Chapter 24 "Kemana Ayah, Bun?" Aku baru ingat kalau kami ke Rumah Sakit bersama Ayah dan Furqan, maksudku Mas Furqan. "Oh iya, Bunda sampai lupa. Ayah dan Furqan pulang dulu karena Ayah masih harus urus usaha kita. Juki mana mungkin bisa sendirian. Ayah dan Furqan pulang setelah mengadzani bayi kecil kita." ucap Bunda panjang lebar. "Ehm, begitu ya Bund." Tunggu sebentar, jadi siapa yang mengadzani bayi kecilku? Ayah atau Mas Furqan? Haruskah aku tanyakan itu pada Bunda? Atau, ah sebaiknya tidak perlu aku tanyakan. Karena jika tak sesuai dengan harapanku, nantinya akan menorehkan gelisah di hati. Benar bukan? Bagaimana jika Mas Furqan yang mengadzani bayiku? Aku akan merasa sangat tak nyaman. "Tadi Furqan yang mengadzani si kecil." ujar Bunda seperti dapat mendengar suara hatiku. De

