Dua Pria Pengganggu

1763 Kata
Olivia Helina tambah bingung dan tak tahu harus berbuat apa agar bisa terhindar dari dua pria yang sedang mengganggunya, lebih-lebih terhindar dari Rangga. Tidak mungkin ia meminta diri lalu bercerita pada mama papanya bahwa ia ingin pindah sekolah, jika bisa pindah sekolah ke luar kota. Pagi ini, meski sedikit gugup dan masih terbayang kejadian yang di lakukan pria bodoh kemarin, namun ia mencoba menenangkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Menurut buku yang ia baca, seseorang dapat memanipulasi otaknya sendiri agar bisa berpikiran positif setiap saat dengan mengatakan bahwa hari ini tidak akan terjadi apa-apa. Sebelum berangkat sekolah, ia salami tangan kedua orang tuanya yang ramah senyum, tidak lupa pula mamanya mencium pipinya penuh sayang, serta mengatakan bahwa Olivia sudah tumbuh dewasa. Beberapa menit kemudian setelah melewati kawasan macet di jalan, akhirnya mereka sampai tepat jam tujuh kurang di depan gerbang. Tidak lupa Olivia ucapkan terima kasih pada Om Bobi sopir pribadi ayahnya, lalu turun dan masuk ke sekolah. Namun hal membingungkan datang kepadanya pagi-pagi, seorang siswi yang tidak ia kenal memberikannya setangkai mawar merah tanpa menjelaskan apa maksud dari pemberiannya. Seketika saja siswi itu langsung pergi setelah Olivia mengambilnya. Berjalan ke arah kelas, datang dua siswi dan siswa menghampirinya dan kembali memberikannya setangkai bunga yang sama, tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan mereka. Kini di tangannya ada tiga setangkai bunga, dan baru saja ia pahami pasti ada sesuatu di balik kejadian ini. Sampai di depan kelas, datang kembali dua wanita dan satu pria mencegahnya dan langsung memberikannya masing-masing bunga yang sama. Hari ini ternyata tambah membuatnya bingung, dan menuduh Rangga sebagai dalang dari semua bunga-bunga yang ia terima ini. Tetapi saat ia memasuki kelas, suasana kelas tidak lebih dan kurang seperti hari-hari biasanya, tidak ada kejutan atau apa seperti yang sebelumnya ia pikirkan. Rangga sendiri pun ia lihat hanya duduk fokus membaca buku, dan teman-teman lainnya saling sibuk bercerita. Olivia sedikit lega, namun tetap saja ia masih penasaran siapa di balik pemberian semua bunga-bunga yang ia terima ini. Saat duduk di bangkunya dan ia letakkan bunga-bunga itu di meja, ia lihat Rangga melirik bunganya dengan ujung mata tanpa sedikit pun mengeluarkan suara. Olivia pun tidak ingin berkomentar di hadapan Rangga tentang bunga-bunga dari seorang misterius ini, karena ia memang sengaja agar Rangga berspekulasi sendiri tentang bunga-bunga tersebut. Seorang guru gendut pun memasuki kelas mereka, ia bernama Pak Arif guru Geografi. Lalu membuka materi tentang proses terjadinya hujan. Dan hujan bagi kebanyakan orang adalah peristiwa yang menenangkan. Namun bagi Olivia sendiri hujan tidak bisa dimaknai sedalam itu, dan entah apa alasannya, ia sangat membenci suara hujan serta kilat dan gemuruh petirnya. Jujur saja ia tidak terlalu tertarik membahas tentang hujan, mendalami konsep bagaimana terciptanya hujan. Biarkan Pak Arif dan teman-teman lainnya yang fokus pada pertikaian yang di jelaskan di papan tulis, sementara ia sendiri fokus memikirkan siapa pemberi bunga yang baru saja ia terima. Dalam beberapa hari ini, yang mencoba dekat dengannya hanya dua pria yaitu Rangga dan Roki. Namun jika bukan Rangga belum tentu juga Roki karena sekolahnya jauh di seberang sana. Jadi siapa? Olivia melamun memikirkan hal itu, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa melihat siapa-siapa. Sedangkan Rangga di sebelahnya menjelaskan proses terjadinya hujan dengan semangat. “Namun ada satu hal yang mencurigakan pada pria bodoh ini, pertama kenapa ia tidak melakukan aksi bodoh seperti hari kemarin,” pikir Olivia. “Seolah-olah ia telah menyerah menggangguku. Jangan-jangan semua bunga ini darinya, tetapi ia