Bab Special : Master Mami

971 Kata

"Mami!" Aku buru-buru mencuci tanganku karena sedang menggiling cabai. "Mami!" Aku sambar dengan cepat serbet dapur, berjalan tergesa-gesa dengan tangan yang sibuk mengusel-ngusel serbet. Langkahku semakin cepat ketika teriakan yang ketiga kali kembali terdengar. Aku membuka pintu kamar Ghandi dengan sebal. Berkacak pinggang di depan pintu kamarnya dengan servet di pundakku. Pemandangan yang aku lihat membuatku ingin sekali melempari Arghani dan Ghandi dengan batu gilingan cabai. Bagaimana tidak jengkel? Ghandi berteriak heboh hanya karena dia sedang bergelut dengan papinya dan tidak bisa lepas dari kuncian papinya. "Ghandi kamu itu sudah 17 tahun. Masa sama Papi kamu yang udah tua gitu aja kalah. Malu-maluin Mami tau gak!" teriakku jengkel tanpa ada niat sedikit pun membantu anak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN