Chapter 32 Melanjutkan perjalanan, kami lagi-lagi saling diam. Sungguh, aku sama sekali tak pernah menyangka Mas Furqan dapat mengutarakan isi hatinya seperti itu. Emosional hingga matanya berkaca-kaca. Aku memeluk diriku sendiri, suhu dingin dari AC mobil membuatku seakan membeku dalam diam. Berkali-kali kulirik Mas Furqan tapi dia nampak sudah tak punya apa-apa lagi yang ingin di katakan. Aku mengerti, dia hanya perlu menunggu keputusanku. Baru setelah itu mungkin dia akan menindaklanjuti perkataannya tadi. Soal hubungan aku dan pria lain yang bisa menerima Iza sepenuh hati. Apakah dia sedang membahas dirinya sendiri? Kami sampai di rumah setelah waktu ashar tiba. Sedikit lebih telat dari perkiraan karena dia mengemudi dengan santai. Tentu saja keselamatan jauh lebih penting, apalagi

