“Pi. Cantik nggak?” Ghandi mengangsurkan ponselnya ke padaku. Ada foto seorang perempuan dengan seragam SMA di layarnya. “Gebetan? Pacar?” tanyaku. “Lumayan. Tapi masih cantikan Mami kamu Ghan,” lanjutku kemudian. Saat ini aku dan Ghandi sedang duduk di pinggir lapangan basket. Kami baru saja selesai bermain dengan anak-anak dan bapak-bapak komplek perumahan. Kegiatan sore yang baru-baru ini menjadi kesenangan aku dan Ghandi. Ghandi mengambil ponselnya dariku. “Jelas lah! Mami itu yang tercantik,” timpal Ghandi membuatku tertawa pelan. “Jadi itu tadi pacar?” tanyaku yang masih penasaran. “Bukan Pi. Dia penggemar Ghandi,” sahut anakku dengan bangga. Ghandi bahkan memukul dadanya yang membusung. Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan kelakuan Ghandi sekarang. Beberapa kali aku m

