Merebut Cinta Olivia

1224 Kata
Janji memang sering berubah di kala ada beberapa kejadian yang mengharuskannya untuk di ubah, sepeti janji Olivia pada awal bulan Juni lalu. Yang mengatakan akan menaiki kendaraan umum kemana pun ia pergi.  Tetapi setelah kejadian kemarin, janji saat bulan Juni itu ia tarik kembali. Kini ia berjanji tidak akan menggunakan kendaraan umum khususnya taksi.  Pagi ini, ia telah siap berangkat sekolah dan meminta sopir pribadi Papanya untuk mengantarkannya ke sekolah. Tetapi jika ia ingat kembali kejadian kemarin, ada baiknya juga ajakan pria bernama Roki itu. Sebab memang telah lama ia menginginkan bisa bergabung dengan kelompok diskusi untuk membuat wawasannya lebih luas lagi.  Kurang lebih setengah jam, mereka pun sampai di depan gerbang sekolah. Para siswa pun masuk ke kelasnya masing-masing termasuk Olivia, ia masuk ke kelas dua belas IPS 1 yang berada paling ujung sebelah kanan. Dan Olivia langsung duduk di bangku belakang paling pojok, singgasana ternyamannya.  Tetapi, ia merasakan ada sedikit perbedaan saat ia memasuki kelas, biasanya saat ia memasuki kelas, paling tidak ada satu teman sekelasnya yang menegur sapa selamat pagi kepadanya atau menanyakan tentang kabarnya. Namun kali ini tidak ada, mereka sibuk bergosip di lingkaran mereka masing-masing. Olivia mendengar sekilas percakapan mereka, bahwa hari ini akan ada pria tampan pindahan dari SMAN 2 ke sekolah mereka, dan akan di masukkan ke kelas mereka.  Bel masuk pun berdering, semua siswa baik laki-laki dan perempuan kembali pada tempat duduk mereka masing-masing. Satu menit kemudian, pintu kelas pun di buka dan di masuki guru bahasa Indonesia bernama Nadia, dan seorang pria berbadan tinggi berwajah tampan.  Kemudian, ibu guru bahasa Indonesia pun memperkenalkan siswa baru yang berdiri di sebelahnya tersebut. Ia bernama Rangga Mahesa, ia pindahan dari SMAN 2 Jakarta, berusia 18 tahun. Selanjutnya Rangga menjelaskan dengan singkat tentang dirinya.  Katanya, ia berasal dari keluarga seorang Perwira, yang mengedepankan ketegasan dan keberanian menghadapi segala tantangan. Tetapi ayahnya telah tewas di Medan perang dua tahun lalu. Kini ia hidup bersama ibunya.  Lalu ibu Nadia yang biasa di panggil penyair tersebut meminta Rangga untuk duduk di sebelah Olivia, sebab bangku kosong hanya ada di sebelahnya. Rangga pun berjalan ke arah bangku Olivia sambil menebarkan pesonanya, ia tersenyum manis layaknya selebriti yang tengah menjadi idola para wanita.  Para siswi yang terkenal centil pun memanggil namanya sambil merapikan rambut lurus yang setiap hari mereka rawat di salon mahal, ada pula yang mengenakan lipstik secara diam-diam agar terlihat cantik di depan mata Rangga. Hanya Olivia saja tidak tertarik memperhatikannya, bahkan seakan ia merasakan aura bencana saat siswa baru ini di suruh duduk di sebelahnya. Memang Rangga cukup tampan, bahkan ketampanannya mengalahkan Rio kapten basket yang pernah di permalukan Olivia itu. Selain tampan, ia juga tinggi dan memiliki tubuh yang tegap. Ia seperti artis-artis Hollywood dengan rambut sedikit panjang.  Lalu tanpa permisi, ia pun duduk di sebelah Olivia. Dan pada saat itu juga, materi jam pertama pun di mulai. Namun pandangan para siswi di dalam kelas tak henti-hentinya menoleh ke arah Rangga yang duduk di belakang bersama Olivia. Bahkan ada yang melamun, mungkin ia melamunkan bisa pacaran dengan Rangga.  “Semuanya melihat ke depan...!” pinta ibu Nadia. Ibu guru bahasa Indonesia itu pun meminta pada semua anak didiknya membuka halaman 30 di buku LKS mereka masing-masing.  Namun Olivia masih menunduk membaca buku novelnya, hingga Rangga mengetuk meja dua kali agar Olivia sadarkan diri dan memerhatikan ibu Nadia yang menjelaskan di depan kelas. Tetapi Olivia tidak memahami bahasa komunikasi yang baru saja Rangga gunakan untuknya. Ia masih fokus membaca sebuah dialog yang ada di buku novelnya.  Lalu Rangga menyentuh kulit lengan Olivia dengan ujung jari telunjuknya, tiba-tiba saja ekspresi di wajah Olivia berubah menjadi marah, buku yang ia baca langsung ia tutup dan ia gunakan untuk memukul bahu Rangga.  “Ada apa?” tanya Rangga mengerut dahi. Ia langsung berdiri. “Jangan sentuh aku...!” ucap Olivia bernada tinggi.  Semua siswa di dalam kelas langsung menoleh ke arah mereka termasuk ibu Nadia. Para siswa mulai tertawa, namun ada juga siswi mulai mengerutkan dahinya. Mereka menyangka Olivia sedang mencari perhatian terhadap Rangga.  Ibu Nadia pun menenangkan mereka berdua, dan meminta kepada Olivia agar menerima kedatangan Rangga sebagai teman baru mereka. Memang selama ini Olivia di anggap berbeda dengan siswa kebanyakannya, selain memang hanya ia sering aktif di kelas, ia juga sering menyendiri jika jam istirahat tiba.  Rangga pun kembali duduk setelah bangkunya ia beri jarak setengah meter dari bangku Olivia. Mulai saat itu, ia tidak pernah lagi mengganggu bahkan mengajak Olivia berbicara.  Namun di dalam benaknya, tersimpan seribu penasaran keseluruhan tentang Olivia, di tambah wajah manis Olivia membuat ia tertantang ingin memacari wanita berwajah mirip Nike Ardilla tersebut.  Di tambah rasa kekagumannya terhadap Olivia saat ibu Nadia memberi kesempatan pada semua siswa untuk bertanya, dan yang pertama kali mengacungkan tangannya adalah Olivia. Ia bukan hanya bertanya, tetapi ia mengeluarkan pendapat dan pemahamannya. Ada beberapa penyair tanah air yang ia kagumi, salah satunya Khairul Anwar dan W.S Rendra. Syair-syair serta biografi dari kedua penyair tersebut telah ia hafal. Apalagi makna yang terkandung di dalam setiap syair mereka, semuanya telah ia pahami.  Bahkan jika ibu Nadia meminta kepadanya untuk berpuisi entah karya Khairil atau Rendra di depan kelas tanpa sebuah teks, maka ia akan melakukannya.  Jadi, jika ada satu kesalahan penjelasan mengenai mereka, maka ia akan mudah membantahnya. Ia akan sedikit meluruskan bagaimana kebenaran yang sekiranya tepat agar para siswa mendapat pemahaman yang sesungguhnya.  Namun kadang kala, ketika ia meluruskan suatu pernyataan guru yang salah, kebanyakannya guru tersebut malah marah dan tidak terima. Dan menganggap Olivia sebagai murid yang menyalahi aturan serta minim etika.  Di saat Olivia berdebat dengan ibu Nadia, tiba-tiba Rangga berdiri dan mencoba menjelaskan apa yang ia ketahui tentang kedua penyair tadi. Namun secara garis besar, apa yang di jelaskan Rangga tidak jauh berbeda seperti apa yang di jelaskan Olivia.  Dan pada akhirnya ibu Nadia pun merasa malu dan langsung mengakhiri pembelajaran. Ia pun keluar dengan membanting pintu. Semua siswa pun bersorak, namun ada pula yang tambah membenci dan iri terhadap Olivia.  Saat jam istirahat pertama tiba, lima wanita di kelasnya yang terkenal centil dan tidak pernah absen membicarakan pria tampan di sekolah mereka, mengajak Rangga pergi ke kantin bersama. Mereka berjanji akan mentraktir dan memperlakukan Rangga layaknya pangeran cinta.  Sebenarnya Rangga ingin menolak ajakan geng Sweety yang di ketuai gadis bernama Nona tersebut, namun pada akhirnya ia pun mau.  Kelima wanita centil itu senang bukan kepalang saat ajakan mereka tidak di tolak oleh Rangga, sebab ini adalah kesempatan bagi mereka untuk memamerkan Rangga kepada wanita-wanita lain yang telah lama menjadi saingan mereka.  Namun Rangga bukan pria yang kolot, yang baru saja merasakan bagaimana menghadapi wanita seperti mereka. Ia telah berpengalaman bahkan ia pernah memacari kurang lebih dua puluh wanita centil seperti mereka di sekolah lamanya.  Sebab bukan tanpa maksud ia menerima ajakan mereka begitu saja, semua ini mengenai kepentingan. Tidak lain agar ia bisa mengumpulkan informasi tentang Olivia. Bahkan jika bisa, ia harus tahu ukuran sepatu dan seberapa panjang rambut halusnya. Kenapa sifat dan sikapnya seperti wanita tomboi padahal wajahnya sangat manis membuat ia tersenyum jika mengingatnya.  Sampainya di kantin sekolah, mereka duduk di paling tengah. Pelan-pelan Rangga menanyakan tentang Olivia kepada mereka, dan mereka pun menerangkan cerita terkenal mengenai Olivia saat kelas satu dulu. Dan beberapa kisah lain tentang Olivia.  Rangga tersenyum kecil setelah mendengar cerita semua itu, seolah-olah telah terbentuk di dalam kepalanya apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Olivia dan membuat Olivia jatuh cinta padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN