7. LYT

2265 Kata
Untuk saat ini waktu Aksa lebih banyak di habiskan di puskesmas. Karena, dokter Emir sedang pergi seminar di luar kota. Maka, segala tugas dokter Emir pun dilimpahkan kepada Aksa. Jadi waktu luang Aksa pun berkurang. Apalagi akhir-akhir ini sedang banyak pasien. “ Apa doktor Aksa sakit.” Tanya kak Alya. “ Ngga kok kak, Aksa hanya lelah aja. Apalagi akhir-akhir ini pasien lagi banyak.” Jawabnya. “ Saya kasihan tengok doktor. Sejak doktor Emir pergi, dokter Aksa nampak tak punya masa untuk berehat.” Ungkap kak Alya. “ Punya kok kak, kak Alya tenang aja. Aksa bisa kok menjaga diri. Oh iya ada berapa pasien lagi kak.” Tanya Aksa. “ Untuk sore ini tinggal satu dok. Kita mulakan lagi selepas maghrib.” Jawab kak Alya. “ Syukurlah, jadi setelah ini saya bisa istirahat sebentar.” “ Ya, saya akan panggil pesakit yang terakhir.” Ucap kak Alya yang langsung keluar untuk memanggil pasien terakhir. Setelah pasien masuk, Aksa pun langsung menutup berkas pasien yang sedang di periksanya. Ketika pasien duduk, Aksa langsung tersenyum ramah pada pasien yang ia rasa seorang gadis muda. “ Selamat datang, bagaimana mba. Apa keluhannya.” Tanya Aksa dengan ramah. Pasien tersebut langsung membuka masker yang ia kenakan. Dan betapa terkejutnya Aksa setelah melihat wanita yang ada didepannya. Raut wajah Aksa langsung berubah. “ Ngapain kamu disini. Darimana kamu tahu aku ada disini.” Tanya Aksa dengan keras dan emosi. “ Aku mau periksa dok.” Jawabnya. “ Ngga usah main-main deh. Ini puskesmas tempat untuk berobat. Kalau kamu mau melakukan hal yang aneh-aneh sebaiknya kamu pergi sekarang.” Ucap Aksa yang langsung berdiri. “ Kak, Aksa kenapa sih. Lula datang kemari itu mau periksa. Akhir-akhir ini tenggorokan Lula sering sakit. Jadi Alula datang ke dokter untuk periksa.” Jawab wanita di depan Aksa yang ternyata dia adalah Alula. “ Kamu ngga perlu bohong sampai begini deh. Kamu pikir aku bakalan percaya dengan ucapanmu itu. Kamu tuh wanita yang akan melakukan apapun. Dan ngga kamu datang jauh-jauh kemari hanya mau periksa. Di Kuala Lumpur banyak rumah sakit besar dan dokter-dokter yang hebat. Tapi kenapa kamu harus periksa disini.” Balas Aksa yang benar-benar kesal. “ Ya karena kebetulan aja, Lula ada keperluan di kampung ini. Dan Lula juga ngga menyangka kalau bisa bertemu dengan kak Aksa. Lula benar-benar salut sama kak Aksa karena kak Aksa mau menjadi dokter di kampung yang kecil ini.” Jawab Alula. “ Please la, apa kamu ngga bosan terus terusan mengganggu hidup orang lain.” “ Siapa juga yang mengganggu hidup kak Aksa. Lula datang kesini itu karena Lula mau periksa, Lula benar-benar sakit kak.” Ujar Lula. Aksa hanya menghela nafas, dia frustasi kalau harus berhadapan dengan Alula. “ Apa kak Aksa ngga mau periksa Lula, Lula disini kan pasien kak.” Ungkapnya sambil senyum-senyum sendiri memandangi Aksa. Dengan sangat terpaksa, Akhirnya Aksa pun memeriksa Alula. Dia melihat keadaan Alula. Dan Alula tersenyum, karena dia berhasil membuat Aksa memeriksa dirinya. Karena sangat bahagia, Alula tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Aksa, namun tidak dengan Aksa, dia justru merasa risih karena terus dipandangi oleh Alula. “ Bisa ngga sih serius sebentar. Jangan main-main.” Pinta Aksa tanpa memandang wajah Alula. “ Aksa juga serius kok kak.” “ Bisa ngga tuh mata ngga ngliatin aku terus.” Ucapnya. “ Ok, Alula akan tutup mata.” Jawabnya yang langsung menutup kedua matanya. “ Tapi kak, walaupun Lula udah tutup mata dan terlihat gelap, wajah kak Aksa masih terlihat jelas.” Ucapnya “ Udah.” Balas Aksa yang kembali duduk di kursinya. “ Kok udahan kak periksanya. Masa sebentar banget kak.” Tanya Lula yang langsung membuka matanya. Aksa tidak menjawab pertanyaan Aksa, dia fokus menuliskan resep obat untuk Alula. “ Nanti kamu tebus obatnya di apotek depan.” Ucapnya sambil menyodorkan resep pada Alula. Alula pun menerima resept tersebut, namun dia tidak beranjak dari tempatnya. “ Saya sudah selesai memeriksa anda, jadi anda di perbolehkan untuk keluar. Karena saya pun masih ada pasien lagi.” “ Ngga ada kok, Kan Alula pasien kak Aksa yang terakhir.” Jawab Alula. “ Siapa bilang kamu yang terakhir, udah sebaiknya kamu pergi sekarang masih ada pasien lain yang nunggu.” Balas Aksa. “ Tadi Alula udah tanya sama perawat dan dia bilang, Alula pasien kak Aksa yang terakhir. Sampai nanti selepas maghrib. Jadi Alula punya waktu banyak disini.” BRAK... Aksa menggebrak meja, dan hal itu pun membuat Alula terkejut. Tapi ternyata bukan hanya Alula yang terkejut, kak Alya dan beberapa perawat lainnya pun mendengar gebrakan itu sampai membuat mereka masuk kedalam. “ Ada apa dok.” Tanya kak Alya Aksa langsung merfedakan emosinya ketika ternyata suaranya terdengar sampai luar. “ Ngga ada apa-apa kok kak. Tadi kursi terjatuh.” Jawabnya. Sedangkan Alula hanya senyum-senyum sendiri melihat Aksa yang kebingungan mencari jawaban. “ Owh saya kira kenapa. Kalau begitu kita kembali dok.” Balas kak Alya yang langsung keluar sambil menutup pintu ruangan Aksa. “ Ya ampun kak, ngga perlu sampai segitunya kali. Lula tahu, kak Aksa pasti antusias banget ketemu sama Lula disini. Lula juga kok, Lula seneng banget akhirnya Lula tahu dimana tempat kak Aksa kerja.” Ujar Lula. “ Saya di kampus untuk belajar, dan saya disini untuk bekerja. Jadi saya mohon dengan sangat pada kamu jangan suka mengganggu atau mengusik kehidupan orang lain. Kamu punya kehidupan sendiri, kamu pun masih muda. Jadi sebaiknya gunakan waktumu itu untuk meraih masa depanmu, karena aku yakin gadis sepertimu punya impian yang besar yang ingin kamu capai. Jadi berhentilah menyia-nyiakan waktumu untuk menggangguku.” Balas Aksa. “ Wah, kak Aksa memang orang yang sangat bijaksana, Ngga salah banyak yang kagum sama kak Aksa. Kakak benar, Lula memang ngga boleh menyia-nyiakan waktu muda Lula. Dan Kakak juga benar, Lula harus mencapai mimpi Lula dan impian Lula. Makasih ya kak udah kasih saran yang benar-benar luar biasa. Kakak juga udah membuat Lula yakin, kalau Lula bisa mencapai impian Lula ini.” “ Maksudmu.” “ Kak Aksa adalah impian dan masa depan Lula, jadi Lula ngga akan pernah menyerah dan berhenti untuk mencapai impian Lula.” Jawabnya dengan semangat. Tapi tidak dengan Aksa, justru ucapan dan sarannya telah membuat dia pusing sendiri. “ Maksud saya bukan itu, kamu ini lemot banget ya. Maksud saya itu ...” Ucap Aksa yang belum selesai, namun Lula sudah memotongnya. “ Kakak sadar ngga sih, kalau kita itu seperti sudah di jodohkan Allah. Seperti sekarang, ini juga sebuah kebetulan yang bisa menjadi pertanda kalau kita ini memang jodoh kak.” “ Lula please, semakin lama ucapanmu ini semakin ngawur dan kacau. Sebaiknya kamu pergi dari sini.” “ Tapi kak.” “ Kalau kamu ngga mau pergi dari sini biar saya yang pergi.” “ Ok... ok Lula pergi. Tapi ingat kata-kata Lula ya kak, kalau Lula pasti akan mencapai impian Lula ini.” Jawabnya sebelum keluar dari ruangan Aksa. “ Keluar.” Bentak Aksa. “ Iya-iya Lula keluar. Ngga perlu teriak-teriak kali kak. Kalau kakak marah-marah begitu mukanya makin cute.” Ledeknya sambil melambaikan tangan pada Aksa. “ Astagfirullah... astagfirullah... kenapa ada wanita keras kepala seperti dia. Aku yakin dia memang wanita gila.” Ungkap Aksa sambil menarik rambutnya sendiri karena begitu frustasi menghadapi Lula. *** Sedangkan Lula yang sudah di luar puskesmas, lagsung masuk kedalam mobil menuju rumah atuknya. Dalam perjalanan ke rumah atuknya, Lula benar-benar merasa puas karena telah berhasil menemukan dan mencari cara untuk dia bisa lebih dekat lagi dengan Aksa. Ketika hampir sampai di rumah atuknya, Lula pun membunyikan klakson mobilnya disaat dia melihat kakeknya yang sedang ada di halaman depan. TIN.... TIN... TIN... “ Astagfirullah. Ya Allah siapa yang membunyikan klakson. Dia pikir saya pekak.” “ ATUK....” Teriak Lula sambil berlari memeluk atuknya. Atuk Fadhil yang ternyata atuk Lula pun sangat terkejut melihat kedatangan cucu satu-satunya. Dia tidak menyangka kalau Alula datang ke rumahnya, karena dia tidak pernah mengabarinya. Bahkan hal ini jarang terjadi, mungkin Alula datang ke kampung kakeknya ketika lebaran, atau bahkan dialah yang menyuruh kakeknya untuk datang ke Kuala Lumpur jika ingin melihatnya. “ Ya ampun, Lula udah lama banget ngga ketemu atuk, Lula kangen banget sama atuk.” “ Apa atuk sedang bermimpi.” Tannyanya pada dirinya sendiri. “ Ihhh atuk, kok malah bercanda sih. Lula serius tuk. Ini Alula Farzana Ayunindya cucuk kesayangan atuk Fadhil.” Jawabnya. “ Ya Allah mimpi apa aku semalam, melihat cucuku ini mau datang mengunjungiku.” Ujarnya sambil membalas pelukan cucunya itu. “ Ngga usah ngledek deh tuk.” “ Kan memang benar, kamu jarang datang kesini. Malahan kamu yang nyuruh atuk untuk datang kesana kalau atuk sedang rindu denganmu.” Balas atuk Fadhil. “ Ngga usah ngledek deh tuk. Kabar atuk gimana atuk sehat kan.” Tanyanya. “ Alhamdulillah, atuk sehat. Ada perlu apa Lula jauh-jauh datang kemari. Ini kan bukan lebaran la.” Ledek atuknya lagi. “ Alula lagi kangen aja sama atuk, mumpung hari ini dan besok Lula libur jadi Lula mampir deh kesini.” “ Alhamdulillah, jadi malam ini kamu mau nginap sini.” Tanya atuk Fadhil dan Lula pun mengangguk dengan semangat. “ Kamu seriusan mau nginap sini” Tanya atuknya lagi. “ Iya tuk, Lula serius, memangnya kenapa ngga boleh.” “ Ya boleh, tapi atuk khawatir aja kejadian dulu terulang lagi. Kamu malam-malam pergi ngga pamit hanya untuk cari hotel untuk menginap karena ngga bisa tidur di rumah atuk yang kata kamu udah ngga layak buat ditinggali.” Ledek atuknya. “ Ya ampun gitu aja atuk marah, Lula kan waktu itu hanya bercanda tuk. Untuk kali ini Lula serius, Lula ngga akan kabur lagi ke hotel atau kemanapun. Lula akan serius nginap di rumah atuk, bahkan Lula rela setiap hari tinggal disini biar bisa deket-deket sama atuk.” Ucapnya. “ Beneran, paling kamu bicara seperti ini karena ingin menghibur atuk saja kan.” “ Lula serius tuk, karena Lula sayang sekali ke atuk.” “ Ok... ok sekarang kita masuk. Pasti kamu lelah karena nyetir jauh.” Ajak atuknya pada Alula untuk masuk kedalam rumahnya. *** Setelah makan malam bersama atuknya, Alula pun diajak atuknya untuk mengobrol di halaman depan. “ Gimana sama kuliah kamu la, masa sih kamu belum juga selesai-selesai. Kalau ngga salah kan sudah empat tahu lebih la.” Tanya atuknya. Lula hanya menggigit bibirnya ketika atuknya bertanya tentang kuliahnya, yang ia sendiri saja tidak tahu nasibnya. “ Atuk tenang aja, Lula hampir selesai kok. Nanti Lula akan bawa atuk ke wisuda Lula.” “ Atuk saja ngga yakin, bisa datang ke wisudamu apa ngga. Bisa saja Allah memanggil atuk sebelum kamu wisuda.” Balas Atuk. “ Atuk please, jangan bicara seperti itu. Lula yakin atuk adalah atuk Lula yang paling sehat. Dan atuk juga harus yakin kalau Allah akan berikan atuk umur panjang untuk bisa menemani Lula. Apa atuk lupa dengan janji atuk pada Lula.” Tanyanya sambil memeluk atuknya dengan manja. “ Atuk ngga akan lupa la, tapi kamu pun harus berubah la. Jangan seperti ini terus. Kalau kamu seperti ini kapan kamu dewasanya.” “ Atuk tenang aja, jangan terlalu memikirkan Lula, Lula akan baik-baik aja kok. Oh iya tuk rumah itu udah ngga kosong lagi.” Tanya Lula sambil menunjuk rumah yang tidak jauh dari rumah atuknya. “ Iya, sekarang rumah itu sudah ada yang memakainya.” “ Oh ya, siapa tuk.” “ Dokter baru di puskesmas. Dia orang Indonesia lho la.” Ucap atuknya, sedangkan Lula pun tersenyum mendengar kalau ternyata tempat tinggal Aksa tidak jauh dari rumah atuknya. “ Owh, dokter yang di puskesmas itu, yang namanya dokter Aksa.” “ Iya, kok kamu tahu la.” Tanya atuknya. “ Iya tuk, tadi sebelum Lula datang kemari. Lula mampir ke puskesmas. Karena akhir-akhir ini tenggorokan Lula sakit. Dan kebetulan yang memeriksa Lula itu dokter Aksa.” “ Owh pantesan tadi atuk lihat ada obat dikamarmu, terus apa kata dokter Aksa.” “ Ngga apa-apa kok tuk, Lula Cuma hanya harus mengurangi makanan yang berminyak dan es aja. Atuk tenang aja. Lula baik-baik aja kok tuk. Oh iya tuk, apa dokter Aksa sudah lama tinggal disini.” “ Belum kok, dia baru beberapa bulan. Oh iya, dia uga kuliah sama denganmu kok La. Tapi dia mengambil S2.” “ Iya Lula tahu itu kok tuk, makannya Lula terkejut ketika tahu kalau kak Aksa itu kerja di puskesmas ini. Tapi tuk, kenapa dokter Aksa harus memilih bekerja disini, kampung ini kan lumayan jauh dari kampus tuk. Padahal kan banyak puskesmas atau rumah sakit yang dekat dengan kampus.” Tanya Alula. “ Atuk melihat Aksa itu berbeda dari anak muda lainnya la, dibandingkan bekerja di rumah sakit yang megah, dia jauh lebih bahagia bekerja disini. Karena dia tahu, banyak lingkungan di kampung yang masih membutuhkan banyak dokter. Anaknya pun ramah dan sopan la, atuk suka kalau mengobrol dengannya.” “ Oh ya, jadi atuk sering bertemu dengan dokter Aksa.” Tanya Lula. “ Lumayan sering, setiap subuh kita bertemu di surau dan setelah shalat kita bisa mengobrol sebentar. Dia aktif ikut jamaah subuh la.” Ucap atuk Lula seperti punya cara baru untuk bisa bertemu dengan Aksa. “ Atuk.” “ Iya.” “ Apa besok pagi, atuk pergi ke surau.” Tanya Lula dan atuknya pun mengangguk. “ Kalau begitu, besok pagi sebelum atuk pergi ke surau atuk bangunkan Lula ya. Lula mau ikut pergi ke surau.” Pintanya. Atuknya hanya bengong mendengarkan permintaan Lula. “ Kok atuk diam aja.” “ Iya... iya besok pagi atuk bangunkan.” “ Kalau gitu, Lula istirahat dulu ya tuk, Lula cape banget.” Pamitnya dan langsung masuk menuju kamarnya. “ Mimpi apa anak itu, tiba-tiba mau ke surau.” Ucap atuknya setelah Alula pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN