Sepulang dari kampus, Aksa langsung saja datang ke puskesmas. Dan dia benar-benar terkejut dengan sambutan para pegawai di puskesmas itu. Mereka benar-benar menyambut Aksa dengan sangat baik.
“ Selamat datang doktor Aksa.” Ucap semua perawat dan beberapa dokter yang ada di puskesmas.
“ Alhamdulillah, terima kasih. Saya jadi malu disambut sampai begini.” Ucap Aksa yang merasa kurang nyaman dengan perlakuan istimewa yang di buat oleh rekan kerja barunya.
“ Tidak mengapa. Kami melakukan ini kerana kami gembira doktor Aksa bergabung dengan kami di sini.” Balas dokter Emir.
“ Saya pun senang bisa bergabung dengan kalian semua. Semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Untuk puskesmas ini.” Ujar Aksa.
Kemudian, doktor Emir mengantarkan Aksa ke ruangannya. Kemarin Aksa memang meminta kalau hari ini dia akan langsung bekerja sesuai jadwalnya. Maka perawat pun sudah, langsung membuka jadwal praktik untuk Aksa disana.
Aksa pun menikmati hari pertamanya bekerja di puskesmas. Apalagi bertemu dengan para pasien. Dia akan memiliki cerita baru setiap bertemu dengan pasien, dia pun akan selalu belajar dari para pasiennya. Karena, dia seorang dokter pasti banyak penyakit yang sering ia jumpai baik penyakit yang sering terjadi ataupun penyakit jenis baru.
***
Sepulang dari puskesmas, Aksa pun langsung membersihkan tubuhnya dan istirahat sebentar sebelum melanjutkan aktivitasnya untuk mengerjakan tugas dari dosennya. Karena di hari keduanya lumayan padat, Aksa sampai lupa mengabari atau menelfon mamanya yang dari tadi pagi terus terusan menghubunginya.
Awalnya, Aksa akan menelfon mamanya dipagi hari karena sekarang pun sudah terlalu larut untuk menelfon orang tuanya. Namun baru saja dia berpikir seperti itu, ponselnya tiba-tiba berdering.
“ Halo, Assalamualaikum ma.”
“ Waalaikumsalam.” Jawab mamanya dengan nada kesal. “ Apa kamu lupa janji kamu sama mama. Baru juga beberapa hari disitu udah lupa.”
“ Astagfirullah, Aksa ngga lupa ma, Aksa ingat kok. Tadi jadwal Aksa lumayan padat ma, jadi Aksa ngabarin mamanya telat. Sebenarnya tadi Aksa mau nelfon mama, tapi karena takut mama udah tidur, jadi Aksa urungkan ma.” Jawabnya.
“ Sepagi apapun, semalam apapun. Kalau kamu telfon pasti mama akan angkat sa. Jadi ngga perlu khawatirkan waktu. Gimana sama kuliah pertama kamu.”
“ Alhamdulillah ma, lumayan nyaman. Ditempat kerja Aksa juga orang-orangnya baik ma. Jadi Insyaallah Aksa akan betah disini.”
“ Jangan terlalu betah, nanti bisa-bisa kamu lupa sama janji kamu yang akan langsung pulang kalau udah selesai kuliah.” Sindir mamanya.
“ Ya nggalah ma, Aksa ingat kok. Aksa juga ngga akan lama-lama disini. Kalau udah selesai pasti Aksa akan langsung pulang. Baru juga dua hari disini ma.”
“ Ya siapa tahu kamu terpikat dengan gadis disana, sampai-sampai susah buat kamu kembali kesini.”
“ Apaan sih ma, mama kan tahu niat Aksa dari awal datang kesini itu untuk apa. Kenapa harus bahas masalah itu sih ma.”
“ Ya harus dong, biar kamu ngga lupa sama janji yang sangat penting.”
“ Iya ma, Aksa ingat banget. Setelah Aksa pulang dari sini, Aksa akan turuti apa kata mama, termasuk wanita yang akan mama jodohkan dengan Aksa.”
“ Bagus deh kalau kamu ingat, ya udah sekarang pasti udah malam. Kamu istirahat deh. Besok kamu pasti akan jauh lebih sibuk lagi. Jadi kamu harus benar-benar jaga kesehatan ya.”
“ Iya mama, Aksa akan selalu ingat pesan mama.” Balas Aksa.
“ Assalamualaikum ma.”
“ Waalaikumsalam.”
Setelah selesai bertelfonan dengan mamanya Aksa pun hanya bisa menghela nafas setiap mendengar keluhan mamanya terhadapnya.
***
Satu bulan pun sudah berlalu, Aksa benar-benar menikmati hari-harinya dengan begitu nyaman. Baik di kampus, tempat kerjanya dan lingkungan dimana dia tinggal sekarang.
Tapi ternyata beberapa hari yang lalu, dia tidak bisa merasakan kenyamanan itu lagi di kampus. Memang setelah kejadian dirinya menolong seseorang yang kecelakaan, namanya jauh lebih dikenal lagi di kampus, apalagi di kalangan perempuan di berbagai fakultas. Bahkan banyak yang meminta berfoto dengannya, bahkan ada yang sampai menyebutnya pangeran kampus. Aksa benar-benar tidak menyangka kalau hal yang baginya biasa ini membuat hidupnya mulai terusik. Aksa memang selalu dengan tegas menolak berbagai perhatian yang para perempuan itu berikan, dia dengan terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya di perlakukan seperti itu. Namun tetap saja mereka tidak menghiraukan apa kata Aksa, bahkan setiap Aksa datang ke kampus dia selalu menemukan hadiah di mejanya. Ditambah lagi ada satu mahasiswi yang keras kepala, dan dia juga salah satu mahasiswi yang begitu terang-terangan mendekati Aksa, bahkan setelah tahu mahasiswi bernama Alula itu mendekati Aksa, banyak mahasisiwi lain yang lansung mundur. Karena mereka akan merasa langsung kalah dan tidak mungkin bersaing dengan Alula untuk mendapatkan Aksa.
Flashback on.
Beberapa hari yang lalu.
Alula adalah salah satu mahasiswi di kampus yang lumayan di kagumi oleh banyak pria karena parasnya yang cantik. Bahkan dia sudah sering gonta ganti pasangan. Dalam satu bulan dia bisa mengencani dua laki-laki sekaligus. Dia pun sudah sangat dikenal dengan playgirl kampus. Namun walaupun sudah banyak laki-laki yang tahu akan predikatnya, tetap saja banyak yang menginginkan berkencan dengan dirinya.
Alula pun jarang masuk ke kampus, dia salah satu mahasiswa abadi karena sudah lebih dari empat tahun, dia belum juga bisa menyelesaikan kuliahnya. Dan hari ini mahasiswa di kelasnya cukup ramai. Hal itu pun membuat Alula penasaran, karena teman-temannya sedang membicarakan seseorang yang sangat asing di telinganya.
“ Apa yang mereka cakapkan.” Tanya Alula pada teman di sampingnya. Dia pun salah satu teman yang dekat dengan Alula yang bernama Bening.
“ Alula tidak tahu apa yang berlaku di kampus.” Tanya Bening yang terkejut karena Alula tidak tahu gosip yang sedang heboh.
“ Saya tidak tahu jadi saya tanya awak, Bening.” Balas Alula.
“ Semalam ada pelajar siswazah jurusan perubatan yang sangat tampan kerana menolong seseorang yang mengalami kemalangan di hadapan kampus. Dan berita ini telah tersebar di kampus la, saya pun kagum dengannya, dia handsome la.” Ucap Bening yang langsung tersenyum sendiri melihat video di ponselnya.
Tanpa meminta izin Alula langsung merebut ponsel Bening dan melihat video yang sedang ramai itu.
“ Adakah dia pelajar baru, mengapa saya tak pernah nampak dia.”
“ Yes, dia pelajar baru dari Indonesia.” Jawab Bening.
“ Indonesia.” Tanya Alula menegaskan lagi apa yang baru saja dia dengar. Bening pun mengangguk. “ Setelah pelajaran selesai, awak temani saya.”
“ Jangan cakap kalau awak ...” Bening pun menebak apa yang akan Alula lakukan, dan Alula hanya membalas dengan senyuman liciknya. “ Alula, please. Sampai bila awak akan seperti ini.”
“ Hingga jantung saya berdegup kencang ketika bertemu dengannya.” Jawab Alula dengan santai.
Walaupun Alula sudah banyak mengencani banyak pria, tapi dia belum pernah merasakan yang namanya jatu cinta, dia hanya memandang wajah pria tersebut tanpa merasakan apa yang ingin sekali dia rasakan.
***
Selesai mata kuliah, Alula langsung mengajak Bening untuk keluar. Dia pun ikut tersentuh melihat aksi laki-laki yang ada dalam video tersebut. Bening dengan malu dan malas menemani Alula datang fakultas kedokteran. Karena disana tempat orang-orang pintar, dan disana juga banyak laki-laki yang sudah tersakiti oleh Alula. Melihat Alula yang memang jarang ada di fakultas kedokteran pun para mahasiswa heran. Karena dia jarang datang kesana.
Alula pun tidak mendengarkan apa yang dibicarakan mahasiswa tentangnya, dia mengacuhkan itu. Karena sekarang dirinya sedang fokus mencari laki-laki yang membuat dia penasaran.
“ Lula, kita pergi je, saya malulah.”
“ Awak jalan dengan saya, kenapa awak harus malu.” Balas Alula yang masih mencari sosok laki-laki itu.
Sampai matanya terhenti ketika melihat sosok yang baru saja mengobrol dengan teman-temannya dan akan masuk kedalam perpustakaan. Dengan cepat Alula pun menarik tangan Bening.
“ Awak nak bawa saya kemana.” Tanya Bening yang terkejut karena Alula tiba-tiba menariknya. Mereka pun berhenti di depan perpustakaan kampus.
“ Library” Ucap Bening yang terkejut karena Alula membawanya kesana. Karena jarang sekali Alula mau datang ke perpustakaan. “ Awak semalam mimpi apa, kenapa bawa saya ke sini.”
“ Diam, awak ikut saya.” Jawabnya dan langsung masuk ke dalam perpustakaan.
Di dalam perpustakaan, Alula kembali mencari sosok yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan. Dan akhirnya dia menemukan sosok tersebut.
Kemudian, Alula meninggalkan Bening untuk mendekati sosok laki-laki itu. Bening hanya menghela nafas melihat aksi sahabatnya itu.
Alula pun mendekati laki-laki itu dengan cara mencuri perhatiannya. Seperti yang wanita-wanita agresif biasa lakukan. Dia akan melakukan apapun untuk mencari perhatian orang yang diinginkannya. Alula, pura-pura tersandung sehingga menabrak tubuh laki-laki yang belum diketahui namanya.
“ Aww.” Ucapnya yang ternyata di tangkap oleh laki-laki tersebut. Alula dengan cepat menatap wajah laki-laki tersebut. Namun dengan cepat laki-laki itu pun langsung membantu Alula berdiri dan pergi begitu saja tanpa mengatakan dan bertanya apapun pada Alula.
“ Tunggu.” Ucap Alula dengan suara yang sedikit keras sehingga menimbulkan perhatian para pengunjung perpustakaan. Namun, laki-laki itu tidak menghiraukan panggilan Alula, dia langsung duduk di kursi yang kosong. Alula yang merasa di acuhkan pun langsung mengikuti laki-laki itu.
“ Saya kan panggil awak.” Ucap Alula yang langsung duduk di depan laki-laki itu. “ Apa awak tak dengar cakap saya.” Tanya Alula, dan masih sama dia masih diacuhkan. “ Saya nak bilang terima kasih, karena awak sudah tolong saya.” Ucap Alula.
Akhirnya, laki-laki itu menatap Alula. Namun, Alula kembali dikejutkan dengan respon laki-laki tersebut yang hanya mengangguk kemudian kembali membaca buku yang ada di depannya.
“ Awak. Siapa nama awak. Saya Alula.” Ucap Alula yang mengulurkan tangannya. “ Apa awak tak dengar saya cakap.”
“ Kalau kamu disini hanya mau membuat keributan sebaiknya kamu keluar.” Ucap laki-laki itu dengan tegas.
Bukannya marah, Alula justru terbengong mendengar perkataan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Dia pun terpukau mendengar suara laki-laki itu.
“ Ok, maaf kalau saya ganggu awak study. Tapi saya hanya nak tahu nama awak.”
“ Saya ngga kenal kamu dan ngga ada urusan denganmu, jadi ngga perlu bagi saya untuk memperkenalkan diri saya pada anda.” Jawabnya.
Tapi Alula pun langsung mengambil kartu mahasiswa yang tergeletak di meja.
“ Muhammad Aksa Nafis Raihan.” Ucapnya.
“ Apa kamu ngga punya sopan santun.” Ucap Aksa yang merasa kesal karena ketidaksopanan Alula.
“ Namanu bagus, kamu pun masuk kedalam tipeku.” Jawabnya dengan penuh percaya diri.
“ Apa kamu ngga punya malu bicara seperti itu pada laki-laki yang baru saja kamu lihat.” Jawab Aksa yang langsung merapikan bukunya dan beranjak pergi. Namun Alula langsung mencegahnya.
“ Kamu ngga perlu pergi, biar saya saja yang pergi.” Ucap Alula yang berbalik badan tapi belum sempat dia melangkah, dia kembali berbalik. “ Kak Aksa, kamu tipeku.” Ucapnya sambil tersenyum kearah Aksa. Aksa yang mendengar ucapan itu, dia bingung sambil geleng-geleng kepala. Namun, Aksa pun heran mendengar Alula bicara, karena ternyata dia bisa berbahasa Indonesia.
“ Dasar wanita gila.” Ucapnya.
Dan baru saja dia duduk lagi, tiba-tiba Zaki menghampirinya.
“ Sa.”
“ Eh, kamu Zak.”
“ Kamu kenal sama Alula.”
“ Alula siapa.” Tanya Aksa yang bingung.
“ Cewek tadi.”
“ Nggalah, tahu namanya aja juga ngga. Aku tadi Cuma nolongin dia aja.” Jawabnya.
“ Tapi keliatannya dia suka tuh sama kamu.”
“ Apaan sih zak.”
“ Siap-siap aja sa.”
“ Siap-siap buat apa.”
“ Siap-siap jadi korban Alula selanjutnya.”
“ Maksudnya.”
“ Alula tuh salah satu gadi cantik di kampus ini. Tapi perangainya jangan di tanyakan sa, dia sering banget gonta ganti pasangan. Padahal baru beberapa minggu sama laki-laki ini eh, minggu depannya udah ganti lagi.”
“ Biarin aja zak, aku ngga peduli.”
“ Emangnya kamu ngga tertarik sama dia sa, aku aja cukup tertari. Tapi sangat disayangkan perangainya ngga sesuai dengan wajah cantiknya.”
“ Aku tuh disini mau belajar, aku ngga peduli sama yang begituan.” Balas Aksa.
“ Tapi tetap aja sa, kamu harus hati-hati. Banyak laki-laki yang akhirnya luluh dengan Alula.”
Aksa hanya menghela nafas mendengar nasehat yang keluar dari mulut sahabatnya yang terus mengingatkannya. Namun dia yakin dengan dirinya kalau dia ngga akan goyah hanya dengan rayuan wanita seperti Alula.
Keesokan harinya Aksa sudah kembali di buat geleng-geleng kepala dengan melihat seorang wanita yang ada di kursinya. Dan setelah dia amati, wanita itu sama dengan wanita yang dia temui di perpustakaan.
“ Kak Aksa.” Ucap Alula dengan wajah yang cerinya.
“ Ngapain kamu disini. Setahuku kelasmu ngga disini.” Jawab Aksa tanpa memandang wajah Alula dan langsung duduk.
“ Nih.” Ucap Alula sambil memberikan sarapan untuk Aksa.
“ Ngga perlu.” Jawab Aksa.
“ Alula bawain kak Aksa sarapan sebagai tanda terima kasih Lula pada kakak. Karena kemarin kak Aksa udah nolongin Lula.” Jawabnya yang langsung meletakkan sarapan itu di meja Aksa.
“ Sebaiknya kamu bawa tuh makanan, aku udah sarapan. Dari pada disini mubazir sebaiknya kamu kasih orang lain yang belum sarapan. Dan ada hal yang harus kamu tahu. Kalau kemarin yang hampir jatuh bukan kamu pun pasti aku akan menolongnya.” Ujar Aksa dengan tegas.
“ Iya.. iya. Tapi kak Aksa juga harus tahu, kalau ngga baik menolak pemberian orang. Apalagi orang itu ikhlas memberinya.” Ucap Alula yang langsung pergi sambil melambaikan tangannya pada Aksa. Alula seolah tidak peduli tentang pandangan mahasiswa terhadapnya. Setelah Alula pergi, tanpa ragu Aksa langsung memberikan sarapan yang di kasih Alula pada temannya.
Flashback end