6. LYT

1886 Kata
Setiba di kampus, Aksa langsung menutup matanya dan berusaha berjalan senormal mungkin tanpa memperdulikan lambaian tangan seorang wanita. Daia terus acuh terhadap sikap Alula yang sudah begitu mengganggunya selama di kampus. “ Kak Aksa.” Panggil Alula yang langsung berlari kearah Aksa. “ Kok kakak diam aja sih, aku kan panggil kamu kak.” Tanya Aksa. Tapi Aksa tetap tidak memperdulikannya, dia terus saja berjalan. Alula hanya menghela nafas dan terus berjalan disamping Aksa. “ Kamu mau ngapain.” Tanya Aksa yang akhirnya berhenti ketika sudah sampai di fakultasnya. “ Mau ke kelas.” Jawab Alula sambil senyum kearah Aksa. “ Memangnya sejak kapan kamu jadi anak kedokteran.” Tanya Aksa. Alula pun memandangi sekitarnya, dia hanya gigit bibirnya karena terus mengikuti Aksa, sampai lupa masuk ke kelasnya. “ Ya udah aku masuk ke kelas dulu ya kak, nanti kita ketemu di perpus ya. Sampai jumpa kak Aksa.” Ucap Alula sambil melambaikan tangannya ke Aksa. Namun Aksa tetap cuek pada Alula. Mahasiswa di kampus pun tidak heran melihat setiap sikap Alula jika sedang dekat dengan laki-laki. Dan banyak wanita yang langsung menyerah untuk mendekati laki-laki itu, jika Alula sudah mencoba mendekatinya juga. Karena besar kemungkinan, Alula akan mendapatkannya. Namun, anak-anak pun tidak terlalu besar menaruh kemungkinan bersatunya mereka melihat sikap Aksa yang selalu acuh kepada Alula. Apalagi, sikap Aksa yang memang terlalu cuek pada semua wanita. *** Setelah mata kuliah selesai, Alula pun mencari Aksa di tempat yang biasa dia datangi yaitu perpustakaan. Namun dia terlihat kecewa, karena Aksa tidak terlihat disana. Kemudian Alula pun mencari Aksa di fakultasnya, tapi ternyata dia juga tidak menemukan Aksa. Sampai Alula bertanya pada teman-teman sekelas Aksa, namun mereka juga tidak tahu dimana Aksa sekarang. Karena tidak berhasil menemukan Aksa, Alula pun terlihat kecewa. “ Alula.” Panggil Bening. “ Aksa tak ada ning.” Ucapnya yang terlihat sedih. “ Maksud awak.” “ Aksa tak ada di kampus.” Jawabnya. “ Mungkin dia pulang.” Jawabnya. “ Apa awak sudah cari informasi mengenai dia.” “ belum lagi. Tapi apa yang saya tahu dia disini mempunyai rakan karib nama dia, Zaki.” Jawab Bening. “ Apa awak tahu Zaki.” Tanya Alula. “ Tahu.” Alula langsung saja menarik tangan Bening untuk bertemu dengan Zaki. “ Alula. “ Panggilnya sambil berjalan. “ Ya.” “ Kenapa kali ini awak teruja sangat untuk mendapatkan Aksa.” “ Seperti yang saya cakap, saya mencari laki-laki yang dapat membuat jantung ini berdegup. Mungkin saja laki-laki itu Aksa.” Jawab Alula. Akhirnya mereka sampai ke ruang organisasi pelajar pecinta alam. Bening langsung menunjukkan orang yang bernama Zaki pada Alula. Setelah itu, Alula langsung menghampiri Zaki. “ Hai kak.” Sapa Alula pada Zaki. “ Apa kamu orang muslim” Tanya Zaki. Alula langsung memutar kedua bola matanya. “ Assalamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” “ Kak, apa kak Zaki rakan karib kak Aksa, saya nak tanya, boleh.” “ Hmmm. Tanya apa.” “ Apa kak Zaki tahu kak Aksa dekat mana.” Tanya Alula. “ Entah, sejak pagi saya juga tak jumpa dia.” Jawabnya. “Apa kak Zaki tahu dimana rumah Aksa.” “ Jadi apa.” “ Saya nak tahu rumah kak Aksa.” “ Saya tak ada hak, untuk kasih tahu awak.” Jawabnya dan langsung pergi meninggalkan Alula yang terlihat kecewa karena Zaki tidak mau memberitahukan dimana rumah Aksa. “ Kak Zaki tunggu.” Kejarnya. “ Kenapa kakak ngga mau kasih tahu aku, aku kan tanya kakak baik-baik.” Jawab Alula yang emosi karena Zaki seperti mengabaikannya. “ Aku ngga ada hak untuk kasih tahu kamu tentang Aksa la, kalau sampai aku kasih tahu kamu sama saja aku mengganggu privasi Aksa. Sama seperti yang kamu lakukan.” Jawabnya. “ Aku hanya khawatir aja, aku takut Kak Aksa kenapa-napa. Aku hanya ingin tahu keadaannya.” “ Dia bukan anak kecil yang ngga bisa jaga diri kali la, kalau khawatir ya tinggal telpon aja apa susahnya.” “ Kalau dari tadi aku udah bisa telfon dia, ngga bakalan aku nyari kak Zaki. Dia ngga akan mungkin mau angkat telfon dariku.” Jawab Alula. “ Kalau tahu gitu, ngapain kamu khawatir ke dia. Ngapain sih la, kamu deketin Aksa. Menurutku kalau kamu mau menjadikan Aksa sebagai target kamu selanjutnya itu salah la. Dia beda sama laki-laki yang biasa kamu dekati atau mendekatimu. Sebaiknya kamu mundur deh, dari pada sakit hati.” “ Aku tahu dia beda sama yang lain, maka dari itu aku ngga akan mundur.” Jawab Alula dengan percaya diri. “ Terus mau kamu apa.” Tanya Zaki. “ Telfonin kak Aksa dulu, aku harus memastikan sendiri kalau dia baik-baik aja. Setelah itu aku ngga akan ganggu kak Zaki.” Jawabnya. “ Ok, aku telfonin.” Kemudian Zaki langsung menelfon Aksa. Dan tidak lama kemudian Aksa pun mengangkatnya. “ Halo, Assalamualaikum sa.” “ Waalaikumsalam. Ada apa Zak.” “ Kamu dimana sa.” “ Aku di puskesmas, kenapa Zak.” “ Tumben kamu langsung pulang.” “ Iya hari ini dokter Emir izin, jadi aku pulang lebih awal untuk menggantikannya.” Jawab Aksa. “ Owh jadi gitu, kamu kalau pulang lebih awal harusnya ngabarin dulu sa, jadi ngga buat orang lain khawatir.” Balas Zaki. “ Maaf Zak kalau udah buat kamu khawatir.” “ Bukan aku sa.” “ Siapa.” “ Siapa lagi kalau bukan....” Belum sempat Zaki melanjutkan ucapannya Alula langsung merebut ponsel Zaki. “ Aku khawatir sama kamu kak, tadi kan kita janjian ketemu di perpustakaan dan tahu kamu ngga ada disana aku nyari ketempat lain tapi kamu ngga ada. Jadi aku tanya sama kak Zaki.” Ucap Alula. Suara Aksa terdengar kesal setelah tahu disamping Zaki ada Alula. “ Aku ngga pernah merasa ada janji sama kamu, jadi bukan urusan aku mau kemana.” Jawabnya ketus. “ Iya kak Aksa memang ngga mengiyakan, tapi kan biasanya kakak di perpustakaan. Jadi Alula langsung kesana. Oh iya kak, memangnya kak Aksa kerja di puskesmas mana sih.” Tanya Alula. “ Bukan urusan kamu, kalau memang ngga ada hal penting lainnya aku tutup dulu.” Ucap Aksa. “ Tunggu kak, ada hal penting lagi.” “ Apa lagi sih.” “ Kak, Lula mohon dengan sangat kalau Alula chat atau telfon kak Aksa balas atau angkat ya.” Pintanya dengan merayu. “ Ngga penting.” Jawabnya langsung menutup telfonnya. Alula langsung memberikan ponselnya pada Zaki. Sedangkan Zaki dan Bening yang dari tadi ada disamping Alula pun tersenyum karena baru kali ini mereka tahu ada laki-laki yang berani membentak Alula dan menolaknya dan orang itu adalah Aksa. “ Udah deh la, nyerah aja.” Ucap Zaki. “ Ngga ada di kamus Alula buat nyerah mendapatkan kak Aksa. Lula akan buktikan kepada orang-orang yang meremehkan Alula. Alula yakin, kalau Alula bisa mendapatkan cintanya kak Aksa. Suatu saat dia akan jatuh hati pada Alula, dan ngga akan bisa jauh-jauh dari Alula.” Ucapnya dengan penuh percaya diri. Bening dan Zaki hanya heran melihat Alula yang benar-benar keras kepala dan ngga tahu malu. *** Setelah Alula mengatakan itu, Aksa langsung menutup sambungan telfonnya. Wajahnya pun terlihat sangat kesal dengan perangai wanita yang keras kepala seperti Alula. Bahkan Aksa sampai tidak sadar kalau kakek Fadhil sudah ada di ruangannya untuk di periksa. “ Sabar sa.” “ Astagfirullah, atuk. Maaf tuk , Aksa ngga sadar kalau atuk ada disini.” “ Siapa sih yang nelfon sampai suara kamu tinggi begitu.” “ Bukan siapa-siapa kok tuk Cuma teman.” Elaknya. Tiba-tiba perawat yang masuk bersama atuk Fadhil pun senyum-senyum sendiri melihat Aksa. “ Kenapa kak Alya senyum-senyum. Apa ada yang lucu sama Aksa.” “ Doktor mesti bersabar. Wanita memang seperti itu, hatinya sensitif sehingga seringkali lelaki keliru untuk memahaminya.” “ Maksud kak Alya.” Tanya Aksa yang ngga paham. “ Maksud saya, kalau girlfriend dokter Aksa sedang marah, bujuklah dia. Saya yakin hatinya akan cair lagi.” “ Memangnya saya bilang ya kalau yang telfon itu girlfriend saya, kan tadi saya bilang dia teman saya. Dan itu cowok kak.” Balas Aksa yang tidak terima. “ Sudah... sudah jangan di perpanjang. Dan awak pun sama, suka sangat menggoda Aksa.” Lerai atuk Fadhil yang memang menghentikan perdebatan yang mungkin bisa lebih panjang lagi. *** Semenjak Alula mulai mendekati Aksa, dia jadi lebih sering datang ke kampus. Padahal dulu, sebelum ada Aksa dia salah satu mahasiswi yang sangat malas untuk mengikuti mata kuliah. Apalagi kalau dia tidak menyuka mata kuliah itu dan dosennya. Awalnya Bening yang sebagai sahabat Alula pun senang, melihat perubahan Alula. Tapi, dia juga heran untuk sekarang Alula begitu semangat setiap membicarakan tentang Aksa. “ La, sampai bila kita disini, apa awak yakin kalau kak Aksa lewati jalan sini.” “ Saya yakin ning, setiap dia berangkat pasti lewat sini.” Jawabnya. “ tetapi hampir masuk la, mungkin saja dia tak datang.” Balas Bening yang langsung menarik tangan Alula untuk masuk ke kelas. Dan Alula pun dengan sangat terpaksa pasrah ketika Bening menariknya masuk kelas. *** Selesai kuliah, Alula pun keluar lebih awal karena dia tidak ingin lagi terlewat untuk melihat Aksa. Dari kejauhan Alula pun melihat Aksa yang sudah berjalan untuk keluar kampus. Dengan gerak cepat Alula mengejar Aksa. “ Lula tunggu, awak nak kemana.” Tanya Bening yang menyusul Alula. Karena hari ini dirinya memang ingin numpang pulang dengan Alula. “ Yah, kak Aksa udah jauh. Kenapa sih dia akhir akhir ini susah banget di temui.” Gerutu Alula. “ Kata awak, awak nak tahu rumah dia. Kenapa awak tak ikuti saja la.” Saran Bening. Dengan ide yang Bening berikan dengan cepat Alula masuk kedalam mobilnya untuk mengikuti Aksa yang dia kira belum terlalu jauh untuk di ikuti. “ Makasih ya ning, kamu dah kasih ide bagus.” “ Biasanya kalau orang sedang jatuh cita akan punya idea yang baik, tetapi kenapa awak tak.” “ Namanya juga orang lagi bingung ning.” Dan akhirnya Alula melihat Aksa berada di halte bus. Tanpa sepengetahuan Aksa, Alula akhirnya mengikuti bus yang di tumpangi Aksa untuk pulang. Bus tersebut berhenti di terminal bus. Alula terus saja mengikuti bus Aksa. Tapi dia heran karena sudah hampir satu jam penuh, Aksa belum juga turun dari bus. “ Kenapa dia ada di stasen bus la.” “ Entah, kita ikuti aja ning.” Jawab Alula yang dia pun bingung kenapa Aksa harus ke terminal bus dulu jika dia ingin pulang. Karena dia tahu kalau Aksa naik bus itu berarti itu bus antar kota. “ Kenapa lama sangat la. Memangnya dia tinggal dimana.” Tanya Bening yang mulai bosan. “ Saya pun tak tahu ning.” Jawab Alula. Namun ketika Alula melihat ke sekita jalan. Dia merasa tidak asing dengan jalan tersebut. “ Ning, aku seringkali lewat sini ning.” Ucapnya. “ Maksud awak.” “ Ning, jalan ini adalah jalan menuju rumah atuk saya.” Jawab Alula yang langsung berhenti ketika melihat Aksa pun turun dari bus. Kemudian dia melihat Aksa menyebrangi jalan. Dengan berjalan kaki, Aksa masuk ke sebuah gang. Alula langsung memajukkan mobilnya. Dia melihat nama kampung yang ada di gapura masuk kampung tersebut. “ Kampung Temu Jumpa” “ Jadi kak Aksa tinggal disini.” Ucapnya sambil senyum-senyum sendiri. “ Kenapa jauh sangat la.” “ Aku jadi semakin yakin kalau dia memang laki-laki yang di kirimkan Tuhan untukku.” Ucapnya yang benar-benar tidak menyangka kalau, jalannya untuk mendapatkan Aksa seperti di permudah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN