mengajak mereka berbincang-bincang dengan nyaman sambil menunggu mata pelajaran selanjutnya. Mempersiapkan diri menerima pembelajaran dan menyambut guru yang akan datang dengan kesiapan masing-masing. "Aku yang baper" tiba-tiba Siti yang memecah keheningan itu.  Mereka berpandangan dan kemudian tertawa bersama-sama. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN