Ketika dirinya telah sampai di Bandara Internasional Kuala Lumpur langsung ada teman sama-sama dari Indonesia yang menjemputnya. Sebelumnya Aksa memang sudah berkomunikasi dengannya, sehingga mudah bagi Aksa nantinya untuk di antar kedaerah yang akan dia tinggali.
“ Alhamdulillah akhirnya kamu sampai juga sa.”
“ Ya, Zak. Makasih ya udah jemput aku.”
“ Sama-sama sa, disini kita sama-sama ngga ada keluarga. Jadi ya kita harus bisa saling bantu. Apalagi kita berasal dari Negara yang sama.”
“ Iya kamu benar.”
“ Ya udah, aku akan langsung ajak kamu ke tempat dimana kamu akan tinggal. Aku sudah survey tempat itu sa. Dan tempat itu salah satu kampung yang ada di Kuala Lumpur ini yang memang kekurangan dokter. Tapi memang sih lumayan jauh dari kampus kita nanti.”
“ Ngga apa-apa Zak, yang penting aku udah bisa langsung nemuin kerjaan. Dan itu semua berkat bantuan kamu. Untuk masalah ke kampusnya, itu biar nanti aku yang urus sendiri aja Zak.”
“ Iya sa, sama-sama. Kita langsung aja kesana ya sa.”
Mereka berdua pun langsung pergi ke kampung yang akan ditinggali oleh Aksa. Selama perjalanan kesana, Aksa benar-benar menikmati pemandangan lingkungan sekitar. Karena ini pun pertama kalinya dia datang kemari.
Perjalanan yang di tempuh Aksa dan Zaki pun lumayan jauh hampir tiga jam lebih. Karena sebelum itu Aksa mampir dulu ke kampusnya untuk melihat-lihat dulu tempat dimana dirinya akan menempuh ilmu.
Sesampainya di kampung, Aksa langsung bertemu dengan ketua kampung disana. Untuk membantu pusat kesihatan awam ( Puskesmas ) yang terletak di kampung Kenari. Dan ternyata Aksa mendapat sambutan yang begitu hangat dari warga kampung. Yang membuat Aksa merasa beruntung ternyata tempat tinggalnya itu salah satu tempat yang disediakan oleh warga kampung untuk dokter yang bersedia mengabdi disana. Memang, kampung ini termasuk kampung yang jauh dari kota, karena itulah pusat kesihatan disana kekurangan dokter.
“ Saya benar-benar terima kasih karena bapak sudah mau menerima kehadiran saya dengan sangat baik.”
“saya dan penduduk kampung sangat berterima kasih sekiranya doktor mahu menolong pusat kesihatan di kampung ini.”
“ Bapak bisa berbahasa Indonesia.” Ungkap Aksa yang terkejut karena ketua kampung ini lancar menggunakan bahasa Indonesia
“ Aksa bisa panggil saya atuk Fadhil, Atuk ini asalnya dari Indonesia. Tapi memang sejak muda atuk tinggal disini karena isteri atuk dulu orang sini. Maka dari itu atuk lancar dalam bahasa sendiri.”
“ Alhamdulillah, saya senang bisa bertemu dengan atuk dan hal ini akan memudahkan saya dalam berkomunikasi.”
“ Saya pun senang bisa bertemu dengan kamu nak, semoga kamu akan nyama tinggal dan bertugas di kampung ini.”
“ Insyaallah, saya akan berusaha menjalankan tugas ini dengan baik. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih tuk.”
Kemudian Zaki dan atuk Fadhil mengantarkan Aksa ketempat tinggalnya dan tempat dimana dia akan bekerja. Sebenarnya Aksa ditawari atuk Fadhil untuk bekerja di puskesmanya akhir pecan saja, karena jarak dari kampung ke kampus pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Aksa bisa menempuh perjalanan hingga dua jam untuk sampai ke kampus. Namun Aksa menolak hal itu, dia tetap akan bekerja sesuai dengan jadwal yang sudah dibuatkan oleh puskesmas tersebut. Aksa akan berusaha untuk bisa mengatur waktunya, supaya kuliahnya tidak mengganggu waktu kerjanya, ataupun sebaliknya.
***
Setelah menyelesaikan urusannya, Aksa langsung mengabari keluarganya dan memberitahukan kalau dirinya sudah tiba dan selamat sampai tujuan. Orang tua Aksa yang mendapatkan kabar dari anak sulungnya pun lega mendengar Aksa selamat sampai tujuannya, tapi tetap saja mama Aksa menunjukkan sikap belum relanya melepaskan putranya untuk menempuh belajar selama hampir dua tahun. Namun Aksa terus saja meyakinkan mamanya kalau dirinya akan sering mengabari mamanya, supaya mamanya tidak akan merasa kesepian karena jauh darinya.
“ Namanya juga orang tua sa, pasti selalu khawatir dimanapun anaknya berada.” Ucap Atuk Fadhil yang tiba-tiba muncul di hadapan Aksa setelah dia selesai menelfon di depan rumahnya.
“ Astagfirullah, atuk bikin kaget aja.”
“ Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, tuk. Ada apa malam-malam begini atuk datang kemari. Kenapa ngga ngabarin aja tuk. Kan Aksa bisa kesana.” Tanya Aksa.
“ Ngga apa-apa sa. Atuk hanya mau memberikan ini. Tadi siang atuk belum menyuruhmu untuk tanda tangan surat keterangan kamu untuk tinggal disini sementara.” Jawab Atuk.
“ Ya Allah, kan kalau begini Aksa jadi ngrepotin atuk. Harusnya atuk telfon Aksa aja, biar Aksa yang datang ke rumah atuk.”
“ Atuk tahu kamu pasti lagi kecapean habis bersih-bersih. Makannya atuk kesini.”
“ Makasih ya tuk.”
“ Sama-sama sa. Apa orang tuamu masih berat melepaskanmu sambung belajar disini.” Tanya Atuk Fadhil.
“ Papa sih menyerahkan semua keputusannya ke Aksa tuk. Tapi kalau mama memang dari awal kurang setuju. Tapi ya Aksa, maklum aja tuk kalau mama berat melepaskan Aksa sambung belajar disini. Karena memang dari dulu Aksa, jarang ada di rumah. Aksa lebih sering meluangkan waktu Aksa untuk kegiatan Aksa di luar dibandingkan di rumah.” Balasnya.
“ Namanya saja orang tua sa, pasti keinginannya selalu dekat dengan anak-anaknya. Begitu pula dengan atuk. Kalau memang masih ada kesempatan, atuk masih ingin bersama mereka. Karena hidup dengan orang-orang yang kita sayangi itu adalah sebuah kebahagiaan yang ngga bisa dibandingkan dengan apapun.”
“ Apa anak-anak dan isteri atuk tidak tinggal disini.” Tanya Aksa yang penasaran. Karena ketika dia di rumah atuk Fadhil dia tidak melihat keluarga atuk keluar.
“ Isteri dan anak atuk sudah meninggal sa.”
“ Innalillahiwainnaiilaihirojiun, maaf tuk kalau Aksa lancang bertanya tentang mereka.” Ucap Aksa yang menyesal karena membuat Atuk Fadhil sedih.
“ Ngga apa-apa sa. Atuk pun sudah ikhlas melepaskan mereka. Karena meninggalnya mereka memang sudah takdir yang ditentukan dari Allah, dan atuk harus menerimanya. Atuk disini tinggal sendiri, tapi kalau waktu liburan tiba cucu atuk akan datang menengok atupun tinggal dengan atuk disini.”
“ Owh jadi atuk sudah punya cucu.”
“ Ya, atuk punya cucu. Tapi dia sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Dia sangat istimewa sampai atuk sendiri saja kewalahan menanganinya. Memang anak sekarang itu tingkahnya aneh-aneh. Apalagi kalau dia tinggal di kampung dengan atuk, pasti akan selalu ada keributan yang dibuatnya.” Balas Atuk Fadhil.
“ Maklum saja tuk, pergaulan sekarang memang luar biasa. Memang harus dari diri kita sendiri yang mengendalikkannya tuk. Suatu saat kalau sudah sadar dengan apa yang dia lakukan, dia pasti akan sadar. Kita ngga bisa memaksanya, kalau di paksa justru bisa semakin menjadi-jadi tuk.” Ujar Aksa
“ Benar juga yang kamu katakan sa, anak sekarang memang ngga bisa di paksa. Karena atuk saja sampai bosan menasehatinya. Tapi atuk pun bertanya-tanya kenapa Aksa mencari kerjaan yang jauh dari kota. Padahal di Kuala Lumpur kan banyak rumah sakit bagus, dan yang pasti lebih dekat dengan kampus. Hal itu akan lebih memudahkan Aksa untuk melakukan sesuatu nak. Banyak anak muda yang jauh lebih memilih bekerja di kota, tapi kamu dari Indonesia ke Malaysia malah memilih bekerja di di kampung yang kecil ini.” Ujar Atuk Aksa.
“ Mungkin memang benar, jika Aksa kerja di kota akan lebih dekat dengan kampus dan lebih memudahkan Aksa. Tapi bukan hanya itu yang Aksa cari tuk. Kalau memang ada yang lebih membutuhkan tenaga Aksa, kenapa Aksa harus berada di tempat yang sudah banyak penolongnya tuk, bahkan jauh lebih baik dari Aksa. Niat Aksa dari awal menjadi dokter itu, bukan hanya untuk mengejar karier bagus, Aksa memilih jadi dokter, karena Aksa ingin banyak membantu orang yang memang membutuhkan bantuan Aksa, tuk” Jawabnya.
“ Atuk bersyukur karena masih ada anak yang berpikiran sepertimu. Semoga niatmu ini akan menjadi ladang pahala untukmu sa. Tapi kamu pun harus sabar dan kuat mental kalau ada disini.”
“ Maksud atuk.”
“ Apa kamu sudah punya kekasih.” Tanya Atuk.
Aksa hanya mengerutkan dahinya, dia bingung mendengar pertanyaan dari atuk Fadhil. Tapi Aksa tetap menjawab, dia menggeleng dengan ragu.
“ Syukurlah kalau kamu belum punya. Jadi nanti ngga akan nada yang cemburu jika melihat atau mendengar kamu di kerumini banyak wanita disini. Belum juga genap sehari kamu disini, sudah ramai perempuan kampung ini yang menanyakan tentangmu pada atuk”
“ Atuk bisa aja deh bercandanya.”
“ Kali ini kamu bisa bilang atuk itu bercanda. Tapi besok kalau kamu sudah mulai bekerja, kamu akan bilang kalau apa yang atuk katakan itu benar. Karena kamu sudah menjadi buah bibir di sana.” Balas Atuk.
“ Ok.. ok. Aksa akan sabar dan kuatkan mental.”
“ Ya begitulah kalau punya wajah tampan, harus siap jadi buronan wanita. Seperti atuk dulu waktu muda.” Mereka pun sama-sama tertawa mendengar gurauan yang keluar dari mulut atuk Fadhil.
***
Setelah menjalankan shalat subuh, Aksa langsung bersiap untuk berangkat ke kampus. Karena ini hari pertamanya masuk kesana. Segala urusan menyangkut kampus sudah diuruskan oleh Zaki, jadi hari ini dia bisa langsung mengikuti kuliah. Zaki pun telah mendaftarkan Aksa kedalam organisasi yang ada di kampus. Karena dia tahu Aksa suka melakukan kegiatan sosial dan memiliki jiwa penolong yang besar.
Sesampainya disana, Aksa langsung disambut oleh Zaki yang memang sudah menunggunya di depan kampus.
“ Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam. Ya Allah zak sampai segitunya kamu nungguin aku disini.” Ucap Aksa yang merasa segan akan sikap Zaki padanya.
“ Takut kamu kebingungan sa.” Ledeknya.
“ Ya Allah, ya ngga mungkinlah. Kemarin kita kan udah kesini.” Balasnya.
“ Bercanda sa. Pingin aja nungguin kamu.”
Kemudian, Zaki langsung memperkenalkan Aksa dengan teman-temannya. Dia mencoba membuat Aksa merasa nyaman disana. Karena Aksa memang anak yang mudah bergaul maka mudah baginya untuk berinteraksi dengan teman yang baru dikenalnya.Tapi walaupun dia mudah bergaul,tetap saja tidak mudah bagi Aksa untuk bergaul dengan teman wanitanya, dia hanya menyapa sekedarnya saja. Aksa akan langsung bertindak acuh jika ada wanita yang mencoba mencari perhatian padanya. Seperti yang dia alami di hari pertamanya masuk ke kampus. Di kelasnya ada beberapa yang mencoba mengajaknya mengobrol, bahkan ada yang langsung meminta nomor ponselnya. Karena dirasanya hal itu tidak penting, maka Aksa akan langsung mengacuhkannya. Dia tidak peduli dengan pandangan para wanita di kelasnya terhadapnya, karena niat dia datang ke kampus ini untuk belajar.
***