8. LYT

2218 Kata
Seusai melaksanakan shalat subuh, semua jamaah mendengarkan kuliah subuh oleh pak ustadz. Alula pun ternyata serius ikut atuknya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dari kejauhan dia pun melihat Aksa yang ada di dekat atuknya, Alula memang sedang mencari cara supaya dirinya bisa lebih dekat lagi dengan Aksa, namun tetap dia tidak mau atuknya mengetagui rencananya itu, termasuk shalat subuh ini. Setelah selesai kuliah subuhnya, atuk dan Aksa pun berjalan keluar dari masjid. Seperti biasa atuk dan Aksa akan pulang bersama. “ Ayo tuk.” Ajak Aksa. “ Tunggu dulu sa, atuk nunggu cucu atuk.” Ucap Atuk Fadhil. “ Cucu atuk.” “ Iya cucu yang pernah atuk ceritakan, kemarin dia datang kesini buat nengokin atu. Dan semalam dia nginap sini.” Jawab Atuk Fadhil. “ Owh.” “ Itu cucu atuk.” Ucap Atuk Fadhil, Aksa pun langsung memandang kearah yang atuk Fadhil tunjukkan. Aksa hanya bisa membelakakan matanya, ketika melihat wanita yang sedang berjalan mendekatinya. “ Assalamualaikum atuk.” “ Waalaikumsalam.” “ Lula.” Ucap Aksa yang benar-benar terkejut ketika mengetahui kalau ternyata cucu atuk Fadhil adalah Lula. “ Assalamualaikum kak Aksa.” Salam Lula. “ Waalaikumsalam.” “ Kamu pasti terkejut ya, ternyata Lula ini cucu atuk.” Tanya atuk Fadhil, dan Aksa hanya tersenyum masam sambil memandang kearah Lula. “ Lula juga ngga menyangka kalau ternyata kak Aksa tinggal disini, kebetulan sekali ya kak kita jumpa disini.” Ucap Lula sambil basa basi. “ Hmmm.” Balas Aksa. Kemudian mereka bertiga pun berjalan dalam keheningan, namun tidak lama kemudian, atuk Fadhil kembali membuka pembicaraan.  “ Emir kapan pulang sa.” Tanya atuk. “ Owh, kemungkinan dokter Emir pulangnya minggu depan tuk.” Jawab Aksa. “ Pasti kamu dan yang lain sangat kesulitan ya, saat tidak ada dokter Emir dan Yumna.” Tanya atuk. “ Lumayan sih tuk. Biasanya kan kita berempat memeriksa pasien. Sedangkan sekarang hanya Aksa dan dokter Mira..” Balasnya. “ Berarti di puskesmas kekurangan tenaga dok kak.” Tanya Lula. Aksa pun hanya diam, karena dia langsung merasakan ada hawa-hawa yang tidak menyenangkan yang akan diperbuat oleh Lula. “ Iya ya, sa. Apalagi si Mira bentar lagi cuti melahirkan kan Sa.” Tanya atuk. “ Iya tuk.” “ Kasihan sekali, kamu jadi istirahatnya kurang dong sa.” “ Namanya juga udah tanggung jawab Aksa tuk.” Balasnya. “ Andai saja, ada relawan lagi seperti kamu yang bersedia membantu puskesmas.” “ Lula bisa kok tuk.” “ Maksudnya.” Tanya atuknya. “ Lula bisa bantu-bantu di puskesmas.” Jawab Lula. “ Ngga perlu tuk, ngga perlu la. Kita masih bisa kok menghandle semuanya. Apalagi sebentar lagi dokter Emir dan Yumna pulang.” Tolak Aksa yang ternyata firasatnya benar, kalau Lula sedang merencanakan sesuatu lagi untuk kembali mengusiknya. “ Ya ngga apa-apa kak, hari ini Lula ngga punya kegiatan apapun. Dan setelah dari kampus Lula bisa datang kemari buat bantu-bantu di puskesmas.” Jawab Alula dengan semangat. “ Ngga perlu la, saya ngga mau ganggu kamu. Apalagi jarak dari kampus kesini kan lumayan jauh. Kasihan kalau kamu harus bolak balik ke kampus dan kesini. Sebaiknya ngga perlu, kamu tenang aja, kami masih bisa menghandle semuanya. “ Kok kak Aksa bicara begitu sih, kak Aksa aja bisa bolak balik ke kampus dan kesini. Kakak juga bisa jadi relawan di kampung ini, tapi kenapa Lula ngga bisa.” Rengeknya yang tidak terima karena Aksa menolaknya. “ Ya kan kita beda la, aku kan memang sudah sesuai dengan bidangku. Sedangkan kamu kan beda.” Balasnya mencari-cari alasan supaya Lula menyerah untuk membantu di puskesmas. “ Iya la, benar yang dikatakan Aksa. Nanti kalau kamu bolak balik sini kan bisa cape. Apalagi jurusanmu ngga sesuai dengan bidang ini.” Balas Aksa. “ Atuk, apa menolong orang itu harus sesuai dengan bidangnya. Apa yang beda bidang ngga boleh nolong orang yang sakit dan membutuhkan bantuan. Kalau atuk takut Lula kecapean karena bolak balik, atuk ngga perlu khawatir. Lula kan bisa pulang bareng sama kak Aksa. Justru kalau Lula bantu di puskesmas banyak keuntungan yang terjadi, yang pertama, tenaga di puskesmas bertambah dan mereka ngga terlalu kecapean. Kedua, Lula jadi bisa tinggal dengan atuk lebih lama lagi. Ketiga, kak Aksa ngga perlu lagi bolak balik ke kampus dan kesini pakai bus. Dia bisa pulang bareng sama Lula.” Ucapnya yang terus bersikekeuh. Aksa hanya menahan emosinya, baginya cara Lula sudah keterlaluan. Namun dia tidak mungkin marah-marah pada Lula di depan atuk Fadhil. Namun ternyata ucapan Lula membuat atuk kembali berpikir. “ Kamu ada benarnya juga sih la.” “ Aksa serius tuk, ngga perlu kok.” Balas Aksa yang juga tetap menolaknya. “ Apa ngga sebaiknya di coba dulu sa, niat Lula pun baik. Masa kita mau menolak niat baik orang sih.” Balas atuk. “ Tapi tuk.” “ Udah kak, ngga usah tapi tapian. Sekarang udah deal kan tuk. Alula Farzana Ayunindya akan menjadi relawan di puskesmas kampung Temu Jumpo.” Ucapnya sambil melirik kearah Aksa. Dia merasa kalau dirinya menang lagi. “ Tapi hal ini ngga buat main-main lho la, kamu itu mau membantu di tempat yang sangat di harapkan oleh orang-orang untuk sembuh dari sakitnya. Atuk ngga mau mendengar kalau kamu disana justru membuat masalah bukannya menyelesaikan atau membantu masalah disana.” “ Siap tuk, atuk tenang aja, atuk ngga perlu khawatir. Alula janji Alula ngga akan buat masalah disana. Dan atuk juga ngga perlu takut kan ada kak Aksa yang akan mengajari Lula, iya kan kak Aksa.” Ucap Lula yang kembali memandang Aksa. Aksa hanya diam, dan kesal dengan cara Lula yang lagi-lagi berhasil untuk mengusiknya. “ Kamu bilang saja pada atuk kalau sampai Alula disana tidak membantu apapun dan justru membuat masalah. Dan atuk juga minta tolong padamu, beritahukan saja pada Alula mana yang sepatutunya dia kerjakan dan mana yang tidak. Kalau dia slah, tegur saja jangan ragu.” Balas atuk. Aksa hanya bisa pasrah ketika mendengar atuk sudah setuju dengan rencana yang di buat oleh Alula. Lagi-lagi Alula tersenyum penuh dengan kemenangan, tatapan mereka pun bertemu namun dengan perasaan yang bertolak belakang. Mereka kembali berjalan menuju rumah masing-masing. Alula yang berjalan disamping Aksa pun mulai berbisik. “ Ini baru awal Alula mencapai impian Alula. Dan Alula yakin, kalau kita berdua memang sudah ditakdirkan untuk bersama kak.” Ucapnya liri sambil mengedipkan mata manjanya pada Aksa. Namun tidak dengan Aksa, justru hal ini adalah musibah besar baginya, karena akan semakin sulit membuat wanita yang ada disampingnya ini menyerah untuk mendapatkannya. *** Walaupun hari ini hari minggu, tapi Aksa tetap datang ke puskesmas. Karena ada warga kampung yang akan di rujuk ke rumah sakit besar. Dan Aksalah yang mengurus semua rujukan itu. “ Gimana kak, semuanya sudah beres kan.” “ Iya dok.” “ Ok kalau begitu, Aksa langsung berangkat ya.” Ucapnya yang sudah siap untuk masuk ke ambulance. Tapi sebelum dia masuk, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya. “ Kak Aksa.” “ Alula.” Ucap Aksa sambil melepas tangan yang di cekal Alula. “ Kak Aksa mau kemana.” “ Bukan urusanmu.” “ Tapi kak.” Bukannya menjawab pertanyaan Alula, Aksa langsung masuk kedalam ambulan. Karena tidak mendapat jawaban dari Aksa, Alula pun akhirnya mendekat ke kak Alya untuk menanyakan kemana Aksa akan pergi. “ Kak, kemana doktor Aksa pergi.” “ Ada pesakit yang perlu di rujuk ke bandar, sebab tu, doktor Aksa mengantarkannya.” Jawab kak Alya. “ Kok, pagi tadi dia tak cakap apapun dekat saya.” “ Pesakit baru dek. Adek bukannya pesakit yang semalam. Apa masalahnya, adakah yang masih sakit. “ Tak kak, saya datang kemari karena saya mahu membantu di sini.” “ Adek mahu bantu disini.” “ Iya, oh iya nama saya Alula. Saya cucu atuk Fadhil.” “ Oh cucu atuk Fadhil. Saya rasa siapa. Adek serius nak bantu-bantu disini.” “ Iya kak, saya serius.” Jawabnya sedikit ragu karena, penyemangatnya tidak ada disini. “ Alhamdulillah, kakak senang dengarnya. Nama kakak Alya, kakak jururawat disini. Oh ya ayo masuk dek. Kakak fikir kakak akan sendiri disini menunggu doktor Aksa.” Ucap kak Alya. “ Adakah doktor Aksa lama berada disana kak.” Tanya Alula. “ Entah, mungkin dia akan menunggu sampai pesakit sudah dapat rawatan yang tepat.” Jawab kak Alya. “ Bagaimana doktor Aksa pulang nanti, dia kan tak bawa kendaraan.” Tanya Alya. “ Ya mungkin seperti biasa dia akan naik bus.” Jawab kak Alya. “ Kasihan sekali kak. Mmm, apa tidak sebaiknya saya menyusul doktor Aksa ke sana. Mungkin saja dia butuh pertolongan saya.” Ucap Alula yang menawarkan diri. “ Bisa jadi sih, karena biasanya kalau ada rujukan, kita akan berangkat dua orang.” “ Nah, kalau gitu Alula ke sana aja ya, menyusul kak Aksa.” Balas Alula yang mulai semangat lagi. “ Apa tak masalah buat awak.” “ Tak, lah kak. Justru Alula senang bisa bantu.” Balasnya. Kemudian kak Alya pun memberitahukan pada Lula dimana rumah sakit yang sedang Aksa datangi sekarang. Dia akan menyusul Aksa dengan mengendarai mobilnya. *** Sesampainya Aksa di rumah sakit, dia langsung saja memberitahukan pada dokter yang bertugas tentang kondisinya sejak tadi di puskesmas sampai dia tiba disana. Supaya dokter di rumah sakit bisa segera menindaklanjuti sakit yang di alami pasien. Aksa pun tidak lepas tangan begitu saja, pasien memang sudah di tangani oleh rumah sakit namun Aksa tetap harus memantau perkembangan pasien. Dia tetap merasa bertanggung jawab, karena pasien tersebut awalnya memang pasiennya. Apalagi dia adalah warga kampunh Temu Jumpo. Berjam-jam Aksa dan keluarga pasien menunggu kabar dari dokter. Dia tidak bisa tenang sebelum tahu kondisi pasien sekarang. Namun ketegangannya berubah menjadi rasa terkejut karena mendengar ada seseorang yang memanggilnya. “ Kak Aksa.” Panggil Alula yang bahagia akhirnya menemukan keberadaan Aksa. Karena sedari tadi dia mencari dimana Aksa berada. “ Alula, ngapain kamu disini.” Tanya Aksa yang sangat terkejut. “ Alula disini mau bantuin kak Aksa.” Jawab Alula dengan santai. “ Maksudnya.” “ Ihh, kak Aksa gimana sih. Tadi pagi kita kan sudah deal kalau Alula akan membantu doktor Aksa.” “ Perjanjiannya kamu ngga membantu saya la, kamu membantu puskesmas.” “ Iya, tapi kan kak Aksa dokter di puskesmas, itu tandanya sama aja. Gimana keadaan pasiennya kak.” Tanya Alula. “ Masih ditangani dokter.” Jawab Aksa dengan jutek. Kemudian, Alula beralih memandang kearah keluarga pasien. Wajahnya yang tadinya bahagia bisa melihat Aksa pun sekarang berubah sedih. Dengan langkah perlahan Alula menghampiri keluarga pasien. “ Makcik, saya tahu ini perkara yang paling sukar yang sedang makcik hadapi. Kerana makcik nampak orang yang makcik cintai sedang berjuang untuk sembuh. Tapi makcik pun harus yakin, kalau anak makcik anak yang kuat. Dia mampu, kerana dia tahu ibu dia senantiasa menunggu dan mendoakannya.” Ucap Alula sambil menggenggam dan kemudian memeluk ibu pasien. Tangisan ibu pasien pun langsung pecah dalam pelukan Alula. Wajah yang biasanya terihat ceria, pun berubah sendu bahkan mata Alula mulai berkaca-kaca. Aksa yang melihat semua itu pun heran, kalau seorang Alula yang sangat aneh, yang biasanya egois tidak memperdulikkan orang lain sekarang sedang berusaha menguatkan orang yang terkena musibah. Tidak lama kemudian, dokter pun keluar untuk memberitahukan keadaan pasien. Keadaan pasien pun sudah melewati masa kritisnya. Namun dia belum sadarkan diri. Aksa, Alula dan ibu pasien pun lega mendengar kabar tersebut. Wajah mereka yang dari tadi tegang pun sudah lebih baik. Ibu pasien pun berterima kasih pada Alula dan Aksa karena sudah membantunya. “ Doktor, makcik benar-benar ucapkan terima kasih karena doktor mahu menolong kami.” Ucap ibu pasien. “ Sama-sama bu, itu sudah menjadi tanggung jawab saya.” Balas Aksa. “ apa ini kekasih doktor.” Tanya ibu pasien sambil melihat kearah Aksa dan Alula. Mendengar pertanyaan itu, Alula hanya tersenyum namun tidak dengan Aksa dia langsung membelakakan matanya. “ Bukan bu, dia pekerja di pusat kesehatan awam kampung kita.” Jawab Aksa. “ Untuk masa ini memang bukan makcik, tapi saya bakal jadi kekasihnya. Masih dalam proses makcik.” Jawab Alula sambil senyum-senyum. “ Jangan dengarkan dia makcik. Kalau begitu tugas saya disini dah selesai. Saya balik dulu. Saya doakan anak makcik cepat pulih.” Ucap Aksa yang berpamitan langsung pada ibu pasien setelah dia menyelesaikan tuganya. Tahu, Aksa pamitan Alula pun menyusulnya. Aksa berjalan begitu cepat untuk menjauh dari Alula, dia pun tidak menghiraupan panggilan Alula. “ Kak Aksa nunggu apa disini.” Tanya Alula yang melihat Aksa berdiri di depan rumah sakit. “ Bukan urusanmu.” Jawabnya. “ Kak, Alula datang kesini kan mau jemput kak Aksa. Kalau kak Aksa mau pulang sekarang sebaiknya kita langsung aja ke mobil Lula.” Ucap Aksa. “ Kamu pulang aja duluan.” “ Ngga bisa begitu dong kak, Alula kan datang kesini buat...” Ucapnya terhenti ketika melihat raut wajah Aksa berubah. “ Aku juga menyuruh kamu buat nyusulin aku kesini. Jadi aku ngga ada urusannya sama kamu bahkan ikut kamu pulang.” Ucap Aksa yang langsung saja naik bus ketika sudah ada bus berhenti di depannya. Alula terus memanggil Aksa karena tega meninggalkannya. Tapi dia tidak tinggal diam. Dia langsung ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan mengejar Aksa. Alula mengikuti bus yang di tumpangi Aksa dari belakang. Dia tahu, kalau Aksa tidak mungkin mau bersamanya dalam satu mobil. Dan bagi Alula, membuntuti Aksa dari belakang seperti ini pun sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. “ Apa ini yang dinamakan cinta, cinta mampu membuat kita melakukan apapun tanpa mengharapkan imbalan apapun.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN