Aku memang bingung, siapa yang akan aku hubungi terlebih dahulu?
POV Dana
Mendekati waktu pelantikanku, aku sebenarnya semakin bingung akan mengajak siapa sebagai pasanganku diacara pelantikan itu. Pacarku, Anti? Atau kekasih hatiku Dea. Janjiku pada orang tua Anti sebagai pacarku dan janjiku kepada Dea sebelum aku melanjutkan tesku, membuatku semakin dilema dan bingung.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya disepertiga malamku, aku kembali memohon kepada Sang Khalik untuk memberikan bahagia kepada wanita yang masih mengisi hatiku. Memberikan kebahagiaan untuk Dea adalah hal yang utama bagiku, entah itu dengan bersamaku atau tidak.
Setelah malam-malam panjang kebingunganku, aku memutuskan untuk berbicara langsung dengan Anti. Sebagai pacarku, setelah lama tak mengetahui aktivitas dan kegiatannya, hari ini aku harus tau apa yang dilakukan oleh pacarku itu selama aku tidak memberikan kabar.
Sebelumnya
‘Aku akan menelponnya dulu’ gumamku dalam hati.
“Anti, aku mau datang ke kostan kamu. Kamu dimana?” aku yang hari ini memiliki libur sebelum hari pelantikan itu tiba memikirkan cara untuk menyampaikan kabar bahagia ini secara langsung kepada Anti.
“Baru inget sama aku ya” jawab Anti seadanya. Wajar dia berkata demikian karena aku seolah lupa dengannya, hanya sibuk dengan kegiatanku saja.
“Hmmmm, dari dulu-dulu juga kamu nggak pernah protes. Kok sekarang protes?” aku terkekeh saja karena tumben dia merasa keberatan denganku.
“Aku dirumahnya kak Antara, aku sharelock ya” Anti langsung memutuskan sambungan telfonnya dan segera mengirim lokasinya kepadaku. Aku justru merasa aneh, kok dia ada dengan kak Antara? Orang yang menyukainya ketika SMA dan sekarang ditambah lagi dengan Anti yang tiba-tiba mematikan sambungan telfon tanpa menunggu aku menjawab lagi.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan hal yang berlebihan lagi, bagiku menjelaskan pada Anti tentang perasaan hatiku yang sebenarnya adalah tujuanku yang utama. Dea harus bisa aku raih.
‘Semoga Anti mengerti’ gumamku lagi sambil mengendarai motor kecilku. Aku memang masih berjuang untuk pendidikanku dan aku tidak memikirkan untuk membeli mobil saat ini. Setelah aku bekerja, barulah perlahan aku akan membangun rumah impianku dan kehidupanku dengan wanita yang akan menemaniku nanti.
Aku mengikuti arah petunjuk jalan yang tertera di ponselku. Melewati jalanan yang cukup ramai, aku memperhatikan arahan-arahan itu karena tidak ingin salah mendapatkan alamat yang diberikan oleh Anti.
Melewati kampus Universitas Tadulako, salah satu Universitas negeri yang ada di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Mengendarai motor dengan berhati-hati kemudian 12 menit kemudian aku melewati sebuah rumah berwarna cream hijau.
“Anda telah sampai” suara khas penunjuk arah jalan mengatakan hal itu melalui ponselku. Aku menghentikan laju kendaraanku dan kemudian melihat-lihat lagi rumah yang aku cari. Aku buka pesan yang ternyata dari Anti.
“Rumahnya cat warna cream dipadukan dengan hijau ya Dan. Kalau sudah sampai kamu masuk aja” aku tersenyum membacanya dan kemudian masuk ke rumah yang sudah sesuai dengan ciri-ciri yang disampaikan oleh Anti.
“Assalamualaikum” aku memberi salam di rumah besar milik Antara itu setelah terlebih dahulu memencet bel yang ada di depan rumahnya. Pintu gerbangnya pun sudah terbuka sehingga aku leluasa masuk.
“Walaikumsalam” suara bariton Antara menyambutku.
“Dana, mari masuk” diikuti olehku dibelakangnya, Antara berjalan masuk di rumahnya sendiri. Aku hanya menatap rumah besar itu dan sekarang nyalikupun menjadi ciut karena memikirkan aku yang tidak pernah membahagiakan Anti sejak menjadi pacarku. Diantara rasa lega karena Anti bahagia tapi juga rasa kecewa karena aku masih jauh dari kemampuan yang mungkin para wanita harapkan.
“Kalian berdua saja?” Aku memulai pembicaraan itu. Anti dan Antara kompak mengangguk, tidak ada ketakutan yang ditampilkan disana.
“Dana, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan” Antara yang memulai pembicaraanku. Perasaanku menjadi tidak enak karena melihat pemandangan di depanku. Anti dan Antara saling memegang tangan seolah saling menguatkan.
“Katakan saja, aku akan mendengarkan. Lagipula Anti adalah pacarku” aku sengaja menekankan kata pacar karena aku ingin mengetahui sejauh mana hubungan mereka di belakangku.
Antara dan Anti terlihat saling pandang dan kemudian Antara menarik nafas kasarnya.
“Dana, maafkan aku. Aku yang salah dalam hal ini. Seperti yang kamu tau, aku sangat mencintai Anti sejak masih SMA. Saat ini Aku dan Anti ingin mengikrarkannya dihadapan kamu” jelas Antara, yang setelah menjelaskannya padaku dengan memandangku kemudian dia beralih pada Anti dengan tetap mengenggam tangan indah Anti.
Sebenarnya aku bahagia, namun mengingat aku yang masih belum mendapat titik terang dari Dea, aku justru merasa ada yang akan hilang. Aku merasa sedikit terhianati.
“Kenapa dari awal Anti tidak mengatakan apa-apa padaku?” aku mencoba mencari tau kebenarannya.
“Maafkan aku Dan, aku bahkan tidak tau menghubungimu bagaimana caranya. Aku hanya ingin kau tau Dana, sebenarnya aku dan kak Antara ingin mengatakan hal penting padamu” kemudian Anti kembari menarik nafasnya perlahan namun terlihat dia sangat tegang.
“Katakan saja, sebenarnya apa yang kalian lakukan dibelakangku?” aku berusaha mencari tau. Walau disudut hatiku merasa ini adalah hal yang baik, jika Anti dan Antara ternyata memutuskan untuk bersama. Itu artinya aku bisa bebas untuk mencari Dea, bahkan sekarang juga.
“Dan, aku minta maaf. Aku dan Antara…..” kali ini Anti mulai berbicara namun seperti merasakan sesak di dalam dirinya dan hal ini membuat Anti merasa mual tiba-tiba.
Anti menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, berlari menuju wastafel kamar tamu terdekat dan memuntahkan cairan bening yang tentunya menyakitkan. Antara mengikutinya dan mengurut tekuk kepala Anti dengan lembut.
“Anti kenapa?” aku menjadi panik karena melihat Anti yang sudah pucat dan lemas. Antara juga sangat sikap menopang tubuh Anti. Hatiku nyeri. Aku berusaha berbesar hati jika hari ini sesuatu yang sangat penting akan terjadi.
“Anti, Anti?” Antara menggoyang-goyangkan badan Anti perlahan, aku mendekati Anti.
“Sebaiknya dia duduk dulu Tara” ajakku pada Antara. Aku juga kasian melihat Anti yang terlihat pucat itu.
“Aku pusing, kepalaku sangat pusing. Perutku juga sangat mual” Anti kembali mengeluh.
“Sabar sayang, kita ke rumah sakit ya” ajak Antara dan itu sangat lembut. Jikalau aku seorang wanita, akupun pasti akan luluh dengan senyum manis Antara dan juga caranya memperlakukan seorang wanita.
“Kak, apa mungkin aku hamil? aku sudah telat” aku dengar samar-samar Anti mengatakan itu pada Antara, terlihat Antara justru bahagia dan memeluk Anti dengan sangat keras.
“Pelan-pelan meluknya kak” Anti kembali menjawab.
“Kita ke rumah sakit ya” kata Antara. Aku menjadi naik pitam, mengapa mereka senekat itu. Jika memang mereka saling mencintai, harusnya menyampaikannya padaku tanpa harus melakukan hal zina seperti itu. Walau aku mencintai wanita lain, melihat pacarku hamil dengan pria lain pasti tetap menjadi hal yang menyakitkan bukan?
Anti mencoba berdiri dan kemudian menatapku nanar dan aku yang kecewa melampiaskan kata kecewaku padanya.
“Aku kecewa padamu Anti” kataku padanya dengan berteriak padanya.
Bersambung…