Trik Riko

1555 Kata
Tiba hari minggu, Olivia sekeluarga menikmati makan siangnya di restoran, menyantap makanan yang paling mereka suka sambil bercerita pelan tentang kejadian kemarin. Mama Olivia sedikit sensitif dengan pemuda seperti Rangga, ia lebih memilih agar pemuda pengganggu seperti dirinya lebih bagus di masukkan ke dalam penjara. Namun itu juga keterlaluan bagi Papanya, remaja seperti mereka seharusnya melebur pada kelompok diskusi demi mengarahkan mentalitas dan IQ mereka. Sekarang yang dibutuhkan bangsa adalah pemuda yang paham mengenai segala aspek, yang bukan hanya tahu tentang cinta dan kenakalan, namun seharusnya paham segala materi baik politik, ekonomi suatu bangsa, karena memang masa depan bangsa ini berada di tangan generasi selanjutnya. Hati Olivia berbunyi bahwa Rangga satu-satunya pria di dalam kelasnya yang aktif dan pandai mengeluarkan pendapat, ia cukup paham mengenai berbagai isu dalam bangsa. Bisa juga pengaruh ajar dari orang tuanya. Namun sekali lagi Olivia mengingat kejadian kemarin sambil menyantap kentang goreng kesukaannya, tentang keberanian Rangga mengatakan cinta kepadanya di depan Papanya. Olivia mulai tersentuh dan mempertanyakan tentang kesungguhan cinta Rangga padanya. Namun tiba-tiba Roki Nanda datang tak terduga bagai lalat mencium makanan sedap dan hinggap di meja mereka. Dia meminta izin kepada Papa-Mama Olivia agar bisa bergabung duduk di lingkaran meja mereka. Lalu ia memperkenalkan diri sekaligus mengaku memiliki hubungan pertemanan dengan Olivia. Dan menjelaskan tujuan dan maksud kedatangannya. Tetapi Olivia menggelengkan kepala lalu berbisik pada Papanya bahwa pria di depan mereka itu adalah pria yang membuatnya trauma menaiki kendaraan umum. “Kenapa pemuda seperti kalian banyak di negeri ini!” kata Papa Olivia. “Maksudnya Om?” tanya Roki. “Kalian ini bagai hama yang bisanya hanya menganggu." ucap Papa Olivia dengan sangat tegas. Roki hanya tersenyum tenang mendengar ucapan pedas dari Papa Olivia padanya. Dia melihat kearah Olivia yang juga meliriknya sinis. Dia tahu jika Olivia masih marah padanya saat kejadian waktu itu. "Saya datang kesini bukan untuk sebagai hama lagi Om, tapi saya benar-benar ingin berteman dengan anak Om." jawab Roki dengan sangat berani. Papa Olivia yang masih kesal dengan Roki yang datang tiba-tiba pada meja mereka dan merusak acara makan siang keluarga mereka, dan yang paling membuat Papa Olivia kesal pada Roki adalah keberaniannya mengaku teman dari anaknya padahal Olivia sendiri mengadu jika dia adalah salah satu pengganggu. "Tidak ada hama yang sadar jika diri mereka itu hama." jawab Papa Olivia sambil sesekali menyuapi makanan yang sudah tidak lagi terlihat menarik itu. Olivia masih diam, dia membiarkan Papanya yang berhadapan dengan Roki. Karena dia sendiri tidak ada hasrat untuk berbicara dengan Roki sedikit pun. Sedangkan Roki tetap tenang menghadapi Papa Olivia, meski dia lihat wajah Papa Olivia sudah tidak bersahabat dengannya tapi dia masih yakin jika dia pasti akan bisa mengambil hati Papa Olivia yang keras itu. "Begini Om, saya selalu melihat Olivia di kampus sendirian tidak ada teman bicara bahkan bertukar pendapat. Bukankah seorang mahasiswa seperti kami ini snagat rugi jika tidak menggunakan waktu kita dengan sangat baik?" ucap Roki mulai membicarakan sedikit tujuannya datang kemeja keluarga Olivia. "Saya dan teman-teman saya memiliki kelompok diskusi di kampus yang aktif. Dan saat saya melihat Olivia, saya langsung tertarik untuk mengajaknya bergabung dengan kami. Karena saya sangat melihat Olivia berbeda dengan gadis di kampus kami kebanyakan." lanjut Roki dengan segala keahliannya berbicara. Wajah Papa Olivia yang tadinya sangat terlihat tegang kini seakan meleleh saat mendengar penjelasan Roki. Setidaknya Roki adalah lelaki yang sangat berbeda dengan Rangga yang sangat berandalan. Papa Olivia meminum air yang ada di hadapannya, sebelum dia melihat kearah Roki dengan dangat serius dengan tatapannya yang berbeda seperti pertama kali menatap Roki dengan kesal. "Kenapa tidak dari tadi kau mengatakan itu?" ucap Papa Olivia langsung. Mendengar itu Olivia terkejut, dia merasa tidak percaya jika Papanya semusah itu berubah pada Roki hanya karena Roki mengajak dirinya untuk ikut dalam kelompok diskusinya di kampus. Olivia menatap tajam kearah Papanya berharap Papanya hanya becanda dengan kalimatnya tadi. "Aku juga sebenarnya sangat ingin jika Olvia ikut dalam kelompok diskusi semacam yang kau geluti itu. Karena bagiku, anak muda memang harus aktif untuk mengacah pola pikirnya." ucap Papa Olivia lagi "Bukan begitu Olivia?" lanjutnya lagi sambil melihat kearah Olivia yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan tajam tidak setuju. Tetapi Papa Olivia tidak peka terhadap tatapan Olivia yang semacam itu, atau memang dia sudah tidak perduli karena dia merasa jika Roki adalah lelaki yang tepat untuk dijadikan teman dari pada Rangga. "Saya juga merasa seperti itu Om, kalau Olivia memang tepat jika bergabung dengan kami." rayu Roki lagi sambil tersenyum kecil kearah Olivia. Papa Olivia semakin melembut pada Roki, tatapan tidak sukanya tadi sudah hilang entah kemana. Berbeda dengan Olivia yang semakin kesal pada Roki yang melakukan semua cara untuk membuat Olivia semakin dekat dengannya. "Baiklah, aku setuju jika kau mengajak Olivia bergabung dengan kelompok diskusimu." ucap Papa Olivia tanpa meminta persetujuan pada Olivia lebih dulu. "Dan untuk kamu Olivia, bergabunglah dengan mereka. Papa sangat senang jika kau bisa bergabung dengan orang-orang yang semacam Roki ini." lanjut Papa Olivia. "Tapi Pa..." belum selesai Olivia memberi pendapatnya Papanya langsung memotong ucapan Olivia dengan segala teori yang dia yakini. Papa Olivia sudah sangat yakin jika Roki adalah lelaki yang tepat untuk menjadi teman Olivia. Lagi pula Roki juga sangat menyenangkan saat berbicara dengan Papa Olivia, hal itu lah yang semakin membuat Papa Olivia semakin suka pada Roki. Bukan hanya Papa Olivia yang setuju jika Olivia bergabung dengan Roki, Mama Olivia juga sangat suka keberanian Roki yang mau menghadap secara langsung pada orang tua Olivia. Mama Olivia merasa jika lelaki yang semacam Roki, adalah lelaki yang penuh keberanian dan tanggung jawab. Jadi, dia tidak ragu menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya tadi. "Apa yang dikatakan oleh Papamu benar sayang, kau harusnya lebih banyak berkumpul dengan orang yang semacam Roki." ucap Mamanya menambahi dan menguatkan ucapan Papa Olivia. Olivia sudah tidak bisa berkata apapun, dia sangat tahu keinginan Papanya itu sudah sejak lama. Meski dia merasa sangat kesal pada Riko, dia memilih untuk diam saja kali ini. Roki kali ini merasa sangat menang, dia yang awalnya tidak di indahkan kehadirannya dimeja keluarga Olivia kini menjadi sangat akrab dengan kedua orangtua Olivia. Mereka terus bertukar cerita tentang pengalaman Riko selama bergabung dengan komunitas diskusinya. Setelah pertemuan Roki dengan orangtuanya itu, Olivia kini semakin sering bertemu dengan Roki di kampus. Bahkan, tidak jarang Roki berada di sekitarnya selama dia berada di kampus. Olivia juga akhirnya ikut berkumpul dengan teman-teman Roki yang lain di kelompok diskusinya. "Kali ini kita memiliki anggota baru." ucap Roki dengan senyumannya yang khas memperkenalkan Olivia pada teman-temannya yang lain. Roki melihat kearah Olivia, seakan memberi kode pada Olivia agar dia memperkenalkan dirinya pada teman-teman yang ada di sana. Semua mata seakan tertuju pada Olivia hari itu, semua orang yang hadir disana menunggu Olivia untuk membuka suara dan memperkenalkan dirinya. "Silahkan Olivia, teman-teman ingin mendengar kamu memperkenalkan diri. Karena mereka juga butuh mengenalmu lebih dalam sebagai teman satu kelompok." ucap Roki. Olivia mengenduskan nafas panjangnya, karena hari pertama berkumpul dengan komunitas diskusi Roki terasa sangat membosankan. Tetapi karena tidak ingin berdebat panjang dengan orangtuanya dia harus menikmati rasa bosan yang dia rasakan. Yang mereka diskusikan juga belum membuat Olivia merasa tertarik dengan kelompok barunya itu. Setelah di persilahkan dan di beri waktu kleh Riko, akhirnya Olivia memperkenalkan dirinya secara singkat dan berharap tidak ada lagi pertanyaan lebih yang membuatnya harus berusaha menjawab. Di komunitas diskusi itu Olivia belum menemukan kesenangannya, dia hanya diam saja di saat teman-teman yang lain berdiskusi apa saja. Bahkan dia hanya menyibukkan diri dengan ponselnya. Riko yang melihat itu mencoba mendekari Olivia, dia yang memang jatuh cinta pada Olivia masih berusaha keras untuk membuat Olivia membuka hatinya untuk Riko. "Apa kau bosan?" tanya Riko basa-basi. Olivia langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah sumber suara. "Menurutmu?" ucap Olivia malah berbalik tanya. "Kamu akan menyukai kelompok ini, ini masih pertama kali kau berada disini jadi kau merasa bosan. Lagi pula, yang membuat mu bosan bukan kelompok ini tapi ponselmu." ucap Riko lagi sambil terkekeh kecil. Apa yang dikatakan oleh Riko memang benar, hari kedua dan ketiga Olivia bergabung dengan komunitas itu dia sudah merasa menyatu. Bahkan dia sudah menikmati obrolan-obrolan yang dia rasa sangat berat namun memiliki daya tariknya sendiri. Apalagi saat dia melihat bagaimana cara Riko menyampaikan pendapatnya saat berdiskusi dengan anggota yang lain terlihat sangat menakjubkan. Kedekatan Riko dan Olivia juga semakin intents, dari hanya bertemu saat berkumpul dengan komunitas kini mereka sering jalan berdua diluar dari urusan komunitas mereka. Riko yang lihai membuat Olivia merasa nyaman merasa berhasil membuat Olivia luluh. Apalagi perasaannya pada Olivia semakin besar. Tidak jarang Roki memberikan perhatian lebih pada Olivia yang semakin membuat Olivia terkesan padanya. Sampai akhirnya, Olivia yang juga sudah jatuh hati pada Roki menerima ungkapan perasaan Roki untuknya. Setiap hari bertemu dengan Roki membuatnya merasa sangat cocok dengan Roki dan dia juga merasa sangat nyaman dengan Roki. Kabar Olivia dan Roki yang kini menjadi sepasang kekasih dengan cepat terdengar oleh setiap telinga di kampus. Apalagi mereka juga terlihat sangat serasi sebagai kekasih yang ada di kampus. Kabar itu juga sampai di telinga Rangga, ada rasa cemburu yang dia rasakan saat mendengar kabar tentang hubungan Olivia dan Roki saat ini. Tapi dia juga tidak ingin menunjukkan pada siapapun jika dia cemburu karena dia tidak ingin di cap sebagai lelaki yang patah hati. Untuk menghilangkan rasa cemburu yang dia rasakan, Rangga lebih memilih menjalin hubungan dengan banyak wanita. Bahkan dia semakin bangga saat dia terkenal sebagai playboy yang ada di kampus mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN