BAB 20 Terimakasih Alex

1260 Kata
Bersyukur dan berterimakasih, itulah yang harusnya aku lakukan saat ini pada Alex. POV Dea Ical merebahkan badannya di tanah miring tempat kami menghabiskan malam camping ini, teman-teman lalu lalang saja, mereka seolah memberikan kami kesempatan saling mengenal sebagai pasangan kekasih yang baru saja jadian. Tanpa mereka ketahui kejadian sebenarnya, bahwa kami sudah putus. Sebagian dari mereka menyanyi bersama, bakar ikan dan juga pisang bersama. “Apa kau mencintainya” kak Ical kembali bertanya padaku. “Hmmm apa perlu aku jawab?” tak ingin memperpanjang pembahasanku tentang kak Alex, rasanya menjadi pacarnya sudah menandakan aku mungkin mencintainya, walaupun hanya mungkin. “I see. Kamu setia banget. Padahal pacarmu juga nggak tau kalau kau selingkuh jika kamu sendiri nggak memberitahunya” sambil memandang bintang di langit, Ical menjawabku dengan santai dan senyuman khasnya. “Iya. Nggak ketahuan. Tapi perasaanku nggak enak” jawabku asal padanya. Kuperhatikan dia mengernyitkan dahinya. “Ditambahin penyedap kali supaya enak” sambil tertawa mengejek. “Makanan kali kak” sambungku. “Hmmmm. Aku ngerti” kak Ical masih terus memandangi langit malam yang semakin larut. “Kita nyanyi bareng mereka yuk” Ajakku pada Ical. Aku kemudian memutuskan untuk bergabung dengan teman-temanku yang ada di tempat yang agak jauh dari tempat kami duduk. Saat aku mencoba bangun, Ical kemudian mencoba untuk menahanku. “De” dia kemudian menarik tanganku. Kami terlibat saling pandang dan itu sangat dekat. Sempat aku takut melihat Ical yang begitu lembut menatapku. Namun kecurigaanku patah, dia kemudian melepaskan genggaman tangannya. “Jika suatu ketika kau tidak bahagia, datanglah pada kakak” tangannya berpindah di bahuku. “Hmm” Aku mengangguk saja sambil menatapnya, kali ini aku cukup berani memandangnya. “Yuk” ajakku dan kali ini aku yang menarik tangannya. “Ayolah” Dia menyambut ajakanku dan menuju teman-teman yang sedang menghabiskan malam dengan bernyanyi. “Cie ada pasangan baru, ayo gabung” Dirga menyapa kami. Ical memberikan ruang padaku untuk duduk. Malam ini terasa hangat dan aku merasa menjadi wanita yang istimewa. Dengan berakhirnya kegiatan pembubaran panitia itu, kegiatan kami berakhir. Aku memutuskan untuk kembali berkonsentrasi dengan tujuan awalku kuliah. Mendapatkan nilai terbaik dan menyelesaikan studi tepat waktu. Hubunganku dengan kak Ical baik-baik saja, dia memperlakukanku dengan sangat baik bahkan kami menjadi pasangan yang saling mendukung. Tapi bukan pasangan kekasih, pasangan dalam organisasi yang sama yang dengan tujuan memajukan organisasi itu dengan sangat baik. Kegiatan-kegiatan di Pusat Kegiatan Mahasiswa yang cukup banyak memang cukup menyita waktu, namun aku tidak mau menyepelekan kuliahku. Dalam sebuah kegiatan di Gerwana (Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba) aku mengenal banyak mahasiswa yang peduli pada pergaulan dan Obat-obatan terlarang. Aku sibuk dengan jadwal kuliahku yang padat, kak Alex masih selalu intens memberikan kabarnya padaku walaupun nggak seromantis dulu. Perubahan itu menjadi hal yang biasa bagiku karena kesibukanku menjadi mahasiswa. Nggak bisa dipungkiri pesona yang aku miliki membuat banyak cowok- cowok yang nggak segan- segan menyatakan cintanya padaku. Setelah kejadian saat kegiatan pramuka saat itu. Seperti yang terjadi saat ini. Wawan, mahasiswa jurusan pertanian yang sejak awal OSPEK memberikan perhatiannya padaku, memutuskan untuk nembak aku untuk menjadi pacarnya. “Dea, sejak awal aku tertarik dengan kamu. Kamu itu special bagiku. Boleh nggak aku jadi orang special bagimu? Mau nggak kamu jadi pacarku?” Aku sangat terkejut dengan pengakuannya, walaupun sikap manisnya itu sudah aku ketahui sejak awal tapi aku memilih cuek saja. “Wan, kita berteman dan seperjuangan. Aku nggak mau persahabatan kita jadi tercemar karena perasaan kamu. Lagian aku dah punya pacar” jawabku. “Oh ya?, kamu nggak pernah cerita kamu punya pacar. Nggak pernah tau juga kamu telfonan sama pacarmu? Jangan-jangan Cuma karena pengen nolak, kamu bilang punya pacar?” Wawan seolah tidak terima dengan jawabanku. “Benar Wan, aku punya pacar. Sekarang dia di Makasar” terangku. Namun tidak memandang Wawan sedikitpun. Aku memilih melihat sekeliling asrama tempat ini. “Oh, pacarnya kan jauh, nggak apa dong aku jadi yang kedua” sambil melirikku dan tertawa lebar sekali lagi “ha ha ha, okelah De, aku terima keputusanmu. Jika kamu memilih setia dengan pacarmu itu” Wawan sepertinya tidak percaya begitu saja padaku. “Kita tetap bisa temenan kan?” aku memohon, karena aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara kami apalagi aku di Gorontalo ini tidak memiliki keluarga maka aku sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Aku tidak ingin menyakiti siapapun karena hal ini akan mempersulitku dikemudian hari dan ini adalah pesan dari Ayah dan Ibuku untuk tidak menyakiti siapapun maka harus mengkomunikasikannya dengan baik. “Atau jangan-jangan karena Ical? Aku mendengar kalian berpacaran” sambungnya lagi. “Wan, kita sudah berteman lama disini, jangan sampai semua ini membuat kita jauh satu sama lain. Aku nggak mau cari musuh” Jawabku dengan cepat. Nafasku juga lebih cepat. Di gedung PKM ini ada beberapa ruangan untuk Unit Kegiatan Mahasiswa seperti Pramuka, Gerwana, Karate, Keagamaan, Bulu Tangkis, Mapala dan juga kegiatan lainnya. Aku mencoba memberikan pengertian pada Wawan tentang kondisiku agar dia tidak memaksakan kehendaknya. Namun semakin lama aku perhatikan dia semakin memaksa, menarik pergelangan tanganku dengan sedikit kasar. “Siapa nama pacarmu jika memang itu alasanmu menolakku?” Wawan mendekatiku dengan pandangan menakutkan. Di luar ruangan Gerwana dia mengajakku bercerita dan menyatakan cintanya padaku. Dalam ketidakmampuanku untuk menjelaskan pada Wawan aku melihat kak Ical masuk ke dalam ruangan Pramuka yang tempatnya agak berjauhan. Kak Ical memang sering berada di ruangan itu karena dia adalah pengurus Dewan Racana yang aktif. “Kak Ical, tolong aku. Ada yang nembak aku nich, aku pengen dia tau kalau aku sudah punya pacar. please” aku mengirimkan pesan singkat kepada kak Ical, dia mungkin bisa membantuku. “Dea dimana sekarang?” balasnya. Aku melihatnya dari kejauhan mengetik pesan di ponselnya. “Diruangan Gerwana. Bantu aku, tapi dengan cara yang baik ya kak. Kakak tau Dea” balasku kemudian. Dia menoleh ke arah kami dan memperhatikan aku yang duduk di depan ruangan Gerwana. Dia tersenyum dari kejauhan dan dengan memberikan kode oke di tangannya. Setengah berlari dia mendekatiku dan berteriak padaku. “Hai Dea. Apa kabar?” setelah mendekatiku dan memilih duduk di antara kami. Aku tersenyum melihat tingkahnya. “Kamu siapa?” kak Ical mengarahkan pandangannya pada Wawan. “Kenalkan, aku Wawan, temannya Dea” mereka berjabat tangan dan tersenyum. “Hmmmm, pasti temannya lah. Aku aja ditolak sama si cewek cantik ini” kak Ical kembali mencoel hidungku. Kebiasaan yang dilakukan Ical padaku jika bertemu. “Kak?” mataku melotot ke arah Ical. “Ya, aku tau kamu sudah punya pacar. Namanya Alex. Puas kan?” kak Ical tersenyum dan menggodaku. Dia sangat bersahabat denganku dan memperlakukan aku dengan baik. “Ya sudah, aku mau pergi. Oh ya, siapa dulu namamu?” “Wa Wawan “ Jawabnya takut-takut. “Dia sudah punya pacar, jadi nggak bakalan diterima. Kalaupun masih jomblo, pasti aku orang pertama yang nembak dia di Kampus Merah Maroon ini” Kemudian berlalu pergi dengan melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang. Setelah Ical menjauh, aku melihat wawan dan ternyata sudah menatapku sejak tadi. “So?” Wawan memulainya. “Kita masih bisa berteman kan?” tanyaku. “Ya, tentu De, kita kan menjadi sahabat. Aku kira cuma alasan menolakku kamu bilang sudah punya pacar” jawabnya lagi dan aku sangat puas dengan jawabannya. Untuk pertama kalinya aku berterima kasih atas hubunganku dengan Alex yang hari ini mampu menyelamatkan aku. ‘Terimakasih kak Alex’ lirihku dalam hati. Aku bisa fokus kuliah di Gorontalo dan berteman dengan siapapun karena statusku yang sudah memiliki pacar. Nggak harus nolak siapapun dan nggak menyakiti siapapun. Tapi jangan tanya hatiku, hatiku masih untuk seseorang yang berusaha kulupakan tapi tetap tak bisa, namanya terlalu indah untuk dihapuskan. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN