BAB 19 Tak ingin mendua

1108 Kata
Walau dia nyaman bersamaku, tapi dia tidak mau mendua POV Ical Setelah mengucapkan kata-kata cinta kepadanya dan membuatnya terkejut, aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku padanya, kemudian mengajaknya berjalan menuju ke depan. Aku melihat wajahnya yang sangat terkejut dan pandangannya yang menjadi tidak menentu. Aku yakin Dea tidak menduga jika aku selama ini menyimpan rasa padanya, namun harusnya dia tau bahwa perhatian-perhatian yang aku berikan padanya adalah sinyal bahwa aku merasa nyaman dengannya. Perasaanku tidak menentu saat membawanya ke depan dan memberikan pengeras suara kepadanya. Kemudian Dea mendekatkan bibirnya di telingaku seolah ingin mengatakan sesuatu. “Kak Ical kenapa tidak bertanya dulu padaku” kata itu yang kudengar dari bibirnya. Harum parfum Gucci Bloom yang digunakannya memabukkan penciumanku. Aku tau aroma parfum itu karena aku sempat mengantarkannya membeli parfum itu bersama teman-teman dekatnya. Teman Dea yang akrab selama di perkemahan Penerimaan Tamu Racana adalah pacar Dirga, ketua di dewan racana ini. Hal ini pulalah yang membuatku semakin dekat dengannya, walaupun awalnya menemani Dirga bertemu sang pacar lalu berlanjut di bumi perkemahan. Aku berusaha menenangkan hatiku dan kembali tersenyum. “Kejutan” kataku sambil merasakan hal yang tak menentu andai Dea tidak bisa menerimaku saat ini. “Kak Ical, aku sudah punya pacar kak” kembali dia menjawabnya pelan agar tidak seorangpun dapat mendengarnya selain aku. Dia berbisik di samping telingaku yang justru sukses membuat teman-temanku bersuara riuh. Aku tau Dea sangat dilema, mungkin dia memang nyaman bersamaku dan terlihat bahagia ketika aku memberikan perhatian-perhatianku padanya. Namun saat ini ia pasti melihat pandanganku yang mulai Ical melemah, aku memang sudah kecewa mendengar pernyataannya yang dikatannya di samping telingaku walaupun sangat pelan. Teriakan teman-temanku pasti menjadi beban terberat untuk Dea . “Terima … Terima…. Terima…” kata-kata sahabat-sahabat kami pasti membuatnya semakin bingung. Aku menyadari bahwa cinta tidak seharusnya membuat orang yang kita cintai berada dalam dilema. Aku tau Dea tidak ingin mendua. Pengeras suara diberikan padanya, kulihat dia ragu-ragu untuk menerimanya. Dia pasti tidak bisa menolak untuk memberikan segera jawabannya. Aku sadar aku tidak boleh egois jika memaksanya mengasihaniku. Dea adalah sosok wanita yang sederhana dimataku, dia cerdas dan juga cantik. Keaktifannya dalam kegiatan pramuka sejak penerimaan tamu racana kemudian panitia pembubaran panitia ini membuatku semakin mengaguminya. Tiada hari tanpa aku memikirkan bagaimana cara menyampaikan rasa ini padanya. Sebisa mungkin aku ada saat dia membutuhkannya. Aku selalu ada saat dia dan kelompoknya membutuhkan bimbingan senior saat dia berkemah di kegiatan Penerimaan Tamu Racana saat itu. Kutarik nafasku perlahan dan kulirik Dea di sampingku dan diapun menatapku. Tampak dia tersenyum ragu namun dia mencoba tetap tegar sebelum memberikan jawabannya. Ku hela nafas dan sambil memejamkan mataku aku berujar dalam hatiku. ‘Maafkan aku De, Aku membuatmu berada pada pilihan yang sulit. Setelah ini aku akan memperbaiki kembali situasi yang sulit ini’ aku memang mencintai Dea saat ini, namun untuk memaksanya membalas perasaanku dengan mengabaikan perasaannya, rasanya itu sangat tidak adil. “Jawab dong” kembali teriakan mereka menunggu jawabannya untukku. Aku kembali meliriknya dan melihatnya hanya terdiam, Aku memutuskan untuk mengambil pengeras suara yang satu lagi dan berkata lirih “Maafkan aku ya teman-teman semua, Dea tidak akan menja..” “Aku terima…” Duaarrrrr Aku yang terkejut karena jawaban Dea terasa aneh bagiku. Dia mengatakan punya pacar dan sekarang dia menerimaku. “Horee, wah selamat ya. Pasangan tercocok nich di dewan Racana” jawaban-jawaban itu bermunculan setelah jawaban Dea padaku di depan keramaian itu. Setelah kejadian aku membuat acara katakan cinta padanya, aku memutuskan untuk memperjelas hal yang telah terjadi dalam hubungan ini. “Kenapa?” kali ini aku memulai perbicaraan kami. Malam yang larut membuat dingin semakin menusuk tulang-tulang. Kami memilih duduk di luar tenda dan dengan pertanyaanku tadi membuat Dea bingung harus mengatakan apa sekarang padaku. Aku mengerti bahwa dia terlihat memandang di suatu arah dengan lemah. “Kenapa kau melakukan ini?” aku kembali mengulangnya. "Apa kakak tidak bahagia dengan jawabanku?" kata-katanya membuatku antara bahagia dan sedih. "Bukan itu harapanku De, kakak minta maaf karena tidak memberikan tanda-tanda terlebih dahulu. Tapi rasanya, perhatian kakak selama ini, De sudah mengerti" aku memberikan pengertian padanya. Setelah aku terima dihadapan anggota yang hadir, Kupegang tangannya dan mengucapkan terima kasih. Namun saat acara selesai, aku segera mengajaknya berbicara lebih dekat karena setelah jawabannya itu, maka pandangan orang lain pada kami akan berubah sebagai pasangan kekasih. “Maaf kak, aku tidak mungkin menolak kak Ical di depan keramaian itu” aku sekarang mengerti mengapa dia menerimaku tadi. Kupejamkan mataku sekali lagi dan kuputuskan untuk memandangi langit dengan keindahan suasana malamnya. "Seharusnya Dea menolakku" “Aku bingung tadi kak” Dea kembali memejamkan matanya, aku sempat meliriknya saat dia menjawabnya. “Maafkan kakak ya De, kakak nggak tau kalau kamu sudah punya pacar. Karena selama kegiatan dan selama kakak kenal De, tidak pernah ada laki-laki yang dekat. Sekali lagi kakak minta maaf. Terimakasih tadi membuat kakak bahagia” panjang lebar aku berusaha menjelaskannya pada Dea. “Pacarku di Makasar kak, kami hanya berhubungan melalui telfon dan berusaha saling percaya satu sama lain. Tapi hari ini, aku jahat sama dia kan kak?” Sambil tersenyum dia bertanya. Dia merasa bersalah pada kekasihnya karena telah menerimaku malam ini. Aku menjadi semakin mencintainya, tapi segera ku tepis pikiran itu. “Kau wanita yang baik De. Kakak mengerti. Kita bisa mengakhirinya malam ini juga” sambungku lagi dan setelah menatapnya aku kembali menatap langit yang di penuhi bintang. AKu takut bersitatap muka berlama-lama dengannya. Hatiku tidak akan sanggup. “Terimakasih kak, kakak mengerti situasiku. Aku hanya tidak ingin menyakiti kakak” aku memilih menatap Dea yang saat ini justru ikut memandangi langit dengan bintang yang bertaburan itu. “Kakak sudah sangat mengerti De, andai kakak bertemu De sebelum pacarmu itu” aku tersenyum dengan jawabanku yang menggodanya, aku tersenyum dan kemudian tertawa seiring dengan tawa yang ia tampilkan. “Jadi deal ya, kita putus” dia mendekatkan jarinya pada tanganku setelah mengatakan putus itu, cinta tak sampai semalam. Aku menyambut jari manisnya dan kemudia aku mencoel hidung mancungnya. Kami tertawa lebar dan tidak ada beban dipikiran kami, padahal kami baru putus. “Kisah yang lucu kan?” jawabnya lagi dan itu sukses membuatku semakin tertawa. "Satu hal yang kakak bahagia mengenalmu lebih dekat" "Apa itu kak" Dea pasti penasaran karena ia menatapku lebih dekat, kemudian hal itu sukses memancing tawa yang lebih keras. "Kamu yang tidak ingin mendua, walau kesempatan itu ada" dia mengangguk menandakan bahwa dia setuju dengan kata-kataku itu. “Hmmmm” cuma gumaman yang keluar dari mulut manisnya yang sudah dihiasi lip bam yang semakin membuatnya terlihat lebih manis dan lembut. Bagiku ini adalah kisah yang lucu dalam sebuah hubungan. Kami jadian malam ini dan tak sampai sejam kamipun sepakat untuk putus. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN