BAB 23 Memberi kabar

1053 Kata
Aku memutuskan memberi kabar lagi, ketika aku akan segera menepati janjiku untuk memperjuangkannya setelah sukses kuraih. POV Dana Rasanya aku sangat beruntung, karena ketika memutuskan untuk pulang kampung aku bertemu dengan Dea, pujaan hatiku. Aku pulang kampung sendirian karena ada beberapa berkas yang harus aku urus untuk melanjutkan cita-citaku. Baik Anti maupun Dea nggak pernah aku beritahu tentang cita-citaku setelah sekolah. Perjalanan berjam-jam menggunakan mobil angkutan membuatku lelah dan aku segera tidur. Saat ini aku sudah sampai di Kota Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, dan keesokan harinya aku segera mengurus administrasi pendaftaranku di Akademi Kepolisian (AKPOL). Aku memang sangat ingin menjadi seorang Polisi walaupun keinginan itu tak pernah aku sampaikan pada siapapun termasuk pada Dea, orang yang aku cintai oleh hatiku dan juga Anti walaupun Anti orang yang sudah menjadi pacarku beberapa tahun ini. Badanku yang tegap dengan tinggi yang proporsial dan juga sesuai berat badanku membuatku lebih percaya diri dan mudah melewati tahap demi tahap seleksi.  Dengan semangatku yang tinggi dan tekad yang bulat, aku menyelesaikan tes demi tes dengan sangat baik. Waktupun berlalu dan kami masing- masing fokus pada tujuan, kuliah untuk Anti dan Dea yang menjadi mahasiswa dan mengikuti pendidikan untuk menjadi yang terbaik bagi Alex dan juga aku.  "Halo, apa ini benar Dea?" setelah sibuk selama beberapa bulan mengurus pendaftaranku di Akademi Kepolisian, aku memutuskan untuk menghubungi Dea, namun nomornya tak aktif. Melalui sahabatku Ayu yang juga kuliah disana aku mendapatkan nomor Handphonenya. "Ya Halo, Ini aku Darti teman sekamarnya Dea. Ini siapa ya?" "Aku Dana, dari Palu" jawabku jujur. "Oh, Dana? kok nelfon Dea? ada perlu ya? tanyanya lagi. "Apa titip pesan aja Dan? Dea lagi beli kado katanya untuk pacarnya trus HP nya ketinggalan di kamar, soalnya dia buru-buru" sambung Ayu. Hatiku berdenyut nyeri mendengar kata-kata Ayu padaku. Aku mengurungkan niatku untuk menitip pesan. "Nggak usah ah, sampaikan saja pesanku bahwa aku menelfon ya" hanya itu yang aku titipkan padanya. Setiap minggu aku menyempatkan menelfon, namun selalu temannya yang mengangkat telfon itu. Kalau bukan Ayu, Darti, Wati atau bahkan pernah namanya Ira. Aku menjadi bingung apakah memang Dea tidak ingin bicara denganku. Jika aku hitung-hitung sudah sekitar 7 kali aku menghubungi Dea dan tidak pernah berbicara langsung dengannya. Aku memutuskan untuk fokus dalam pendidikanku, jika tiba waktunya pelantikan aku akan menghubunginya lagi. Aku fokus kembali dengan kegiatanku karena aku ingin sekali berhasil. Berbeda dengan Alex, sebagai senior saat masih di bangku sekolah maka tak heran jika Alex sudah terlebih dahulu berhasil dan saat ini sudah lulus dan menjadi siswa di sekolah perwira Polisi di kesatuan Polda Sulawesi Selatan. Keberhasilan yang sudah di raih oleh Alex juga tak terlepas dari keinginannya untuk membahagiakan Dea, pacarnya. Alex tidak peduli jika saat ini Dea belum bisa mencintainya, dia sudah berjanji pada hatinya untuk memberikan bahagia hanya pada Dea. Itulah yang aku ingat dari beberapa perkataan-perkataan Alex melalui postingannya di media sosial. Alex sering mengunggah foto Dea yang sedang sibuk dengan aktivitasnya di kampus atau juga fotonya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, masa-masa pendidikan yang sangat menguras tenaga dan juga pikiran untukku akan segera telah berlalu. Kini saat-saat pelantikan akan segera tiba, aku tersenyum penuh kemenangan pada diriku sendiri akan keberhasilan ini. “Terimakasih ya Allah” dalam sujud syukurku karena aku telah dinyatakan lulus dan akan segera dilantik. Dalam kebahagiaan itu setelah aku menghubungi orang tuaku atas rencana pelantikan itu, aku segera menghubungi Dea, orang yang telah kujanjikan untuk segera kuhubungi atas keberhasilanku.  Aku dan Dea memang tidak saling memberi kabar beberapa tahun lamanya sejak terakhir kami bertemu, di kampung halamanku dan lebih tepatnya di rumah Dea. Kemudian ketika beberapa menelfon dan tak pernah berbicara dengannya maka hari ini aku memutuskan untuk memberi kabar padanya. ‘0852….. memanggil’ aku sengaja menelfon menggunakan nomor baru agar menjadi kejutan bagi Dea. “Halo De, aku mau kasi kabar gembi..” belum selesai aku berbicara, yang kudapati adalah suara pria di ponsel Dea. Aku memilih menghentikan kata-kataku. “Halo, Dea lagi mandi bisa nelfon sebentar lagi ya” aku tersentak karena sejak SMA yang aku tau tidak pernah Dea memberikan privasinya seperti Handphone untuk diterima oleh orang lain. “Maaf ini siapa ya?” tanya Alex lagi, mungkin dia bingung dan terasa nyeri di dad@ku, ada ketakutan bila Dea tidak lagi menungguku atau bahkan Dea justru telah bersama pria lain lagi. Karena selama ini mereka memang tidak bertukar kabar, hanya kepercayaan hati yang aku berikan pada Dea. Aku berharap harapan itu juga digantungkan Dea untukku. “Alex, pacarnya Dea. Kamu siapa ya?” Sakit itu kembali terasa, kali ini lebih dalam lagi. Aku harusnya sadar, Dea masih memiliki Alex dan tentunya aku memilih tidak membuka identitasku. “Aku temannya, Dea. Maaf ya” Aku memilih kata teman untuk menjawabnya. “Ada pesan untuk Dea?, nanti aku sampaikan” Alex masih dengan mode tanyanya untukku, sebagai sesama polisi aku takut mode tanyanya justru memancingku untuk membuka identitasku. “Ah nggak ada, cuma masalah tugas kampus. Terimakasih” Dana memilih berpura-pura menjadi teman kuliahnya.  “Untung saja, aku menelfon menggunakan nomor baru” gumamku setelah menutup panggilan telfon itu. “Oh iya” Telfon ditutup dan aku tiba- tiba merasakan sesak di d**a, ada genangan air mata yang masih kutahan, rasanya sangat sesak di da-da mengingat hari ini adalah hari dimana aku akan memberanikan diriku kembali mengungkapkan rasa dihatiku untuk Dea pada Anti dan juga Alex.  “Tapi kenapa Alex ada di asrama Dea, bukankah Alex di Makasar? tiba-tiba kembali pikiranku bertanya-tanya. ‘Aku akan menelfonmu lagi nanti De’ gumamku lagi sambil meletakkan asal telfonku di samping meja tempat tidurku. Aku memilih memejamkan mataku, berusaha tetap percaya pada Deaku itu. Hingga larut malam aku belum bisa memejamkan mataku, walau aku sudah berdoa agar bisa tidur dan bila memungkinkan aku mengharap mimpi untuk bertemu Dea. Aku memutuskan untuk berselancar di dunia maya, melihat postingan sss yang sudah seminggu ini aku abaikan. Tiba-tiba aku melihat postingan Anti yang terlihat sangat bahagia dengan aktivitas kuliahnya. Aku scroll terus beberapa postingan Anti hingga aku melihat sebuah postingan seorang pria yang membelakangi kamera dengan Caption "Kesalahanku adalah mengabaikanmu dan mengharapkan yang tak pernah memperdulikanku". Seketika aku terkejut dan memperhatikan kembali gambar pria tersebut namun aku tidak bisa mengenalinya. Hingga kemudian aku dikejutkan dengan bunyi alarm di atas meja kamarku. Kulirik jam weakerku, ternyata sudah jam 7 pagi. "Ah, sudah siang" gumamku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN