BAB 21 Pertemuan

1288 Kata
Apa reaksi yang harus kita tunjukkan jika kita bertemu lagi dengan orang yang pernah pergi? POV Dea Setelah 6 bulan berlalu, akhirnya liburan semester telah tiba dan aku memutuskan pulang kerumah orang tuaku. Malam itu aku menuju pelabuhan Feri Gorontalo menuju pelabuhan Pagimana di Sulawesi Tengah. Aku diantar oleh kak Ical dan teman-teman seasramaku ke Pelabuhan. Hubunganku dengan Ical dan teman-temanku sangat baik. Bunyi ciri khas kapal akan segera berangkat, aku melambaikan tanganku pada teman-temanku, aku bahagia memiliki mereka. Perjalanan semalam sebelum sampai di pelabuhan Pagimana memang sangat melelahkan. Apalagi aku pemabuk laut, maka waktuku semalaman hanya untuk tidur. Ku lirik saja benda pipih yang ku simpan di kantong slig bag berwana cream milikku yang sejak tadi berbunyi. 12 panggilan dari Alex namun tidak kujawab, kepalaku pusing. Aku mabuk berat, aku memilih mendengarkan saja benda itu berbunyi dan berbunyi lagi. Pagi datang, mabukku sudah mulai mereda karena aku memutuskan meminum obat anti mabuk sehingga aku tertidur semalaman. Kuraih ponselku, banyak panggilan dari Alex dan ada notifikasi pesan disana. ‘Dea sayang, jangan lupa makan dan minum anti mabuk ya. Kabari kakak secepatnya’ pesan singkat dari Alex. Aku menghela nafas, dia sangat baik padaku tapi perasaanku masing biasa saja. Rasanya aku jadi bad girl untuk Alex, pacar yang sudah 2 tahun bersamaku. Setelah 2 hari berada di kampung halamanku, di Toili perasaanku kembali gundah karena mengingat kata-kata adikku yang pernah melihat Dana di rumah Omnya yang berada dekat dengan rumahku. Aku memang sangat menikmati waktu liburanku di kampung halamanku hal ini karena salah satunya orang tuaku yang yang sangat antusias mendengar pengalaman-pengalamanku selama beberapa bulan di Gorontalo. Ternyata benar yang disampaikan oleh adikku kemarin malam sebelum tidur, secara bersamaan Dana juga pulang kampung dan setelah hampir seminggu pulang kampung, Dana hari ini mendatangi rumah Pamannya yang berada di dekat rumahku. Kami bertemu secara kebetulan saat Dana akan menyelesaikan sebuah administrasi yang kata Dana berhubungan dengan studinya. Aku nggak pernah mau tau apa yang di urusnya, bagiku itu bukan urusanku. Saat bertemu di persimpangan jalan itu, dia terkejut karena melihatku. “Hai De, kamu pulang kampung juga?, emangnya liburan?” Dana menarik tanganku untuk dekat dengannya. Harum maskulin ditubuhnya kali ini membuatku kembali terlena. Aku memejamkan mata karena aroma itu memang memabukkan. “Hai, kamu kenapa?” Dana kembali mengagetkanku dan memukul pundakku. Aku terkejut dan kembali tersadar. “Eh, Iya Dan, libur semester” jawabku singkat. Aku berjalan terus menuju rumahku dan tak aku sangka, Dana mengikutiku sampai ke rumah. Ini adalah pertama kalinya Dana menginjakkan kakinya di rumahku. Sejak berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) Dana tidak pernah masuk ke rumahku, hanya sampai di jalan depan rumah dan itupun beramai-ramai dengan teman seangkatan. Namun sekarang dia datang sendiri ke rumahku dan duduk dengan nyaman di ruang tamu rumahku. Dia nampak santai dan tidak ada kaku ketika ibuku datang. Bahkan dia menyambut ibuku dengan mencium punggung tangan ibuku. Ibuku tersenyum dan mempersilahkan kami duduk. Memberikan kesempatan untuk bercerita di ruang tamu yang ada di bagian depan rumah, mungkin karena aku sudah mahasiswa Ibuku lebih longgar memberikan aku kesempatan bercerita dengan teman yang berlawanan jenis. “Kamu kuliah dimana De?” Dana memulai memecah bengongku dan rasa kaget juga rinduku pada Dana. Kekasih hatiku ‘hah… ngelamun kamu Dea, dia cuma cinta rahasia dalam hatimu’ aku mikir sendiri. “Gorontalo Dan, kamu?” cercahku. “Aku cuma kursus doang di Palu” sambil tersenyum dan ketika aku ingin bertanya kursus apa yang di ambil Dana, dia tidak mau lanjut membahas masalah kuliah ataupun kursus. Dana memilih fokus untuk bercerita masalah teman-teman SMA yang sudah memilih jalan yang berbeda-beda. Kami bercerita dan tertawa sendiri, kali ini Dana lebih lembut padaku. Cara berbicaranya seolah-olah aku adalah pacarnya. Mengacak rambutku dan kembali mengingatkanku akan rambut panjangku ini. “Nggak dipotong, berarti masih ada aku kan?” liriknya dengan sedikit menggoda dan aku menggeleng saja karena dia tau jawabannya. “Dea, aku pergi untuk memantaskan diriku untukmu, tapi aku akan datang padamu jika saat itu tiba dan aku layak untukmu. Aku janji untuk kamu De” Dia menegaskan kembali sebelum mengakhiri pembicaraan panjang lebar kami. “Hmmmm.. “Aku mengangguk saja, berusaha mencerna kata-kata indahnya itu padaku, membingungkan, menyenangkan namun juga memabukkan. “Oh ya, foto waktu pelulusan itu? Aku sudah mencetaknya, nih untuk kamu dan satu untuk aku?” Dana menyerahkan foto untukku dan menyimpannya satu di dompetnya. Foto saat kami merayakan kelulusan disebuah tempat wisata itu dicetak dengan sangat indah. Kepala kami bersentuhan dan foto itu terlihat lebih natural, tidak dibuat-buat. Senyum Dana dan aku terpancar indah dalam foto itu. “Tolong di simpan di tempat yang bisa kau lihat, seperti aku” sambil memperlihatkan foto kami di dompetnya yang terlihat ketika akan membuka dompet. “Iya Dan, aku coba. Soalnya pacarku nanti marah” terangku lagi. “Disembunyiin kalau ada Alex” bisiknya. Kami tertawa dengan lepas dan hal ini membuat kami merasakan nyaman itu kembali ada. Dana masih sama seperti dulu, tampan dan bahkan lebih tampan dari beberapa bulan yang lalu. Kepergiannya ke Ibu Kota Sulawesi Tengah, Palu membuatnya terlihat lebih dewasa dan itu membuatku kembali tersenyum sendiri. Menatapnya dengan pandangan rindu yang mendalam dan ini membuat bahagia. “Kapan berangkat ke Gorontalo lagi?” Tanyanya lagi. “Sabtu depan Dan, kamu?” sambil ku lirik dia dan kali ini aku memberanikan diri melihatnya dengan pandangan mata yang tenang. “Besok De, doakan aku ya” sambil terus memandangku dengan intens dan jangan tanyakan bagaimana bapernya hatiku dipandang oleh orang yang kucintai. Aku selalu tersadar ketika mengingat bahwa dia pacar orang dan aku juga sudah punya pacar. “Kok minta doanya ke aku? Ke Anti tuch. Dia pacarmu kan?” sambil tersenyum padanya. “Hmmmm, nggak mau ngedoain aku nich ceritanya” godanya padaku. “Oke right. Semoga berhasil” Jawabku cepat. Dana mencondongkan badannya padaku, mendekatkan keningnya di keningku. Secepat itu pula aku mundur dan mendorong perlahan tubuhnya. “Kenapa?” Dana nampak kaget. “Nggak Dan, aku nggak biasa” sahutku. “Dibiasakan” katanya lagi. “Kamu tuch biasa cium Anti” Jawabku enteng. “Bikin kesimpulan sendiri” sambil kembali mencoel hidungku. Kebersamaan ini sudah mulai mencair dan tidak lagi kaku. Aku menenangkan hatiku bahwa aku dan Dana hanyalah teman biasa saat ini, tidak boleh lagi ada perasaan lebih. Ibu mengantarkan minuman dan kue untuk kami berdua dan jangan tanya keponya adikku melihat kami yang asyik bercerita dan tertawa bersama. Adikku memutar sebuah lagu romantis dan terdengar lirik lagu indah itu yang membuat kami ikut bernyanyi dengan adikku yang kini memilih duduk di antara kami, antara Dana dan aku. Lagu itu mengingatkan jatuh bangunnya kami mempertahankan rasa dalam diri ini selama masih SMA, yang akhirnya juga kami memilih pacaran dengan orang lain. ‘Dalam hatiku bertanya mengapa dalam sekejap duniaku menjadi berwarna. Semua ini karena kau yang mengubah segalanya dan dalam hatiku bertanya' Sebuah hayalan dalam benakku. 'Aku berfikir mengapa dirimu tak bisa menghilang dari pikiranku dan mengapa hatiku selalu saja mengarah kepadamu dan sekali lagi memang hanya kamu' Sebuah lagu teriring indah namun hayalanku bergelayut sendirian. Aku melihat adikku menyanyikan sebuah lagu dengan penghayatan yang luar biasa sambil melirik ke arahku. Kemudian Dana mengikutinya dengan pelan. ** Diriku bertanya pada bintang- bintanng Apakah dia jawabnya Dan saat ini saatnya akan ku nyatakan Segala isi hatiku kepada dirinya. Dana dan adikku kali ini sangat kompak. Akhir lirik lagu ini membuatku merasa lucu karena antara kami tak ada hubungan apa- apa, hanya perasaan cinta yang tak terikat. Kami saling mencintai, namun tak bisa ada ikatan antara kami. Sebelum kami siap untuk memperjuangkannya. Pertemuan tak terduga antara aku dan Dana menjadi sebuah jawaban dalam hatiku bahwa hatiku ternyata masih sangat menginginkannya dan Dana dengan harapan yang masih sama, berjuang untuk menjadi pantas bagiku dan dirinya sendiri. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN