Setelah mengganti pakaian, kuhempaskan tubuh ini ke kasur, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos. Aku tak berucap sepatah katapun seorang diri saat ini. Pikiran tentang pernikahan itu kembali datang tanpa permisi. Aku tau, ketika janji-janji itu nantinya akan terucap, hubunganku dengan laki-laki yang terlanjur asing seminggu yang lalu, maka beberapa hari lagi akan menjadi laki-laki satu-satunya yang akan kulihat setiap pagi dan malamnya, setiap hari. Karena saat aku tau pernikahanku nantinya menjadi tamparan hebat untukku, menjadi anak panah yang siap menembak papan pantul untuk diriku sendiri. Sesuatu yang aku lakukan, buruk baiknya, akan berdampak padaku. Ini bukan yang terindah, dan bukan pula yang terbaik, tapi mau bagaimana lagi, semuanya tak bisa untuk dielakkan. S