berlagak tidak tahu. Lagi pula, mana mungkin ia datang pagi-pagi ke sekolah melainkan ada tujuan tertentunya.” Lanjut Olivia. “Yah, tidak salah lagi, pasti semua bunga ini darinya. Pria bodoh ini pasti telah mengatur segalanya, hingga anak-anak diam dan tidak terlalu peduli saat aku membawa bunga masuk kelas pagi tadi.” “Eh... Tunggu! Tapi kenapa dia melakukan secara sembunyi seperti ini, dia kan bodoh, melakukan hal gila saja dia tidak akan malu. Jika di lihat-lihat pria bodoh ini tidak suka berbelit-belit melainkan aksi yang nekat.” “Jadi siapa...?” seketika Olivia menundukkan kepala ke atas meja. Dan bel jam kedua pun berbunyi. Di masuki oleh Ibu Mila pengajar Bahasa Inggris. Asal kalian tahu, Ibu Mila satu-satunya guru wanita yang masih muda, berbibir tebal seperti bibir Mika Tambayong. Pakaiannya cukup ketat membuat pria yang memandangnya selalu berimajinasi bisa b******a dengannya. Ibu Mila pun selalu merespons balik dan baik jika ada muridnya yang jahil ketika bertanya apa pun tentang dirinya, semisal ukuran sepatunya, bajunya bahkan pakaian dalamnya. Dandanan Ibu Mila ini selalu menor, dan ia anggap mengikuti artis-artis Korea. Dan yang paling menyenangkan darinya, ketika ia menjelaskan materi dengan bahasa inggris, gerak bibir serta lidahnya seakan menciptakan hal yang jorok dalam kepala para siswa. “Aku dengar ada murid baru di kelas ini?” kata Ibu Mila. Semua wanita di dalam kelas menunjuk ke arah Rangga terkecuali Olivia. Dan Ibu Mila mengikuti arah telunjuk mereka. “Cakep juga. Coba maju ke depan!” Pinta Ibu Mila. Perihal pria cakep, Ibu Mila memang selalu juara. Kelasnya biasanya di selipkan dengan gosip-gosip selebriti tanah air dan negeri ginseng sana. Jadi semua muridnya rata-rata menyukai metode ajarnya. Rangga mengikuti permintaannya, berjalan ke depan sambil menatap wajah Ibu Mila. “Ada apa, Bu?” tanya Rangga. “Kamu sudah punya pacar?” tanya Ibu Mila. Rangga mengerutkan dahi lalu menggelengkan kepala. “Tidak ada?” kata Ibu Mila setengah kaget. “Coba angkat tangan yang mau jadi pacarnya!” kata Ibu Mila pada para wanita. Namun tidak ada yang mengangkat tangan. Lalu Rangga mengedipkan mata pada Ibu Mila, setelah itu Ibu Mila memanggil nama Olivia. “Olivia... Coba ke depan!” katanya. Olivia sudah merasakan hal ganjil ketika namanya di panggil, seakan terjadi peristiwa yang sama seperti hari kemarin. Dia mulai merapikan buku-buku yang tergeletak di meja, lalu meletakkannya rapi dalam ranselnya. Dan ia segera kesana, memenuhi panggilan Ibu Mila. Saat di depan sana, wajahnya tak terlalu ramah apalagi Rangga ada di sebelahnya. Dan ia harus memutar kepalanya agar kali ini tidak terkecoh dengan rayuan gombal pria bodoh di sebelahnya. Mula-mula ia telah merasa bosan dengan hari-harinya seperti ini, membahas cinta yang tak terlalu penting dan berarti, namun jika memang kelas ini sudah di atur oleh pria bodoh di sebelahnya ini maka sekolah ini cukup membuatnya bosan. Sebab guru yang mudah terkendalikan oleh seorang siswa adalah guru yang tidak memiliki sifat profesional dalam bidangnya sebagai guru. Menyia-nyiakan waktu dengan melakukan hal yang tidak penting-penting amat adalah pemborosan dalam hidup. Kan lebih baik di isi dengan materi yang seharusnya. Tetapi kali ini, Olivia akan melihat, ada pertunjukan apa di balik pemanggilannya ke depan. Ibu Mila langsung menguncinya dengan perkataan yang sering kali ia dengar akhir-akhir ini. Yaitu, “Rangga menyukaimu, apakah kamu menerima cintanya?” Dan sudah Olivia duga, kedatangannya ke depan akan berakhir dengan pertanyaan yang tidak penting seperti ini. Olivia belum menjawab, sementara Rangga hanya tersenyum memperlihatkan wajah tampannya. “Lihatlah ke belakang!” pinta Ibu Mila. Lalu Olivia membalikkan badan, dan semua siswa baik wanita dan pria memegang bunga mawar persis yang ia terima pagi tadi. Mereka mengarahkan bunga itu kepadanya. Dan tiba-tiba saja Rangga duduk jongkok di depannya bagai seorang Raja melamar Tuan Putri yang ia cinta. Mukanya serius tak terlihat senyum sedikit pun, dan kali ini seisi kelas menyepi tidak gemuruh seperti biasanya, namun ada beberapa dari mereka yang merekam videonya. Dan kali ini Olivia mengambil bunga dari tangan Rangga, menciumnya bagai menerima cintanya. Namun tiba-tiba ia buang tepat di depan kakinya, lalu ia injak-injak hingga bunga itu hancur dan lunak. Lalu Olivia berlari ke arah meja mengambil ranselnya, meninggalkan kelas kembali dengan perasaan yang cukup puas membuat Rangga malu untuk ke sekian kalinya. Para siswa mulai membisu, tak berani berkomentar sedikit pun tentang kejadian menyedihkan itu. Namun sepertinya Rangga bukanlah manusia normal seperti mereka yang memiliki rasa malu, ia masih semangat tanpa sedikit pun ada sedih di wajahnya. Dia bagai pria yang baru saja lahir dengan situasi berbeda, tak memiliki rasa sedih, malu apalagi menyerah dalam hal menaklukkan cinta. Buku atau kata-kata siapa yang menjadi motivasinya hingga dia bagai buta dalam hal cinta. Bahkan lebih gila dari pada orang gila. Namun kali ini ia tidak mengejar Olivia, tetapi hanya meninggalkan kelas dan pergi ke kantin untuk merayakan kegagalan ke sekian kalinya. Merayakannya sendirian sambil meminum es kopi dan kembali memutar kepalanya. Berpikir entah cara apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Saat jam istirahat tiba, tiba-tiba namanya di panggil untuk menghadap ke ruang BK. Dan Rangga hanya berpikir Ibu Aan guru BK itu merindukannya. Rangga pun pergi ke sana, melintasi beberapa kelas dan beberapa wanita dan pria yang melihatnya serius. Rangga sama sekali tidak takut dengan panggilan semacam ini, jika di hitung, maka puluhan kali ia telah menjadi tamu guru-guru BK bahkan di sekolah dulu Kepala Sekolah dulu yang langsung turun tangan menghadapinya. Dia pun tiba, melihat seorang pria tua rapi berjas hitam, di sebelahnya Olivia. Di depannya Ibu Aan bermuka seram sedang memandangnya. “Duduk!” pinta Ibu Aan. Rangga pun duduk di sebelah pria tua rapi yang ia duga itu papa dari Olivia. Dia mengomel disitu, meminta Ibu Aan langsung mengeluarkan Rangga dari sekolah. “Sabar dulu ya, Pak. Biarkan pihak kita yang menyelesaikan semua ini!” kata Ibu Aan menengahi. “Rangga, kamu telah melakukan kesalahan sebanyak dua kali. Kemarin berkelahi dan sekarang mengganggu Olivia.” Kata Ibu Aan. Namun Rangga membantah, bahwa dia bukan mengganggu Olivia melainkan hanya mengatakan cinta padanya. “Apakah itu salah? Jawab Bu?” lawan Rangga. “Jelas-jelas Tuhan menciptakan cinta pada kita, dan aku sendiri hanya untuk menyampaikan cinta itu kepada seorang yang aku cinta.” Lanjut Rangga. Bapak Ferdian sangat marah, dia bangkit dari duduknya berkata sambil menunjuk-nunjuk Rangga. “Kalian ini masih anak sekolah, belum pantas membahas cinta. Paham?” katanya. “Apa Om sendiri yang tidak pernah merasakan cinta di usia seperti kami. Potong tangannya saya Om, jika Om tidak pernah jatuh cinta pada wanita saat SMA.” Bantah Rangga pula dengan keras. “Sudah... Diam! Mohon kembali duduk.” Kata Ibu Aan melerai mereka. Sementara Olivia hanya bisa menangis di sebelah Papanya. Menunduk diri dan tak bisa berkata apa-apa. “Kalau anak ini tidak di keluarkan dari sekolah ini, maka Olivia yang akan pindah ke sekolah lain.” Kata Papa Olivia. “Tenang pak, kami akan menindak lanjutinya sesuai aturan sekolah.” Kata Ibu Aan. Saat selesai permasalahan itu, Papa Olivia dengannya langsung pulang setelah puas melihat surat skorsing Rangga selama dua minggu keluar. Rangga sendiri hanya bisa menerima tanpa mengeluarkan sepatah komentar. Namun di balik wajahnya, tersimpan ambisi yang belum diketahui apa rencana yang akan ia lakukan selanjutnya. Sebab demi nama ayahnya, bukan Rangga namanya jika ia mengakhiri apa yang telah ia mulai sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN