Masih menginginkannya setelah sekian lama
POV Dea
Adikku memang tak sengaja memutar lagu yang liriknya sangat menyentuh bagiku dan juga Dana.
Aku tau bahwa kami saling mencintai, namun tak bisa ada ikatan antara kami. Namun kamipun tak siap untuk memperjuangkannya.
Pertemuan tak terduga yang terjadi antara aku dan Dana memang sangat membuatku merasa getir, aku masih dengan hati yang sama, menginginkannya.
Beberapa jam berdua dengan Dana di rumahku adalah kedatangan Dana dan kebersamaan yang pertama kali terjadi antara aku dan Dana yang tentunya di rumahku. Sejak 3 tahun berada dalam satu sekolah yang sama, tidak pernah kami sedekat ini. Hanya sekali-kali kami bertemu di sekolah, bercerita di taman yang hanya 5 menit sebelum banyak pengganggu datang. Aku pernah mengingat di ganggu dengan kedatangan kak Antara, kakakku Putra dan juga kak Puja. Semuanya menggagalkan kebersamaanku dengan Dana.
Namun kali ini waktu kebersamaan kami hampir berjam-jam hingga hampir mendekati waktu magrib.
Pukul 17.15. Dana melirik jamnya dan melirik jam dinding milikku yang terpajang di dinding rumahku.
“Sudah sore Dan” karena melihatnya melirik jam, aku berfokus pada waktu yang sudah sore. Ibuku juga menghampiriku dan mengatakan bahwa sudah waktunya untuk mempersiapkan makan malam keluarga. Aku memang terbiasa membantu ibu disaat waktu sore untuk menyiapkan malam malam keluarga.
“Aku belum sholat ashar De” dia terlihat gelisah.
“Hmmm, I see. Kamu nggak akan keburu kalau mau sholat di rumah. Kejauhan” sambungku.
“Maka dari itu, Dea Amanda. Aku takut keburu magrib, aku sholat di sini ya”
Aku menyampaikan niat Dana pada ibu, kemudian ibu menyiapkan kebutuhan Dana untuk sholat di ruangan yang biasa menjadi tempat kami sekeluarga menunaikan kewajiban kami.
“Kamu sudah sholat? soalnya aku nggak lihat kamu sholat dari tadi. Kita kan cerita di sini terus dari tadi” dia begitu lembut berbicara padaku.
“Hmmm, aku lagi PMS Dan” sahutku malu-malu.
Dana mengerti dan menganggukkan kepalanya, Ibu mengarahkannya.
Aku melihat Dana mengambil wudhu dan kemudian melaksanakannya kewajibannya sebagai muslim sebelum ketinggalan waktu shalatnya. Hatiku terasa bahagia membayangkan bahwa Dana adalah laki-laki baik, tampan dan juga taat beribadah. Aku jadi menghayal akan di imami lelaki seperti dia.
Beberapa menit berlalu kemudian Dana meminta ijinnya untuk pulang. Dana juga menyampaikan pada Ibuku bahwa dia akan berangkat ke Palu untuk melanjutkan studi. Dia juga tidak menjelaskan dia kuliah atau melanjutkan apa. Aku dan ibu juga tidak bertanya lagi.
"Itu si Dana pacar kamu atau teman kamu?" ibuku memecah keheningan kami memasak di dapur.
"Teman bu, ibu kan tau kallau pacarku itu si Alex. Ibu dan ayah juga setuju sekali" jawabaku enteng.
"Hmmmmm.... Ibu tau pacar kamu Alex. Tapi ibu lihat si Dana itu juga suka sama kamu, persis seperti kamu juga"
"Maksud ibu?" aku bingung dengan pernyataan ibu.
"Ibu tau, kalian saling suka kan? kelihatan dari cara kalian bicara" Aku menghela nafas kasar, kemudian memejamkan mataku sekilas. Aku memandang ibuku yang masih sibuk memasak yang sedikit lagi selesai.
"Dea, Alex pria yang baik dan ibu juga melihat Dana laki-laki yang baik. Kamu harus bijak menyikapi hati kamu supaya nggak nyesel" nasehat ibu seakan menusukku.
"Maaf bu"
"Hmmmm, sudah selesai. Ayo kita siap-siap untuk shalat berjamaah. Panggil ayah dan adikmu, dikit lagi magrib" aku mengangguk dan mengajak adikku mandi dan bersiap-siap untuk shalat.
Kami melaksanakan kewajiban ini sejak dahulu, namun karena aku dan kakakku sudah kuliah dan bekerja di tempat yang jauh dengan Ibu dan Ayah, maka ketika kami pulang hal yang paling kami rindukan adalah berkumpul termasuk saat shalat berjamaah.
Aku bahagia terlahir dari keluarga yang taat dan disiplin. Ayahku yang merupakan mantan honorer guru itu sangat disiplin dengan aturan pada kami terutama masalah agama. Tapi kalau masalah pendamping hidup dan cita-cita, ayah dan ibu sangat bijaksana dan menyerahkan semuanya pada kami anak-anaknya.
Malam ini aku masih membayangkan Dana, kehadirannya hari ini membuatku sangat menginginkannya, padahal aku tau dia masih dengan pacarnya Anti dan aku masih berstatus pacaran dengan Alex.
Saat mataku hendak terpejam tiba-tiba dering telfon berbunyi.
kring kring kring
Aku mengambil benda pipihku itu dan melihat di layar telfon ternyata kak Alex menelfonku.
"Halo kak" sapaku.
"De lagi apa? sudah makan malam?" basa basinya kepadaku melalui sambungan telfon itu.
Aku bedehem dan kemudian berpura-pura menguap.
"Huaaaahem"
"Hmmmm, kebiasaan kalau mau nutup telfon, pasti pura-pura ngantuk"
Aku langsung tertawa lebar, kak Alex memang selalu tau taktikku tapi dia tidak pernah marah padaku. Entah dia benar-benar penyabar atau hanya karena tidak mau terlihat jahat di mataku.
"Andai deket, udah kakak coel hidung mancungmu" sambungnya lagi.
"Jangan kak, sakit" aku menambahkan.
"Kamu memang selalu bikin kakak gemes"
"Terus kakak nggak marah" jawabku lagi.
Seperti malam-malam sebelumnya, aku sering ditelfon sebelum tidur oleh kak Alex.
"udah ah, aku mau tidur" Aku benar-benar mau tidur.
"Ya udah, met bobo sayangku"
"Bye kak" Aku tidak menjawab ucapan sayangnya seperti sebelumnya karena aku tidak mau Alex semakin cinta padaku.
Saat mataku sudah hampir terpejam, Telfonku kembali berdering dan dengan kesal aku meletakkannya disamping telingaku tanpa menoleh siapa yang menghubungiku.
"Apa lagi sih kak? Aku ngantuk" jawabku kasar.
"Kasar amat sih, untung pacarnya nggak galak" suara itu, aku terkejut dan kemudian melihat ke arah layar HPku. Ternyata Dana.
"Hmmmm, aku biasa galak sama dia kok" jawabku asal.
"Hmm" diapun bergumam.
"Aku tau, kamu galak sama dia, sama aku tidak"
"Apaan sih, ya udah aku juga galak, aku tutup telpon karena mau tidur"
"Ech jangan dong De, kok galak sih. Emang gitu kali kalau lagi PMS bawaannya pengen marah-marah ya" Dana seolah mengingat kata-kataku tadi sore bahwa aku lagi PMS.
Aku diam saja dan tidak berniat untuk menanggapinya.
"Met tidur yang De, mohon doanya untuk keberhasilanku" Dana masih berbicara ditelfon.
"Iya, semoga berhasil ya Dan. Kita saling mendoakan, aku juga minta doamu untukku"
"Pasti dong. Have a nice dream ya" setelah berbicara cukup lama akupun mengakhiri percakapanku dengan Dana. Kemudian berdoa sebelum tidur. Menarik selimut berwarna cream itu, aku berharap bermimpi indah malam ini.
Kring kring
Suara alarmku sangat keras, mengajakku bangun untuk segera menuaikan kewajibanku subuh ini.
Setelah shalat aku mencoba memeriksa notifikasi di HPku ada sebuah pesan.
'De, aku berangkat subuh ke Palu hari ini. Nich dah di mobil, mohon Doanya. Ingat kamu juga harus jaga kesehatan dan belajar dengan baik. Bergaul dengan orang yang tepat dan mengisi hari-hari di Gorontalio dengan kegiatan positif, Dana'
Aku tersenyum dan kemudian membalas pesan untuknya.
'Terimakasih Dan, kamu juga harus semangat demi cita-citamu. Semoga tiba dengan selamat. Segera sukses ya, Dea'
Kemudian aku letakkan benda pipih itu kembali di kamarku dan mengisi dayanya karena semalaman sudah tinggal beberapa persen saja. Akupun menikmati hari-hariku di kampung halaman sebelum kembali lagi ke Kota Gorontalo.
Bersambung…