BAB 25 Kejadian dan awal mula

1196 Kata
Kejadian yang justru menjadi awal sebuah hubungan POV Antara Aku tau, Antiku sudah memiliki pacar namun aku juga tau pacarnya itu Dana masih berkecambuk dengan perasaannya pada cinta pertamanya, Dea. Cinta yang memang membuatnya sering mengabaikan Anti sebagai pacarnya. Dana selalu mencari tau kabar Dea Amanda, cinta pertamanya walau hanya dari sahabat-sahabat Dea, aku tau itu saat Anti menceritakannya padaku. Aku tau, Anti pasti kecewa dengan Dana, karena walaupun Dana tau, bahwa Deanya itu sudah memiliki pacar yaitu Alex yang bahkan sudah 6 tahun dipacarinya. Lebih sialnya lagi, hari ini Alex berada di Gorontalo, bersama dengan Dea, Alex juga adalah temanku saat kami masih di bangku SMA, kami hanya berbeda jurusan saja. Namun setidaknya aku memiliki kesempatan untuk semakin dekat dengan Anti atau bahkan menghancurkan kebekuan hubungannya dengan Dana. Anti mulai bisa menerima perlakuan-perlakuanku padanya, seiring dengan perasaannya yang mungkin semakin menipis pada Dana. Hal ini membuatku semakin tenang bisa akhirnya dia merasa nyaman denganku, seperti yang terjadi beberapa saat lalu. Sebulan yang lalu Kediaman Antara Setelah lelah mempersiapkan berkas-berkas persiapan ujian skripsi untuk Anti, aku memutuskan untuk membawa Anti pulang ke rumah besarku, karena semenjak bekerja dan menjadi Manager di sebuah perusahaan, aku membeli sebuah rumah yang besar di pusat kota Palu. Aku menuju dapur untuk mengambil piring serta minuman dari dalam kulkas untuk mengajak Anti makan makanan yang sudah kami beli tadi dalam perjalanan pulang. Sore ini memang menjadi hari special bagiku, karena Antiku ulang tahun dan yang ada dalam hari spesialnya adalah aku bukan pacarnya Dana. Aku berharap cintaku ini tak akan bertepuk sebelah tangan lagi. “Apa sekarang kau mau jadi pacarku, An?” aku menatap Anti penuh kasih. “Bisa di bilang begitu ya kak, karena Dana belum aku kabari kalau ternyata hatiku bisa berubah dan yang merebutnya yaitu kamu” dia tersenyum padaku, sangat manis bagiku. Aku semakin bersemangat ingin melumatnya. “Hmmm” gumamku. Aku mendengar dan memeluknya pelan, dan akhirnya kami saling berpelukan, mengeluarkan perasaan hati kami yang baru disadari Anti bahwa aku dan dia bisa saling melengkapi. Aku memulainya untuk kembali meciumnya dan ciuman itu semakin panas serta membawaku untuk menurunkan ciuman itu ke jenjang leher Anti dan kali ini Anti merasa sangat menikmati perlakuanku padanya. Setelah merayakan ulang tahun berdua saja, kami berdua larut dalam gairah yang tak tertahan. Desahan demi desahan keluar dari bibir Anti dan ini sangat panas hingga ia tidak menyadari jika payudaranya sudah terekspos nyata didepanku. Aku mulai memberikan remasan lembut dan itu berhasil membuat Anti kehilangan kesadarannya dan semakin menikmatinya, jangan tanyakan bagaimana aku? aku sudah terlalu larut dan tidak bisa menyadari apapun selain ingin mengakhirinya. “Ahhhh aahhhh” desahan itu membuataku memang semakin menikmatinya dan melupakan bahwa seharusnya kami tidak boleh melakukan itu. Saat tanganku semakin liar di bawah titik sensitive Anti, tiba- tiba ponsel Anti berbunyi menyadarkan dia dari kenikmatan itu dan dengan nafas terengah- engah Anti langsung menyimpan benda itu di telinganya, kemudian dia memperbaiki rambutnya yang sudah mulai terlihat acak-acakan karena sikapku. “Ya ayah” Aku langsung bangkit, mendengar Anti memanggilnya ayahnya. Aku berusaha menyadarkan diriku. “Bulan depan kamu ujian skripsi kan?” kudengar pertanyaan-pertanyaan ayah Anti karena Anti memutuskan untuk meloudspeaker panggilannya itu. Anti menatap ke arahku dan dengan anggukkanku Anti mengerti bahwa aku memberikan waktu Anti untuk berbicara dengan ayahnya. “Hmmm iya ayah” Anti menjauhkan dirinya dariku. Ada rasa bersalah di dalam diriku dengan apa yang hampir kami lakukan, saat ayahnya menanyakan hubungannya dengan Dana. Anti tersadar dengan apa yang hampir saja kami perbuat. Setelah bercakap-cakap dengan ayahnya ditelfon. Anti nampak terkejut melihatku sudah bersiap-siap untuk mengantarnya pulang. Aku hanya tidak ingin berlama-lama berduaan dengannya, aku takut tidak bisa menahan gejolak dalam diriku. “Kak Antara” Anti mendekatiku, dia memelukku dari belakang dan kembali aku merasakan gundukan itu di belakangku, juniorku langsung bangkit lagi. Aku memejamkan mataku, aku takut ini berlanjut dan berakibat fatal bagiku, aku takut jika karena ini aku justru akan kehilangan dia. “Maaf Anti, aku mencintaimu. Maaf yang tadi, aku tidak ingin bermaksud apa-apa” tatapanku memang sedih dan takut, terlihat jelas bahwa ada gurat ketakutan dalam pandanganku pada Anti. “Tidak kak” Anti menyentuh pipiku, kututup kembali mataku untuk menghilangkan rasa gugupku saat hanya berdua saja tanpa ada siapapun di rumahku ini, hal ini membuat aku takut tak mampu mengendalikan diriku untuk menikmati tubuh indahnya itu. “Sayang..” Aku menarik tangan Anti dari pipiku dan kemudian membawanya keda-daku, agar Anti mampu merasakan kerasnya detak jantungku saat berhadapan dengannya seperti sekarang. “Perasaanku sangat bahagia, hal terindah dalam hidupku adalah berada didekatmu sayang. Setelah sekian tahun aku bisa seperti ini, aku sangat bahagia” aku sadar terlalu cengeng, tapi inilah perjuangan panjangku, hingga tetesan bening jatuh membasahi pipinya dan ternyata bukan dari air matanya tapi dari air mataku orang yang ada di sampingnya. “Aku takut menyakitimu Anti, aku hampir merusakmu. Maafkan aku” sambungku lagi dengan menangis menutupi wajahku dengan membalikkan tubuh Anti dan memeluknya. Anti menghamburkan pelukannya padaku, dia bahkan merasakan getaran luar biasa dida-danya. Perasaan bahagia dan ini nyata dihadapaku. Anti menangis untukku dan jangan tanyakan bagaimana tangisku untuknya. “Aku ikhlas untukmu kak” kata-kata itu mengejutkanku.. “Aku mencintaimu sayang” “Aku tau” cepat Anti menjawabnya. Kami berpelukan dan menumpahkan perasaan kami, seakan membayangkan apa yang akan terjadi kemudian, Anti semakin mengeratkan pelukannya padaku dan kemudia saat pikirannya tiba-tiba teringat dengan Dana, aku merasakan itu karena dia memejamkan matanya dan menaris nafasnya dalam. “Kau ingat dia?” aku mencoba bertanya. “Tidak kak, aku ingin kakak” aku merasakan tangannya semakin keras memelukku. Dia menarik nafas lagi dan lagi. Kemudian dengan lirih dia berkata. “Lakukan saja kak?” aku terkejut dan aku berusaha menenangkan nafas Anti yang lebih cepat seperti sebuah emosi. Merasa helaan nafas berat itu, membuat aku harus bertanya kepada Anti. “Kenapa?” aku merasa tidak percaya akan kata-kata Anti itu. Aku sudah berusaha menjaga kekasih Dana itu selama bertahun-tahun dan kali ini jika aku akan merusaknya, aku takut. Rasanya aku ingin menolaknya, tapi rasa akan kehilangan Anti membuatku tidak sanggup. “Aku mencintai kakak dan nggak mau kehilangan kakak lagi” Anti masih memelukku dengan erat. Tanpa berfikir lagi aku menyesap ranum bibir gadis pujaanku itu. Menelisik setiap jengkal kulit putihnya. “Sayang” aku yang tidak bisa mengendalikan lagi diriku itu, berusaha menahan keinginanku karena tidak ingin kesalahan ini membuatku justru menjadi jauh dengan orang yang kucintai. “Lakukan, please!” Mohon Anti padaku. “Jika kakak tidak ingin kehilangan aku” Anti meneteskan air matanya, dalam gairah yang masih membawa, aura sedih nampak diwajah Anti dan pasti diwajahku juga. “Aku akan bertanggung jawab” aku meyakinkannya dan dijawab anggukan oleh Anti. Malam itu semakin panas ketika hujan turun semakin deras, setelah 4 tahun bersama dan saling mengenal dalam satu kampus dan terlibat kegiatan magang Anti di kantor tempatku bekerja, ini adalah malam pertama mereka melakukan kegiatan ini. Walaupun hal ini harusnya tidak boleh kami lakukan karena kami belum memiliki ikatan halal, namun gairah dan rasa takut kehilangan telah menguasai hati dan pikiran kami. Setelah malam itu, kami semakin intens melakukannya dan Anti mulai melupakan Dana yang sudah menyelesaikan tesnya serta akan segera dilantik dalam waktu dekat. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN