Sebagai anak dari seorang Perwira, tentu Rangga memiliki semangat dan kepercayaan tinggi dapat mengajak Olivia pergi kencan, ke sebuah restoran atau pergi ke bioskop atau kemana saja yang Olivia inginkan. Rangga pun yakin bahwa cerita masa lalu Olivia hanya seperti kisah kancil yang tidak begitu serius ia tanggapi. Dia yakin Olivia hanya pura-pura cuek selama ini. Untuk pertengkarannya hari kemarin, ia anggap sebagai pembuka awal dari kisah cinta mereka nanti
Saat siap-siap pergi ke sekolah, ia terlebih dahulu menatap diri di depan cermin yang terpasang di lemari, menatap diri sambil tersenyum, merapikan rambut yang berulangkali ia sisir rapi, alis serta kumis tipisnya tidak lupa ia rapikan. Dan mengecam dewa angin tidak lagi akan ia percaya, jika hari ini dia tidak berhasil mengajak Olivia kencan. Tidak lupa ia semprotkan sedikit parfum di seragam sekolah yang telah lama tidak ia gunakan.
Saat merasa semuanya telah siap, dia pun berangkat mengendarai sepeda motor Tril yang ia beri nama Luis. Mengenai sarapan dan cium tangan, dia tidak terlalu suka, paling wajib yang ia lakukan setiap kali berangkat sekolah yaitu mencium pipi Ibunya.
Rangga memang dari kecil telah di didik mandiri, tegas dan disiplin, namun setelah ayahnya tewas dalam peperangan antara Tentara Angkatan Darat melawan kelompok bersenjata di Papua sana, Rangga pun mulai sedikit berubah. Dia menjadi anak yang bandel susah di atur, dan sekarang menjadi ketua dari geng motor yang mereka beri nama Sepulveda.
Motor Tril yang kira-kira lahir di tahun 2017 itu melaju kencang, menembus sela-sela sempit pengendara lainnya di jalan. Ban geriginya menggesek aspal jalan begitu gesit. Dia tidak terlalu cemas tentang bagaimana nantinya jika ia kecelakaan hingga patah tulang atau berakibat kematian. Sebab dia terlalu percaya bencana tidak akan datang menimpanya selagi dia masih ingat Tuhan.
IPKira-kira setengah jam, dia pun sampai di sekolah, lalu memarkir motornya di antara ratusan motor pelajar lainnya. Wajahnya terlihat cerah saat melepas helm, menghembus nafas pelan lantas memberi penghormatan pada angin yang ia anggap hidup. Kemudian berjalan ke arah kelasnya dan mulai ia lihat pandangan siswi-siswi tertuju padanya.
Tepat ketika ia membuka pintu kelas, bel masuk pun berbunyi dan seketika membuyarkan segala obrolan para siswa, mereka duduk kembali ke bangku masing-masing.
Saat Rangga memasuki kelas, para siswi di dalam kelas itu mendadak sibuk merapikan diri, ada yang bercermin, merapikan bando, rambut serta kembali menyemprotkan parfum sebanyak mungkin ke seragamnya, tentu semua itu mereka lakukan untuk menarik perhatian Rangga, sang idola baru di kelas itu menggantikan posisi Fajar.
Namun sapaan dan segala jenis daya tarik teman sekelasnya tak begitu menarik perhatiannya, pandangannya hanya tertuju pada gadis cantik berlesung yang dari tadi menunduk membaca buku. Teman duduk yang kemarin hari bertengkar dengannya itu.
Yah, Olivia. Gadis yang baru saja semalam ia ganti namanya menjadi dewi di kala ia ingin memejamkan mata. Bayang-bayang wajah Olivia selalu ia pikirkan, dan ia membayangkan seperti apa wajah manisnya ketika tersenyum.
Setelah duduk di sebelah Olivia, ia langsung mengeluarkan buku novel setebal bata yang telah ia persiapkan semalam, lalu membuka lembar awal dan membacanya keras-keras, seolah-seolah ia memang sengaja ingin membuat Olivia penasaran mengenai buku apa yang sedang ia baca.
Sesekali Olivia melirik ke arah bukunya, membaca judul dari sampul bukunya, dan jika boleh jujur ia telah menamatkan buku itu berulangkali. Lalu setelah itu ia menunduk lagi membaca bukunya hingga datang guru membuka pintu.
Guru Sosiologi yang biasa di panggil Pak Gembu itu cukup ramah, ia membuka materi pelajaran dengan memberikan satu pertanyaan singkat ke semua murid IPS 2 kelas 12 yang ia tulis di papan tulis. Dan bagi siapa saja yang berhasil menjawab pertanyaan itu akan mendapatkan nilai yang bagus darinya.
“Idealnya guru memang begini, tetapi guru semacam ini kurang kreatif aku rasa,” ucap Olivia dalam hati.
Sedangkan Rangga, berkata, “Ini adalah kesempatan bagiku untuk menarik perhatian Olivia.”
Kemudian Rangga mengacungkan telapak tangan, lalu menjawab pertanyaan singkat itu secara pelan-pelan. Semua mulai melirik padanya, sementara ia semakin lihai memberikan argumen yang sudah ia yakini itu telah benar.
Setelah ia tutup dengan kata terima kasih, semua siswi di kelas itu tepuk tangan meriah terkecuali Olivia sendiri, namun setelah itu, Pak Gembu mempersilahkan bagi siapa saja ingin menyanggah argumennya, namun semuanya hanya diam dan berpendapat telah setuju dengan apa yang di sampaikan Rangga.
Tetapi tiba-tiba Olivia mengacungkan tangan dan berkata bahwa ia tidak setuju dan apa yang di sampaikan Rangga keliru, lebih tepatnya salah.
“Silakan berikan pendapatmu, Olivia!” kata Pak Gembu.
Lantas Olivia berdiri dan mulai mengeluarkan pendapatnya tentang pertanyaan singkat itu. Baginya menyanggah pendapat orang tidak lain untuk mendewasakan pikiran, dan tentu untuk meluruskan hasil yang salah. Dia tidak ingin membiarkan pendapat keliru di telan mentah-mentah tanpa mengoreksinya kembali, apalagi sampai pendapat salah itu di biarkan menyebar kemana-mana dan menjadi teori atau prinsip pegangan mereka mengenai segala sesuatu.
Olivia semakin lihai dan menderu, sampai-sampai apa yang ia sampaikan keluar dari batas pertanyaan. Tangannya bergerak sana-sini seperti seorang ahli puisi, lalu menunjuk Rangga di akhir kalimatnya bahwa apa yang di sampaikan Rangga adalah kalimat bodoh yang tak patut di percaya.
Rangga tersedak, dia merasa baru saja di permalukan, kemudian ia berdiri di sebalah Olivia dan menyanggah kembali pendapat Olivia.
Suasana kelas seketika gaduh, para siswa mulai memberikan dukungan terhadap Olivia sementara Rangga mendapat dukungan dari para siswi lainnya.
Mereka saling menyanggah satu sama lain, saling menyalahkan dan membenarkan. Memberikan contoh dan teori yang pernah mereka baca dan temui di lapangan. Namun pada kesimpulannya, Pak Gembu menepuk mejanya hingga semuanya diam, lalu menjawab dengan menggabungkan kedua pendapat mereka. Dan sekali lagi, Pak Gembu meminta kepada semua siswa untuk memberikan hadiah tepuk tangan kepada mereka.
Perdebatan mereka pun di akhiri dengan bunyi bel jam kedua, Pak Gembu di ganti oleh guru Matematika bernama Ibu Susi.
Ibu Susi ini sangat rapi dan sangat teliti, sebelum kelasnya dimulai, terlebih dahulu ia memperhatikan gaya rambut para siswa, pakaian dan tata letak deretan bangku mereka, jika ada yang kurang pas baginya maka ia akan meminta untuk di rombak.
Setelah memicingkan satu mata, Ibu Susi pun membuka materi. Dan lambat laun para siswa mulai mengeluh dalam hati, dan telah menebak pasti ada ribuan rumus yang akan di jabarkan nanti di papan tulis.
Untung Ibu Susi ini masih muda, wajahnya putih halus dan kencang membuat para siswa lelaki tidak bosan memandanginya, perihal apa yang ia ajarkan, tentu semuanya merasa bosan terkecuali murid satu yang duduk paling belakang yaitu Olivia.
Lagi-lagi namanya berkibar bagai bendera di ujung tiang, di mata Ibu Susi ia mendapat panggilan murid tersayang, karena ia satu-satunya yang berulangkali dapat memecahkan soal. Apalagi ketika ada ulangan, tentu Ibu Susi tidak menghawatirkan jawabannya.
“Coba kamu murid baru, siapa namamu?” tanya Ibu Susi.
“Rangga,” jawabnya.
“Kerjakan ke depan!” pinta Ibu Susi.
Rangga mulai menelan ludah, dari dulu hingga kini ia mengaku memang mati kutu perkara matematika, baginya rumus di dalam pelajaran matematika tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, tidak mungkin kita menggunakan rumus begitu banyaknya hanya untuk membeli sepotong kue.
Tetapi namanya sudah terlanjur di atas puncak dan hampir setara dengan Olivia, tidak mungkin ia tolak atau berkata tidak bisa, itu akan membuatnya malu terutama malu kepada saingan terberatnya, Olivia.
Lalu Rangga berdiri melangkah ke arah papan tulis di depan dan mulai meyakinkan diri bahwa ia bisa mengerjakan soal yang belum sempat ia pikirkan bentuk jawabannya.
Sampai di depan papan tulis, spidol hitam ia ambil dari tangan Ibu Susi. Ia menarik nafas panjang dan mengusap keringat tangannya. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya menghindari soal ini tanpa harus mengatakan tidak bisa.
Kemudian satu ide muncul dalam kepalanya. Saat Ibu Susi tidak memerhatikan ke arahnya, ia segera mengubah angka yang ada dalam rumus, lalu ia mundur satu langkah ke belakang dan mulai mengamati soal itu dengan serius hingga semua orang mengira ia paham. Dia pura-pura menghitung dengan menunjuk satu persatu angka di papan tulis tersebut, lalu menghitung dengan jari-jemarinya.
Dan pada saat itu, ia memunculkan wajah yang sedikit kebingungan, lalu bertanya pada Ibu Susi apakah rumus yang tertulis di papan tulis sudah benar atau salah hingga Ibu Susi mengoreksinya.
Ibu Susi yang terkenal teliti langsung membenarkan letak kacamata kecilnya, melihat kembali rumus yang tertera di buku apakah sudah sama dengan apa yang ia tulis di papan tulis.
“Oh, maaf saya keliru menulisnya.” Kata Ibu Susi lalu membenarkan rumus itu kembali.
Namun pengakuan kesalahan dari Ibu Susi itu Rangga gunakan sebagai taktik serangannya.
“Oh... Saya baru tahu bahwa sekolah ini memiliki guru seperti ibu. Seorang guru yang suka keliru, ce-ro-boh... Pantas saja para siswa disini tidak paham matematika. Jika boleh aku berikan saran, lebih baik ibu mutasi saja dan kembali sekolah ke tingkat dasar!” Kata Rangga.
“Apa?” Ibu Susi kaget dan seluruh murid seisi kelas.
Ibu Susi yang terkenal teliti itu baru saja menjadi korban dari ke kurang ajaran Rangga, Ibu Susi malu sejadi-jadinya hingga ia meneteskan air mata. Dia tidak mungkin melawan dengan cara memukul atau mendebat Rangga tentang kekeliruan yang tulis itu, karena sudah jelas ia telah salah. Ibu Susi tidak bisa berbuat apa-apa selain memasukkan buku-bukunya kembali ke dalam tas.
Namun tiba-tiba Olivia berdiri, lalu mencegah Ibu Susi agar jangan sampai keluar dulu dari kelas. Dia melangkah ke arah depan dengan wajah yang sangat kesal menatap Rangga.
Rangga mulai panik, dia yakin Olivia tahu dan akan membocorkan apa yang baru saja dia lakukan. Tetapi Ibu Susi tidak kuasa lagi menahan rasa sakit dari perkataan Rangga tadi, dan langsung keluar kelas tanpa menanti apa yang akan Olivia lakukan.
Para siswa bersorak seketika saat Ibu Susi keluar, dan tidak segan-segan Olivia menepuk meja guru dengan keras hingga mereka diam.
Lalu ia berkata lantang, “Dengarkan aku, bahwa dia adalah penipu yang tidak tahu diri.” Sambil menunjuk Rangga.
“Ada apa?” tanya Rangga seolah-olah tidak terima.
“Akui saja bahwa memang kamu yang mengubah rumus itu tadi, lalu kamu pura-pura kebingungan hingga semua mengira kamu itu tengah bingung dengan semua ini. Aku tahu kamu bodoh, tidak paham tentang matematika, dan demi menghindari rasa malumu karena tidak tahu itu, kamu menjadikan Ibu Susi sebagai korbannya.” Lanjut Olivia.
“Kalau iya, kenapa?” kata Rangga menantang.
“Segera minta maaf atau...”
“Atau apa?” kata Rangga menantang.
“Aku laporkan ke BK!”
Sesaat Rangga terdiam, dan menatap mata Olivia sangat dalam. Berjalan ke arahnya sambil menggenggam tangannya dan berjongkok di hadapannya.
Kemudian ia berkata, “Aku cinta wanita seperti kamu, maukah kamu menjadi pacarku?”
Seisi ruang kelas itu sontak teriak, mereka bergemuruh dan tak kuat menahan diri dari keromantisan yang di lakukan Rangga terhadap Olivia, sampai-sampai salah satu dari mereka pingsan karena tidak terima.
Dan Olivia menjawabnya dengan tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Lalu ia pergi membereskan buku-bukunya di meja duduknya. Dan tiba-tiba sebuah pesan masuk ia lihat di handphonenya, pesan singkat dari nomor asing yang tidak ia kenal yang ia baca bahwa itu adalah Roki Nanda dari nama yang ia tera. Lagi-lagi dalam pesan itu tertulis tentang ambisinya mengajak Olivia bergabung dengan perkumpulan diskusinya.