Aku tidak tau harus terluka ataukah memberi luka.
POV Anti
Sementara itu di sebuah sudut lain di Kota Palu, Aku juga sedang melanjutkan studiku di sebuah universitas ternama di kota Palu. Selama aku dan Dana melanjutkan studi masing-masing, kami memang tidak saling bertukar kabar secara intens. Aku justru semakin intens bersama-sama dengan Antara yang dulu pernah kuabaikan, hal ini karena aku dan dia berada di kampus yang sama dan dia seniorku di jurusan yang sama. Kemudian kebersamaan ini terjadi hampir setiap hari.
Sekarang Antara sudah bekerja menjadi seorang Manager di sebuah perusahaan minyak di Palu. Antara tak pernah menjauh dariku, ia ingin membuktikan rasa cintanya padaku. Hal ini berhasil membuat hatiku secara perlahan mulai berpaling. Beberapa tahun semasa kuliah kuhabiskan bersama dengan Antara yang merupakan kakak tingkatku itu di kampus dan kini setelah kak Antara diwisuda 2 tahun yang lalu, aku justru bertemu lagi dengannya karena aku yang mendapatkan tempat magang di kamtor tempat Antara bekerja.
Karena jarangnya komunikasi diantara Aku dan Dana yang sedang fokus pada pendidikannya itu, membuat Aku memang mulai merasa kesepian dan aku mengusir rasa sepi itu dengan adanya kehadiran Antara. Cinta yang tulus yang dimiliki Antara telah mampu membuatnya bersabar menghadapi tingkahku selama bertahun- tahun dan ditahun menjelang akhir masa studiku inilah, aku mulai merasakan kehadiran kak Antara sangat berarti.
Disebuah tempat favorit kami seperti biasa selama beberapa tahun kebersamaan ini, taman kampus yang indah Antara menjemputku yang sudah menyelesaikan ujian Skripsi.
“Kok baru kerasa, kamu orangnya asyik dan menyenangkan” saat aku bersama, aku memberanikan diri mulai pembicaraan yang sering dimulai oleh Antara.
“Andai kamu tau, aku mencintaimu An, sejak lama. Tapi kamu malah ngeliat si Dana. Padahal jelas- jelas si Dana mencintai Dea” kali ini wajah Antara tampak sedih dan seketika itu Aku langsung saja refleks membungkam bibir Antara dengan bibir mungilku. Akupun sebenarnya kaget dengan sikapku. Aku bahkan melumatnya tanpa ampun hingga membuat Antara bingung.
“Apakah ini mimpi?” Antara sambil memukul-mukul pipinya. Biasanya Antara yang agresif padaku dan hari ini Aku yang bahkan berani menciumnya terlebih dahulu.
“Nggak, ini nyata. Memangnya aku setan? Nyata nich didepanmu” aku kesal karena antara seolah-olah santai dan terus saja tersenyum tipis untuk menggodaku.
“Ha ha ha..” kami tertawa dengan sangat keras. Mungkin Antara kini mulai menyadari usahanya sejak dulu akan berhasil saat ini dan ia langsung memeluk erat aku dan kemudian berjalan menuju mobilnya dengan memegang pergelangan tanganku. Antara mengiringi langkah kecilku dengan langkahnya yang panjang, namun tetap beriringan karena dia memperlambat langkahnya dengan sikap elegannya. Dengan senyum merekah kuperhatikan dia membukakan pintu mobil HRV hitam terbaru itu untukku, tentu saja aku sangat terharu.
Kebiasaan mengantar dan menjemputku memang sudah hampir setahun ini telah dilakukan Antara. Kebersamaan ini justru mendapat sambutan yang baik dari tanteku, tempat aku tinggal selama kuliah di Palu. Sejak mendapat lampu hijau, menjadikan kami lebih nyaman menjalani semuanya bersama, walaupun Antara tau, Aku masih berstatus pacar Dana dan iapun tau masih ada cinta dihatiku untuk Dana. Namun Antara sangat yakin, ia bisa menaklukkan hatiku ini, kepelukannya. Itulah yang sering dikatakannya padaku.
“Langsung pulang nich?” tanya Antara padaku ketika kami sudah duduk di mobil itu. Alex menarik sabuk pengaman dan memasangkan juga sabuk pengaman padaku, hampir bersentuhan bibir lagi. Aku malu sendiri mengingat kembali apa yang telah aku lakukan tadi padanya.
“Maunya kemana?” Aku justru menanyakan kembali dan mendapat ciuman tipis di bibirku dari Antara. Aku memang sudah mulai terbiasa mendapat perlakukan manis itu dari Antara. Awalnya aku risih, namun semakin lama akupun menjadi terbiasa dan bahkan menikmatinya.
“Makan bareng yuk” ajak Antara dengan pandangan memohon dan sedikit menggoda ke arahku, walaupun ia mulai fokus dengan pandangannya di depan dalam mengendarai mobilnya.
“Hmmmm.. baiklah” tapi jangan di tempat mahal, makanannya nggak sesuai selera lidahku. Aku lebih suka makanan yang mengingatkanku pada orang tuaku, bukan makanan resto tentunya.
“Baiklah sayang, as you want. Terimakasih manisku” gombal Antara padaku dan hal itu telah sukses membuat aku menjadi malu, pasti kak Antara bisa melihat dari rona merah di pipiku.
Dana mungkin tidak akan pernah menyangka, bahwa aku sebagai pacarnya sudah membagi hatiku. Namun bagiku inilah perasaan, bisa berubah kapan saja sesuai dengan berubahnya rasa dalam diriku dan mungkin juga Dana.
Dalam hubungan kami yang semikin kaku dan dingin atau bahkan sudah hampir membeku, Aku justru mendapat rasa nyaman itu pada pria lain, kak Antara. Laki-laki yang ternyata telah lama mengharapkan aku, sedangkan aku masih saja terlena dengan diriku sendiri. Mengharapkan cinta lelaki lain yang jelas-jelas hatiku hanya untuk seorang wanita, wanita lain yang sejak dulu diperjuangkan, bahkan aku tau dia masih mengharapkan gadis itu. Dea.
Sejak hubungan kami dibangun, aku sudah terbiasa mendapat perlakukan lembut Dana dihadapan Anti, ketika Anti tidak bertemu muka dengan kami, Dana perlakukan aku biasa saja, tidak seromantis yang dilihat Dea.
Aku tau, Dana masih berkecambuk dengan perasaannya pada cinta pertamanya. Cinta yang memang membuatnya sering mengabaikan aku sebagai pacarnya. Dana selalu mencari tau kabar Dea Amanda, cinta pertamanya walau hanya dari sahabat-sahabat Dea. Padahal Dana pun tau, Deanya itu sudah memiliki pacar yang bahkan sudah 6 tahun dipacarinya. Lebih sialnya lagi, hari ini Alex berada di Gorontalo, bersama dengan Dea.
"Alex di Gorontalo dan aku kesal banget" curhatnya padaku lewat sambungan telfon.
"Hmmm, trus kenapa kamu nggak kesini cerita ma aku? wajarlah mereka bareng, kan mereka pacaran Dan" kesalku saat itu. Begitulah Dana, saat dia kesal dengan Dea terkadang Dana menceritakannya padaku dan hal itu membuatku sangat cemburu. Itulah mengapa aku akhirnya bisa berpaling padahal sebelum aku seperti cinta mati pada Dana.
Pacarku itu, si Dana masih selalu menyempatkan diri bercerita padaku tentang gadis lain dan kekesalannya, padahal dia tau aku pacarnya. Siapa lagi wanita lain yang diceritakannya kalau bukan Dea.
Namun setidaknya aku semakin mengerti, bahwa bukan berapa lamanya waktu kebersamaan kami tetapi seberapa kuat perasaan itu mampu bertahan. Dana membuktikannya, ia masih dengan rasa yang sama walaupun waktunya telah lama bersamaku. Hal ini membuatku semakin tenang bisa akhirnya merasa nyaman dengan pria lain.
Aku menjadi bingung dengan sikap Dana, hingga aku berfikir apakah harus aku yang terluka ataukah aku memberi luka padanya?
Bersambung..